NovelToon NovelToon
Sistem Sultan Tanpa Batas

Sistem Sultan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Cintapertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eido

Dion Arvion, siswa kelas tiga SMA yang kurus dan pendek, menjalani hari-harinya sebagai korban penindasan.

Diperas, dihina, dan dipaksa menyerahkan uangnya oleh teman-teman sekelas, Dion hidup dalam ketakutan dan keputusasaan tanpa jalan keluar.

Hingga suatu hari, saat hatinya hampir hancur, sebuah suara terdengar di dalam benaknya, sebuah layar hologram muncul di hadapannya.

[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]

Sejak saat itu, hidup Dion berubah drastis. Dengan bantuan sistem misterius, ia tidak hanya menjadi semakin kuat, tetapi juga berubah menjadi crazy rich dalam waktu singkat.

Uang, kekuatan, dan pengaruh, semuanya berada dalam genggamannya. Kini, Dion bukan lagi korban.

Dengan senyum dingin dan kekuatan sistem di sisinya, ia bersiap membalas semua penghinaan, menghancurkan para penindas, dan menginjak dunia yang pernah merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: PERASAAN YANG SANGAT ASING

Ding.

Suara itu bergema lembut namun jelas di benak Dion.

[Anda telah menghabiskan lebih dari 50.000 rupiah.]

[Fungsi Saldo telah naik ke Level 3.]

[Fungsi Saldo Level 3: Anda otomatis mendapatkan 20 rupiah per detik.]

[Saldo tersimpan otomatis di bank sistem.]

Belum sempat Dion mencerna sepenuhnya.

Ding.

[Anda telah menghabiskan lebih dari 100.000 rupiah.]

[Fungsi Saldo telah naik ke Level 4.]

[Fungsi Saldo Level 4: Anda otomatis mendapatkan 50 rupiah per detik.]

[Saldo tersimpan otomatis di bank sistem.]

Lift masih bergerak naik, jarum indikator perlahan melewati angka 45. Di saat yang sama, sebuah hologram megah muncul di hadapan Dion, lapisan cahaya emas berlapis, simbol-simbol sistem berputar perlahan seperti mesin tak kasatmata yang hidup.

'Langsung… level empat?!' Dion terkejut dalam hati.

Ia sama sekali tidak menyangka. Menyewa penthouse selama satu tahun, menghabiskan sekitar 120.000 rupiah, ternyata cukup untuk mendorong fungsi saldo naik dua level sekaligus.

'Jadi begini cara sistem bekerja, semakin besar langkah yang kuambil, semakin besar pula hadiahnya.'

Dion menahan senyum yang hampir muncul di wajahnya, saat itu juga.

“Tuan Dion,” suara Aiko Putri Greta memanggilnya, menariknya kembali ke dunia nyata. Nada bicaranya kini sedikit lebih santai, tidak lagi sekaku pertemuan pertama.

“Ini adalah fasilitas lantai empat puluh lima. Ikuti saya, saya akan menjelaskan fungsi setiap area.”

“Baik,” jawab Dion sopan, “terima kasih, nona Aiko.”

Ia menyebut panggilan itu dengan hati-hati. Dalam benaknya, Aiko terasa seperti kakak perempuan, dewasa, tenang, dan bisa diandalkan. Namun Dion masih enggan mengucapkannya secara langsung, mereka berjalan berdampingan.

Koridor lantai 45 terbuka luas, dilapisi marmer mahal berwarna putih keabu-abuan yang mengilap. Cahaya lampu tersembunyi memantul lembut, menciptakan suasana privat dan eksklusif.

“Di lantai ini,” jelas Aiko, “fasilitas utamanya adalah Private Lobby dan Concierge Pribadi 24 jam.”

Mereka berhenti di sebuah area terbuka dengan meja resepsionis kecil namun elegan. Di sana berdiri tiga wanita cantik, mengenakan seragam khusus berpotongan rapi, penampilan profesional tanpa cela.

“Ini adalah concierge pribadi Anda,” lanjut Aiko sambil menunjuk mereka.

“Mereka akan bertindak sebagai asisten pribadi, untuk memenuhi kebutuhan Anda kapan saja.”

Salah satu dari mereka, wanita berambut pirang dengan senyum hangat, melangkah setengah langkah ke depan.

“Halo, Tuan,” ucapnya ramah.

“Kami adalah asisten pribadi Anda mulai sekarang. Jika Anda membutuhkan apa pun, silakan panggil kami. Kami akan dengan senang hati membantu.”

Dua wanita lainnya mengangguk bersamaan, tangan mereka terlipat rapi di depan tubuh, gerakannya yang terlatih.

“Terima kasih,” jawab Dion datar namun sopan, “kalian bisa memanggilku Dion.”

Ada kilat terkejut singkat di mata mereka, lalu senyum profesional kembali terpasang. Setelah sapaan singkat itu, Aiko melanjutkan tur.

“Selain concierge,” katanya sambil berjalan, “lantai ini juga memiliki ruang tunggu tamu VIP, serta sistem keamanan berbasis AI dan pengenalan wajah.”

Panel-panel tersembunyi di dinding menyala samar saat Aiko menjelaskan, kamera kecil, sensor tak kasatmata, dan sistem pemantauan yang bekerja tanpa suara.

Tak lama kemudian, mereka berhenti di depan seorang pria tua yang berdiri tegak seperti patung.

“Ini adalah Tuan Draga,” ucap Aiko, “kepala penjaga lantai empat puluh lima. Mantan pasukan khusus Negara Konoha, ia sudah pensiun, tapi...”

Aiko tersenyum kecil. “Tenaganya masih penuh.”

Dion menatap pria itu dengan saksama.

Rambut Draga berwarna perak, kulitnya menunjukkan garis-garis usia, namun wajahnya tegas seperti baja. Tubuhnya besar dan tegap, tinggi sekitar 187 sentimeter, berat sekitar 83 kilogram. Posturnya lurus, bahunya kokoh.

Dan yang paling terasa, tekanan. Aura yang keluar dari tubuh pria tua itu membuat Dion refleks menahan napas. Ini bukan tekanan fisik, melainkan sesuatu yang lahir dari pengalaman panjang dan kekuatan terasah.

“Salam, Tuan,” suara Draga berat dan tegas.

“Anda tidak perlu khawatir soal keamanan di tempat ini. Saya akan memastikan tidak ada orang mencurigakan yang mendekat.”

Ia mengulurkan tangan, Dion menyambutnya.

Saat tangan mereka bersentuhan, Draga sedikit mengalirkan tenaga, bukan ancaman, melainkan pengujian halus.

Dion menelan ludah, 'Orang ini… benar-benar kuat.'

Bukan kekuatan kasar seperti Darma. Ini kekuatan yang matang, terkontrol, dan mematikan.

Draga tersenyum tipis, seolah puas. Setelah itu, Aiko kembali mengajak Dion menuju Lift Khusus.

“Kita lanjut ke lantai berikutnya,” katanya, "lantai empat puluh enam.”

Pintu lift menutup perlahan. Dan Dion tahu, ia baru saja melangkah lebih dalam ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

.....

Lift kembali bergerak naik dengan senyap.

Ketika pintu terbuka di lantai empat puluh enam, udara yang menyambut terasa berbeda, lebih tenang, lebih tertutup, seolah lantai ini memang diciptakan untuk urusan-urusan besar yang tak boleh terdengar ke luar.

Aiko melangkah lebih dulu, lalu menoleh ke arah Dion.

“Di lantai empat puluh enam,” jelasnya dengan suara profesional yang tenang, “ini adalah, area kerja dan pengambilan keputusan.”

Ia mengayunkan tangan, memperlihatkan satu per satu ruangan yang terbentang luas.

Kantor pribadi super luas dengan meja kerja panjang dan dinding kaca panorama yang menghadap langsung ke kota. Cahaya senja yang mulai condong masuk, memantul di permukaan kaca dan marmer. Di tengah ruangan, smart desk holografik menyala samar, menampilkan antarmuka transparan yang dapat berubah sesuai perintah.

“Ini ruang rapat privat,” lanjut Aiko sambil membuka pintu lain, “dindingnya anti penyadapan dan anti perekaman.”

Dion mengangguk pelan.

Di sudut lain, terdapat arsip rahasia dengan sistem pengamanan berlapis, serta sebuah ruang brankas dokumen yang pintunya tebal, dingin, dan kokoh, tempat rahasia besar seharusnya disimpan.

Aiko menjelaskan dengan runtut, tanpa berlebihan. Dion mendengarkan dengan penuh perhatian, perasaannya perlahan dipenuhi rasa puas yang sulit ia sembunyikan.

Mereka kembali ke lift.

Lantai empat puluh tujuh.

Begitu pintu terbuka, suasana berubah drastis.

Ruangan terbentang megah, living room luas dengan langit-langit tinggi, lampu gantung artistik menjuntai anggun. Sofa-sofa elegan tersusun rapi, sementara dinding kaca besar memamerkan panorama kota yang kian tenggelam dalam cahaya sore.

“Ini area penerimaan dan hiburan,” kata Aiko, ia menunjuk ke sisi ruangan.

“Wine cellar dan cigar lounge.”

Rak-rak kayu berisi botol anggur tersusun rapi, sementara aroma kayu dan kulit samar tercium dari area lounge.

“Bar pribadi dengan bartender otomatis,” lanjutnya, “ruang jamuan tamu elit, dan...”

Aiko berhenti sejenak, memberi ruang bagi Dion untuk melihat.

Sebuah piano grand hitam mengilap berdiri di sudut, diapit instalasi seni mahal yang tampak seperti lukisan abstrak bernilai tak terbayangkan.

Dion menelan ludah, ia berdiri diam, menyerap semuanya.

Dari seorang yatim piatu yang hidup di kontrakan sempit, bekerja serabutan demi bertahan, kini ia memiliki tempat seperti ini.

Perasaan asing itu kembali menguat, antara takjub dan tak percaya.

Lift kembali membawa mereka naik.

Lantai empat puluh delapan.

Begitu pintu terbuka, keheningan lembut menyambut.

“Ini area privat Anda,” ucap Aiko lebih pelan.

Master bedroom terbentang luas, jendela besar menghadap langit yang mulai berwarna jingga. Di sisi lain, walk-in closet sebesar apartemen, rak-rak pakaian kosong menunggu diisi.

Aiko membuka pintu lain.

“Kamar mandi spa,” katanya sambil tersenyum, “onsen, jacuzzi, sauna.”

Uap hangat samar terasa dari dalam. Di luar, terdapat balkon pribadi dengan smart privacy glass yang bisa berubah transparan atau buram sesuai keinginan.

Dion mengangguk, kali ini tak lagi menyembunyikan kepuasannya.

Lift bergerak lagi.

Lantai empat puluh sembilan, udara terasa lebih terbuka.

“Ini lantai relaksasi,” jelas Aiko.

Kolam renang pribadi terbentang luas, airnya berkilau memantulkan cahaya langit. Di sampingnya, sky gym eksklusif dengan alat-alat modern, ruang meditasi dan yoga yang tenang, serta ruang pijat dan terapi dengan pencahayaan lembut.

Sebuah jalur lari kaca, Sky Track, melayang di sisi bangunan, menawarkan sensasi berlari di atas kota.

Dion membayangkan dirinya berendam di kolam itu, menenangkan pikiran, bermeditasi setelah hari-hari yang berat. Bayangan itu terasa nyata.

Lift kembali naik untuk terakhir kalinya.

Lantai lima puluh.

Pintu terbuka, dan angin sore menyentuh wajah mereka.

“Ini lantai puncak,” ucap Aiko.

Helipad pribadi terbentang di satu sisi. Sky garden dan lounge terbuka dipenuhi tanaman hijau dan kursi santai. Ada ruang pesta eksklusif, sistem pertahanan dan anti-drone, serta sebuah observatorium mini yang menghadap langsung ke kota.

Dari sini, Kota Lampung Selatan terbentang luas.

Gedung-gedung tinggi berdiri berjejer, jalan-jalan tampak seperti garis tipis, kendaraan bergerak seperti semut. Matahari hampir tenggelam, melukis langit dengan warna senja yang hangat.

“Terima kasih, Nona Aiko,” ucap Dion akhirnya, suaranya tenang namun mengandung rasa yang sulit disembunyikan, “pasti melelahkan menjelaskan semua ini.”

Aiko tertawa kecil, senyumnya cerah.

“Terima kasih, Tuan Dion. Aku memang menyukai pekerjaan ini,” katanya ringan, “walaupun… ya, melelahkan juga. Hehe.”

Wajahnya yang cantik tampak semakin memesona diterpa cahaya senja.

Setelah berpamitan, Aiko kembali bekerja. Dion mengangguk, dan memilih untuk tak diantar.

Ia berdiri sendirian di puncak gedung. Matahari perlahan turun, cahaya senja menyelimuti kota.

“Perasaan seperti ini…” gumam Dion pelan, “sangat asing bagiku.”

Ia menatap gedung-gedung di bawah, menghirup udara dalam-dalam. Setelah beberapa saat, Dion berbalik dan kembali ke lantai empat puluh delapan, menuju ruang pribadinya. Menuju kehidupan barunya.

1
iky__
I keep reading
iky__
up trus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!