rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Retak
Kegelapan masih menyelimuti rumah bagai selimut tebal yang tak mau lepas. Ponsel Shadiq menunjukkan pukul 04:52. Ia terbangun karena tarikan lembut pada lengan bajunya, pelan namun gigih, seperti isyarat yang tak bisa diabaikan.
“Pa… Papa…”
Suara kecil Irva, serak oleh tidur. Shadiq membuka mata. Anaknya berdiri di sampingnya, rambut acak-acakan, piyama bergambar dinosaurus yang kusut. Cahaya samar dari lampu teras menyelinap melalui celah pintu, cukup untuk menerangi mata Irva yang lebar dan penuh tanya.
Shadiq segera duduk di lantai dingin ruang tamu. Badannya terasa kaku—semalaman ia terpaksa tidur di atas tikar tipis karena pulang lewat tengah malam, pintu terkunci dari dalam. “Irva… Pagi banget kok udah bangun aja sayang?” suaranya berat serak bangun tidur campuran kekesalan pada Farhank yang menahannya pulang dua hari, berusaha terdengar lembut.
Irva menguap kecil, menggosok matanya. “Irva pengen pipis terus kebangun… Papa tidur di sini. Mama sendiri di kamar"
Shadiq menelan ludah, merasa tak pantas menceritakan pulang lambat semalam. pesan yang tak terkirim itu masih menggema di kepalanya. “Mama capek, sayang. pengen tidur nyenyak. Papa tidur sini biar kasurnya luas buat kalian"
Irva mengangguk polos, namun matanya masih menyimpan keheranan. “ohh. tapi kan mama cariin papa terus. mama tanya irva kapan papa pulang”
Shadiq tersenyum getir, mengangkat Irva ke pangkuannya. Tubuh mungil itu terasa hangat. “papa pulang secepatnya, tapi kemarin papa lembur cari uang buat Irva beli tas”
Irva memeluk lehernya. “tapi kan papa juga janji ga pulang telat ”
Dada Shadiq sesak. Ia mencium kening Irva. “, nak. papa juga ga niat telat tadinya. tapi namanya juga lembur"
Mata Irva berbinar sejenak. “Ke kolam renang lagi yuk pa. Irva pengen naik perosotannya?”
Shadiq tertawa kecil, meski hatinya berat. “iya-iya besok. Sekarang, mandi dulu biar nanti di sekolah seger.”
Ia menggendong Irva ke kamar mandi kecil di belakang. Sebuah ember plastik telah penuh air hangat— Arva mungkin telah menyiapkan untuk Irva. Shadiq memandikan anaknya dengan hati-hati, sabun mandi berbusa banyak, dan Irva terkikik saat punggungnya digosok.
“Papa, itu geli!”
“Biar bersih sayang. guru di sekolah nanti bilang Irva yang paling wangi.”
Shadiq membungkus Irva dengan handuk besar dan membawanya ke kamar. Pintu kamar utama masih tertutup rapat. Ia mendengar suara Arva dari arah dapur—dentang pisau memotong sayur dan desis wajan.
Shadiq menurunkan Irva di ruang tamu dan memberikannya pakaian ganti. “Tunggu Papa di sini ya, sayang. Papa ke dapur sebentar. minum.”
Ia berjalan pelan menuju dapur. Arva berdiri membelakangi, fokus menggoreng telur mata sapi. Rambutnya diikat ekor kuda yang agak kusut, celemek batik masih terikat di pinggang. Aroma bawang goreng dan nasi hangat memenuhi ruangan.
“Pagi, Sayang,” Shadiq menyapa, suaranya rendah.
Arva tidak menoleh. Hanya bahunya yang sedikit mengeras. Wajan digoyang-kannya lebih keras.
Shadiq mendekat, berusaha meraih pinggang Arva dari belakang. Arva menggeser tubuhnya, menghindar. “Aku pulang tadi malam. aku, ada urusan mendadak dari atasan.”
Arva akhirnya menoleh sekilas. Matanya kemerahan, seperti tak sempat terpejam. “Mendadak dua hari? Teleponmu mati? gampang banget bilang urusan mendadak?"
Shadiq menunduk. " itu gara-gara di sana ga ada sinyal, aku udah coba telpon tapi ga bisa sayang. Aku janji, ini yang terakhir kali.”
Arva terkekeh pendek, getir. “Janji terakhir? udah berapa kali bang? capek denger kamu ngomong gitu bang. kamu liat tuh anakmu yang kamu bohongi terus, nanya papa mana? papa kok belum pulang? papa kerjanya di mana?" Arva memegangi keningnya " kami ga kasian Arva masih kecil , dia butuh papanya. tapi apa? kamu kayak ga peduli sedikit pun bang. kerja, kerja, kerja. kapan pulang"
Shadiq mencoba menggenggam tangan Arva. “Aku tahu ini salahku. Tapi semua ini untuk kita. Untuk uang—”
“Uang?” Arva memotong, suaranya meninggi setengah nada. “Uang ga bisa gantiin papa buat Irva! aku jagain dia sendirian, sering!.. gausah lagi peduli- in aku aja sana, tapi aku minta tolong bang, jangan kecewa- in Irva "
Shadiq terdiam. Tak ada alasan yang tepat. Ia tak bisa bercerita tentang peti misterius, tembakan maut, atau Farhank.
Tiba-tiba, suara kecil terdengar dari ambang pintu dapur. “Mama… Papa… Irva udah selesai mandi! dingin. bantuin pake baju."
Irva berdiri di sana, handuk masih melilit di bahunya, rambutnya basah.
Arva segera mematikan kompor, wajahnya berubah lembut. Ia menggendong Irva. “Iya, Nak. ayo ganti baju.”
Arva melangkah melewati Shadiq tanpa sekilas pandang, membawa Irva ke kamar.
Shadiq sendiri di dapur. Ia duduk di kursi plastik kecil, menundukkan kepala ke tangannya. Bingung. Kacau. Terjepit sempurna—Farhank di satu sisi, keluarganya di sisi lain. Peti di bawah tempat tidur bagai bom waktu yang siap meledak.
Beberapa menit kemudian, Irva berlari ke ruang tamu. “Papa! Ayo sarapan!”
Shadiq mengikutinya. Di meja makan kecil, Arva telah menyiapkan nasi goreng, telur mata sapi, dan tempe goreng—termasuk porsi untuk Shadiq, lengkap dengan segelas teh manis.
“ makasih, Sayang,” kata Shadiq pelan.
Arva tidak membalas. Ia duduk di depan Irva, dengan sabar menyuapi anaknya, senyum hangatnya hanya untuk Irva.
“Irva suka ga guru barunya? Katanya bu guru barunya cantik, ya?” tanya Arva.
Irva mengangguk antusias, mulutnya penuh. “Iya, Mama! Bu Rina cantik banget kaya mama. Kemarin dia kasih Irva stiker bintang!”
Arva tersenyum. “Bagus. Habisin juga sayurnya, biar semakin pintar.”
Shadiq mencoba menyelipkan canda. “Papa juga mau stiker bintang dari Irva, dong.”
Irva terkikik. Arva tetap diam, melanjutkan aktivitasnya.
Shadiq melirik jendela—langit mulai berwarna biru keabu-abuan, disapu cahaya matahari pagi yang samar.
Tiba-tiba Irva menarik lengan Shadiq. “Papa! Nanti akhir pekan kita ke kolam renang yang ada perosotannya, ya? Papa janji!”
Shadiq membuka mulut untuk mengatakan “iya”, tetapi Arva menyela lebih dulu, suaranya datar namun tajam.
“Papa sibuk, Nak. Papa jarang ada di rumah soalnya banyak lebur dadakan. Papa capek main di luar. Papa mulai bosan di sini bareng kita.”
Mata Irva membulat. “Papa bosan main sama Irva?”
Shadiq segera menyangkal. “ga sayang , mama lagi bercanda! Papa ga pernah bosan. papa malah pengen main bareng Irva terus.”
Arva menatap Shadiq dengan dingin. “Buktinya? Dua hari kemarin di mana bang? Janjimu pulang cepetnya ke mana?”
Suara Shadiq memotong omongan Arva. “Aku kerja, Arva! buat kita! buat biaya sekolah Irva, untuk kebutuhan yang lain juga!”
Arva memicingkan mata, suaranya rendah namun penuh tekanan. “kerja buat apa kalo sampai ga bisa pulang? "
Irva terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. “Mama… Papa…”
Arva segera memeluk Irva erat. “Ssst, Nak. Mama ga lagi marah. Mama sayang Irva.”
Shadiq hanya bisa diam. Dadanya terasa sesak.
Arva berdiri, menggendong Irva. “Ayo, waktunya berangkat sekolah. Tasnya sudah siap?”
Ia berpaling kepada Shadiq, suaranya datar. “ minta saku buat Irva.”
Shadiq mengeluarkan dompetnya, memberikan segenggam uang seratus ribuan - satu juta.
Arva menerimanya tanpa ekspresi, tanpa rasa terkejut atau penilaian. Hanya datar. Ia membantu Irva mengenakan sepatu hitam kecilnya di depan pintu. Irva mencium tangan Shadiq sekilas, namun matanya telah kehilangan cahaya.
Shadiq hanya bisa duduk dan menyaksikan. Tidak bisa ikut, tidak bisa berkata apa-apa.
Pintu terbuka. Arva dan Irva melangkah keluar. Langkah Arva cepat, tanpa kata perpisahan.
Pintu tertutup.
Shadiq sendiri di dalam rumah yang sunyi. Di bawah tempat tidur, peti itu masih menunggu.
ia menuju kamar, peti aman , tapi tidak dengan hidupnya.