Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.
Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.
Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.
Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10. persiapan pernikahan
Setelah perjalanan cukup panjang Riana dan Landerik akhirnya sampai di rumah sakit. Rumah sakit kota itu berdiri megah dengan dinding kaca tinggi dan lobi yang penuh aroma antiseptik yang familiar. Saat mereka memasuki area onkologi, suasananya langsung berubah lebih sunyi seakan seluruh lantai itu menyimpan kisah antara harapan dan perpisahan.
Landerik berjalan di samping Riana, menggenggam tangannya seperti tidak pernah ingin melepaskannya. Riana tersenyum kecil pada setiap perawat yang lewat, meski tubuhnya sudah tampak semakin lemah.
“Selamat datang, Bu Riana,” sapa seorang perawat dengan ramah saat melihat mereka datang. “Kami sudah menyiapkan ruangan kemo untuk Anda.”
“Terima kasih,” jawab Riana lembut.
Landerik membantu Riana melepas mantel tebalnya lalu menyerahkannya pada perawat. Ia tampak cekatan, namun sorot matanya tidak tanpa luka. Mereka masuk ke ruangan terapi, ruangan luas dengan kursi-kursi empuk dan tiang infus yang berjejer. Cahaya matahari masuk dari jendela besar, membuat semuanya terlihat terlalu putih. Riana duduk perlahan di kursi nomor tujuh, kursi yang sama yang selalu ia tempati setiap jadwal kemo.
Landerik berlutut di hadapannya, memastikan penutup kepala rajutnya tidak miring. “Kau nyaman?” tanyanya, suaranya sangat hati-hati seolah takut menyentuh rapuhnya wanita itu bahkan dengan kata-kata. Riana tersenyum. “Selalu nyaman kalau kau ada di sini.”
Seorang perawat datang membawa alat infus berisi cairan kemoterapi. “Kami akan mulai, Pak.” Landerik berdiri dan memberi ruang. Perawat memasang jarum pada lengan Riana dengan hati-hati. Riana mengerjap sedikit saat jarum itu masuk, lalu tersenyum kecil, Ia sudah terlalu terbiasa dengan rasa itu. Ketika semuanya siap dan mesin mulai bekerja, suara kecil ‘beep’ mengisi ruangan.
Landerik kembali duduk di sampingnya. Riana memejamkan mata, napasnya tenang namun dalam. Landerik menatap wajah istrinya lama, terlalu lama sampai perawat yang lewat pun sempat melirik karena melihat ekspresi yang begitu penuh sesak.
“Jangan menatapku seperti itu,” bisik Riana tanpa membuka mata.
“Seperti apa?”
“Seperti kau sedang mencoba menghafal wajahku sebelum aku pergi.”
Landerik terdiam seketika. Riana membuka mata dan menatapnya. “Aku masih di sini, Lander. Aku belum pergi.”
“Aku tahu, tapi aku takut suatu hari aku bangun dan kau—” Suara Landerik terdengar pecah meski ia menahannya mati-matian.
“Tidak hari ini,” potong Riana lembut sambil menyentuh pipinya. “Hari ini kita tidak bicara tentang itu.” Ia tersenyum, senyum lembut seorang wanita yang berusaha melindungi suaminya meski ia sendiri sedang bertarung dengan maut.
Setelah beberapa menit, Riana berkata pelan, “Lander, aku benar-benar bahagia karena Noa menerima permintaanku. Aku ingin kau memiliki seseorang yang akan menjaga jiwamu ketika aku tidak bisa. Kamu pantas bahagia.”
Landerik menunduk.
Bulir air jatuh di punggung tangan Riana, air mata yang tidak berhasil ia sembunyikan. “Tidak ada yang bisa menggantikanmu,” katanya lirih. Riana mengusap air mata itu dengan ibu jarinya, meski tangan yang menggigil membuat gerakannya tidak stabil.
“Aku tidak minta digantikan. Aku hanya, tidak ingin kau sendirian.”
Hening turun di antara mereka. Mesin kemo terus bekerja. Cahaya matahari menimpa wajah Riana, membuatnya terlihat damai, seolah sakit itu bukan miliknya.
Dan di kursi kecil itu, Landerik memegang tangan istrinya sepanjang proses, seakan waktu bisa diperlambat hanya dengan sentuhan.
...♡...
Hari-hari berlalu dengan cepat. Angin musim semi bertiup lembut di ibu kota, membawa aroma bunga yang bermekaran di taman-taman kota. Namun bagi Riana dan Landerik, hari-hari itu terasa seperti berlari melawan waktu. Pernikahan antara Noa dan Landerik akan berlangsung besok.
Hotel mewah tempat acara akan dilaksanakan, sebuah bangunan berarsitektur klasik modern dengan chandelier kristal raksasa di lobi telah dipenuhi oleh keluarga besar dari pihak Riana dan Landerik. Semua terlihat sibuk, mondar-mandir dengan pakaian mahal dan wajah penuh antisipasi. Saat mobil keluarga berhenti di depan pintu masuk hotel, para staf berbaju hitam langsung membuka pintu.
Riana keluar perlahan, tubuhnya semakin kurus, namun dia mengenakan gaun rajut elegan dan selendang tipis yang membuatnya terlihat anggun. Di belakangnya, kedua orang tuanya ikut turun wajah mereka tampak bangga sekaligus sedih. Mereka tahu putri mereka sudah mendekati batasnya.
Landerik memegang lengan Riana dengan hati-hati, membantu menyeimbangkan langkahnya.
“Kau yakin tidak ingin beristirahat dulu?” tanyanya pelan.
“Aku baik-baik saja,” jawab Riana sambil tersenyum. “Ini mungkin hari-hari terakhir di mana aku masih bisa mengatur semuanya.”
Landerik menggenggam tangannya, jelas tidak setuju, tapi ia tidak memaksa. Ia tahu ini penting bagi istrinya. Ketika mereka memasuki lobi yang megah itu, gemerlap lampu kristal memantul di lantai marmer. Beberapa keluarga dari pihak Riana, paman, bibi, sepupu, langsung menghampiri.
“Riana, sayang, kau tampak cantik sekali,” ujar salah satu bibinya, memeluknya hangat.
“Kau tahu aku selalu tampil cantik, Bi,” jawab Riana, mencoba bercanda. Beberapa keluarga menatapnya iba, namun Riana tetap menebar senyum, seolah tidak ingin ada yang melihat kesakitannya.
Di sudut lain, keluarga Landerik orang-orang berpostur tinggi dan elegan juga memperhatikan kedatangan mereka. Mereka menyapa dengan sopan, meski dalam hati masih bingung dengan keputusan yang tidak biasa, seorang suami menikahi wanita lain sementara istrinya masih ada.
Namun keluarga besar Van Bodden tidak pernah menentang keputusan Riana bahkan Landerik pun tidak menentangnya, karena pria itu dikenal bijaksana dan setia. Jika ia sedang melakukan sesuatu, pasti itu demi alasan yang besar. Riana dan kedua orang tuanya ditempatkan di suite elite lantai atas. Pemandangan kota terbentang indah dari balik jendela. Di dalam kamar, Riana langsung duduk di sofa empuk, menarik napas panjang.
“Kau harus banyak istirahat,” ujar ibunya, suara dipenuhi kekhawatiran.
“Aku tahu, Bu.” Riana memegangi kepalanya yang berat. Efek kemo baru-baru ini masih terasa. Landerik menurunkan koper mereka dan meletakkan selimut di pangkuan Riana.
“Kalau kau butuh aku, telepon. Aku ada di lantai sebelah.”
Riana tersenyum, tetapi air mata tipis menggenang di matanya. “Terima kasih, Lander, Untuk segalanya.”
Landerik menunduk dan mencium kening Riana perlahan dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Ia kemudian keluar, menutup pintu dengan lembut.
To Be Countinue...