Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lagi lagi drop..
Indira meringkuk di lantai, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut. Isaknya terdengar pilu di keheningan kamar yang mewah namun terasa seperti penjara itu. Tubuhnya yang semakin kurus tampak berguncang hebat. Ancaman Arjuna bukan sekadar gertakan; ia tahu pria itu memiliki kuasa untuk menghentikan seluruh aksesnya ke dunia luar, termasuk mimpi kuliahnya.
Cklek.
Pintu terbuka perlahan. Indira tidak bergerak, ia mengira itu Arjuna yang kembali untuk mencacinya. Namun, aroma minyak kayu putih yang familiar tercium. Itu Darsih.
"Nduk..." bisik ibunya lirih. Darsih segera menghampiri putrinya, memeluk tubuh ringkih itu dan membantunya duduk di tepi ranjang.
"Bu, Mas Arjuna jahat... dia mau membatalkan kuliahku," adu Indira dengan suara serak. Matanya yang cekung semakin sembap.
Darsih hanya bisa mengelus punggung putrinya dengan sedih. Sebagai ibu, hatinya hancur melihat anaknya diperlakukan seperti barang milik, namun ia juga tahu posisinya sebagai pelayan di rumah ini.
"Sstt... tenangkan dirimu dulu, nduk. Inget bayimu. Usianya baru tiga bulan, masih sangat rawan kalau kamu stres seperti ini," bujuk Darsih.
"Aku benci dia, Bu! Aku mau pergi saja!"
"Jangan bicara begitu!" Darsih membekap mulut Indira pelan. "Kamu tahu sendiri siapa Den Arjuna. Semakin kamu lawan, semakin dia akan menjepitmu. Kalau kamu mau kuliah, kamu harus pandai mengambil hatinya lagi."
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka lebar. Arjuna berdiri di sana, sudah mengganti kemeja kantornya dengan kaos santai. Wajahnya masih datar, namun kilat kemarahan tadi sudah sedikit mereda, berganti dengan tatapan dominan yang dingin.
"Bik, keluar. Biarkan dia makan," perintah Arjuna singkat sambil menunjuk nampan makanan yang dibawa pelayan lain di belakangnya.
Darsih mengangguk patuh, memberikan remasan pelan di tangan Indira sebagai kode agar putrinya tidak membantah lagi, lalu ia keluar dari kamar.
Arjuna berjalan mendekat, menarik kursi dan duduk tepat di depan Indira yang masih sesenggukan. Ia mengambil mangkuk bubur nutrisi dan menyodorkan sesendok ke arah bibir Indira.
"Makan," ucapnya pendek.
Indira memalingkan wajah, masih sakit hati.
"Jangan membuatku mengulangi ancamanku tentang universitas itu, Indira. Buka mulutmu atau aku sendiri yang akan memasukkannya secara paksa."
Indira gemetar. Dengan penuh keterpaksaan dan rasa benci yang membuncah, ia membuka mulutnya. Ia menelan makanan itu meski rasanya seperti pasir di tenggorokan.
Setelah beberapa suapan, Arjuna meletakkan mangkuk itu. Ia meraih dagu Indira, memaksanya menatap matanya. "Bima atau pria manapun, tidak ada yang boleh menyentuh atau melihatmu selain aku. Kamu paham?"
Indira hanya mengangguk pelan, air matanya jatuh mengenai tangan Arjuna.
"Bagus. Besok aku akan mendaftarkanmu ke universitas yang kamu mau, tapi dengan satu syarat: aku yang akan menentukan jadwalmu, dan setiap langkahmu akan diawasi pengawal. Mengerti?"
Indira tertegun. Di satu sisi ia lega karena masih bisa kuliah, namun di sisi lain ia sadar bahwa kebebasannya akan semakin terkikis habis.
"Satu lagi," tambah Arjuna sambil menarik Indira ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala gadis itu dengan posesif. "Malam ini, asupanku harus lebih banyak. Sepertinya aku butuh ketenangan setelah emosi karena ulahmu tadi sore."
Indira hanya bisa terdiam, membiarkan Arjuna kembali memperlakukannya sebagai sumber nutrisi dan pelampiasan rasa miliknya.
***
Awwhhh..!
Indira memegangi perutnya yang tiba tiba kontraksi hebat,bertepatan saat Arjuna akan pergi.
"Ada apa? perutmu sakit lagi?" Arjuna menaikkan satu alisnya memastikan Indira tidak sedang bercanda.
"Awwhhh!.perutku kram,,rasanya sangat sakit,,tolong aku,," rintihnya sambil menangis.
Arjuna langsung menelepon dokter langganan keluarga mereka,lalu membantu Indira berbaring.
"Kenapa perutmu semakin sering sakit?apa kamu salah makan?" gumam Arjuna.
Indira tidak menanggapi ucapan Arjuna,,masih mengerang kesakitan.
Suasana di rumah besar keluarga Pratama mendadak mencekam. Di lantai atas, tepatnya di kamar sayap kanan yang ditempati Arjuna dan Indira, ketegangan baru saja pecah. Di atas ranjang, Indira terbaring lemah dengan wajah sepucat kapas. Dokter keluarga baru saja pergi setelah memberikan suntikan penguat kandungan karena Indira mengalami flek akibat tekanan batin yang luar biasa.
Di ruang tengah, Hamidah—ibu Arjuna—menatap putranya dengan kemarahan yang meluap-luap. Di sampingnya, Pratama berdiri dengan wajah mengeras.
"Kamu sudah gila, Arjuna! Di rumah ini ada ibu dan ayah, tapi kamu berani berbuat sekasar itu pada Indira?" teriak Hamidah. "Lihat dia! Dia semakin kurus, matanya cekung, dan sekarang kandungannya lemah. Kamu mau membunuh cucu kami?!"
Pratama menyambar bicara, "Ayah sudah memutuskan. Karena kamu tidak bisa mengontrol emosimu meski tinggal di bawah atap yang sama dengan kami, Ayah akan mengirim Indira dan Bi Darsih ke rumah peristirahatan di luar kota malam ini juga. Dia butuh ketenangan tanpa gangguanmu!"
Arjuna, yang sejak tadi berdiri dengan tangan di saku celana, justru terkekeh sinis. Bukannya takut, ia malah melangkah maju, menantang ayahnya dengan tatapan mata yang gelap dan penuh otoritas.
"Mengirim dia menjauh dariku?" tanya Arjuna dingin. "Silakan coba, Yah. Tapi ayah harus ingat, siapa yang saat ini memegang kendali atas seluruh aset dan operasional perusahaan keluarga kita. Jika ayah berani memisahkan Indira dariku, aku pastikan besok pagi ayah tidak akan punya satu pun saham yang tersisa di perusahaan itu."
"Juna! Kamu mengancam orang tuamu demi egomu?" Pratama terkejut melihat nekatnya sang putra.
"Aku tidak mengancam, aku sedang menegaskan kepemilikan," sahut Arjuna mutlak. "Indira adalah milikku. Mau kita tinggal di rumah ini, di paviliun, atau di ujung dunia sekalipun, tidak ada seorang pun—termasuk ayah dan ibu—yang punya hak ikut campur urusan kami. Dia tetap di sini, di bawah pengawasanku!"
Hamidah terisak, "Tapi dia sedang sakit, Juna... dia butuh kasih sayang, bukan tekanan!"
"Maka biarkan aku yang 'menanganinya' dengan caraku!" Arjuna berbalik tanpa memedulikan tatapan syok orang tuanya. Ia melangkah naik ke lantai atas, menuju kamar di mana Indira berada.
Begitu pintu terbuka, ia melihat Darsih sedang mengusap kening Indira yang berkeringat dingin.
"Keluar, Bik!" perintah Arjuna tanpa menoleh.
"Den, tapi Indira butuh istirahat..."
"Aku bilang KELUAR!" bentak Arjuna. Darsih gemetar dan buru-buru meninggalkan kamar.
Arjuna mengunci pintu. Ia mendekati ranjang, menatap Indira yang masih terpejam lemas. Ia duduk di tepi ranjang, tangannya yang besar mengusap kasar pipi Indira yang semakin tirus. Rasa posesif yang gila membakar dadanya; ia benci fakta bahwa orang lain mencoba menjauhkan miliknya darinya.
Arjuna perlahan merangkak naik ke atas ranjang. Meski tahu kondisi Indira sedang drop dan kandungannya lemah, ia tidak peduli. Ia merasa "nutrisinya" adalah hak mutlak yang tidak boleh terlewatkan.
"Jangan berpikir untuk pergi dariku, Indira," bisik Arjuna di telinga gadis itu. Ia mulai menyingkap pakaian Indira dengan kasar namun tetap dengan ritme yang menuntut. "Sekarang, beri aku apa yang menjadi milikku. Aku sedang tidak ingin dibantah."
Indira membuka matanya sedikit, air mata mengalir dari sudut matanya yang cekung. Ia terlalu lemas untuk melawan, sementara pria di atasnya ini tetap menuntut asupan dari tubuhnya yang sudah sekarat.
bersambung..
semoga aja pernikahan Indira dan Arjuna di warnai cinta
klo gt gn kn cr pnculik kn hamidh.... tutup semua jalur indi dr ank kau