NovelToon NovelToon
TERKUTUK! Rumah Tua Ini Simpan Rahasia Kematian Ibuku Yang Sebenarnya!

TERKUTUK! Rumah Tua Ini Simpan Rahasia Kematian Ibuku Yang Sebenarnya!

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Trauma masa lalu / Keluarga / Roh Supernatural / Romansa
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Bangjoe

Setelah kematian ayahnya, Risa Adelia Putri (17) harus kembali ke rumah tua warisan mendiang ibunya yang kosong selama sepuluh tahun. Rumah itu menyimpan kenangan kelam: kematian misterius sang ibu yang tak pernah terungkap. Sejak tinggal di sana, Risa dihantui kejadian aneh dan bisikan gaib. Ia merasa arwah ibunya mencoba berkomunikasi, namun ingatannya tentang malam tragis itu sangat kabur. Dibantu Kevin Pratama, teman sekolahnya yang cerdas namun skeptis, Risa mulai menelusuri jejak masa lalu yang sengaja dikubur dalam-dalam. Setiap petunjuk yang mereka temukan justru menyeret Risa pada konflik batin yang hebat dan bahaya yang tak terduga. Siapa sebenarnya dalang di balik semua misteri ini? Apakah Bibi Lastri, wali Risa yang tampak baik hati, menyimpan rahasia gelap? Bersiaplah untuk plot twist mencengangkan yang akan menguak kebenaran pahit di balik dinding-dinding usang rumah terkutuk ini, dan saksikan bagaimana Risa harus berjuang menghadapi trauma, dan Pengkhianatan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bangjoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Kunci dan Bayangan Ibu

Cahaya liontin di leher Risa memancar, bukan lagi sekadar binar, melainkan gelombang kehangatan yang mendesak. Gelombang itu menepis bayangan hitam yang melilit kakinya, menciptakan jalur sempit nan bergejolak. Udara di sekelilingnya berdesir, seolah ruang itu sendiri berjuang melawan kekuatan yang baru bangkit dari benda pusaka kecil itu.

“Ibu…” Bisikan Risa pecah, nyaris tak terdengar di tengah desa angin gaib. Air matanya mengalir, bukan karena takut, melainkan haru yang meluap. Bayangan wanita itu, samar tapi nyata, di balik celah yang diciptakan liontinnya, terlihat begitu familier. Senyumnya, tatapan matanya… itu adalah ibunya. Ibunya yang hilang, ibunya yang mati, ibunya yang selama ini mencarinya dan memanggilnya.

Dengan tekad baru yang membara, Risa melangkah maju. Setiap langkah adalah perjuangan. Rantai bayangan berusaha menariknya kembali, mencengkeram pergelangan kakinya, seolah ingin menyeretnya ke dalam jurang kegelapan abadi. Namun, cahaya liontinnya semakin menguat, membelah kegelapan menjadi serpihan-serpihan abu yang lenyap sebelum sempat menyentuhnya. Ia bisa merasakan tarikan kuat, bukan hanya dari liontin itu, tetapi juga dari sosok ibunya yang memanggil, menjanjikan jawaban, menjanjikan kedamaian.

Ruangan itu berputar, dinding-dinding bayangan melengkung seperti koridor tak berujung. Risa tahu ini bukan tempat biasa. Ini adalah dimensi lain, sebuah penjara yang diciptakan oleh kekuatan gelap, mungkin oleh Bibi Lastri, atau bahkan oleh sesuatu yang lebih tua dan lebih jahat dari Bibi Lastri. Dan di sinilah, di tengah kekacauan ini, kebenaran terakhir menanti.

Ia terus berjalan, pandangannya terpaku pada celah cahaya di kejauhan, tempat bayangan ibunya berdiri. Celah itu perlahan membesar, menampakkan sebuah pintu. Pintu kayu tua, dengan ukiran kuno yang rumit, persis seperti yang sering muncul dalam mimpi buruknya. Pintu yang sama persis dengan yang ia lihat di balik cermin ruang tamu. Tapi ini bukan sekadar pintu. Ini adalah gerbang. Gerbang menuju… entah apa.

Semakin dekat Risa melangkah, semakin kuat pula ia merasakan kehadiran di balik pintu itu. Dingin. Menggigit. Kekuatan itu bukan lagi sekadar bisikan, melainkan raungan tanpa suara yang bergetar di benaknya, mencoba menguasai pikirannya. Risa menggigit bibirnya, menahan gelombang pusing yang menyerang. Ini bukan arwah gentayangan. Ini adalah energi yang jauh lebih purba, lebih primitif, penuh dendam dan rasa lapar yang tak terpuaskan. Mungkin ini yang selama ini menjaga rumah itu, yang melahap setiap harapan dan kebahagiaan.

Bayangan ibunya kini tampak lebih jelas, berdiri tepat di depan pintu itu. Senyumnya tetap ada, tapi kini ada semacam kesedihan dan penyesalan yang mendalam di matanya. Ibunya mengangkat tangannya, memperlihatkan sesuatu. Sebuah kunci. Bukan liontin kunci kecil milik Risa, melainkan kunci yang lebih besar, terbuat dari perunggu tua yang menghitam, dengan ukiran yang sama persis dengan yang ada di pintu. Itu adalah *kunci yang sebenarnya*.

“Ibu… bagaimana…?” Risa berusaha meraih, namun bayangan itu hanya tersenyum tipis, menggelengkan kepala. Ibunya tidak bisa menyentuhnya. Ibunya ada di dimensi lain, atau mungkin hanya proyeksi energi. Bayangan ibunya menunjuk ke arah kunci di tangannya, lalu menunjuk ke liontin Risa, dan akhirnya menunjuk ke pintu. Sebuah pesan yang jelas. Risa harus menggunakan liontinnya untuk mengaktifkan kunci itu, untuk membuka pintu.

Namun, sebelum Risa sempat bertindak, getaran hebat mengguncang seluruh ruang bayangan. Gelombang energi gelap menyapu dari arah yang tak terduga, jauh di belakangnya. Raungan itu kini bukan hanya di benak, tapi nyata, memekakkan telinga. Ruangan itu runtuh. Bayangan-bayangan hitam menjulur, kali ini lebih cepat, lebih ganas, seolah tahu Risa akan segera mencapai tujuannya.

“Risa!”

Sebuah suara. Suara yang sangat familier. Kevin. Ia masih hidup. Ia masih berjuang. Nama itu seperti jangkar di tengah badai. Risa menoleh cepat, mencari sumber suara. Di antara runtuhan bayangan, sebuah celah cahaya lain terbuka, lebih kecil, lebih redup. Dan di sana, ia melihat Kevin. Terikat oleh rantai bayangan, berjuang keras, wajahnya pucat pasi namun matanya tetap tajam, mencari dirinya.

“Kevin!” Risa berteriak, suaranya serak. Jantungnya berdesir nyeri melihat temannya dalam bahaya. Ia ingin berlari ke arah Kevin, ingin membebaskannya. Tapi bayangan ibunya menggeleng lagi, kali ini dengan ekspresi mendesak. Ibunya menunjuk pintu itu dengan tergesa-gesa, lalu menunjuk ke liontin di leher Risa, lalu ke kunci perunggu. *Pintu itu. Kunci itu. Sekarang.*

Risa mengerti. Ia tidak punya waktu. Jika ia mencoba menyelamatkan Kevin sekarang, mereka berdua akan terjebak. Kunci dan pintu ini adalah satu-satunya jalan keluar, satu-satunya jalan menuju kebenaran, satu-satunya jalan untuk mengakhiri semuanya. Hanya dengan membuka pintu itu, mereka mungkin bisa bebas. Hanya dengan menghadapi apa pun yang ada di baliknya, mereka bisa menyelamatkan diri.

Dengan tangan gemetar, Risa meraba liontin kunci kecilnya. Cahayanya berdenyut, seolah menyalurkan energi langsung ke telapak tangannya. Ia harus melakukannya. Untuk Kevin. Untuk ibunya. Untuk dirinya sendiri.

Ia berbalik menghadap pintu, mengabaikan teriakan Kevin yang kini terdengar putus asa. Mengabaikan bayangan-bayangan yang semakin mendekat, mencoba merenggutnya. Ibunya tersenyum, kali ini senyum lega yang diselubungi kesedihan. Bayangan ibunya perlahan memudar, seolah tugasnya sudah selesai, seolah ia sudah menunjukkan jalan.

“Tunggu aku, Kevin!” Risa berteriak, janji itu membakar tekadnya. Ia mengangkat liontinnya ke arah pintu. Liontin itu berputar, cahaya putihnya memancar lebih terang dari sebelumnya, menyatu dengan kunci perunggu yang dipegang samar oleh bayangan ibunya. Kedua kunci itu, kunci simbolis dan kunci fisik, terhubung oleh energi yang sama.

Seketika, kunci perunggu itu melayang, berputar cepat, lalu melesat menembus pintu kayu tua. Tidak ada suara denting. Kunci itu seolah menyatu, melebur ke dalam ukiran pintu yang rumit. Dan kemudian, sebuah retakan muncul. Bukan retakan fisik, melainkan retakan energi, yang membelah pintu dari atas ke bawah. Cahaya keemasan memancar dari celah itu, menerangi kegelapan ruang bayangan, mengusir bayangan-bayangan hitam yang menjerit kesakitan dan lenyap menjadi asap.

Pintu itu kini terbuka. Perlahan, dengan derit yang memilukan, seolah telah tertutup ribuan tahun. Di baliknya, bukan lagi kegelapan total, melainkan sebuah ruang. Ruang yang familiar, namun juga asing. Sebuah ruangan yang dulunya adalah… kamar ibunya. Namun, kini ada aura dingin, mencekam, yang membuat bulu kuduk Risa merinding.

Dan di tengah ruangan itu, di sebuah meja kecil yang tertutup kain usang, tergeletak sesuatu. Sebuah buku harian. Sebuah belati. Dan sebuah… benda aneh. Seperti kalung, tapi dengan liontin yang jauh lebih besar, berbentuk seperti mahkota kecil, terbuat dari tulang berwarna putih kusam. Benda itu memancarkan aura hitam pekat, aura yang sama dengan yang ia rasakan mengelilingi Bibi Lastri. Aura yang sama yang menyebabkan semua penderitaan ini.

Di dinding di belakang meja itu, ada coretan aneh, simbol-simbol kuno yang seolah menari dalam kegelapan. Dan di bawahnya, terpasang sebuah cermin besar, cermin yang sama persis dengan cermin di ruang tamu, namun kali ini retak di tengah, memantulkan bayangan Risa yang terdistorsi.

Di dalam pantulan cermin itu, Risa melihat dirinya. Tapi bukan hanya dirinya. Di belakang pantulan dirinya, berdiri sesosok bayangan. Sosok wanita tua, dengan wajah keriput yang penuh kebencian, matanya merah menyala. Bayangan itu tersenyum mengerikan, lalu mengangkat tangannya. Di tangannya, sebilah belati berlumuran darah. Dan di sampingnya… Sosok Kevin, yang kini terikat dan tak sadarkan diri, perlahan ditarik masuk ke dalam pantulan cermin.

“Tidak!” Risa menjerit, kakinya melangkah maju, tangannya terulur ke arah cermin. Ia harus menyelamatkan Kevin. Ia harus menghentikan wanita tua itu. Tapi siapa dia? Apakah ini Bibi Lastri? Atau sesuatu yang jauh lebih buruk?

Di saat yang sama, dari balik pintu yang terbuka, sebuah suara parau, penuh kemenangan, menggemuruh. “Akhirnya… kau datang, Risa. Akhirnya, aku bisa menuntaskan semuanya!”

Itu suara Bibi Lastri. Risa berbalik. Bibi Lastri berdiri di ambang pintu, wajahnya bukan lagi senyum ramah, melainkan seringai iblis yang tak asing lagi. Matanya berkilat licik, tangan kanannya yang selalu ia tutupi kini terlihat. Bekas luka bakar samar itu kini memerah, seolah berdenyut. Dan di tangannya, ia memegang sebilah belati yang sama persis dengan yang ada di cermin. Belati itu bersinar, memantulkan cahaya redup dari kamar yang baru terbuka.

“Selamat datang di nerakamu, keponakanku sayang,” bisik Bibi Lastri, melangkah masuk, mengunci pandangannya pada Risa. “Sudah saatnya kau tahu… siapa dirimu sebenarnya, dan siapa *ibumu* yang terkutuk itu.”

Bayangan Kevin di dalam cermin semakin memudar, ditarik lebih dalam oleh sosok wanita tua yang mengerikan. Bibi Lastri tertawa, tawa yang menusuk telinga, yang dipenuhi kegilaan dan kemenangan. Risa berdiri di antara dua bahaya, dua musuh. Ibu tirinya yang serakah dan entitas jahat di dalam cermin, keduanya mengincar Kevin, dan mengincar… dirinya. Sebuah pilihan sulit di ambang kematian. Akankah Risa mampu menyelamatkan Kevin? Atau ia akan menjadi korban berikutnya di rumah terkutuk ini?

Suara Bibi Lastri selanjutnya terdengar seperti mantra, mengunci ruangan itu, menjebak Risa dalam takdir yang telah lama menunggunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!