NovelToon NovelToon
Buried By Love, Reborn As Disaster

Buried By Love, Reborn As Disaster

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Budidaya dan Peningkatan / Harem / Balas Dendam
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.

Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.

Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.

Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan Pertama

Ruang kultivasi itu sunyi seperti sumur tua yang tak pernah disentuh cahaya. Lilin kecil di sudut meja bergoyang tertiup angin yang entah dari mana datangnya, menyisakan bayangan yang pecah-pecah di dinding batu. Lin Feiyan duduk bersila di tengah ruangan, jubah tipisnya luruh di bahu, rambut hitamnya tergerai seadanya tanpa tenaga untuk merapikannya. Sejak siang tadi, ia tak bicara sepatah kata pun pada siapa pun. Bahkan napasnya terasa lebih berat dari biasanya, seolah ada beban tak terlihat yang menahan dadanya.

Ia memejamkan mata, mencoba memusatkan pikiran.

Hari itu—meditasi bersama Xi Qinxue, kekalahan memalukan di kompetisi, tatapan iba para murid, semuanya menempel seperti noda di dalam kepalanya. Ada rasa malu yang menekan dari dalam, tapi ia menahannya, menumpuknya bersama perasaan-perasaan lain yang tak pernah ia suarakan.

Ia ingin membuktikan dirinya. Meskipun hanya sedikit. Meskipun hanya di ruang sempit ini.

Setidaknya pada dirinya sendiri.

Feiyan membuka mata perlahan.

“Jika aku bisa naik satu tahap saja…” bisiknya, suaranya serak namun lembut.

Ia duduk lebih tegap, kedua telapak tangan ditempatkan di lutut. Udara sekitar mulai terasa hangat ketika ia menarik qi dari sekeliling, memandu alirannya memasuki meridian utama di bawah pusar. Lilin bergoyang lagi, namun kali ini bayangan Feiyan di dinding terlihat lebih menyempit, seperti mengecil dan memanjang dalam bentuk yang tidak wajar.

Feiyan tidak memperhatikan.

Ia mulai breakthrough.

Qi pertama yang masuk terasa dingin dan lembut, seperti kabut pagi. Namun ketika melewati titik jantung, aliran itu berubah liar. Ada getaran kecil, tidak seharusnya ada. Feiyan mengerutkan kening, tapi tetap memaksakan diri. Ia tidak ingin berhenti hanya karena ketidaknyamanan ringan.

Shackled Heart Seal dari Gao Lian masih berada di kedalaman emosinya—membuat jantungnya berdebar terlalu cepat setiap kali ia mencoba memusatkan pikiran. Perasaannya naik turun seperti ombak kecil yang terus menghantam. Feiyan merasakannya, namun ia berpikir itu hanya karena gugup.

Charm lembut Lin Yue, yang ia kira sekadar warm support, justru menutupi ketegangan tubuhnya. Ia merasa hangat… tetapi terlalu hangat, hingga batas antara fokus dan kantuk kabur tanpa ia sadari.

Moon Dream Guidance dari Xi Qinxue, yang ia kira hanya meditasi penenang, telah meninggalkan jejak samar yang membuat pikiran bawah sadarnya lebih mudah goyah. Ada bagian dari kesadarannya yang terasa lengah dan terbuai.

Dan yan oath dari Yan Mei—ikatan kecil namun kuat—menyisakan denyut panas tipis yang mengalir di sepanjang tulang belakangnya, membuat aliran qi sulit terkontrol sempurna.

Semua itu bertabrakan, berkumpul, tanpa ada satu pun yang sepenuhnya ia pahami.

Feiyan menggigit bibir, menarik napas panjang, memaksakan qi turun melalui meridian pinggang.

Rasa nyeri kecil muncul.

Ia mengabaikannya.

Semakin banyak qi yang dikumpulkan, semakin gelap ruangan tampak. Bukan karena lilin melemah, namun karena cahaya di sekitarnya seperti ditelan. Dinding yang tadi hanya kelabu kini tampak seperti berongga, memiliki kedalaman yang menelan warna.

Feiyan tidak sadar.

Tubuhnya mulai gemetar perlahan saat aliran qi memutar liar di dalam. Seharusnya spiral qi berputar ke arah kanan, tapi bagian kecil dari qi itu justru bergerak ke kiri, membentuk aliran ganda yang bertentangan. Ini bukan efek luar—melainkan kerusakan pada fondasi spirit yang semakin memburuk.

Ia mencoba menenangkan diri.

Tenang. Tarik… lalu lepaskan.

Namun ketika ia menarik napas panjang, suara samar terdengar dari dalam dada.

“…lepaskan…”

Sangat lembut. Begitu lembut hingga sulit dibedakan apakah itu adalah suara luar atau suara dari pikirannya sendiri.

Feiyan membuka mata, pucat. Lilin berkedip-kedip seolah hendak padam. Bayangannya di dinding terbelah menjadi dua bentuk yang tidak simetris, seakan cahaya tidak lagi tahu mana tubuhnya yang asli.

Ia menelan ludah.

“Aku hanya tegang,” gumamnya.

Qi mulai menumpuk di meridian atas, tekanan meningkat. Aliran yang seharusnya halus terasa seperti kawat tipis panas yang diseret paksa. Ketika ia memindahkan qi ke titik jantung, tubuhnya menegang.

Ada rasa tarikan halus, seperti sesuatu di dalamnya mencoba bergerak sendiri.

Feiyan menggenggam lututnya, kuku menancap ke kain jubah. Napasnya terputus-putus; detak jantungnya tak beraturan.

Di satu sisi, Shackled Heart Seal menarik emosinya ke bawah, membuatnya hampir menangis tanpa tahu alasannya.

Di sisi lain, Borrowed Heart Smile dari Lin Yue memaksakan kelembutan yang tidak selaras dengan ketegangan itu, menghasilkan kekacauan halus antara rasa hangat dan rasa dingin.

Tekanan itu membuatnya ingin memeluk dirinya sendiri.

Tapi ia tidak berhenti.

Ia memaksa qi bergerak.

Tiba-tiba, setiap meridian bergetar.

Suara halus terdengar di dalam tubuhnya—seperti kaca tipis yang retak dari dalam.

Feiyan tersentak, namun sudah terlambat. Spiral qi berubah kacau. Aliran yang ditariknya dengan perlahan sejak awal kini saling berbenturan.

Ia merasakan sakitnya. Seperti ada jarum yang menusuk-nusuk lembut dari dalam, bukan ingin melukai, tetapi ingin mengingatkan bahwa tubuhnya sudah terlalu lelah.

Namun Feiyan menggertakkan gigi.

“Sedikit lagi… hanya sedikit lagi…”

Ia ingin naik tahap. Ia ingin membuktikan pada dirinya bahwa ia masih bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan siapa pun.

Namun tubuhnya tidak sependapat.

Aura tipis warna gelap mulai terbentuk di sekitar tubuhnya. Lilin kecil di meja tiba-tiba menyala lebih tinggi, tetapi cahayanya tampak melengkung ke arah Feiyan, seolah ditarik oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Suhu ruangan turun.

Feiyan menarik lebih banyak qi, memaksanya menembus titik tengah meridian atas. Rasa sakitnya semakin tajam. Ada bagian tubuhnya yang berkedut tanpa kendali. Napasnya menjadi lebih berat, namun matanya tetap tertutup rapat.

Suaranya bergetar ketika ia memaksa diri melanjutkan.

“Naik… aku harus naik…”

Tekanan mencapai puncak. Tubuhnya kaku seperti batu, meridian bergetar seperti senar tegang yang hampir putus. Kesadarannya mulai kabur, bercampur dengan bayangan-bayangan samar yang melintas tanpa makna.

Dalam kaburnya hampir tak terdengar, suara dari dalam dadanya kembali berbisik.

“Kau tak perlu menahan… lepaskan…”

Suara itu tidak terasa asing. Tidak juga terasa dikenali.

Suaranya seperti dirinya sendiri, tetapi lebih dingin.

Feiyan mencoba membantah dalam hati, namun kata-katanya tenggelam dalam hiruk-pikuk qi yang berputar. Dalam keadaan setengah sadar, ia masih merasa harus terus. Masih merasa harus menutup celah yang ia biarkan terbuka dalam dirinya sejak kompetisi— celah yang membuatnya terlihat lemah.

Ia terus menarik qi.

Terus memaksakan diri.

Terus mencoba melampaui batas.

Dan ketika tekanan mencapai titik tak wajar—

Ruang menjadi terlalu sunyi.

Seolah seluruh dunia menahan napas bersamaan.

Breakthrough-nya akan terjadi…

atau pecah berkeping-keping.

Tekanan qi yang menumpuk dalam tubuh Feiyan akhirnya melewati batas. Dalam sekejap, aliran energi yang tadi berusaha ia kontrol meledak liar seperti pusaran angin dalam ruangan sempit. Tubuhnya tersentak mundur, namun ia masih duduk bersila, memaksa dirinya tetap tegak. Seluruh meridian bergetar kencang, seolah ada ribuan jarum kecil menggores jalur qi-nya dari dalam.

Feiyan membuka mata, napas terputus-putus.

Ruang di sekitarnya tampak kabur seperti dilihat dari balik air. Lilin kecil ikut bergetar, nyalanya membesar lalu mengecil lagi dengan ritme yang tidak alami.

Ia mencoba menahan aliran qi yang hampir meledak.

“Tahan… aku masih bisa…”

Namun tubuhnya tidak mendengar.

Energi yang bergerak naik tiba-tiba patah arah, kembali turun dengan kekuatan yang tidak seharusnya. Tumpukan energi itu menghantam meridian pusat, membuatnya memekik pelan tanpa sadar. Suara itu nyaris tak terdengar, tenggelam oleh desingan qi yang berputar dalam tubuhnya.

Nyeri itu menjalar ke seluruh tubuh, tetapi lebih buruk lagi adalah rasa dingin di dalam dada. Dingin yang menusuk pelan—seperti jari tipis yang menyentuh inti jantungnya.

Dan di tengah kebingungan, pikiran Feiyan mulai retak.

Satu demi satu pengaruh yang sebelumnya hanya terasa samar kini saling bertabrakan.

Shackled Heart Seal dari Gao Lian menarik emosinya turun, membuat kepanikannya berubah menjadi rasa kehilangan yang kosong. Ada dorongan ingin menangis, tetapi tidak ada air mata.

Borrowed Heart Smile dari Lin Yue memaksa perasaan hangat yang justru bentrok dengan kekosongan itu, membuat tubuhnya seperti ditarik ke dua arah berbeda.

Twin Flame Oath Yan Mei yang bahkan belum aktif sempurna mengeluarkan denyut panas liar yang tidak sinkron dengan tarikan dingin dari Shackled Heart Seal.

Moon Dream Guidance dari Xi Qinxue membuat pikirannya terasa seperti masih berada dalam mimpi setengah sadar—dimana realita samar, dan batas kesadarannya ikut merenggang.

Keempatnya tidak dirancang untuk saling bertemu.

Dan kini semuanya menekan sekaligus.

Feiyan kehilangan fokus.

Ia melihat dinding ruangan memanjang. Cahaya lilin tampak terbalik seperti menyala dari lantai. Bayangannya sendiri menari dengan bentuk yang tidak stabil. Ada bagian dari tubuhnya yang bergerak sedikit lebih cepat atau lebih lambat daripada cahaya menangkapnya.

Ia menutup mata keras-keras, mencoba menahan rasa ingin muntah.

Namun qi di dalam tubuhnya sudah tidak bisa ia kendalikan lagi.

Alirannya yang kacau mencapai puncak—

dan meridiannya tidak kuat.

BOOM.

Suara ledakan halus terdengar, bukan dari luar, tetapi di dalam tubuhnya. Tubuh Feiyan terpental ke belakang, membentur lantai batu. Napasnya terhenti sejenak. Darah merah gelap menetes dari sudut bibirnya, menyisakan rasa logam tajam di lidah.

Ia terbaring dengan mata terbuka, melihat ke atas. Langit-langit ruangan tampak berputar. Napasnya tersengal, setiap hembusan seperti menusuk. Tangannya bergetar saat ia meraih dadanya, wajahnya pucat sepucat lilin yang hampir padam.

Feiyan menatap telapak tangannya yang berlumur darah tipis.

“Kenapa… gagal…? Aku… sudah…”

Kalimat itu tidak selesai. Suaranya tenggelam dalam gemuruh halus yang muncul dari dalam tubuhnya sendiri.

Gemuruh itu tidak seperti suara qi.

Tidak seperti suara meridian yang rusak.

Tidak seperti apa pun yang pernah ia rasakan.

Itu seperti…

retakan.

Feiyan menutup mata perlahan.

Dalam gelap yang rapuh itu, ia merasakan sesuatu bergerak di dalam jantungnya.

Bukan qi.

Bukan pengaruh teknik.

Bukan ilusi.

Sesuatu yang asing.

Sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Satu garis hitam tipis muncul dari pusat jantungnya, membelah ruang batinnya seperti tinta hitam yang menetes ke permukaan air jernih. Garis itu lurus, senyap, dan tampak sangat kecil. Namun keberadaannya membuat seluruh kesadaran Feiyan terhenti.

Retakan itu tidak bersuara.

Namun ia merasa seolah dunia di dalam dirinya ikut pecah.

Feiyan ternganga tanpa suara. Ia merasakan dingin menyebar dari titik kecil itu. Dingin yang tidak mematikan, namun merenggut sesuatu—bagian dari dirinya yang tidak bisa ia namai.

Garis hitam itu berdenyut sekali.

Dan denyut itu membuat ruangan di sekitarnya bergetar halus.

Bayangan di dinding bergerak sendiri, terlepas dari tubuhnya. Cahaya lilin seperti dicubit dan diputar, mengubah arah cahayanya ke bawah. Udara di ruangan berkerut, menimbulkan sensasi mual yang datang dari kedalaman.

Feiyan terengah, mencoba bangkit, namun tubuhnya limbung.

Ia melihat kilasan wajah seseorang di sudut pandang kaburnya.

Wajah itu—wajah dirinya sendiri.

Namun tanpa emosi, tanpa cahaya, tanpa kelembutan.

Wajah itu menatapnya dari balik cahaya lilin yang terdistorsi.

Dan itu bukan bayangannya.

Feiyan tersentak dan menatap ke lantai.

Di sana, bayangan tubuhnya tampak lebih gelap dari biasanya. Lebih padat.

Dan ketika ia bergerak setengah inci…

Bayangan itu tidak mengikuti.

Tubuh Feiyan membatu.

Bayangan itu berdiri.

Secara perlahan, lembut, seolah bangun dari tidur panjang.

Lalu mengangkat wajahnya.

Wajah yang sama dengannya.

Tapi tanpa sedikit pun perasaan manusia.

Feiyan merasakan jantungnya mencengkram.

“Siapa… kau…?”

Bayangan itu tidak menjawab.

Ia hanya menatap Feiyan sejenak—

lalu tersenyum tipis.

Senyum yang tidak pernah dibuat Feiyan sepanjang hidupnya.

Senyum tanpa hati.

Senyum yang terasa seperti retakan itu sendiri.

Feiyan mundur sedikit, napasnya bergetar. Tubuhnya melemah, tetapi ia memaksa diri duduk, mencoba menjaga kewarasan. Sensasi dingin dari dalam jantungnya masih berdenyut, membuat pikirannya seperti dipisah menjadi dua.

Ruang kultivasi sunyi, namun bukan sunyi yang biasa.

Sunyi itu terasa seperti… menunggu.

Lilin berkedip pelan.

Bayangan itu perlahan memudar, kembali menyatu ke lantai, seolah tidak pernah keluar dari tubuhnya.

Namun Feiyan tahu ia melihatnya.

Ia tahu itu nyata.

Ia menyentuh dadanya dengan tangan gemetar.

“A-aku hanya… lelah…” bisiknya, hampir memohon pada dirinya sendiri.

Tapi dadanya tetap dingin.

Sunyi.

Dan kosong.

Seakan sesuatu yang dulu menghangatkan dirinya

telah retak untuk pertama kalinya.

1
lix
like dan komen nya jangan kelupaan😁👍
miss_e story
iklan buatmu
mary dice
Jika retak tak akan pernah kembali utuh namun kebangkitan Feiyan akan menumbuhkan tunas baru yang lebih kuat
Shadow: what ???
total 1 replies
knovitriana
update Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!