Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUARAKU SEPERTI DUA SOSOK YANG BERSAMAAN
Aku membaca tulisan itu seolah suaraku menjadi dua...
Suaraku asli yang membaca dengan lembut dan perlahan, diikuti oleh suara lain yang lembut dan perlahan namun agak berat...
Tak hentinya aku merinding selama membaca tulisan bapak itu...
Meski tulisannya hanya satu halaman kertas, tapi rasanya seperti membaca berlembar-lembar. Lidahku juga seolah mengucapkan tiap kalimatnya dengan keinginan untuk segera selesai, namun seperti ada yang menahannya.
Ditambah lagi setiap ucapanku, setiap kata, setiap kalimat, setiap baris, suara sosok lain itu mengikutiku dengan sempurna.
--------------------*
Dan aku minta maaf kepada kalian yang sedang membaca bagian ini, isi dari tulisan bapakku di kertas itu tak bisa kutuliskan di sini. Harap maklum, karena itu bersifat tirakat pribadi. Sementara untuk niat puasa mutih, sudah aku tulis di bagian sebelumnya. Jika ada yang ingin mencoba tirakat puasa mutih, maka niat itu bisa kalian contoh sendiri.
Tapi aku berpesan, jangan lakukan tirakat puasa mutih, JIKA KALIAN TIDAK MEMILIKI SEORANG GURU ATAU PENDAMPING UNTUK BERTIRAKAT PUASA MUTIH!
--------------------*
Singkat cerita...
Selesailah semua proses pembukaan tirakat puasa mutih di malam ini. Mulai dari mandi besar dengan air bunga tujuh rupa, kemudian sholat maghrib, dilanjutkan dengan mengucap niat, dan bacaan khusus dari bapak di sebuah kertas. Lanjut lagi aku sholat isya. Dan menemani bapak bersantai di teras rumah.
Kali ini tak ada obrolan yang berat, hanya obrolan ringan saja. Bapak cerita gimana aktifitasnya tadi di kebun, humornya sama teman di kebun, sampai obrolan yang menurutku hanya untuk melepas penat pikiran bapak.
Aku beranjak ke kamar saat kami berdua sudah mulai merasakan kantuk. Dan besok sebelum shubuh pun aku harus makan sahur.
Seperti biasa, ku rebahkan tubuhku di atas kasur, dengan menggunakan selimut. Kutatap sejenak foto almarhumah ibu. Dan kupanjatkan do'a untuknya. Dengan rasa rindu yang selalu hadir.
"Bu, Nisa besok mau puasa, mau lanjutin tirakatnya Ibu..." gumamku dalam hati.
Dan... Entah efek aku mulai mengantuk atau apa, aku seperti ada suara yang menyahut gumamku itu...
"Iya Nduk..."
Suara itu terdengar pelan, lembut, namun jelas.
Aku seketika terbangun, aku duduk di atas kasur. Mengarahkan pandanganku ke seluruh bagian kamarku yang temaram lampu bohlam kuning. Tak ada siapapun selain aku.
Aku jadi ingin mencoba sesuatu. Tiba-tiba saja aku ingin memanggil siapa sosok dari suara itu.
"Bu...? Tadi suara Ibu ya...?" ucapku pelan.
Aku mencoba menajamkan pendengaranku, namun tak ada sahutan apapun.
"Ibu...?" ucapku lagi. Dan tak ada suara apapun yang terdengar. Hanya suara jangkrik di luar rumah yang saling bersahutan.
Kembali aku rebahkan tubuhku, dan kini aku berposisi miring ke kanan, menghadap ke foto almarhumah ibu. Kupejamkan kedua mataku.
Tapi aneh sekali, rasanya kedua mataku ini tak ingin diajak untuk tidur. Meski terpejam tapi ada rasa ingin terbuka mataku ini. Sampai beberapa kali aku membuka dan menutup mata sambil melirik sekitar kamar dan lihat foto ibu lagi.
Kesekian kalinya aku mencoba memejamkan mata, agak lama, mungkin beberapa menit, tiba-tiba...
Terasa ada sesuatu di kasurku...
Aku merasakan seperti ada seseorang yang duduk di sebelahku hingga kasurku sedikit bergoyang. Kembali aku merinding sambil masih memejamkan mata.
Kali ini aku seperti tak berani untuk membuka mata, bahkan hanya sekedar untuk mengintip sedikit.
Dan... Beberapa detik kemudian...