Mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda di jaman dahulu untuk meraih cinta dan menjungjung tinggi martabat seorang ibu. hidup sebagai seorang pemburu untuk menghidupi sekaligus menjadi tulang punggung dan terpaksa melewati bermacam rintangan demi mendapatkan hati seorang wanita yang di cintainya. serta calon mertua yang tak setuju karena memiliki latar belakang yang bertentangan. serta ikut campur bangsa dari dunia lain yang tak kasat mata yang menyulitkan mewujudkan impiannya. simak keseruan kisahnya di setiap babnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendriyan Sunandar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Sehingga tak heran jika saat ini juragan Lemud atau yang di panggil warga dengan sebutan bah Lemud, menghiraukan rasa malu demi mencari keberadaan anaknya yang kini hilang terjerat anatara dua alam.
14 hari sebelumnya sejak Wulan di nyatakan hilang tanpa jejak, bah Lemud dan istrinya yang bernama ambu Surti, tentu saja merasa panik kalangkabut. Di hari yang sama putri semata Wayangnya itu tiba tiba hilang,
Di mana di pagi harinya bah Lemud dan ambu Surti berniat pergi ke suatu tempat. dan bah Lemud mengatakan pada Wulan, jika keduanya hendak pergi berziarah ke suatu makam yang terletak di sebuah pegunungan. Dan itu bukanlah untuk pertama kalinya keduanya melakukan ziarah seperti itu. Hanya saja Wulan baru tau dan sedikit sedikit mengerti mengenai makna dari ziarah itu sendiri, setelah memasuki usia sekitar 15 tahun yang lalu.
Dan hal itu di pahami Wulan karena dirinya kerap kali aktif dalam belajar mengaji sewaktu tinggal bersama salah satu pamannya yang berada di kota lain.
sehingga pantas saja jika Wulan yang sudah mengerti apa itu ziarah, dirinya tak mempermasalahkan jika kedua orang tuanya pergi berziarah di hari itu. Hanya saja Wulan yang sedikit menutup diri dan tak begitu akrab dengan teman sebayanya di sekitar rumahnya, ketika itu memilih tak ikut datang ke tempat itu. Terlebih memang sebelumnya bah Lemud tiba tiba berpamitan dan meminta putrinya itu untuk tinggal di rumah serta di perbolehkan mengajak teman atau anak tetangga untuk menemaninya selama keduanya belum pulang.
"tapi cuma seharikan abah dan ambu ziarahnya? pokoknya besok siang ambu sudah harus pulang ya. Lagi pula aku harus ajak siapa buat nemenin aku di rumah?"
Pinta Wulan sembari merangkul ambu surti dengan sikap manja sebelum keduanya pergi. Wulan tau jika siang itu sampai malam harinya akan berada di rumah seorang diri. Namun karena sebelumnya sudah terbiasa, maka Wulan tak keberatan di tinggal sendiri di rumah asalkan tidak lebih dari satu malam. Dan ambu surti pun yang mendengar anaknya merengek seperti itu, dirinya tampak tersenyum lantas mengangguk.
"iya sayanggg... Anak ambu yang cantik... ambu sama abah cuma semalam kok di sananya. kaya yang belum pernah di tinggal di rumah sendiri saja kau ini ah.
nih ini uang jajan untuk kamu. Sok terserah kamu mau beli apa. Cuma ingat kalo ambu tak ada di rumah, jangan berani apa ? "
Balas ambu Surti di akhiri mengingatkan sebuah peringatan pada Wulan yang selama ini di pantang masuk kamar jika dirinya sedang tak ada di rumah. Ucapannya terdengar lembut penuh kasih sayang yang tulus sembari melirik pintu kamarnya dan membentikan jari telunjuknya pada Wulan.
"iya ambu... Wulan tau kok. Lagi pula mau apa aku masuk kamar ambu"
imbuh Wulan seraya menyalami ambu Surti dan bah Lemud. Lantas tak lama setelahnya bah Lemud dan istrinya berpamitan dan pergi. Sementara Wulan tetap di rumah seorang diri.
Pada mulanya Wulan merasa biasa biasa saja dan tak merasa bosan. selain dirinya sering menghabiskan waktu seorang diri di kamarnya, Wulan juga tak memilik banyak teman yang akrab. Dan jarang sekali bergaul dengan teman sebayanya.
dan itu bukan di karenakan Wulan memiliki sipat sombong atau pilih pilih teman. Melainkan teman sebayanya di sekelilingnya itu merasa sungkan jika harus bergaul dengan Wulan yang kehidupanya serba mewah dan terjamin oleh kekayaan kedua orang tuanya.
Belum lagi sikap bah lemud itu kerap kali menyindir teman teman Wulan yang menemui anaknya di rumahnya.
Kata kata merendahkan bahkan terkadang jelas jelas menghina, kerap kali membuat teman teman Wulan jera untuk kembali datang ke rumahnya.
Namun kali ini setelah beberapa lama dirinya seorang diri di rumahnya, neng Wulan pun pada akhirnya merasa bosan dan ingin bertemu dengan salah satu temannya yang sempat di buat jera oleh sikap ayahnya beberapa hari lalu.
Makanan enak serba ada, rumah luas dan perabotannya serba mewah, dan uang jajan yang lebih dari cukup, seperti tak berarti di hari itu. Sehinga tak heran Wulan pun yang merasa rindu pada salah satu temannya yang bernama Asih, berniat berkunjung ke rumah sahabatnya itu.
"si asih kemana ya ? Kok tumben tak ada lewat ke sini. Apa dia tidak kepasar ya hari ini ?"
Gumam Wulan sembari berusaha mengintip ke luar rumah. Berharap Asih yang memiliki rutinitas ke pasar setiap harinya dan melewati depan rumahnya itu kebetulan lewat depan rumahnya.
Wulan yakin benar jika Asih sepertinya kapok setelah sebelumnya sempat di kata katai oleh bah Lemud dengan ucapan menghina ketika berkunjung menemui dirinya beberapa hari lalu.
Sehingga Wulan pun yang menyadari hal itu, berniat menemui Asih untuk meminta Asih menginap di rumahnya sekaligus meminta maaf atas sikap ayahnya itu.
Setelah sebelumnya Wulan membersihkan diri, bersolek, dan sengaja membungkus beberapa makanan sebagai buah tangan untuk Asih, Wulan pun berniat pergi menemui sahabatnya itu. Namun ketika baru saja melangkah ke arah pintu, entah mengapa tiba tiba Wulan merasa tak puas pada penampilannya.
Bayangan dirinya yang tak sengaja ia lihat dari cermin di lemari kayu itu, seperti mengatakan jika terlalu berlebihan dan terkesan seperti sengaja pamer pakaian yang bagus. Sehingga bukan tidak mungkin nantinya Asih merasa minder dan sedikit merasa sungkan pada dirinya. Maklum saja hampir semua pakaian Wulan itu serba terbaru yang sengaja di belikan bah Lemud setiap bulannya. Kasih sayang Bah Lemud pada anaknya itu bahkan terkesan berlebihan dan mengekang. sampai sampai Wulan di atur termasuk penampilan yang harus tetap cantik dan paling mencolok di antara gadis desa lainnya.
Tanpa ragu Wulan membuka dan mencari pakaian yang menurutnya sudah usang agar penampilannya itu bisa setara dengan Asih. namun sayang, sekalipun semua pakaiannya sudah di periksa satu per satu, tak satupun ia menemukan pakaian lusuh apalagi jelek.
Bahkan saking penasarannya, Wulan berniat mencari dan meminjam baju ibunya. Dan tentunya pakaian itu harus di cari di lemari yang berada di kamar ibunya. meski Wulan tau jika kedua orang tuanya itu beberapa kali melarang masuk kamar itu ketika kedua orang tuanya tak ada di rumah. Namun Wulan mengira itu hanyalah peringatan biasa saja.
Pikirnya, ibunya itu melarang dan hawatir Wulan mengamil atau meminjam perhiasan dan di hawatirkan akan sampai hilang. Atau sekurang kurangnya numpang bersolek dan memakai alat kecantikan ibunya itu. Sehingga atas alasan itu, Wulan pun kali ini berani dan memutuskan masuk kamar ambu Surti karena tak berniat melakukan itu semua.
Dirinya hanya berniat meminjam baju ibunya dan akan di kembalikan ke tempatnya sebelum kedua orang tuanya pulang.
Krekkk....
Suara derit ensel itu terdengar ketika Wulan membukanya perlahan. Aroma wangi kembang yang menyengat seketika tercium olehnya. sembari menatap tumpukan lipatan pakaian di lemari itu, Wulan pun mulai memilah milih dan mencoba satu persatu pakaian itu. Dan mencari pakaian yang di anggap sudah lusuh dan pas di tubuhnya.
Sampai pada akhirnya Wulan tersenyum dan tertarik pada salah satu lipatan kain putih yang tampak sudah usang dengan bercak kotor seperti noda tanah. dengan segera lipatan itu ia tarik lalu perlahan di buka lipatannya.
ketika membuka lipatan itulah aroma bunga melati tiba tiba tercium lebih menyengat dari sebelumnya. Dirinya yakin jika aroma wangi bunga itu memanglah bersumber dari pakaian yang sedang di pegangnya itu. Namun baru saja Wulan membentangkan baju itu, seketika dahinya tampak mengerenyit seperti merasa heran pada model baju itu.
"ih... ini model baju apa sih. Kok bentuknya begini. Mana kotor banget lagi. Ambu... Ambu... Pakaian kotor begini kok malah di masukin lemari"
Gumam Wulan sembari mencium aroma yang bentuknya mirip seperti jubah itu.