Satu kesalahan di lantai lima puluh memaksa Kirana menyerahkan kebebasannya. Demi menyelamatkan pekerjaan ayahnya, gadis berseragam putih-abu-abu itu harus tunduk pada perintah Arkan, sang pemimpin perusahaan yang sangat angkuh.
"Mulai malam ini, kamu adalah milik saya," bisik Arkan dengan nada yang dingin.
Terjebak dalam kontrak pelayan pribadi, Kirana perlahan menemukan rahasia gelap tentang utang nyawa yang mengikat keluarga mereka. Di balik kemewahan menara tinggi, sebuah permainan takdir yang berbahaya baru saja dimulai. Antara benci yang mendalam dan getaran yang tak terduga, Kirana harus memilih antara harga diri atau mengikuti kata hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Pertarungan di Atas Langit
Suara deru baling-baling helikopter menghantam kaca jendela lobi menara tinggi hingga menciptakan getaran yang sangat kuat dan memekakkan telinga. Kirana tersentak saat melihat moncong senjata mesin berat menyembul dari pintu helikopter yang terbuka, mengarah tepat ke arah mereka yang sedang terleka. Arkananta segera menarik pinggang Kirana dan berguling ke balik pilar marmer yang sangat kokoh sesaat sebelum hujan peluru menghancurkan dinding kaca menjadi jutaan serpihan tajam.
"Tundukkan kepalamu dan jangan pernah mencoba untuk mengintip sedikit pun, Kirana!" teriak Arkananta sambil mendekap kepala gadis itu dengan telapak tangannya yang besar.
Serpihan kaca beterbangan seperti salju maut, menggores permukaan pilar marmer dan menghancurkan pot tanaman hias yang berada di sekeliling mereka. Kirana bisa merasakan debu putih dari reruntuhan dinding mulai menutupi seragam sekolahnya dan jas mewah yang ia kenakan sebagai pelindung. Napasnya memburu kencang, ia merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya saat mendengar suara ledakan kecil yang menghantam area resepsionis lobi.
"Siapa mereka, Tuan? Apakah Clarissa masih memiliki pasukan rahasia yang tidak kita ketahui sebelumnya?" tanya Kirana dengan suara yang sangat bergetar karena ketakutan.
Arkananta mengintip sedikit dari balik pilar, matanya yang tajam berusaha mengidentifikasi lambang yang tertera pada badan helikopter hitam yang terbang sangat rendah tersebut. Ia menyadari bahwa helikopter itu tidak membawa lambang perusahaan mana pun, melainkan hanya sebuah tanda tengkorak putih yang sangat mengerikan. Arkananta segera mengambil telepon genggam miliknya yang masih berfungsi dan menekan tombol darurat untuk memanggil bantuan udara dari satuan khusus keamanannya.
"Ini bukan pasukan Clarissa, mereka adalah tentara bayaran yang disewa oleh Bagas untuk memastikan tidak ada saksi mata yang tersisa malam ini," jelas Arkananta dengan nada yang sangat serius.
Helikopter itu kembali berputar, bersiap untuk melakukan serangan kedua dengan menggunakan peluncur roket yang mulai diarahkan ke arah fondasi lantai atas menara tinggi. Kirana melihat Indra yang masih terkapar lemah mulai mencoba merangkak menuju meja keamanan untuk menekan tombol pengaktifan sistem pertahanan udara otomatis. Dengan sisa tenaga yang ada, Indra berhasil memasukkan sandi rahasia sebelum sebuah peluru mengenai bahunya kembali hingga ia jatuh tersungkur.
"Indra! Jangan memaksakan dirimu lebih jauh lagi atau kamu benar-benar akan kehilangan nyawamu!" teriak Kirana sambil mencoba berlari menuju ke arah pengawal setia itu.
Namun, Arkananta menahan lengan Kirana dengan sangat kuat, ia tidak ingin gadis itu menjadi sasaran empuk bagi para penembak jitu yang berada di dalam helikopter. Tiba-tiba, dari atap gedung, sebuah meriam otomatis muncul dan langsung mengunci sasaran ke arah helikopter hitam yang sedang melayang tersebut. Suara tembakan meriam yang menggelegar membuat seluruh menara tinggi berguncang hebat, menciptakan kepulan asap hitam yang membubung tinggi ke arah langit subuh.
"Apakah serangan itu mengenai mereka? Saya tidak bisa melihat apa-apa karena asapnya terlalu tebal!" seru Kirana sambil menutup hidungnya yang mulai terasa sangat pedih.
Arkananta tersenyum tipis saat melihat helikopter tersebut mulai kehilangan keseimbangan dan mengeluarkan percikan api yang sangat besar dari bagian mesin belakangnya. Helikopter itu terhuyung-huyung di udara, mencoba melarikan diri dari jangkauan meriam otomatis yang terus menembakkan peluru-peluru berukuran raksasa tanpa ampun. Kirana merasakan sedikit kelegaan di hatinya, namun ia menyadari bahwa pertarungan di atas langit ini barulah permulaan dari kekacauan yang jauh lebih besar.
"Jangan senang dulu, mereka pasti akan mencoba melakukan serangan bunuh diri dengan menabrakkan pesawat itu ke arah jendela ini!" peringat Arkananta dengan penuh waspada.
Benar saja, pilot helikopter yang sudah putus asa itu tiba-tiba memutar arah dan menambah kecepatan penuh menuju ke arah jendela utama tempat mereka berlindung. Kirana melihat bayangan raksasa besi yang terbakar itu mendekat dengan sangat cepat, seolah ingin menelan mereka semua ke dalam kobaran api yang sangat panas. Arkananta segera menggendong Kirana dan berlari menuju tangga darurat yang berada di bagian paling tengah dari menara tinggi tersebut.
"Melompatlah ke arah lubang pembuangan sampah ini, itu adalah satu-satunya jalan keluar yang paling aman untuk saat ini!" perintah Arkananta sambil membuka pintu besi kecil.
Kirana ragu sejenak saat melihat lorong gelap yang sangat dalam, namun ia melihat kilatan api yang sudah mulai masuk ke dalam lobi akibat tabrakan helikopter. Tanpa pikir panjang, ia melompat masuk ke dalam lubang tersebut, diikuti oleh Arkananta yang memeluknya erat dari belakang untuk melindungi tubuhnya dari benturan. Mereka meluncur dengan sangat cepat di dalam pipa plastik raksasa, menuju ke arah tumpukan kain perca yang sengaja diletakkan di bagian dasar menara sebagai peredam jatuh.
"Aduh! Tubuh saya terasa seperti dihantam oleh ribuan bantal yang sangat keras, Tuan!" keluh Kirana sambil mencoba bangkit dari tumpukan kain tersebut.
Arkananta membantu Kirana berdiri, ia membersihkan sisa debu yang menempel di wajah cantik gadis itu dengan menggunakan ujung jas mewahnya yang sudah sobek. Mereka kini berada di ruang bawah tanah yang sangat sunyi, sangat kontras dengan keributan yang baru saja terjadi di lantai atas menara tinggi tadi. Kirana melihat sebuah pintu besi besar yang terkunci dengan menggunakan sistem pemindai retina mata yang sangat canggih dan sangat modern.
"Tempat apa ini? Kenapa ada ruangan tersembunyi yang sangat rahasia di bawah menara tinggi yang sudah hancur ini?" tanya Kirana dengan penuh rasa ingin tahu.
Arkananta menjelaskan bahwa ruangan ini adalah brankas pusat yang menyimpan seluruh catatan asli mengenai sejarah berdirinya perusahaan Dirgantara dan rahasia keluarga Sekar. Ia meminta Kirana untuk berdiri di depan pemindai tersebut, karena hanya darah murni dari keturunan Sekar yang bisa membuka pintu baja yang sangat tebal itu. Kirana merasa jantungnya kembali berdegup sangat kencang, ia merasa bahwa jawaban atas segala penderitaannya selama ini berada di balik pintu tersebut.
"Lakukanlah sekarang juga, Kirana, sebelum pasukan Bagas yang berada di luar berhasil menjebol dinding ruangan ini menggunakan peledak plastik!" desak Arkananta.
Kirana mendekatkan matanya ke arah lensa pemindai, ia melihat cahaya merah tipis mulai memindai bola matanya dengan gerakan yang sangat lambat dan sangat teliti. Suara mesin mulai menderu di balik dinding, dan pintu baja seberat lima ton itu perlahan-lahan mulai terbuka dengan mengeluarkan suara gesekan logam yang sangat berat. Namun, saat pintu itu terbuka sepenuhnya, Kirana tidak menemukan tumpukan emas atau dokumen saham, melainkan sebuah peti mati kaca yang sangat mewah.
Di dalam peti mati kaca tersebut, terbaring seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Kirana, namun tampak sedang tertidur dengan menggunakan tabung oksigen kuno. Kirana jatuh terduduk di atas lantai yang dingin, ia menyadari bahwa ibunya selama ini belum meninggal dunia melainkan sengaja dibuat tertidur oleh Arkananta. Air mata Kirana jatuh bercucuran, ia merasa sangat bingung antara rasa bahagia karena ibunya masih hidup atau rasa benci karena Arkananta telah menyembunyikan hal sebesar ini darinya.