Emily tak menyangka bahwa dia masuk ke sebuah novel yang alurnya membuatnya harus menikah dengan seorang miliarder kaya.
Pernikahan absurd itu malah sangat menguntungkannya karna dia hanya perlu berdiam diri dan menerima gelar nyonya serta banyak harta lainnya.
Namun sayangnya, dalam cerita tersebut dia akan mati muda!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
《Chapter 10》
Begitu sampai di mansion, Emily keluar dari mobil dengan terburu-buru, Albert berfikir bahwa ia membutuhkan sesuatu yang penting atau mungkin ia ingin mengambil obat karna tadi agak merasa sesak ketika berada di mobil.
Dengan perlahan Albert berjalan mengikutinya namun malah melihat ia datang dengan piring kecil berisi brownies coklat.
Ternyata gadis itu mengambilnya untuk memberikan padanya. "Albert, apakah kami mau mencicipinya?" tanya Emily berharap, matanya seperti mengeluarkan kristal sehingga bisa membuat orang yang melihat jadi tergoda.
Tadi pagi Emily sempat membuat kue, dan memakan serta membagikannya pada para pelayan yang ada di sana, namun ia masih menyisakan beberapa potong kecil untuk di tawarkan pada Albert.
Albert tidak bisa menolak tawaran Emily saat gadis itu bahkan sudah sangat berharap agar ia memakannya.
"Apa kau tidak akan memberikan saya sebuah sendok untuk memakannya?" Emily lupa, ia tersenyum lalu kembali ke dapur dan mengambil sendok.
Mereka tiba hampir tengah malam, jadi para pelayan termasuk Bibi Vei sudah beristirahat di kamar mereka.
"Apa kau tidak ingin memakannya bersama saya?," tanya Albert, ia melihat gadis itu menatap kue tersebut seperti ingin untuk mencicipinya juga.
"Apa boleh? Tunggu, aku akan mengambil satu sendok lagi" Albert mencegahnya, "pakai saja sendok ini", katanya.
Emily agak terkejut, biasanya orang akan membuat batas apabila tidak terlalu dekat dengan orang lain, terlebih masalah alat makan.
Tapi ia merasa senang dengan ini, mungkin saja Albert ingin membuka diri padanya meski sedikit.
"Baiklah, oh ya, apa kamu tidak bisa menggunakan bahasa informal saja dengan ku?" Yang Emily maksud adalah mengganti kata saya yang biasa Albert gunakan menjadi aku.
"Akan ku coba.." Jawab Albert.
Setelah menghabiskan kue itu, Albert kembali masuk ke ruang kerjanya sambil membawa kopi, Emily dapat menyimpulkan bahwa lelaki itu akan bergadang untuk pekerjaannya.
Emily masuk ke dalam kamar, membersihkan diri lalu berbaring di atas kasur.
"Wah, kasur ini bahkan sangat empuk, berbeda sekali dengan matras kecil yang dulu aku gunakan untuk tidur" Emily teringat pada rumah sewa yang dulu ia tinggali di dunia nyata, kamarnya kecil dan pengap, rasanya sangat berbeda dengan keadaan ini.
Keesokan harinya, Albert bangun pagi-pagi sekali dan pergi menemui klien yang akan berinvestasi dalam perusahaannya.
Penanggung jawabnya adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahun uang sudah lama terlibat dalam penelitian dan pengembangan, wajahnya ramah dan menyambut Albert dengan penuh kasih sayang.
Mereka akan membahas penelitian dan pengembangan yang akan di lakukan biasanya, namun kali ini akan memerlukan modal yang cukup besar.
"Bagaimana apakah anda setuju dengan rencana pengembangan kami?" tanya Albert menutup presentasinya.
Rencana kali ini berfokus pada pengembangan alat teknologi terutama robot cerdas yang di kembangkan oleh perusahaannya, baru-baru ini sudah ada beberapa unit robot yang sudah mereka rangkai dan berhasil, sehingga mereka akan membuat lebih banyak lagi untuk di pasaran.
"Bagus sekali, apa saya bisa melihat contoh robot yang sudah jadi?" tanya pria itu.
Albert segera menyuruh salah satu karyawannya untuk mengambil salah satu sampel robot dan di bawa ke sana untuk di perlihatkan cara kerjanya.
"Saya sangat kagum dengan ide brilian anda Pak Albert, apakah anda ingin melakukan penelitian lain selain ini? saya akan berinvestasi dua kali lipat," tawar pria itu.
Albert menolak karna untuk sekarang ia masih ingin melihat apakah robot-robot itu akan laris di pasaran, namun jika memang sukses maka besar kemungkinan ia akan melakukan penelitian lain.
"Baiklah, jika hanya itu yang ingin di sampaikan maka saya akan segera undur diri karna masih memiliki jadwal lainnya" Mereka berdua saling berjabat tangan, lalu pria itu pergi meninggalkan ruang rapat.
Di sisi yang lain, Emily tidak tau harus mengerjakan pekerjaan apa, ia hanya bermain permainan dengan ponselnya sambil duduk bersila kaki di ruang tamu, bermain dengan serius tanpa menyadari seseorang yang memasuki mansion.
Kai adalah orang yang masuk, ia sengaja berjalan dengan pelan agar tidak terdengar oleh Emily, pria itu memegang bunga di belakang punggungnya lalu mengeluarkannya begitu sampai di depan Emily.
"Kakak ipar, selamat atas keberhasilan mu dalam pertemuan keluarga tadi malam! Kau begitu menakjubkan!" ucap Kai.
Emily terkejut melihat Kai melambaikan bunga itu di depan wajahnya, ia bisa merasakan serbuk sari yang langsung memenuhi seluruh ruangan.
Emily memegang dadanya dan berusaha bernafas, ia telah terpicu oleh serbuk sari dari bunga itu, ia merasa asmanya kambuh.
"Ehem Hem," Emily menutup mulutnya, ia terbatuk dan tanpa sadar menjatuhkan ponsel ke lantai, ia melewati Kai yang berdiri di depannya dan meninggalkan sofa.
Kai sama sekali tidak tau apapun, ia terus mengikuti Emily sambil membawa bunga dan bertanya dengan cemas, "Ada apa kakak ipar?"
"STOP! Jangan mendekat?" Teriak Emily sambil mengatur nafasnya, namun dadanya terasa sangat sesak dan kemudian kepalanya terasa amat pusing.
Ia sudah berusaha untuk tetap tenang dalam situasi ini, namun karna serangan yang mendadak, membuat tubuhnya gemetar, ia berjalan perlahan sambil memegang tembok di sekitar.
Tangannya berhasil mengambil inhealer yang berada di laci sebelah televisi, sejak serangan asma terakhirnya, ia sudah menaruh inhealer di beberapa titik dalam rumah agar ketika kambuh maka ia bisa dengan cepat mengambil alat itu.
Kai sedikit bingung sehingga ia tetap berdiri di tempat dan menatap Emily yang kesusahan.
Pada saat ini, seorang pelayan mendengar suara itu dan bergegas mendekat, mereka semua yang ada di mansion sudah mengetahui bahwa Emily mengidap asma, sehingga mereka sangat memperhatikannya agar tidak terpapar debu atau apapun yang bisa memicu penyakit itu kambuh.
Pelayan itu melihat kondisi Emily lalu memandang bunga yang di pegang oleh Kai, ia segera mengambil bunga itu dan berkata," Maaf Tuan Kai, saya akan menjauhkan bunga ini karna Nona menderita asma, sehingga tidak bisa menghirup serbuk sari dari bunga"
Kai yang mendengar penjelasan itu seketika menyadari kesalahannya, ia memandang Emily dan merasa bersalah, ia takut bahwa Kakaknya akan pulang dan menghajarnya karna sudah membuat Emily seperti itu.
Emily menemukan inhealernya dan mengocok alat itu beberapa kalu sebelum di masukkan ke dalam mulutnya, kemudian ia mencoba menarik nafas dan mengatur temponya, beberapa saat kemudian ia menjadi agak tenang dan stabil.
Emily kembali duduk di sofa sambil menghela nafas lega meski dahinya sudah di penuhi keringat dingin.
Melihat hal itu membuat Kai bergerak perlahan karna takut di marahi, ia duduk di depan Emily sambil menundukkan kepala dan berkata, "Maafkan aku Kakak ipar, aku tidak tau itu membuat mu sakit"
"Tidak masalah, lagi pula kami tidak tau tentang ini dan juga terimakasih atas perayaannya meski aku tidak bisa menerima bunga itu"
Nada bicara Emily terdengar masih lemah karna kejadian barusan, namun ia berusaha tersenyum pada Kai untuk menenangkannya.