Namanya Diandra,wanita berusia 27 tahun sudah menikah dengan suaminya yaitu Bagas berusia 30 tahun,dan usia pernikahannya sudah sampai di 4 tahun. Tetapi hingga kini mereka belum dikarunia seorang anak. Diandra dan Bagas bersabar karena mereka percaya semua itu adalah kehendak Tuhan. Tetapi tiba tiba Diandra merasa ada yang berubah dari suaminya terutama sikap Bagas. Diandra mencoba menepis perasaannya itu dan masih berpikir positif pada suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yasmin Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Sinta Menelpon Bagas
Menjelang sore Diandra dan Bagas memutuskan untuk pulang. Disepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Entah apa yang sedang mereka pikirkan.
2 jam berlalu akhirnya mereka sampai di rumah. Diandra segera masuk kedalam rumah dan bergegas mandi karena tubuhnya sudah terasa gerah sekali. Selesai mandi dan berpakaian Diandra menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Bagas mengikuti Diandra ke arah dapur. Diandra melirik Bagas yang sudah berdiri disampingnya.
"Kamu gak mandi mas?" tanya Diandra sambil berjalan kearah kulkas untuk mengambil beberapa bahan makanan yang akan dia masak.
"Nanti aja lah,kamu mau ngapain?" tanya Bagas kemudian.
"Mau masak buat makan malam" jawab Diandra.
"Masak apa?" tanya Bagas lagi.
"Apa yang ada aja di dalam kulkas tadi" jelas Diandra.
"Oke lahh,,aku juga udah rindu masakan kamu masak yang enak ya"
"Emang selama ini masakan aku gak enak?"
"Enak dong"
"Serius kamu rindu masakan aku?" tanya Diandra
"Serius"
"Selama kamu gak pernah makan di rumah,kamu makan di mana?" tanya Diandra lagi dan sambil memulai untuk memasak.
"Makanan dari kantor"
"Ooo,, "
Kemudian Diandra langsung saja memulai memasak,cukup ayam goreng dan tumis kangkung,masakan praktis dan cepat.
Diandra menyiapkan makanan di atas meja makan setelah selesai memasak. Dan memanggil Bagas yang duduk di ruang tengah sambil bermain ponsel.
"Mas,makanannya sudah siap" Diandra memberi tahu Bagas. Bagas pun menengok pada Diandra.
"Okee,yuk kita makan" ajak Bagas sambil beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ruang makan diikuti oleh Diandra.
"Hemmmmm,,,,sepertinya nikmat sekali,kangen banget sama masakan kamu" seru Bagas girang saat melihat menu makanan yang sudah tersedia di atas meja makan,kemudian bergegas duduk dan menyendok nasi menuangkannya ke dalam piringnya. Diandra hanya menatap tingkah Bagas ,entah itu reaksi girang beneran atau hanya pura pura demi menyenangkan hatinya. Diandra ikut duduk dan juga menuang nasi kedalam piringnya dan mulai menikmati makan malamnya bersama Bagas.
Tiba tiba saja ponsel Bagas berdering. Bagas melihat ponselnya kemudian mematikannya dan kembali menikmati makanannya.
Dan lagi lagi ponselnya berdering kembali dan Bagas pun mengulang hal yang sama mematikan ponsel itu lagi. Dan deringan itu terjadi lagi untuk yang ke 3 kalinya.
"Diangkat aja kenapa sih mas,barangkali penting"seru Diandra yang nampak mulai terganggu dengan deringan ponsel Bagas.
Bagas menatap Diandra nampak kikuk.
"Gak usah,enggak penting juga" jawab Bagas kemudian.
"Kalau enggak penting kenapa telponnya berulang ulang"
"Ya iseng aja kali"
"Emang siapa yang telpon?" tanya Diandra mencoba menyelidik.
"Temen kantor" jawab Bagas singkat.
"Nahh bisa jadi memang penting"
"Ya nanti aja setelah makan aku telpon balik dia,aku masih mau menikmati makanan yang istriku buat ini" jawab Bagas sambil masih menikmati makanannya,dan tampak beberapa kali Bagas menambah nasi dan sayur juga ayam gorengnya. Entah dia lapar atau memang menikmati masakan Diandra atau hanya karena ingin terlihat bahagia karena sudah dimasakkan makanan kesukaannya oleh Diandra.
Setengah jam kemudian Bagas dan Diandra sama sama selesai menikmati makan malam mereka.
"Enak banget Di masakan kamu" puji Bagas tiba tiba sambil berdiri untuk mencuci tangannya diwastafel. Diandra ikut berdiri dan hanya tersenyum mendengar pujian Bahas. Tiba tiba saat membereskan piring bekas Bagas makan ponsel Bagas berdering lagi,tampak sebuah nama kontak terlihat dilayar,Sinta,,ya Sinta yang Diandra lihat. Jantung Diandra seketika berdegup kencang,tangannya bergetar dan emosinya mulai naik,tapi Diandra cepat cepat mengendalikan perasaannya dan menenangkan hatinya sendiri. Setelah itu dia bergegas ke dapur membawa piring piring kotor dan menaruhnya diwastafel. Bagas juga sudah melangkah kembali ke arah meja makan untuk mengambil ponselnya,dan Diandra melihat ke arah Bagas yang segera pergi meninggalkan ruang makan.
Diandra menatap tajam Bagas yang tampak terlihat biasa saja,Diandra terus mencoba menenangkan hatinya sendiri yang terkadang masih diselimuti emosinya. Ingin rasanya langsung dia menanyakan pada Bagas ada hubungan apa dia dengan Sinta. Tapi Diandra harus sadar dia tidak bisa bertindak gegabah,dia harus punya banyak bukti dulu agar bisa langsung menanyai Bagas tentnag hubungannya dengan Sinta dan agar Bagas tidak bisa mengelak saat dia menyodorkan bukti bukti yang akurat. Akhirnya kembali Diandra harus bisa menahan sesak didadanya dan bersikap seolah olah dia belum mengetahui sesuatu hal. Diandra pun melanjutkan pekerjaannya mencuci piring piring kotor dan yang lainnya,membereskan dapur yang sedikit berantakan kemudian ingin segera beristirahat,melupakan sejenak rasa perih dihatinya,dan berharap dia bisa melewati itu semua malam ini.