NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Pelakor / Kelahiran kembali menjadi kuat / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.

Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

"Karin! Kenapa kamu malah menyerang Vina?" hardik Bu Ratna.

Bu Ratna langsung menghampiri Vina dan menggenggam tangannya.

"Vina, jangan menangis. Ini bukan kesalahanmu," katanya lembut.

Vina semakin memasang wajah sedih saat mendengar perkataan Bu Ratna.

"Ibu, tidak... aku tidak apa-apa. Nyonya Karin tidak bersalah. Mungkin beliau hanya sedang kesal saja."

Karin memperhatikan mereka dengan raut wajah datar, tanpa berniat membalas ucapan itu.

"Karin, lihatlah Vina. Dia begitu bijaksana. Meskipun kamu memperlakukannya seperti ini, dia tetap tidak menyalahkanmu," kata Bu Ratna.

Karin menatap Bu Ratna dan Vina bergantian. Sulit baginya mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Hanya karena beberapa kalimat yang terdengar manis, ibu mertuanya langsung memuji Vina setinggi langit.

"Kamu memang hebat sekali, Vina." Karin tersenyum tipis. "Baru berkata seperti itu saja sudah disebut bijaksana. Sementara aku, yang sudah banyak berkorban untuk keluarga ini, bahkan harus menerima kehadiranmu, tetap dianggap sebagai wanita yang tidak punya perasaan."

Bu Ratna dan Vina sama-sama terlihat salah tingkah.

"Kamu pikir aku tidak tahu siapa yang melapor kepada Ibu mertuaku?" Tatapan Karin berubah dingin. "Kamu juga ada di mal itu. Kamu juga sedang berbelanja di sana."

Vina terperangah. Ia sama sekali tidak menyangka Karin ternyata melihat dirinya di pusat perbelanjaan.

"Aku mau tanya sama kamu," ucap Karin sambil melangkah pelan mendekati Vina. "Kamu berbelanja di sana pakai uang siapa? Kalau bukan uang suamiku, tidak mungkin orang miskin seperti kamu bisa berbelanja di tempat semahal itu."

Vina menggigit bibirnya pelan.

"Mas Dimas yang membayarnya," jawabnya lirih. "Aku sebenarnya tidak mau, tapi Mas Dimas yang memaksaku untuk berbelanja menggunakan kartunya."

Bu Ratna langsung menyela.

"Itu karena Dimas menyayangi Vina! Apa salahnya kalau seorang laki-laki membelikan sesuatu untuk perempuan yang dicintainya?"

Karin tertawa pelan.

"Oh... jadi begitu." Tatapannya kembali tertuju pada Vina.

"Kalau begitu, kenapa tadi kalian sibuk mempertanyakan kenapa aku memakai uang suamiku sendiri?"

Bu Ratna dan Vina langsung terdiam.

"Vina memakai uang Dimas, itu dianggap wajar. Sedangkan aku memakai uang suamiku sendiri, malah dianggap menghamburkan uang." Karin menggeleng pelan sambil tersenyum sinis. "Standar kalian ternyata lucu juga."

Vina buru-buru menggeleng.

"Nyonya Karin, aku tidak pernah meminta Mas Dimas membelikanku apa pun. Beliau sendiri yang ingin memberikannya."

Karin tersenyum tipis.

"Kalau memang tidak meminta, kenapa kamu menerimanya?"

Vina terdiam.

"Kamu tahu dia laki-laki yang sudah beristri." Tatapan Karin semakin tajam. "Tapi kamu tetap menerima uangnya, menerima hadiah darinya, bahkan ikut berbelanja menggunakan uangnya. Sekarang katakan padaku, apa bedanya kamu dengan perempuan yang sengaja menikmati hasil kerja suami orang?"

"Nyonya... jangan bicara seperti itu. Aku benar-benar tidak punya niat buruk."

"Tidak punya niat buruk?" Karin tertawa pelan. "Kalau memang tidak punya niat buruk, seharusnya sejak awal kamu menjaga jarak, bukan malah menikmati semua pemberiannya."

Wajah Vina perlahan memucat.

Karin kembali melangkah mendekat hingga hanya berjarak satu langkah.

"Dan satu hal lagi. Jangan pernah mempertanyakan bagaimana aku menggunakan uang suamiku." kata Karin dengan nada dingin. "Karena bagaimanapun juga, aku masih istri sahnya. Sedangkan kamu..."

Karin berhenti sejenak, lalu menatap Vina lurus ke matanya.

"Sampai hari ini, kamu masih perempuan yang hidup dari belas kasihan suami orang."

"Karin!"

Bentakan Bu Ratna menggema di ruang tamu.

"Kamu benar-benar sudah keterlaluan!" Wajahnya memerah menahan amarah. "Kenapa setiap ucapanmu selalu merendahkan Vina?"

Bu Ratna berdiri di depan Vina seolah menjadi tameng.

"Dia memang menerima pemberian Dimas. Lalu kenapa? Itu karena Dimas yang memberikannya dengan sukarela."

Tatapan tajamnya beralih kepada Karin.

"Kamu jangan melampiaskan rasa cemburumu kepada perempuan yang tidak bersalah."

Karin hanya tersenyum tipis.

"Cemburu?"

"Tentu saja!" sahut Bu Ratna tanpa ragu. "Kalau bukan karena cemburu, mana mungkin kamu terus mencari-cari kesalahan Vina."

Bu Ratna menggenggam tangan Vina dengan penuh kasih sayang.

"Anak ini dari tadi hanya diam, tidak membalas sedikit pun ucapanmu. Tapi kamu terus menekannya."

Vina menundukkan kepala. Air matanya kembali menetes.

"Ibu... sudahlah. Mungkin Nyonya Karin memang belum bisa menerima kehadiranku."

"Kamu tidak perlu membelanya lagi!" potong Bu Ratna. "Semakin kamu mengalah, semakin dia merasa bisa menindasmu."

Mendengar itu, Karin justru terkekeh pelan.

"Ibu benar-benar luar biasa."

"Apa maksudmu?"

"Dari tadi yang menghina, menghakimi, bahkan memarahiku itu Ibu."

Karin menatap Bu Ratna tanpa sedikit pun gentar.

"Tapi entah bagaimana ceritanya, di mata Ibu justru aku yang berubah menjadi penjahatnya."

Wajah Bu Ratna menegang.

"Kamu memang pandai membalikkan keadaan."

"Bukan aku yang membalikkan keadaan." Karin menggeleng pelan. "Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi."

Suasana kembali hening. Bu Ratna menggertakkan giginya. Untuk pertama kalinya, ia kesulitan mencari kata-kata untuk membantah Karin.

1
Thewie
sikarin kayak jadi bodoh. keluar dr rmh itu kenapa. bawa smua berkas2 penting. ini pake acara belanja belanja . bodoh bodoh
Irma
puas banget 🤣🤣🤣 lanjut Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!