NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.

Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 34

Jam kuliah akhirnya berakhir. Bunyi bel yang menggema di seluruh gedung disusul suara kursi yang bergeser dan obrolan para mahasiswa yang memenuhi setiap sudut koridor. Dalam hitungan detik, ruang-ruang kelas mulai kosong karena para mahasiswa berhamburan keluar, sebagian menuju kantin, sebagian lagi ke area parkir.

Di tengah keramaian itu, Angela justru masih duduk tenang di bangkunya. Ia merapikan buku-buku ke dalam tas dengan gerakan rapi, seolah sengaja mengulur waktu.

"Ang, ayo balik," ajak Maya sambil menyampirkan tasnya ke bahu.

Angela menoleh. Setelah memastikan tak ada orang yang memperhatikan mereka, ia mendekat sedikit lalu berbisik,

"Eh, May. Lo tahu nggak jalan alternatif yang bisa langsung keluar dari area kampus?"

"Tahu, sih. Emang kenapa?" Maya mengernyit heran. Belum sempat Angela menjawab, ekspresi Maya berubah jahil. Senyum usil langsung menghiasi wajahnya.

"Jangan-jangan... lo mau ngehindarin Raymond, ya?" Angela langsung mengembuskan napas panjang.

"Iya." Nada suaranya terdengar pasrah.

"Capek, May. Gara-gara dia, gue jadi pusat perhatian terus. Ke mana-mana orang pada ngelihatin gue. Rasanya nggak bisa tenang sedikit pun." Maya terkekeh pelan.

"Padahal banyak cewek yang rela ada di posisi lo." Angela memutar bola matanya malas.

"Ya udah, suruh aja mereka tukeran sama gue." Ucapan itu membuat Maya semakin geli.

Angela segera berdiri sambil mengenakan tas ranselnya.

"Udah, yuk. Mumpung Raymond belum datang ke sini, kita cabut duluan." Tanpa menunggu jawaban, Angela langsung menarik pergelangan tangan Maya keluar dari ruang kelas. Begitu tiba di depan pintu, langkahnya mendadak terhenti.

Ia menjulurkan sedikit kepalanya ke arah koridor, lalu menoleh ke kanan dan kiri dengan penuh kewaspadaan. Matanya menyapu setiap sudut lorong, memastikan sosok berambut hitam yang sedang berusaha dihindarinya benar-benar belum terlihat.

Suasana koridor masih cukup ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang. Namun, bayangan Raymond sama sekali tidak tampak.

"Kayaknya aman."Angela mengembuskan napas lega. Ia menoleh kepada Maya dengan wajah penuh harap.

"Ayo, May. Tunjukin gue jalannya."

"Oke. Ikutin gue." Maya segera memimpin jalan menuju koridor belakang gedung.

Angela mengikuti tepat di belakangnya. Keduanya mempercepat langkah, bahkan tanpa sadar berjalan setengah membungkuk sambil sesekali menoleh ke belakang. Tingkah mereka begitu mencurigakan, persis seperti dua siswa yang baru saja ketahuan bolos dan sedang berusaha kabur tanpa diketahui guru.

Melihat tingkah sahabatnya yang kelewat waspada, Maya tak kuasa menahan tawa.

"Lo santai dikit, napa? Yang ngejar juga bukan satpam." Angela mendengus pelan tanpa menghentikan langkah.

"Justru kalau satpam masih mending."

"Lah?"

"Kalau ketemu Raymond, gue yakin dia bakal nyeret gue pulang lewat gerbang depan.

"Parah... baru kali ini gue lihat ada orang kabur dari cowok paling populer di kampus." Maya kembali tertawa geli. Angela hanya bisa menggeleng pasrah.

"Popularitas dia itu masalah buat gue, bukan keuntungan." Maya masih terkekeh pelan sambil memimpin jalan melewati koridor belakang gedung fakultas. Jalur itu jauh lebih sepi dibandingkan koridor utama. Dinding beton yang mulai ditumbuhi lumut tipis membentang di sisi kiri, sementara deretan pohon ketapang yang rindang menaungi jalan setapak di sisi kanan. Sesekali embusan angin sore menggoyangkan dedaunan, menciptakan suara gemerisik yang membuat suasana terasa lebih tenang.

Berbeda dengan area depan kampus yang selalu dipenuhi mahasiswa, jalan ini nyaris tak dilewati siapa pun.

"Nah, bentar lagi sampai," ucap Maya sambil menunjuk ke arah sebuah gerbang besi berwarna hijau yang tampak berdiri di ujung jalan.

"Wah... ternyata beneran ada jalan keluar di sini." Mata Angela langsung berbinar.

"Makanya. Lo aja yang nggak pernah eksplor kampus." Angela mengangguk cepat.

"Mulai sekarang gue bakal hafal jalan ini."

Maya meliriknya sambil tersenyum penuh arti.

"Buat kabur dari Raymond?"

"Buat hidup gue lebih damai." Maya kembali tertawa. Belum sempat mereka melangkah lebih jauh, suara deru mesin mobil tiba-tiba terdengar dari arah luar gerbang samping.

Sebuah sedan hitam mewah melintas perlahan di jalan luar kampus sebelum akhirnya berhenti tepat beberapa meter dari gerbang. Angela tidak terlalu memedulikannya. Mobil-mobil mahal memang bukan pemandangan asing di kawasan kampus elite seperti itu.

"Ayo cepetan," desaknya. Namun, tepat ketika tangan Angela hendak mendorong pintu gerbang, seseorang lebih dulu menariknya dari arah seberang.

Pintu besi itu terbuka perlahan. Decitan engselnya memecah kesunyian, Angela refleks menghentikan langkah.

Begitu pula Maya. Dari balik gerbang, muncul sosok pria bertubuh tinggi dengan jaket bomber hitam yang dikenakannya terbuka, memperlihatkan kaus putih polos di baliknya. Rambut hitamnya tampak sedikit berantakan tertiup angin, tetapi justru semakin menegaskan pesonanya yang dingin dan berwibawa.

Tatapan matanya langsung tertuju pada Angela, seolah sejak awal memang datang untuk mencarinya. Angela membelalak. Jantungnya serasa berhenti berdetak selama beberapa detik.

"...Raymond?"

Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu berjalan santai melewati gerbang..Tatapan tajamnya tidak pernah lepas dari wajah Angela.

"Mau kabur lewat sini?" Nada suaranya datar.

Namun, justru itulah yang membuat Angela semakin gugup.

"Si-siapa juga yang kabur?"

"Oh ya?" Raymond berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka kini hanya terpaut satu langkah.

"Lalu kenapa lo milih jalan yang nggak pernah lo lewatin sebelumnya?" Angela langsung kehilangan kata-kata.

"Eee... gue cuma..." Maya yang berdiri di sampingnya diam-diam menutup mulut, berusaha keras menahan tawa. Raymond melirik sekilas ke arah Maya.

"Makasih udah nunjukin jalannya."

Maya sontak salah tingkah.

"Hah? B-bukan gue yang—"

"Tenang." Raymond memotong ucapannya dengan tenang.

"Gue udah tahu dari tadi." Angela mengernyit.

"Maksud lo?" Raymond mengangkat ponselnya sebentar.

"Begitu kelas lo bubar, Kevin langsung ngabarin kalau lo keluar bareng Maya." Angela mematung.

"Terus Rio bilang kalian nggak ke parkiran."

"Arga lihat kalian belok ke gedung belakang."

"Dion nebak kalian pasti lewat gerbang samping." Raymond menatap Angela tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya.

"Jadi... Menurut lo, masih mungkin gue kehilangan jejak lo?" Angela hanya bisa melongo. Sudut bibir Maya berkedut, lalu akhirnya ia tak sanggup lagi menahan tawa.

"Hahaha... Ang, serius deh. Lo itu bukan kabur, tapi lagi dikejar satu tim intel. Ya udah, Ang. Gue duluan, ya. Bye."

Begitu mengucapkan kalimat itu, Maya langsung melambaikan tangan kecil, lalu mempercepat langkah menuju gerbang samping. Dalam hati, ia sama sekali tidak berniat menjadi obat nyamuk di antara dua orang yang jelas-jelas sedang berada dalam situasi canggung.

"Eh... eh, May!" Angela spontan memanggil. "Kok ninggalin gue, sih?" Maya hanya menoleh sekilas sambil menyunggingkan senyum jahil.

"Good luck!" Setelah itu, ia benar-benar menghilang di balik gerbang. Angela hanya bisa meringis pasrah. Bahunya langsung merosot lesu.

"Sahabat macam apa itu..." gumamnya pelan.

Beberapa detik kemudian, ia mengembuskan napas panjang sebelum mendelik tajam ke arah Raymond yang sejak tadi berdiri santai di hadapannya.

Pria itu tampak sama sekali tidak merasa bersalah. Kedua tangannya masih berada di saku celana, sementara tatapannya terus tertuju pada Angela dengan ekspresi tenang.

"Raymond!" seru Angela kesal.

"Apa?"

"Bisa nggak sih, lo berhenti ngebuntutin gue terus?" Raymond terdiam sejenak, seolah benar-benar mempertimbangkan permintaan itu.

"Hm..." Ia mengusap dagunya pelan sambil berpura-pura berpikir.

"Kayaknya..." Angela menatapnya penuh harap. "...nggak bisa." Mata Angela langsung membelalak.

"Hah?" Belum sempat ia melontarkan protes, Raymond sudah melangkah maju.

Satu langkah.

Dua langkah.

Hingga kini hanya tersisa jarak yang sangat dekat di antara mereka.

Angela refleks mundur setapak.

"Ngapain sih?" Namun, punggungnya justru menyentuh pagar besi gerbang samping.

Ia tak lagi memiliki ruang untuk menghindar.

Tanpa aba-aba, Raymond mengangkat kedua tangannya, lalu merangkul pinggang ramping Angela dengan erat. Gerakannya tegas, tetapi tetap berhati-hati, seolah takut gadis itu benar-benar kabur lagi.

"Raymond!" Angela sontak memukul pelan lengan pria itu.

"Apaan, sih? Belum cukup bikin gue malu tadi di kampus?" Ia mencoba melepaskan diri dari pelukan itu.

Tubuhnya meronta pelan, tetapi tenaga Raymond jauh lebih kuat. Semakin Angela berusaha menjauh, semakin erat pula pria itu menahannya.

Raymond hanya menatapnya tanpa sedikit pun melepaskan pelukan.

"Mau kabur?"

"Nggak!"

"Lo sengaja cari jalan belakang." Angela langsung mengalihkan pandangan.

"Itu... itu kebetulan."

"Kebetulan?" Raymond mengangkat sebelah alis.

"Kebetulan yang bikin lo nyuruh Maya nunjukin jalan keluar?" Angela langsung terdiam. Wajahnya memerah karena ketahuan berbohong.

Melihat ekspresi itu, sudut bibir Raymond terangkat tipis membentuk senyum yang nyaris tak terlihat.

"Disini kan sepi," ucapnya pelan. "Nggak bakal ada yang lihat kita." Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Jalan belakang kampus memang tampak lengang. Hanya suara angin yang berembus pelan, membuat dedaunan bergoyang pelan. Sesekali terdengar suara kendaraan dari jalan raya di luar pagar kampus, tetapi area itu sendiri nyaris tak dilewati siapa pun.

Angela kembali memukul pelan dada Raymond.

"Justru karena sepi!" Raymond menatapnya heran.

"Kenapa?" Angela mendesah kesal.

"Nanti kalau ada yang lewat, kita malah disangka mau berbuat yang aneh-aneh lagi."

Raymond memiringkan kepala.

"Yang aneh-aneh?"

"Iya!" Angela semakin salah tingkah.

"Lo lupa waktu di taman kemarin? Gara-gara lo, orang-orang udah salah paham terus."

Raymond justru terlihat santai.

"Biarin aja."

"Biarin gimana?"

"Kan mereka cuma nebak." Angela memelototinya.

"Masalahnya tebakan mereka selalu bikin gue malu!" Raymond menatap wajah Angela beberapa saat. Tatapannya yang semula datar perlahan berubah lebih lembut.

"Gue nggak peduli sama omongan mereka."

Ia mengencangkan pelukannya sedikit, memastikan gadis di hadapannya tidak kembali mencari kesempatan untuk kabur.

"Yang gue peduli..." Raymond menundukkan wajahnya sedikit hingga jarak mereka semakin dekat. "...jangan kabur dari gue lagi."

Raymond masih memeluk pinggang Angela erat, seolah tak memberi celah sedikit pun bagi gadis itu untuk kabur lagi. Sementara Angela, yang sejak tadi terus meronta, akhirnya memilih diam. Bukan karena menyerah, melainkan karena sudah sadar kalau melawan tenaga Raymond hanya akan menguras tenaganya sendiri.

Mereka berdiri berhadapan di jalan belakang kampus yang lengang. Angin sore berembus pelan, menggoyangkan ranting-ranting pohon di sekitar. Suasananya tenang, berbanding terbalik dengan jantung Angela yang berdetak makin cepat karena jarak mereka yang terlalu dekat.

Raymond menatap wajah Angela beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara.

"Nanti malam ikut gue." Angela mengangkat sebelah alis.

"Ke mana?"

"Acara Gala Charity Wijaya Group."

"Oh..." Angela baru teringat pembicaraan saat makan malam bersama keluarga Wijaya.

"Tapi kayaknya gue nggak minat." Jawaban itu membuat Raymond sedikit menyipitkan mata.

"Kenapa?" Angela menghela napas pelan.

"Ya... emang nggak minat aja." Ia mengangkat bahu dengan wajah datar. "Daripada datang ke acara orang-orang kaya yang isinya pebisnis sama tamu penting, mending gue di rumah nemenin Ibu . Gue juga nggak kenal siapa-siapa di sana. Acara begitu bukan dunia gue, Ray." Raymond masih menatapnya tanpa berkedip.

"Nggak ada penolakan." Jawabannya singkat, tapi nadanya tegas. Angela langsung mendelik.

"Enak aja. Kalau gue tetap nolak?" Raymond tersenyum tipis. Bukan senyum ramah, melainkan senyum penuh percaya diri yang selalu membuat Angela gemas sendiri.

"Kalau lo tetap nolak..." Ia sengaja menggantung ucapannya, lalu sedikit mendekat. "...gue cium lo sekarang juga."

Seketika kedua mata Angela membesar.

Refleks, ia langsung menutup bibirnya dengan kedua telapak tangan.

"Lo gila, ya?".Raymond hanya menatapnya santai. Angela menggeleng kesal.

"Dengerin baik-baik. Ciuman pertama gue cuma buat calon suami gue nanti." Ia menatap Raymond tanpa berkedip. "Bukan buat cowok nyebelin kayak lo." Setelah mengatakan itu, Angela kembali berusaha melepaskan diri.

"Udah, lepasin gue. Gue mau pulang. Hari udah sore." Namun, kalimat itu justru membuat tatapan Raymond berubah.

Sorot matanya yang semula santai perlahan menjadi lebih dalam. Tanpa berkata apa-apa, ia mengangkat satu tangan untuk menyangga lembut tengkuk Angela. Gerakan itu membuat Angela langsung terdiam.

"Ray..."

Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Raymond menundukkan kepala. Dalam satu gerakan cepat, bibir mereka bertemu. Seketika

Angela langsung membeku, matanya terbuka lebar, otaknya seakan berhenti bekerja.

Ia sama sekali tidak menyangka Raymond benar-benar nekat melakukan ancamannya.

Beberapa detik pertama, tubuh Angela kaku tanpa reaksi. Baru setelah kesadarannya kembali, ia buru-buru mendorong dada Raymond dengan kedua tangan.

"Raymond...!" Suara protesnya terdengar samar. Ia terus berusaha menjauh, tetapi Raymond belum juga melepaskan ciumannya itu. Justru saat Angela kembali mencoba menghindar, Raymond tanpa sengaja menggigit pelan bibir bawahnya.

"Ah..." Angela meringis pelan karena terkejut.

Raymond seketika menghentikan tindakannya. Ia perlahan menjauh, menyadari dirinya sedikit kelewatan. Untuk beberapa saat, tak ada satu pun yang berbicara.

Yang terdengar hanya napas keduanya yang belum kembali teratur.

Angela menatap Raymond dengan wajah merah padam. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, melainkan karena campuran malu, kesal, dan tidak percaya.

"Keterlaluan..." gumamnya lirih sambil mengusap bibirnya.

Raymond tidak membalas. Ia hanya menatap Angela tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan. Di balik wajah dinginnya, ada secercah rasa bersalah. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia juga sadar akan satu hal.

Ia benar-benar tidak suka membayangkan suatu hari nanti ada pria lain yang berdiri di posisi itu.

1
Alinda Linda
lanjut thor
Alinda Linda
semangat thor💪
Miasell Tea
agak kecewa sama Raymond,, kenapa mesti harus ada ga bisa nahan apa karna dosis nya Terlalu kuat,,, tapi apapun itu makasih udah menyajikan karya SE bagus ini,,, semoga Ang nya ga lama marah sama Raymond nya dan tambah bahagia y
Miasell Tea
bukan ny mereka berdua dah tau kalau mereka adalah cio yg lagi kuliah pas waktu di acara keluarga Wijaya y
Anisa Nur Afifah
lanjut thor, semangat 💪
Miasell Tea
kapan nih nikah nya masih lama kah
Miasell Tea: ok di tunggu KA thor
total 2 replies
luiya tuzahra
di bab sebelumnya pas di rumah sakit Edward bercerita klw Hendra lebih memilih bekerja stelah lulus SMA dan gak pernah ketemu lagi,di bab ini kok ceritanya begini jadi bingung.gak konsisten kadang Raymond manggil dadi kadang ayah,Angela jg kadang ibu pas di RS manggil mama.🤭
luiya tuzahra
biasanya baca novel PU cowoknya redflag parah disini PU grenflag abis,walopun agak boring bacanya krn terlalu monoton tpi aku suka karakter Raymond.
Miasell Tea
makin seru makasih sudah menyajikan cerita yg bagus Thor,,, semangat terusss 💪💪
Khusnul Khotimah
bagus semangat😍
luiya tuzahra
aku mau dong jadi Angela
Lyvia
hati2 saja kau ray 😄
Miasell Tea
awas lo bayu,,, jangan punya pikiran buat jadi orang ke tiga ya masih banyak cewe yg baik2 ko
Miasell Tea
ah gemes banget2 bisa aja si ayang ray mah bikin kejutan buat ang
Miasell Tea
ko makin dikit thor,,, ga puas nih baca,, nya kalo di tabung ga bisa nunggu pengen nya cepat2 baca aj,, semangat thor💪💪
Miasell Tea: makasih udah Doble update thor,,,
anak nya semoga lekas sembuh
total 2 replies
Lyvia
mulai posesif si ray 😄
Lyvia
suwun thor crazy upnya
Rizky Mutha: sama-sama kak
total 1 replies
Miasell Tea
bagus banget menghibur para pem baca,,,
kalau bisa up nya di tambahin
Miasell Tea
lah kapan nikah nya thor,,,harus ada penjelasan nya ini mah, makin penasaran aj,, 💪💪💪
Rizky Mutha: aduh.. typo
total 1 replies
Lenny Utami
so sweet banget..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!