pengalaman pahit serta terburuk nya saat orang yang dicintai pergi untuk selama-lamanya bahkan membawa beserta buah hati mereka.
kecelakaan yang menimpa keluarganya menyebabkan seorang Stella menjadi janda muda yang cantik yang di incar banyak pria.
kehidupan nya berubah ketika tak sengaja bertemu dengan Aiden, pria kecil yang mengingatkan dirinya dengan mendiang putranya.
siapa sangka Aiden adalah anak dari seorang miliarder ternama bernama Sandyaga Van Houten. seorang duda yang memiliki wajah bak dewa yunani, digandrungi banyak wanita.
>>ini karya pertama ku, ada juga di wattpad dengan akun yang sama "saskavirby"
Selamat membaca, jangan lupa vote and coment ✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saskavirby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 10. Daddy dan Bundanya
Aiden terbangun dari tidurnya, mengucek matanya dan menatap sekitar bermaksud mencari Bunda-nya. Dia terduduk dari posisi tidurnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman melihat apa yang ada di depannya, tepatnya di sebuah sofa.
Ceklek!
Pintu terbuka, Aiden segera menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya, mengisyaratkan agar Laras dan Vero yang baru saja tiba untuk tidak membuka suara.
Laras dan Vero mengerti apa yang dimaksud cucunya. Tatapan keduanya beralih pada dua manusia berbeda jenis kelamin sedang tidur di sofa dengan sang wanita yang menyandarkan kepala pada pundak sang pria dengan selimut membungkus tubuhnya. Sedangkan sang pria menyandarkan kepala pada kepala sang wanita.
Laras tersenyum melihat pemandangan itu, ia berjalan menghampiri Aiden yang memintanya mendekat dengan gerakan tangannya.
"Kenapa, sayang?" tanya Laras pelan.
"Oma, pinjam ponsel," Aiden membuka kelima jarinya.
Laras yang bingung tak urung menyerahkan ponselnya pada Aiden, melirik pada Vero yang sudah duduk di samping bed pasien, dan suaminya itu menjawab dengan gelengan kepala.
Aiden membuka aplikasi kamera, dan mengambil beberapa gambar Sandy dan juga Stella. Ia terkikik geli melihat hasilnya, ia senang Daddy dan Bundanya seperti itu.
Laras dan Vero tersenyum melihat apa yang cucunya perbuat. Hingga tiba-tiba suara dari belakangnya mengguncang ruangan, membuat mereka menoleh.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!"
Stella dan Sandy terlonjak kaget, dan menegakkan tubuhnya, Stella yang masih belum sepenuhnya sadar hanya menurut saat Fara menarik tangannya paksa menjauh dari Sandy.
"WANITA TIDAK TAHU MALU! BERANINYA LO TIDUR SAMA CALON SUAMI GUE!!" teriak Fara murka.
Stella belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi. "Apa maksud kamu?" tanyanya linglung.
"Jangan pura-pura bodoh! Ngapain lo tidur nyender sama Sandy? Hah?" hardik Fara berkacak pinggang.
Stella terkesiap, benarkah seperti itu? Ia menoleh menatap Sandy yang tengah memijit keningnya.
"Lo mau ngeles apa lagi? Hah!"
"Maaf, sepertinya aku tidak menyadarinya," sesal Stella dengan raut wajah kebingungan.
"Lo —" Fara menuding wajah Stella.
"Fara, cukup!" sentak Sandy memotong, kepalanya benar-benar berdenyut, apalagi mendengar suara Fara yang berteriak, semakin membuatnya pusing.
"Tapi San —"
"Aku bilang cukup," titah Sandy, yang seketika membuat Fara terdiam. "Bukan Stella yang salah, jangan salahkan dia," imbuhnya.
Fara hendak protes, namun tatapan tajam Sandy mengurungkan niatnya. Fara memicing, menatap tajam pada Stella, nafasnya naik turun menahan emosi. 'Tunggu pembalasan gue,' tekadnya murka.
...***...
Keesokan harinya.
Stella mengembuskan nafas lega, saat semua desainnya sudah selesai dikerjakan. Selanjutnya tinggal menyerahkan pada rekannya, —Jerry, untuk pemilihan kain serta melakukan proses jahit.
Stella berjalan menghampiri Aiden, mencium keningnya sebentar sebelum masuk ke kamar mandi.
Fara terbangun dari tidurnya, ia melihat Stella yang masuk ke kamar mandi. Tatapannya tertuju pada tumpukan kertas pada meja tempat Stella berkutat semalam. Ia berjalan menghampiri, mengambil beberapa kertas untuk melihat hasilnya. "Bagus juga," komentarnya mengangguk-angguk. Tak berapa lama ujung bibirnya terangkat. "Bagaimana kalau semua gambar lo ini, gue hancurin? Anggap saja pembalasan dari gue, karena lo udah berani deketin Sandy," gumamnya tersenyum jahat.
Fara mengambil cup berisi kopi di atas nakas, menumpahkan isinya di atas gambar Stella. "Ups, nggak sengaja," gumamnya terkekeh.
Fara mengembalikan gelas di samping kertas, membuatnya seolah-olah tumpah. Setelahnya ia tersenyum senang, dan berjalan kembali ke tempatnya semula, pura-pura untuk tidur.
Stella keluar dari kamar mandi, tatapannya tertuju pada kertas desainnya, bukan! Lebih tepatnya tertuju pada gelas yang terguling di samping kertasnya, ia bergegas menghampiri. Seketika matanya terbelalak melihat hasil pekerjaannya selama beberapa minggu menjadi tidak berbentuk, semua tertutup noda kopi. Stella terduduk lemas di sofa, ia mengambil kertas-kertas yang sudah basah, dan yang lebih membuatnya sesak adalah goresan tinta sudah tidak pada tempatnya, luntur terkena kopi.
Hampir saja Stella menangis, melihat sepuluh kertas desainnya yang kini terbentuk goresan tinta acak-acakan. Padahal dua bulan lagi baju-baju itu harus sudah bisa dipakai.
Sandy yang baru masuk ke ruangan memperhatikan Stella yang terduduk lesu memandangi kertas basah di tangannya. "Kenapa dengan kertasmu, Ste?" tanyanya terheran.
Stella mendongak sekilas, kemudian menggeleng pelan.
"Seharusnya kamu tidak meletakkan cup kopi di samping kertas kerjamu, Ste," ujar Sandy menasehati.
Sandy merasa kasihan pada Stella, hampir dua malam ia memperhatikan Stella yang selalu tidur larut malam karena mengerjakan desainnya, —disela menjaga anaknya. Dan sekarang kertas tersebut hancur tidak terbentuk.
Stella ingat benar, tidak meletakkan gelas di atas meja sebelum ia ke kamar mandi. Tapi kenapa tiba-tiba setelah keluar dari kamar mandi sudah ada gelas di meja?
"Ada apa?" Fara mendekat dan berdiri di samping Sandy. "Wah, sepertinya lo harus ngulang lagi, tuh," ejeknya melihat kertas-kertas desain Stella yang menghitam.
Stella mendongak menatap Fara yang menyeringai, dan Stella yakin, itu semua pasti ulah Fara.
...***...
Stella berpamitan pada Aiden untuk pulang, guna mendesain ulang gambarnya, Stella berjanji akan berkunjung malam nanti.
"Sayang, aku juga pulang dulu, ya? Ada jadwal pemotretan hari ini," ujar Fara mendongak dari ponselnya.
Sandy mengangguk. "Hati-hati."
"Sayang, Mommy pulang dulu, ya?" Fara mengelus kepala Aiden dan mencium keningnya. Kemudian beralih menghampiri Sandy dan mengecup pipinya. "Dah, honey," pamitnya.
Di pelataran parkiran, Fara melihat Stella yang akan membuka pintu mobil. "Stella!" panggilnya.
Stella menoleh, melihat Fara yang berjalan menghampirinya.
"Gimana kejutannya? Lo suka?" ujar Fara seraya melipat tangan.
Stella menarik nafas panjang. "Apa maumu?"
Fara mendengus. "Itu akibatnya, kalo lo berani deket-deket sama Sandy."
Stella menatap Fara dengan kerutan dalam.
"Jangan pernah deketin Sandy, atau coba-coba cari perhatian dari Sandy. Kalau lo berani lakuin itu, lo bakal berhadapan sama gue," ancam Fara sungguh-sungguh.
"Maaf, sepertinya kamu salah orang. Aku ada di sini hanya untuk Aiden," balas Stella tak peduli dengan ancaman Fara.
Fara mengangguk. "Seperti yang elo bilang, lo ada di sini cuma untuk kesembuhan Aiden, setelah Aiden sembuh, lo udah tidak dibutuhkan lagi, lo DI BUANG," ucap Fara menekan kalimat terakhirnya.
Stella terkesiap, mungkin memang benar apa yang diucapkan Fara, setelah Aiden sembuh, ia tidak di perlukan lagi, atau bisa saja keluarga Aiden melarangnya bertemu pria kecil menggemaskan itu lagi.
"Lo inget itu," ucap Fara menuding tepat di wajah Stella, membuat Stella tersadar dari lamunannya.
*
Sesampainya di butik, Stella melangkah masuk menuju ruangannya, tapi sebelum itu, ia menghampiri Sari. "Sari, kalau ada yang mencariku, bilang aku tidak ada, aku harus menyelesaikan desainku yang tersiram kopi ini," ucapnya mengangkat map berisi kertas desainnya yang sudah menghitam.
Sari terkejut. "Kenapa bisa seperti itu, Mbak. Itukan —"
"Sudah nggak apa-apa," potong Stella. "Ingat, jangan ada yang menggangguku, aku akan meneleponmu jika butuh sesuatu," imbuhnya.
Sari mengangguk. "Iya, Mbak."
Hampir seharian, Stella berkutat dengan kertas-kertas di atas mejanya, bahkan dirinya melewatkan makan siang. Hari sudah gelap dan Stella masih saja fokus dengan kertas di tangannya.
Stella menilik jam di pergelangan tangannya, sudah menunjukkan pukul sembilan malam, ia teringat janjinya dengan Aiden. Ia gegas beranjak dengan membawa beberapa kertas desain untuk dilanjutkan di rumah sakit.
Saat turun di lantai satu, ruangan sudah sepi, karena Sari sudah pulang jam lima sore tadi.
Stella melajukan kendaraannya dengan kecepatan rata-rata, sebelum sampai di rumah sakit, ia berbelok ke toko roti, membeli beberapa roti untuk mengganjal perutnya.
...***...
Malam itu, Sandy sendirian menemani Aiden di rumah sakit, Fara sudah mengabari kalau tidak bisa menginap.
Jangan salah, sebenarnya, tadi Fara menanyakan apa Stella di sana? Saat Sandy bilang tidak ada, dirinya memilih untuk tidur cantik di rumah, di atas kasur king size miliknya. Fara tidak terlalu khawatir sebab Stella tidak bersama Sandy.
Sebenarnya juga, beberapa hari Fara menginap di rumah sakit bukan untuk menemani Aiden, tapi lebih tepatnya, tujuannya adalah untuk mengawasi Stella dan juga Sandy. Tidak akan ia biarkan Stella dan Sandy hanya berdua. Tidak bisa dipungkiri kalau Stella itu cantik, dan statusnya yang seorang janda membuat Fara waspada, ia khawatir jika Sandy akan tergoda. Apalagi Aiden yang lebih menyukai Stella daripada dirinya.
Sedangkan Sandy sendiri tengah memikirkan Stella, bagaimana keadaan wanita itu? Mungkin malam itu Stella tidak jadi ke rumah sakit seperti janjinya tadi pagi dengan Aiden. Sandy paham Stella banyak pekerjaan, apalagi setelah insiden tadi pagi. Tengah sibuk berkutat dengan pikirannya, terdengar suara pintu diketuk. Lalu, tiba-tiba seseorang yang sedang ia pikirkan masuk setelah berucap salam.
"Maaf, aku telat," ucap Stella meletakkan tasnya di sofa.
Sandy hanya mengangguk.
"Apa Aiden baik-baik saja?" tanya Stella berjalan menghampiri Aiden dan mengelus kepalanya.
"Keadaannya sudah membaik, kata Dokter, kemungkinan lusa sudah boleh pulang."
"Syukurlah," ucap Stella tersenyum memperhatikan wajah Aiden yang terlelap.
"Mau roti?" ucap Stella menyodorkan roti pada Sandy.
Sandy menggeleng. "Tidak, terimakasih."
Stella mengangguk seraya mengunyah rotinya, ia membuka tasnya dan mengambil peralatan gambarnya. Lalu mengambil duduk di kursi samping Aiden dengan tangan kiri memegang roti dan tangan kanan memegang alat tulis, sedangkan pahanya ia gunakan untuk menahan papan klip yang menjepit kertas desain.
"Kamu belum makan, Ste?" tanya Sandy seraya memperhatikan Stella mengunyah rotinya.
Stella menoleh. "Belum. Hik," Stella menyentuh dadanya saat cegukan mendera.
Sandy beranjak menghampiri Stella, membawa gelas minuman. "Minumlah," ujarnya mengangkat gelas tepat di depan wajah Stella.
Stella mendongak dengan cegukan yang masih melanda, Sandy mengangguk seolah mengiyakan, Stella meneguk minumannya dibantu Sandy, karena kedua tangannya penuh dengan roti dan juga bolpoin.
"Terimakasih," ucap Stella selanjutnya.
"Sudah lebih baik?" tanya Sandy memastikan.
Stella mengangguk dan tersenyum.
*
Stella tertidur dengan menyandar pada kursi, sementara papan klip berada di pangkuannya.
Sandy tidak tega melihat posisi tidur Stella yang terlihat kurang nyaman. Ia mengambil papan klip di pangkuan Stella dan meletakkan di atas nakas, kemudian menyelipkan tangannya pada punggung dan kaki Stella, dan mengangkat tubuh Stella menuju single bed yang biasa digunakan Fara tidur.
Sandy menidurkan tubuh Stella perlahan, netranya menatap lekat wajah wanita di hadapannya. 'Cantik,' pujinya dalam hati.
Sandy tersenyum melihat wajah damai Stella yang tertidur. Kemudian ia mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh Stella. Ia menaikkan sampai batas leher Stella. Sandy menunduk hendak berucap di telinga Stella, namun siapa sangka Stella yang mengubah posisi tidurnya menyamping menyebabkan bibirnya bertemu dengan pipi Sandy.
Tubuh Sandy menegang saat merasakan benda kenyal milik Stella menyentuh kulitnya. Tiba-tiba detakan kuat dirasakan pada jantungnya, ia menoleh perlahan pada Stella yang masih terlelap.
Sandy segera beranjak, ia menghembuskan nafas panjang berulang kali untuk menetralkan irama jantungnya.
Sandy menyentuh pipinya dengan punggung sebelah tangan dan tersenyum saat memperhatikan Stella yang terlelap damai. Ada yang aneh dengan dirinya, rasanya seperti perasaan yang sudah lama hilang kini hadir kembali, ia tidak bisa mendeskripsikannya.
Sandy berbaring di sofa dan menatap langit-langit kamar, kepalanya menggeleng pelan saat lintasan kejadian beberapa menit yang lalu kembali melintas. Perlahan ia memejamkan mata dan terlelap ke alam mimpi.
~•
•~
kok milih perempuan kasar bgt nganggep cocok to dia
aneh sich
tp bnyak kok orang yg ga paham dng pilihannya