NovelToon NovelToon
REVENGE; The Mad Twin'S

REVENGE; The Mad Twin'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Identitas Tersembunyi / Keluarga / Teen School/College / Crazy Rich/Konglomerat / Dendam Kesumat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Ketika Arbiyan Pramudya pulang untuk melihat saudara kembarnya, Abhinara, terbaring koma, ia bersumpah akan menemukan pelakunya. Dengan menyamar sebagai adiknya yang lembut, ia menyusup ke dalam dunia SMA yang penuh tekanan, di mana setiap sudut menyimpan rahasia kelam. Namun, kebenaran ternyata jauh lebih mengerikan. Di balik tragedi Abhinara, ada konspirasi besar yang didalangi oleh orang terdekat. Kini, Arbiyan harus berpacu dengan waktu untuk membongkar semuanya sebelum ia menjadi target berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Di Rumah Sakit,

Ara jadi sering mengunjungi Rumah Sakit sepulang Sekolah untuk menemani Abhi yang sendirian. Gadis itu senang setidaknya Abhi masih seceria dulu bahkan tidak menjaga jarak dengannya. Meski begitu, perubahan itu tetap terasa. Terkadang Ara merasa Abhi tidak nyaman jika mereka tak sengaja bersentuhan.

Ada sesuatu yang terasa janggal tapi Ara tidak tahu apa itu.

"Hey, kau sudah makan?" tanya Ara yang masuk ke dalam kamar rawat itu sembari membawa tas hitam.

Abhi menoleh dan menggeleng. "Belum. Kau bawa apa?"

"Makanan kesuakaanmu!"

Kedua mata Abhi langsung membulat. "Oh?! Ayam?!"

"Ya," jawab Ara dengan kekehan dan langsung menyiapkan meja makan diatas ranjang Abhi dan membuka kotak makan berisi ayam dan nasi.

"Makanlah, kebetulan ada promo jadi kubelikan banyak untukmu."

"Woah! Terima kasih!" jawabnya semangat.

Ara hanya tersenyum dan membiarkan Abhi memakan makanannya dengan lahap. Suasana sempat hening dan hanya terdengar suara kunyahan Abhi saja.

"Abhi."

"Hm?" gumamnya karena ia sedang mengunyah.

"Aku tahu mungkin Biyan tidak setuju jika aku mengatakan ini padamu tapi aku hanya ingin kau tahu bahwa semua akan baik-baik saja."

Abhi mendongak. "Apa maksudmu?"

"Kau tahu, saat ini Biyan tengah menyamar menjadi dirimu di Sekolah."

"Huh?" gerakan tangan Abhi terhenti ketika ia akan memakan makanannya. Menatap Ara dengan raut wajah tak terbaca. Wajahnya tiba-tiba saja menjadi begitu pucat dan hal itu membuat Ara menjadi panik.

Apa ia mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya?

"A-apa maksudmu menyamar menjadi aku? Bukankah kak Biyan masuk ke sana sebagai Arbiyan?"

Ara terdiam.

Ia menggigit bibirnya pelan.

Sialan! Ia salah bicara.

"Aracell! Jawab aku!" bentak Abhi tiba-tiba dan membuat Ara tersentak kaget.

"Biyan ingin mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi padamu. Jadi ia menyamar menjadi dirimu," ucap Ara pelan sekali sembari melihat perubahan raut wajah Abhi yang kentara sekali lebih pucat dari biasanya.

Kenapa?

Ini hanya perasaannya saja tapi entah kenapa Ara merasa jika Abhi tak ingin Biyan atau siapapun mengetahui kebenarannya.

Sebenarnya apa yang terjadi?!

***

Bunyi pintu yang dibuka paksa dengan sekali tendangan brutal dari Dean. Raut wajahnya mengeras, nafasnya memburu, amarahnya sudah diubun-ubun dan matanya yang menatap nyalang mencari seseorang.

Sedangkan orang-orang didalam yang entah sedang melakukan apa, terlonjak kaget dan langsung menoleh kearah suara tersebut.

“DIMANA BAGASKARA?!” teriak Dean dengan lantangnya.

Emosinya benar-benar sudah diujung tanduk sekarang. Dia bahkan tidak perduli meski didalam rumah—atau bisa disebut markas—tersebut terdapat lebih dari 10 orang yang sedang menatapnya horror. Karena yang ada diotaknya hanyalah lelaki brengsek yang sudah dengan berani menyakiti miliknya.

“Fuck! Siapa kalian?! Berani sekali menerobos masuk ke markas kami!” gertak seorang dari mereka.

“Diam atau kupatahkan lehermu!” ancam Dean dengan aura membunuh yang menguar kemana-mana. Membuat siapapun akan menciut.

"Dean, tenangkan dirimu,” tegur Eve datar.

“Ada apa ini?” tanya seseorang yang baru saja turun dari lantai atas. Ia berjalan santai sambil menatap teman-temannya dan juga 4 orang tak diundang.

Dean mengalihkan pandangannya kearah suara tersebut dan langsung saja berjalan cepat kearah orang itu dengan tangan mengepal dan—

BUGH!

“Beraninya!”

BUGH!

“Menyentuh!”

BUGH!

“MILIKKU!”

BUGH! BUGH! BUGH!

Pukulan bertubi-tubi yang dilayangkan Dean membuat semua orang Speechless dan merinding. Tapi tidak dengan 3 orang lainnya, mereka sudah biasa melihat Dean mengamuk. Hanya saja tidak—belum—pernah sampai separah ini.

“Brengsek! Apa yang kau lakukan keparat!” geram Rendra kaget dan langsung menendang Dean yang untungnya ia sempat melindungi dirinya menggunakan lengan hingga ia terjungkal kebelakang. Setelah itu Rendra segera membantu Bagas berdiri dengan keadaan wajah yang bisa dibilang cukup parah.

Dean yang masih tersulut emosi hendak berdiri dan menghajar pemuda itu lagi, jika saja sebuah tangan tak menahan pundaknya.

“Cukup, kak. Tarik nafasmu."

Dean terdiam sejenak, kemudian ia menarik dan menghembuskan nafas pelan sesuai instruksi sepupunya. Ya, hanya Biyan dan Ayah-nya sajalah yang mampu meredakan amarah seorang Deandra.

“Sudah lebih baik?”

“Ya, tapi aku belum puas,” jawab Dean dingin.

Biyan terkekeh pelan. “Aku tahu, kak.”

“Sialan! Berani sekali kalian! Dasar Miskin menjijikan!” geram anak-anak lainnya marah.

Tiba-tiba saja terdengar suara tawa yang menggelegar, membuat semua orang diruangan itu menatap pemuda itu heran. Pemuda itu bahkan tertawa sambil memegang perutnya, seolah-olah ia baru mendengar sebuah lawakan lucu.

“Apa yang kau tertawakan brengsek?!”

“Hahahahahahaha! Astaga! Ini lucu sekali! Hahahahaha! Biyan, apa yang mereka maksud miskin?” tanya pemuda itu yang ternyata adalah Neo.

“Tentu saja kalian bodoh!” sergah salah satu dari mereka.

Seketika tawa Neo berhenti digantikan suara kekehan geli. “Dengar, kalau yang kau maksud itu kami berdua, kau benar,” katanya sambil menunjuk dirinya dan juga Eve. “Tapi jika yang kau maksud itu mereka berdua, kau salah! Salah besar malah!" lanjut Neo lagi sambil berusaha meredam tawanya dan menghapus sisa-sisa airmata.

“Berhenti membual!”

Neo sendiri hanya mengendikkan bahunya cuek.

Tak lama, ada seorang lagi yang turun dari lantai atas dengan raut wajah bingung. Ia mendekati mereka dan berdiri di sebelah Rendra juga Bagas yang masih meringis kesakitan.

"Abhinara, ada apa ini?" tanya sambil melihat ke arah yang lainnya juga, "Dan kalian siapa?"

Sebelah alis Biyan terangkat naik. "Kau siapa?"

"Ah, benar. Bagas bilang kau hilang ingatan, ya? Aku Argantara."

Mendengar nama itu langsung membuat fokus Biyan telak padanya.

Argantara?

Apa dia 'kak Arga' yang dimaksud oleh Abhi?

"Ah, jadi kau yang dipanggil 'Kak Arga'?" Nada Biyan terdengar tajam dan menusuk.

Arga mengerutkan kening. "Abhinara, sebenarnya ada apa?"

"ka-kau! Jangan bilang mau mau balas dendam?!" ucap Bagas susah payah.

Kali ini Biyan yang menampakkan wajah dinginnya. “Pertama, aku bukan Abhinara. Kedua, aku berbohong soal amnesia. Dan ketiga, yeah, kau benar..aku ingin balas dendam.”

Beberapa orang yang mengetahui masalah ini hanya bisa berekspresi bingung, sedangkan sisanya hanya melongo.

“Kalian sudah berani menerobos masuk di markas kami tanpa ijin, jadi berhentilah membual! Dan jangan harap kalian bisa keluar dari sini dengan selamat!” entah siapa Lagi yang angkat bicara.

“Hey...khawatirkan diri kalian sendiri bocah!” kali ini Eve membuka suara. Setelah melihat salah satu rekannya di hajar hingga babak belur begitu, kenapa mereka masih belum mengerti juga?!

Apa mereka pikir semua ini hanya candaan saja? Wah! Eve tak tahu apakah mereka tolol atau bodoh sebenarnya. Pasalnya, menenangkan Dean yang tengah diselimuti amarah saja itu sudah merupakan pekerjaan berat dan melelahkan. Apalagi Biyan?! Anak itu bahkan lebih gila dari siapapun. Jangan mencoba mencari gara-gara dengannya tidak tak mau berakhir mengenasksn.

“Aku hanya ingin tahu apa yang kalian lakukan pada Abhinara?” tanya Biyan datar.

“Apa dia gila? Kenapa bertanya soal dirinya sendiri?” Bisik-bisik terdengar disekitar ruangan tersebut. Meski ucapan Biyan terdengar seperti bualan. Tapi anak itu bahkan tidak mengekspresikan apa pun. Membuat mereka semakin percaya bahwa hubungan keduanya memang benar saudara kembar.

Biyan terkekeh. “ Ah, aku lupa. Perkenalkan namaku Arbiyan dan merupakan saudara kembar dari Abhinara yang telah kalian sakiti. Jadi, katakan...siapa diantara kalian yang telah membuatnya hancur mengenaskan?” tanyanya dengan wajah marah seolah siap membunuh siapapun.

1
Ryo gunawan
dabel up lah thor
Helmi Sintya Junaedi
beruntung abhi punya kakak yg sangat menyayanginya,,, cari pelakunya sampai dapat balas kn perbuatan nya,,
CutiePie
next! 😊
CutiePie
curiga sih mereka pelakunya 😡
CutiePie
heh 😂😂
CutiePie
bguss
CutiePie
Ini bagus sekali!
Tidak sabar untuk selanjutnya!
semangat ya!
CutiePie
😍😍
CutiePie
😭😭
CutiePie
semangat!
QueenBwi
💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!