aku berdiri kaku di atas pelaminan, masih mengenakan jas pengantin yang kini terasa lebih berat dari sebelumnya. tamu-tamu mulai berbisik, musik pernikahan yang semula mengiringi momen bahagia kini terdengar hampa bahkan justru menyakitkan. semua mata tertuju padaku, seolah menegaskan 'pengantin pria yang ditinggalkan di hari paling sakral dalam hidupnya'
'calon istriku,,,,, kabur' batinku seraya menelan kenyataan pahit ini dalam-dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sablah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
anak
Setelah makan siang, Alda dan Rama berjalan menuju kamar mereka tanpa banyak bicara. suasana masih canggung, seakan keduanya sama-sama enggan membahas apa yang terjadi sebelumnya.
sesampainya di kamar, Alda duduk di tepi ranjang, jari-jarinya saling menggenggam, sementara Rama berdiri di dekat jendela, menatap ke luar. dari sana, ia bisa melihat tanah lapang di belakang rumah tempat beberapa anak kecil berlarian dengan tawa riang. ada yang bermain lompat tali, ada yang bermain bola dengan sandal sebagai gawangnya, dan ada pula yang duduk-duduk sambil menikmati cemilan sederhana. tawa mereka terdengar samar, menciptakan suasana yang kontras dengan keheningan di dalam kamar. pemandangan itu entah kenapa terasa menenangkan, mengingatkannya pada masa kecil yang bebas tanpa beban.
tiba-tiba, sebuah ide terlintas di benak Rama. ia menoleh ke arah Alda yang masih duduk diam.
"Alda.," panggilnya pelan.
Alda menoleh. "iya?"
"kau mau keluar sebentar?" tanyanya tiba-tiba Rama.
Alda mendongak, sedikit terkejut. "keluar? untuk apa, Ram?"
"mencari makanan," jawab rama singkat. "aku lihat kamu tidak punya stok cemilan."
Alda mengerutkan kening. "aku tidak perlu cemilan, Ram."
Rama tersenyum tipis, lalu berjalan mendekat, tapi tetap menjaga jarak. "tetap saja. aku tidak keberatan keluar sebentar."
Alda menatapnya sejenak, lalu menunduk. "bukankah kamu capek? seharian ini kamu belum istirahat Ram"
"aku baik-baik saja," sahut Rama. "lagipula, udara di luar lebih segar. mungkin dengan keluar sebentar, kita bisa merasa lebih nyaman."
Alda terdiam, mempertimbangkan. kecanggungan di antara mereka belum sepenuhnya hilang, tapi ajakan itu terdengar tulus.
tanpa menunggu jawaban dari alda, Rama begitu saja berjalan kearah pintu dan meraih jaket yang tergantung di sana. ia memakainya dengan cepat, lalu menoleh ke arah gadis yang masih duduk menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "ayo, kita pergi. tidak perlu khawatir, aku akan memastikan kita kembali sebelum terlalu lama."
Alda masih terdiam, hingga kemudian mengangguk pelan. "baiklah," jawabnya lirih. meskipun perasaan canggung masih membayangi, ada sesuatu dalam cara rama berbicara yang membuatnya merasa sedikit lebih tenang.
mereka berjalan keluar dari kamar, melewati lorong, dan menuju pintu depan. di luar, udara terasa segar, meskipun matahari mulai merendah, menciptakan bayangan panjang di tanah. suasana di sekitar rumah seakan menyambut kedatangan mereka, dan tawa anak-anak yang bermain di halaman belakang semakin terdengar jelas.
Rama memimpin, berjalan dengan langkah santai. Alda mengikuti di sampingnya, meskipun kadang-kadang matanya menyapu sekitar, seperti mencari sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih nyaman. mereka tidak banyak berbicara, namun kehadiran satu sama lain terasa cukup.
sesampainya di warung sederhana di ujung jalan, Rama memesan beberapa cemilan ringan yang menurutnya akan disukai oleh Alda. mereka duduk di sebuah bangku yang terletak di luar warung, menikmati udara sore yang mulai sejuk. tak lama setelah itu, Alda mulai membuka pembicaraan.
"terima kasih, Ram," ujarnya dengan suara lembut, menatap cemilan yang ada di depannya. "aku tidak tahu kenapa aku merasa begitu canggung tadi."
Rama hanya tersenyum sambil menyeruput minumannya. "kadang-kadang, keheningan justru memberi kita waktu untuk berpikir," jawabnya singkat, namun dengan nada yang lebih hangat. "tapi aku senang kita keluar. rasanya, kita bisa lebih rileks."
Alda mengangguk, merasakan suasana di sekitar mereka yang mulai lebih ringan. di tengah kebersamaan yang sederhana, seakan ada ruang bagi mereka untuk saling berbicara lebih terbuka tanpa beban.
saat Alda sedang menikmati cemilan di depannya, perhatiannya tiba-tiba teralihkan ke segerombolan ibu-ibu yang sedang berkumpul tak jauh dari sana. sebagian besar dari mereka membawa bayi atau anak kecil. pemandangan seperti ini sudah biasa di kampung, terutama di sore hari, ketika para ibu bersantai di rumah tetangga sambil bercengkerama dan berbagi cerita.
di antara mereka, seorang anak kecil berusia sekitar dua tahun terlihat sedang berusaha berjalan, tangannya sesekali terangkat mencari keseimbangan. Ibunya berdiri tak jauh darinya, sesekali mengawasi dengan tatapan penuh kasih. bocah itu kemudian jatuh terduduk, tapi bukannya menangis, ia justru tertawa kecil sebelum kembali mencoba berdiri.
Alda, yang memperhatikan semua itu dari kejauhan, tanpa sadar berbisik pelan, "lucu..."
Rama yang duduk di sampingnya melirik sekilas. ia melihat tatapan Alda yang terlihat lebih lembut dari biasanya, penuh ketertarikan dan kehangatan yang jarang ia tunjukkan. namun, sebelum Rama sempat berkata sesuatu, suara langkah mendekat membuat mereka berdua menoleh.
ternyata, Andre, rekan kerja rama sedang berjalan menuju warung bersama Kepala Desa. keduanya tampak santai, dan hanyut dalam percakapan yang menyenangkan.
begitu melihat Rama dan Alda, Andre langsung melambai dan tersenyum "eh, ada mas Rama dan mbak Alda juga?”
Rama mengangguk kecil. "iya, Ndre. cuma cari angin sebentar."
Kepala Desa tersenyum ramah, lalu ikut menarik kursi untuk duduk di dekat mereka. "pas banget bertemu kalian di sini. gimana kabarnya, mbak Alda? sudah betah tinggal di sini?"
Alda yang semula masih terpaku pada anak kecil itu menoleh dan tersenyum tipis. "alhamdulillah, Pak. sedikit demi sedikit mulai terbiasa."
Andre yang sedari tadi memperhatikan ekspresi Alda kemudian menyadari sesuatu. matanya mengikuti arah pandangan Alda yang masih tertuju pada bocah kecil tadi. dengan nada polos, ia pun nyeletuk, "mbak Alda sepertinya suka anak kecil, ya?”
Alda menoleh padanya dan mengangguk ringan. “iya.” jawabannya singkat, tapi jelas.
Kepala Desa yang mendengar itu justru tertawa kecil sebelum menimpali dengan nada bercanda, “wah, kalau suka anak kecil, ya sudah, mbak, lekas dibuatkan juga, biar cepat punya sendiri.”
seakan tidak menyadari dampak ucapannya, Kepala Desa tetap tertawa santai, sementara Andre ikut tersenyum mendengar candaan itu. namun, reaksi yang berbeda justru datang dari dua orang yang menjadi sasaran ucapan itu.
Rama, yang sedang meminum kopi, tiba-tiba tersedak. ia buru-buru meletakkan gelasnya, lalu menutupi mulutnya sambil berdeham beberapa kali, mencoba mengembalikan napasnya yang sempat tersendat. sementara itu, Alda membelalakkan mata, lalu menunduk dalam-dalam, wajahnya sedikit memerah.
Andre yang melihat itu malah tertawa lebih lepas. “wah, Ram, kenapa jadi panik gitu?”
Rama berusaha menguasai diri, tapi tatapannya tetap gelisah. “bukan panik, aku cuma... kaget aja.”
Kepala Desa terkekeh lagi, “yah, namanya juga suami istri baru, nak Andre. pastilah mas Rama masih malu-malu.”
Alda menggigit bibirnya, semakin salah tingkah. dalam hati, ia ingin cepat-cepat pulang. jangankan memikirkan anak, untuk sekadar berbicara panjang dengan Rama saja mereka masih harus berjuang melawan kecanggungan. apalagi, sejak menikah, mereka bahkan belum pernah tidur seranjang, hanya berbagi ruangan yang sama tanpa interaksi yang berarti.
Rama, yang merasa suasana semakin tidak nyaman, buru-buru mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan. “i-itu Pak, urusan di balai desa sudah selesai?” tanyanya pada Kepala Desa.
Kepala Desa mengangguk. “sudah mas, tinggal mengawasi saja sembari ngopi, haha”
mendengar itu, Rama langsung berdeham dan berdiri. “kalau gitu, Bapak sama Andre lanjutkan saja ngopinya, saya sama Alda pamit dulu, kami masih akan bersih-bersih rumah, Pak”
Alda, yang juga ingin segera pergi, ikut berdiri tanpa banyak bicara.
Kepala desa tersenyum maklum. “iya, iya, hati-hati di jalan, mas Rama”
Andre melambaikan tangan dengan senyum usil. “hati-hati mas Rama, jangan sering begadang ya, haha"
Rama hanya tersenyum kaku, sementara Alda semakin menunduk. akhirnya tanpa banyak bicara lagi, mereka pun berjalan menjauh dari warung, meninggalkan Andre dan Kepala desa yang masih tertawa kecil di belakang.
di sepanjang perjalanan pulang, keduanya terdiam. suasana kembali dipenuhi kecanggungan, tapi kali ini, ada perasaan lain yang terselip di antara mereka, sesuatu yang samar, namun cukup kuat untuk membuat mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.
dalam perjalanan pulang, Rama dan Alda berjalan berdampingan, meski jarak di antara mereka masih terasa. jalanan desa yang mulai lengang memberi sedikit ketenangan, hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar di antara semilir angin sore.
Rama melirik sekilas ke arah Alda sebelum akhirnya membuka suara, "maaf soal tadi."
Alda menoleh, sedikit bingung. "untuk?"
Rama menarik napas pelan. "perbincangan di warung. soal… anak." suaranya terdengar sedikit canggung. "aku tahu itu bisa jadi pembahasan yang tidak nyaman untukmu. lagipula, kita sendiri belum…" ia menghentikan kalimatnya, merasa tak perlu mengucapkan hal itu secara gamblang.
Alda terdiam sesaat, lalu menunduk, memperhatikan langkahnya sendiri di jalan berbatu.
"jangan dipikirkan, Da." Rama melanjutkan, suaranya lebih lembut. "aku hanya tidak mau kamu merasa tertekan atau tidak nyaman. kita jalani saja pelan-pelan."
Alda akhirnya menatapnya, dan tanpa kata-kata panjang, ia tersenyum kecil. "terima kasih, Ram."
senyuman itu mungkin singkat, tapi cukup untuk membuat Rama merasa sedikit lebih tenang.
namun, tepat saat suasana di antara mereka mulai terasa lebih ringan, tiba-tiba ponsel rama bergetar di saku celananya, diikuti suara notifikasi pesan yang masuk beruntun.
Ding!!
Ding!!
Ding!!
Rama mengernyit dan segera mengeluarkan ponselnya. nama pengirim pesan muncul di layar 'arya & laras'
mata Rama sedikit membesar membaca isi pesan yang masuk bertubi-tubi.
arya
oi ram! kau di mana sekarang [16.10]
laras
rama, kau ada di kota murni, kan [16.10]
arya
kami liburan ke sini! baru sampai tadi sore! [16.11]
laras
kau sama alda di mana? ayo ketemuan! [16.11]
Rama menatap ponselnya, sedikit terkejut.
Alda yang berjalan di sampingnya menyadari perubahan ekspresinya. "ada apa, Ram?" tanyanya penasaran.
Rama menoleh ke arah Alda, masih mencerna informasi yang baru saja ia terima. "Arya dan Laras… mereka ada di sini. mereka liburan ke Kota Murni."
sejenak, ekspresi Alda berubah. matanya membulat dengan binar kegembiraan yang jelas. "benarkah?" tanyanya, hampir terdengar antusias.
namun, sedetik kemudian, wajahnya berubah. senyuman yang tadi muncul perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi ragu-ragu dan cemas.
Rama memperhatikannya dengan bingung. "kamu kenapa?"
Alda menunduk sedikit, suaranya lebih pelan. "kamu… nggak keberatan, kan?"
rama mengerutkan kening. "keberatan?"
Alda menggigit bibirnya, jelas terlihat khawatir. "aku takut kamu merasa kehadiran mereka mengganggu. maksudku, kita baru saja mulai terbiasa dengan keadaan ini… aku tidak ingin mereka datang dan malah membuatmu tidak nyaman, Ram"
Rama menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil. "Da, kenapa harus tidak nyaman? mereka itu teman-temanku juga. aku justru senang mereka ada di sini."
Alda terkejut, matanya menatap Rama dengan hati-hati. "kamu benar-benar tidak masalah dengan ini?"
Rama mengangguk. "ya. lagipula, mungkin ini bisa sedikit mengubah suasana."
Alda diam beberapa detik, lalu tersenyum lebih lega. "kalau begitu… aku juga senang," ujarnya dengan suara lebih ceria.
Rama kemudian kembali melihat ponselnya. ia mengetik balasan untuk Arya dan Laras.
rama
aku dan alda baru pulang dari warung. nanti kita atur waktu bertemu [16.14]
tidak butuh waktu lama, balasan datang.
arya
oke, jangan lupa traktir, ya! [16.15]
laras
kami tunggu kabar dari kalian [16.15]
Rama tersenyum sekilas sebelum menyimpan kembali ponselnya di saku. lalu, ia menatap Alda yang masih berjalan di sampingnya dengan ekspresi lebih tenang dari sebelumnya.
"kalau begitu," kata Rama dengan nada santai, "besok sore kita ketemu mereka, selepas aku pulang kerja"
Alda mengangguk, dan untuk pertama kalinya sejak awal perjalanan pulang, kecanggungan di antara mereka terasa sedikit memudar.