Apa?!! Menikahi Musuhku? Apa itu mungkin?... Namaku adalah Demian Wulfric, yaitu raja dari kerajaan Endom, kerajaan terkuat di belahan bumi Eropa. Aku disebut sebagai raja dari kayangan, karena parasku yang sangat rupawan dan sifatku yang sangat dingin.
Selama hidupku, aku menanggung amarah yang amat dalam kepada musuh yang telah membunuh orang tuaku dan memporak-porandakan rakyat serta kerajaanku.
Namun, takdir berkata lain, aku terpaksa harus menikahi putri dari musuhku, yaitu putri dari kerajaan Alamore yang bernama Putri Aurora Delacour. Ia adalah putri yang sangat cantik jelita yang memiliki 'Mutiara Abadi' di dalam tubuhnya. Mutiara yang membuatku sangat bergantung kepadanya dan aku harus menahan rasa cinta yang mendalam kepadanya, hanya karena masa lalu yang sangat menyakitkan di antara kami.
Bagaimana kisah perjalanan cinta kami selanjutnya? Jangan lewatkan kisah kami ya...
Jangan lupa like, komen & dukung cerita ini dengan 5 Vote yaah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ekouchi Aya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Dengan Sepupu Kembali
Seketika aku tiba di ruang pengobatan, dokter istana telah merawat Aurora dengan baik. Terlihat kepala dan kakinya berbalut perban. Ketika melihat keadaan Aurora seperti ini, entah mengapa aku merasa simpati dan menyesal atas hukuman yang telah kuberikan padanya. Karena rasa bersalahku itu, aku menghukum pelayan yang sengaja menyuruh mereka untuk mencari kayu bakar di hutan. Dan karena kejadian ini aku memutuskan untuk mencabut hukuman yang kuberikan pada Aurora sebagai pelayan.
"Kapan dia akan sadar?" tanyaku pada dokter.
"Mungkin satu jam lagi Yang Mulia, keadaan Nona ini sudah cukup membaik," jelas dokter istana.
"Sementara kalian istirahatlah di kamar ini, dan mulai sekarang berhentilah menjadi pelayan," kataku kepada dayang pribadi Aurora, Mia.
"Terimakasih, Yang Mulia," sahut Mia yang sedang duduk di samping Aurora.
Aku pun meninggalkan ruangan itu dan hendak menjumpai pamanku di kamarnya.
***
Tok...tok...tok...
"Paman," panggilku di depan pintu kamar paman yang telah terbuka.
"Silahkan masuk Yang Mulia," sahut paman mempersilahkan ku masuk.
"Aku ingin berdiskusi dengan Paman," kataku sambil duduk si kursi kamarnya.
"Apa yang terjadi dengan tuan putri cantik Anda?" tanya paman seakan tahu maksud kedatanganku.
"Siapa yang Paman sebut cantik?" tanyaku.
"Siapa lagi kalau bukan istri Anda Yang Mulia," timpal Paman seraya tersenyum meledekku.
"Sudahlah Paman," sahutku malas untuk membalas godaannya.
"Yang Mulia, sepertinya kita harus merahasiakan status Putri Aurora di kerajaan ini," menuangkan minuman untukku.
"Karena sangat berbahaya jika rakyat tahu, bahkan jika semua menteri kerajaan mengetahui bahwa di istana kita telah tinggal seorang Putri Alamore, maka keselamatan putri Aurora bisa terancam," papar pamanku penuh kekhawatiran.
"Itulah yang ingin kudiskusikan dengan Paman" Kami pun bersulang dan mulai meminum minuman yang disuguhkannya padaku.
Kami pun berdiskusi untuk mencari solusi bagaimana caranya Aurora bisa bebas di istana ini tanpa diketahui statusnya sebagai Putri Alamore.
"Akan kukatakan pada semua orang, bahwa Putri Aurora adalah putri sahabatku yang dititipkan sementara padaku, mungkin untuk sementara ini alasan itu cukup meyakinkan." Solusi paman membuatku tercengang.
"Baiklah, kupercayakan semuanya pada Paman," kataku menyetujuinya.
"Ngomong-ngomong Yang Mulia, besok putraku akan mengunjungiku datang ke istana," kata paman bahagia.
"Brian, akan datang ke sini?" tanyaku tak sabar ingin berjumpa dengan sepupuku satu-satunya.
"Iya, Yang Mulia," jawab paman tersenyum gembira.
Selama belasan tahun Brian Wulfric telah meninggalkan kerajaan Endom demi mengikuti ibunya yang tinggal di luar istana. Brian adalah putra pamanku yang tinggal terpisah karena perceraian paman dengan istrinya di waktu Brian masih kecil. Aku pun tak banyak mengenalnya, dulu kita sering bermain di istana. Tapi setelah perceraian itu aku jarang sekali bertemu dengan Brian. Sekarang Brian tumbuh menjadi pemuda yang rupawan.
***
"Haaaah, kenapa Tuan Putri belum sadar juga," keluh Mia sambil memijat tangan Aurora.
Tak lama kemudian Aurora terbangun dan melihat Mia telah tidur di pangkuannya.
"Kasian sekali Mia, dia pasti lelah merawatku selama ini" kata Aurora berusaha duduk dengan nyaman. Ia mencoba menyembuhkan luka kakinya dengan kekuatan mutiara abadi yang ada dalam tubuhnya. Kemudian Aurora menempelkan kedua telapak tangan di atas luka kakinya, seakan mengeluarkan cahaya yang bersinar dari kedua telapak tangannya.
Seketika itu aku pun datang dan mengetahui Aurora telah sadarkan diri.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku pada Aurora sedikit simpati.
"Saya baik-baik saja." Aurora menghentikan proses pengobatannya karena terkejut akan kedatanganku.
"Tidak papa, lanjutkan pengobatanmu," kataku sedikit santai.
Kedatanganku membuat Mia terbangun dan langsung memeluk Aurora.
"Tuan Putri, akhirnya Anda sadar juga, untunglah, coba saja jika terjadi sesuatu pada Anda saya tak segan segan akan membalas perbuatan raja tampan nan kejam itu," kata Mia panjang lebar, tanpa mengetahui keberadaanku yang berdiri di belakangnya.
"Tampan nan kejam?, apa maksudmu?" tanyaku sontak membuat Mia salah tingkah.
"Maaf, Yang Mulia, bukan itu, maksud saya, Anda tampan dan baik hati," sambil tersenyum kecil.
"Mia, bisakah kau melepas perban di kakiku, aku ingin mengobatinya," pinta Aurora pada Mia.
"Apa kau bisa mengobati segala jenis penyakit dengan kekuatanmu itu?" tanyaku ingin tahu.
"Sepertinya begitu, kecuali kematian, saya tak bisa membuat orang hidup lagi," kata Aurora mulai menyembuhkan kakinya.
"Sebenarnya kedatanganku kemari, aku hanya ingin menyampaikan jika mulai sekarang statusmu adalah putri dari sahabat pamanku yang sementara tinggal di kerajaan ini, jadi bertingkah lakulah dengan baik, jangan membuat keributan," jelasku pada Aurora.
"Tak kusangka keberadaanku di kerajaan ini membuat kalian bingung harus menyembunyikanku di mana?, apa karena saya adalah mutiara abadi yang kalian anggap sangat penting bagi kerajaan kalian?" tutur Aurora penuh ejekan.
"Mendengar perkataanmu itu, aku ingin sekali mengirimmu ke dalam sel penjara, tapi apalah daya kalian selalu membuat keributan," paparku membalasnya.
"Kami tak pernah membuat keributan, hanya saja putri kami yang terlalu cantik, jadi banyak yang ingin melihatnya bahkan memilikinya," kata Mia membela diri.
"Sepertinya itu yang terjadi kepada banyak orang di istana ini, tapi tak akan pernah terjadi padaku, selama kalian berlaku dengan baik, aku akan melindungi rakyat kalian yang ada di penjara," kataku meninggalkan mereka berdua.
***
Suara kuda mengiringi latihan kami pagi itu, hari di mana Pangeran Brian mengunjungi kerajaan Endom.
"Bagaimana kabar Anda, Yang Mulia?" tanya Pangeran Briam padaku sambil merangkul bahuku.
"Baik, bagaimana kabar Ibumu di sana?" tanyaku kembali.
"Baik, Yang Mulia," jawab Pangeran Brian.
"Sering-seringlah mengunjungi istana, mungkin itu juga keinginan Ayahmu," pintaku pada Pangeran Brian.
"Karena banyak kabar yang daya dengar akhir akhir ini Yang Mulia, jadi saya putuskan untuk mengunjungi istana beberapa hari," kata Pangeran Brian membuatku ingin tahu.
"Kabar?, kabar apa yang kau dengar dari luar istana?" tanyaku.
"Salah satunya, perihal kemenangan kerajaan Endom melawan kerajaan Alamore," jelas Pangeran Brian
"Iya, benar," kataku tersenyum bangga.
"Selamat Yang Mulia atas kemenangan Anda," kata Pangeran Brian mengucapkan selamat padaku.
"Itu semua berkat kegigihan kami semua, juga ayahmu yang ikut serta bertarung di peperangan," jelasku.
Kami berdua berbincang bincang sangat lama, sampai waktu makan malam pun tiba.
*****
Di malam yang indah Pangeran Brian memutuskan untuk jalan-jalan menelusuri setiap sudut bangunan kerajaan yang begitu megah.
Sehingga sampailah Pangeran Brian di depan paviliun effgen. Di kala itu terlihat Aurora dan Mia duduk santai di teras depan paviliun sambil menikmati udara malam.
"Tuan Putri, kerajaan ini memang sangat indah, apa lagi di waktu malam," kata Mia menikmati pemandangan.
"Kau fikir kerajaan kita juga tak kalah indah?" Aurora sedikit tersinggung akan pernyataan Mia.
"Bukan begitu maksud saya Tuan Putri, posisi kita kan sekarang ada di kerajaan Endom, bukan di kerajaan Alamore, jadi kita hanya bisa menikmati pemandangan di sini," kata Mia berharap bisa kembali ke kerajaannya.
"Permisi, apa kalian yang menempati tempat ini?" suara lelaki terdengar dari arah belakang Aurora dan Mia duduk.
"Apakah saya mengganggu waktu kalian bersantai?" tanya Pangeran Brian si lelaki itu.
Aurora dan Mia pun terkejut melihat lelaki asing yang mendatangi paviliun mereka.
BERSAMBUNG....
seorang raja ko sifatnya seperti itu menyebalkan