Mohon untuk tidak membaca novel ini saat di bulan puasa. Terutama disiang hari. Untuk malam hari, silahkan mampir jika berkenan.
"Aku tidak mau menikah dengan Pria tua itu, Ibu" kata Elina pada Ibu tirinya.
Elina di jual oleh Ibu tirinya pada seorang Pria yang tidak diketahui identitas aslinya. Sakit, jelas Elina merasa hatinya sangat sakit.
Apakah Elina bisa mendapatkan kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Beberapa hari kemudian...
Semua orang menginginkan suami yang tampan dan baik, tapi bagaimana dengan Elina yang menikah dengan pria yang belum pernah ia lihat. Deg degan, perasaan yang kini sedang melandanya. Elina terlihat begitu cantik dengan gaun mewah berwarna putih. Ia berdiri memandangi indahnya kota, dalam sekejap Elina sah menjadi istri dari Jonathan Javelis, pria yang dikabarkan berparas tua dengan perutnya yang buncit.
"Mungkin inilah takdirku, menikah dengan Jonathan" batin Elina. "Ibu, lihatlah anakmu. Aku terlihat cantik kan! Hari ini aku menjadi seorang putri" kata Elina sambil memandangi foto Ibunya yang telah tiada.
Kreek... suara pintu terbuka.
"Elina..." panggil Melisa dengan senyum bahagia. "Kamu cantik sekali, Elina" ucapnya dengan mata berbinar.
"Aku memang cantik sejak dulu. Hahahahaha" balas Elina lalu tertawa.
"Ow ya, Elina. Aku turut berduka dengan suasana pernikahanmu tadi. Seumur umur aku belum pernah menyaksikan pernikahan tanpa saling menatap bahkan memasukan cincin sendiri. Aku penasaran dengan sosok Jonathan, seperti apa sih tampan pria itu! Kenapa di saat hari pernikahannya pun dia tidak ingin dilihat oleh orang-orang bahkan istrinya sekalipun," ujar Melisa.
Elina terkekeh. "Aku juga penasaran. Tapi bagaimana pun rupa seorang Jonathan, dia sudah menjadi suamiku dan aku, aku adalah istrinya sekarang" ucap Elina.
Satu notifikasi masuk di ponsel Elina. Elina meraih ponselnya, jarinya membuka pesan yang baru saja masuk.
"Aku ada urusan bisnis, kamu nikmati saja acara yang sudah aku siapkan" isi pesan dari Jonathan.
Jonathan Javelis, pria yang lebih suka jati dirinya disembunyikan. Hanya orang-orang terdekatnya yang tahu bagaimana sosok seorang Jonathan. Ia bebas beraktivitas di luar sana, tanpa harus berhadapan dengan wartawan. Jonathan Javelis masih memiliki nama depan yang tidak diketahui orang. Pernikahan yang berlangsung tanpa sepengetahuan keluarga Javelis, hanya pelayan yang bekerja di rumah pribadi milik Jonathan dan kedua sahabat Jonathan yang tahu pernikahan itu. Bisa dikatakan bahwa pernikahan yang berlangsung hari ini belum ada restu dari keluarga Javelis. Elina tahu itu ia pun sadar diri, drinya dibeli bukan di lamar.
"Elina, maafkan Ayah. Karena Ayah kamu harus menjalani pernikahan seperti ini," kata Albern mencium kening putrinya.
"Ayah, aku sudah pasrah dengan takdirku. Aku yakin, Jonathan pria baik-baik. Sekalipun pernikahan ini tak berjalan dengan semestinya tapi dia menyiapkan semuanya," jelas Elina tersenyum. Ia tidak ingin membuat ayahnya bersedih.
"Kamu harus ingat, pernikahanmu tanpa sepengetahuan keluarga Javelis. Jonathan sudah memberitahumu apa-apa yang harus kamu lakukan kan?" tanya Martha.
"Iya, Bu. Aku sudah tahu apa-apa yang harus aku lakukan dan apa yang tidak boleh aku lakukan" jawab Elina.
------------
Malam hari
Semua orang telah pulang ke rumah mereka. Tinggalah Elina seorang diri di dalam kamar pengantin. Kamar yang dihiasi begitu indah, tapi tidak dengan suasana hati Elina. Banyak hal yang membuatnya bingung, terlebih lagi saol apa yang tidak boleh Elina lakukan. Melihat wajah Jonathan menggunakan senter ponsel.
"Lampunya suda mati. Itu tandanya Jonathan akan masuk ke dalam kamar" batin Elina.
Elina memilih menutupi tubuhnya dengan selimut. Rasa gugup dan rasa penasaran menyelimutinya. Siapa dan seperti apa sosok Jonathan. Kenapa dia tidak mau Elina melihat wajahnya.
Langkah kaki terdengar mendekati ranjang. Berhenti disamping Elina. "Bau parfum ini, sepertinya aku pernah mencium bau parfum ini. Apa mereka menggunakan parfum yang sama" batin Elina.
Pagi hari
Elina mengerjap membuka matanya perlahan-lahan. Ia melirik ke sampinya, suaminya sudah tidak ada. Elina mengambil ponselnya, dilihatnya satu pesan masuk.
"Good morning my wife. Sarapan dulu baru ke Kampus"
"Apa Jonathan itu bisu, semalam dia tidak mengajakku berbicara. Pertanyaanku pun tidak dijawab olehnya" batin Elina.
Elina tersenyum. Senyumnya seketika menghilang saat Stevin membuka pintu kamar tanpa mengetuk pintu.
"Wanita seperti apa kamu. Suami kerja kamu asikan tidur," ujar Stevin menatap sinis Elina.
"Knapa Prof tidak memberitahuku kalau Jonathan tidak seperti yang Ibu ku katakan!" ketus Elina. Semalam, saat Jonathan berbaring dan memeluknya, Elina masih belum tidur. Ia tersenyum saat tahu perut suaminya tidak buncit.
Stevin tertawa terbahak bahak. "Aku hanya ingin tahu seberapa besar usahamu untuk kabur dari pernikahan itu" ujarnya.
"Maksud, Prof?" tanya Elina tak paham.
"Elina, aku rasa kamu sudah dewasa, aku tidak perlu menjelaskannya. Sekarang kamu mandi dan bersiap-siaplah, hari ini kamu ke Kampus denganku. Itu perintah langsung dari Jonathan, jika kamu tidak percaya kamu bisa menghubunginya langsung" jelas Stevin.
"Terserah!" ketus Elina, ia beranjak ke kamar mandi meninggalkan Stevin di depan pintu kamar.
"Jangan lama-lama!!" teriak Stevin lalu pergi ke kamarnya.
Di dalam kamar mandi, Elina kembali mengingat bagaimana sikap Jonathan padanya. "Sekarang aku legah," gumam Elina. Hampir 20 menit di kamar mandi, Elina pun ke luar dengan senyum yang masih terukir di wajahnya.
"Aku rasa semalam ada yang terjadi, buktinya kamu senyum-senyum sendiri saat keluar dari kamar mandi," ujar Stevin tersenyum meledek.
"Sejak kapan Prof di situ? Jangan bilang Prof mau mengintip!!" seru Elina sambil menutup dadanya.
"Sejak kamu ke luar dari kamar mandi, aku tidak sengaja lewat dan melihatmu sedang berbunga-bunga" balas Stevin dengan santai.
"Cepat keluar, aku mau ganti baju!" celetuk Elina lalu menutup pintu kamarnya.
"Prof, aku tidak takut padamu lagi!! Aku istri kakakmu, maka kamu harus patut padaku" teriak Elina dari dalam kamar.
Dibalik pintu kamar, Stevin tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Mahasiswinya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
secara walopun udah nikah lama kan mrk selalu berantem n terpisah trus...