NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pak AL

Istri Kontrak Pak AL

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Pernikahan Kilat / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:18.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asni Diyanti

Ketika hidup tak lagi memberi ruang bernapas—diusir dari kos, ditolak pekerjaan, dan janji keluarga di kampung tak kunjung ditepati—Cika memilih langkah paling nekat: menawarkan pernikahan kontrak.

Al, CEO muda dan dingin, tak mencari cinta. Tapi ia butuh istri, cepat dan tanpa drama. Tawaran Cika datang di saat yang tepat—meski ia yang menentukan semua syarat dan batasannya.

Mereka hanya sepakat satu hal: tak melibatkan perasaan.

Namun, siapa yang bisa mengatur hati?
Ketika peran pura-pura perlahan terasa nyata, dan rumah yang dingin mulai hangat oleh tawa, benarkah mereka masih bisa berpura-pura?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati yang Bersembunyi

Hari-hari berlalu sejak Cika resmi bekerja di YukBelanja. Meskipun belum genap dua minggu, ia mulai merasa lebih nyaman dengan ritme kerja dan lingkungan barunya. Ia sudah mengenal sebagian besar anggota tim, memahami alur pekerjaan, dan perlahan mulai dipercaya untuk menangani tugas-tugas yang lebih penting.

Rani, sebagai seniornya, tidak hanya membimbing, tetapi juga mulai memberikan kepercayaan lebih. Hal itu membuat Cika merasa dihargai, seolah usahanya selama ini benar-benar terlihat.

Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang perlahan tumbuh tanpa bisa ia cegah.

Perasaan.

Perasaan yang seharusnya tidak ada.

Perasaan yang tidak pernah ia rencanakan.

Dan yang paling berbahaya—

perasaan itu tertuju pada Al.

Setiap pagi kini terasa berbeda.

Mereka sarapan bersama, meskipun sederhana. Kadang hanya roti dan kopi, kadang Cika memasak sesuatu yang lebih hangat seperti nasi goreng atau mie rebus. Al mungkin tidak banyak bicara, tidak memberi pujian berlebihan, tetapi selalu menghabiskan apa yang ada di hadapannya.

Hal kecil.

Namun cukup berarti.

Malam hari juga mulai berubah.

Kadang mereka menonton film bersama di ruang tamu, kadang hanya duduk berdampingan sambil sibuk dengan ponsel masing-masing. Tidak banyak percakapan, tidak ada keharusan untuk mengisi keheningan.

Namun anehnya, justru di situlah kenyamanan itu tumbuh.

Terlalu nyaman.

Suatu malam, saat mereka sedang menonton film thriller Korea, suasana terasa sedikit lebih sunyi dari biasanya. Lampu ruang tamu redup, hanya cahaya dari layar televisi yang menerangi wajah mereka.

Cika bersandar pada bantal di sofa, mencoba menikmati film meskipun sesekali menahan napas karena adegan yang menegangkan.

Al duduk di ujung sofa.

Namun perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju pada layar.

Sesekali, ia melirik ke arah Cika.

“Kamu nggak takut nonton ginian malam-malam?” tanyanya pelan.

“Takut, sih,” jawab Cika spontan. “Tapi ada kamu, jadi aman.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Cika langsung menoleh cepat, menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.

“Eh, maksudku… ya, soalnya nonton bareng,” tambahnya gugup.

Al tertawa kecil. “Iya, aku ngerti.”

Namun senyum kecil itu tidak sepenuhnya hilang dari wajahnya.

Cika menunduk, pipinya terasa hangat.

Di kantor, segalanya tetap terlihat profesional.

Al dan Cika hampir tidak pernah berinteraksi langsung. Jika pun bertemu, hanya sebatas formalitas seperti karyawan dan atasan pada umumnya. Namun ada satu hal yang tidak bisa mereka kendalikan.

Tatapan.

Beberapa kali, mata mereka bertemu secara tidak sengaja. Di ruang rapat, di lorong, atau bahkan hanya sekilas dari kejauhan.

Dan setiap kali itu terjadi, ada sesuatu yang berubah.

Detak jantung yang sedikit lebih cepat.

Napas yang tertahan sepersekian detik.

Hal kecil yang tidak bisa dijelaskan.

“Kayaknya Pak Al mulai sering ke lantai kita, ya?”

Suara Rani membuat Cika tersadar dari pikirannya.

“Dulu nggak pernah, sekarang hampir tiap pagi lewat sini,” lanjutnya santai.

Cika hanya tersenyum kecil. “Mungkin lagi banyak urusan.”

Rani mengangguk, tetapi matanya sempat memperhatikan Cika sedikit lebih lama.

Dan entah kenapa, itu membuat Cika merasa tidak nyaman.

Suatu sore, hujan deras mengguyur Jakarta tanpa peringatan. Langit berubah gelap lebih cepat dari biasanya, dan suara air yang jatuh ke permukaan jalan terdengar begitu jelas bahkan dari dalam gedung.

Cika masih berada di kantor.

Ia harus menyelesaikan laporan sebelum pulang.

Saat itulah, Al muncul di pintu ruangan.

Langkahnya tenang, tetapi kehadirannya langsung menarik perhatian seluruh ruangan.

Semua mata tertuju padanya.

“Cika, sudah selesai?” tanyanya.

Nada suaranya tetap datar.

Namun cukup jelas untuk didengar semua orang.

Cika langsung menegakkan tubuh. “Sebentar lagi, Pak.”

“Aku tunggu di lobi. Kita pulang bareng.”

Setelah itu, Al pergi begitu saja.

Namun suasana di ruangan berubah.

Sunyi.

Lalu—

penuh arti.

“Eh… tadi Pak Al manggil kamu?” tanya salah satu rekan kerja, mencoba terdengar santai.

“Iya… pulang bareng?” tambah yang lain.

Cika menelan ludah. “Iya… aku kebetulan satu apartemen sama dia. Numpang. Teman keluarga.”

Jawaban itu keluar cepat.

Terlalu cepat.

Dan ia sendiri tidak yakin apakah itu cukup meyakinkan.

Di dalam mobil, suasana terasa lebih hening dari biasanya.

Al tidak langsung menyalakan mesin.

Ia hanya duduk, lalu melirik ke arah Cika.

“Kamu bohong.”

Cika menoleh cepat. “Hah?”

“Teman keluarga?” ulang Al singkat.

Cika tertawa kecil, terdengar dipaksakan. “Aku nggak tahu harus bilang apa. Aku takut… mereka salah paham.”

Al mengangguk pelan.

“Aku ngerti.”

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan.

“Tapi kamu nggak bisa terus sembunyi.”

Kalimat itu membuat Cika menegang.

“Aku nggak akan ninggalin kamu hadapi ini sendirian,” tambah Al dengan suara lebih rendah.

Cika menatapnya.

Dan untuk sesaat, semua rasa takutnya seperti mereda.

Malam itu, hujan masih turun saat mereka tiba di apartemen.

Setelah berganti pakaian, Cika duduk di ranjang sambil menatap jendela yang dipenuhi titik-titik air. Pikirannya kembali penuh.

Tentang hari ini.

Tentang kantor.

Tentang Al.

“Mas Al…” panggilnya pelan.

Al yang baru keluar dari kamar mandi menoleh.

“Kamu pernah jatuh cinta?”

Al berhenti sejenak. “Pernah.”

“Sekarang?”

Ada jeda.

Tatapan Al berubah sedikit lebih dalam.

“Aku belum tahu,” jawabnya jujur. “Tapi mungkin… sedang ke arah sana.”

Jantung Cika berdegup.

“Aku juga,” bisiknya. “Tapi aku takut.”

“Takut apa?”

Cika menunduk. “Takut kamu nggak bisa membalas. Takut ini semua cuma peran.”

Al berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya.

“Cika,” ujarnya pelan. “Kalau ini cuma peran, aku nggak akan sejauh ini.”

Cika tidak menjawab.

Ia tidak tahu harus percaya atau menahan diri.

Mereka duduk dalam diam.

Hanya suara hujan yang menemani malam itu.

Tidak ada pengakuan cinta.

Tidak ada sentuhan yang melampaui batas.

Namun ada sesuatu yang mulai berubah.

Perlahan.

Tanpa bisa dihentikan.

Dan untuk pertama kalinya, Cika benar-benar menyadari—

jatuh cinta pada suami kontrak bukan hanya berisiko.

Tapi juga…

tidak terhindarkan.

1
Kevin Wowor
Author, chapter baru kapan? Saya ketagihan nih!
Asni Diyanti: terimakasih! wait tidak lama lagi.
total 1 replies
<|^BeLly^|>
Nggak bisa bayangkan hidup tanpa cerita dan karakter dalam karya ini!
Asni Diyanti: eh gimana maksudnya kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!