"Aku ingin mati saja, buat apa aku hidup toh semuanya sudah berakhir. Tidak ada yang bisa dibanggakan lagi dari diriku. Semuanya telah hancur. Keluargaku akan hancur bila mengetahui ini semua, akulah kebanggaan mereka tapi kini leyaplah semua" ucapku dengan melempar buku-buku. Aku duduk terdiam dengan fikiran menerawang entah apa yang aku fikirkan. Aku gak punya semangat lagi, seakan semuanya musnah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 MAAFKAN MAMA NAK
Panji masuk dan melihat Najwa yang sudah siuman. Najwa menangis karena mengetahui anaknya tidak bisa diselamatkan. Panji menghampiri Najwa.
"Jangan nangis yank, gak apa-apa sekarang anak kita udah senang disana. Kamu jangan sedih nanti anak kita ikut sedih" bujuk panji agar istrinya bisa mengiklaskan semuanya.
"Kamu gak apa-apa kan yank, terus yang sakit sebelah mana?" tanya panji beruntun.
"Udah gak apa-apa mas cuma masih nyeri aja" ucap Najwa sambil melihat perawat yang membereskan alat-alah kesehatan karena sebentar lagi Najwa akan dipindahkan keruang umum.
"Kamu beneran gak ada yang sakit kan yank?" tanya panji lagi.
"Iya mas" jawab Najwa sambil melirik suster.
"Mas kan khawatir sayank heeeee gak apa-apa kan sus" ujar panji sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Sang suster hanya tersenyum melihat tingkah panji.
"Yaudah pak, sekarang ibu Najwa mau kami bawa keruang perawat, permisi" ucap suster sambil mendorong kasur dorongan. Panji ikut mendorong di samping Najwa sambil memegang tangannya.
Di kota seberang, papa dan mama panji lagi berdebat hebat karena sang mama enggan ikut ke Jogja untuk jengukin Najwa.
"Mama tu kenapa sih bersikap seperti itu terhadap Najwa, sekarang dia menantu mama" kata pak dedi papa panji.
"Dari dulu kan mama sudah bilang kalau mama gak setuju panji sama dia, jadi jangan salahkan mama kalau mama bersikap seperti ini. Sampai kapanpun mama gak akan mau nerima wanita itu sebagai menantu mama. Mama lebih suka kalau panji menikah dengan siska anak teman mama. Siska anak terpandang beda dengan Najwa yang anak orang susah" ucap mama panji tetap bersikekeh pendapatnya itu benar. Mama panji memang selalu mengedepankan nama baik, jabatan dan harta. Dimata dia harta adalah segalanya jadi tak heran kalau dia selalu menentang hubungan panji, dari dulu panji selalu berhubungan dengan beberapa wanita tapi semuanya ditolak sama mamanya karena mereka semua bukan golongan orang kaya. Panji sampai pernah frustasi karena ulah mamanya itu. Hingga akhirnya panji memilih untuk kuliah jauh agar bisa menghindari mamanya yang selalu mengatur hidupnya. Baru kali ini panji menentang kemauan mamanya yang memilih menikahi dengan Najwa pilihannya sendiri. Karena panji sudah merasa jengah masalah percintaannya selalu kandas ulah mamanya.
"Terserah mama sajalah tapi papa cuma mau ingatkan mama, jangan sampai panji menjadi anak yang gak patuh dan memilih jauh dari kita karena sikap mama ini. Ingat ma, panji sudah dewasa, dia sekarang sudah menjadi kepala keluarga. Bukan saatnya lagi mama ngatur hidupnya. Biarkan panji memilih jalannya sendiri, kita sebagai orang tua hanya mendoakan yang terbaik untuk panji dan Najwa. Doakan semoga mereka cepat memberikan cucu untuk kita. Kita sudah tua ma, saatnya kita memikirkan masa tua kita bukan malah menjadi bumerang untuk anak kita" ucap pak dedi dengan suara mulai melunak. Pak dedi merasa sedih karena dari dulu sikap istrinya tidak pernah berubah. Selalu menilai sesuatu dari materi. Sedangkan di rumah sakit tempat Najwa di rawat, panji masih selalu setia berusaha menghibur sang istri agar tidak terlalu berlarut dalam kesedihan. Panji sadar kalau saat ini sang istri sudah mulai sayang terhadap babynya tapi sayank dia pergi begitu cepat. Disaat kami berharap dan begitu menyayanginya dia pergi meninggalkan duka terutama Najwa yang begitu hancur atas perginya calon anak kami.
"Mas aku mau pulang, aku bosen disini" keluh Najwa.
"Dokter belum ngebolehin sayank, tunggu 2-3 hari ya"
"Gak mau mas, plisssss mas nemuin dokter, aku benar-benar bosan disini" kekeh Najwa.
"Yaudah mas nemuin dokter ya"
"Heeee makasih ya sayank" ucap Najwa sambil memberikan senyum yang super manis.
"Senyumnya bikin mas mau makan hap gemesin" goda panji.
"Kalau mau makan, makan aja ke kantin mas" Najwa pura-pura gak paham dengan ucapan suaminya.
" bukan mau makan karena laper tapi mau makan kamu yank, jadi gak sabar mau bikin anak lagi"
"Ya ampun mas, baru aja anak kita pergi udah ngomong gitu"
"Heeee becanda sayank lagian anak kita sekarang udah bahagia disana, sekarang dia lagi liatin kita. Kita gak boleh terus-terusan bersedih ya"
"Iya mas"
"Yaudah sekarang aku mau menemui dokter dulu ya" ucap panji sambil bergegas meninggalkan Najwa. Najwa keingat anaknya lagi, meskipun baru sebentar anaknya singgah didalam perutnya, Najwa sudah merasa sayank. Tapi Tuhan berkehendak lain, anak yang belum bisa dia lahirkan kini sudah pergi. Najwa berharap nanti dia bisa memberikan cucu untuk kedua keluarganya yang sudah sangat mengharapkan cucu. Najwa tersadar dari lamunannya ketika ada orang menekan pedel pintu. Najwa ngira panji yang datang ternyata kedua mertuanya yang datang.
"Papa, mama"
"Loh panji mana nak" tanya pak dedi mertua Najwa.
"Lagi bertemu dokter pa" ucap Najwa sambil melirih wajah mama mertuanya yang langsung duduk di sofa tanpa menyapa Najwa.
"Gimana nak keadaanmu? Gak ada yang sakit kan" tanya pak dedi beruntun. Papa mertuanya emang sangat baik dan begitu perhatian pada Najwa, beliau yang selalu menelfon Najwa hanya sekedar menanyakan kabar.
"Alhamdulillah baik pa, udah gak kenapa-kenapa" Najwa meyakinkan papa mertuanya.
" syukurlah kalau begitu, papa senang mendengarnya"
Beda dengan diruangan dokter, panji mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama.
"Saran saya pak, untuk berapa minggu ini jangan dulu berhubungan intim karena istri bapak baru selesai di kiret dan penyembuhannya kurang lebih 3 bulan, karena sebelum 3 bulan disarankan gak boleh hamil dulu takutnya berakibat fatal. Untuk ibu Najwa sendiri jangan terlalu capek agar pemulihannya cepat. Pola makannya juga di jaga ya pak. Semoga setelah selesai masa penyembuhan, ibu Najwa bisa hamil lagi. Tetap optimis ya pak. Bapak sama ibu masih muda masih banyak kesempatan. Tentu juga minum vitamin penyubur kandungan" ucap dokter panjang lebar.
"Baik dok saya paham, terimakasih dok penjelasannya, saya permisi soalnya mau beres-beres dulu" panji mengundurkan diri dan segera keluar dari ruangan dokter. Panji langsung bergegas menuju ke ruangan Najwa untuk memberitahukan kabar dari dokter. Sampainya disana panji kaget karena melihat papanya lagi ngobrol sama istrinya.
"Loh kapan papa sampai Jogja kok gak telfon panji?" tanya panji sambil mencium punggung tangan orang tuanya.
"Sudah dari tadi" jawab sang papa.
Sebenarnya mama males mau kesini tapi papamu maksa mama yaudah dech" jawab bu irma dengan raut judes.
"Mama" ucap pak dedi dengan suara penuh dengan penekanan.
"Bener kan pa, mama sudah bilang gak mau ikut tapi papa yang maksa. Sampai kapanpun mama gak sudi punya mantu dia" bu irma langsung keluar.
"Maafkan mamamu ya nak" pak dedi menghampiri Najwa karena merasa gak enak dengan ucapan istrinya.
"Gak apa-apa pa, mungkin mama butuh waktu untuk bisa menerima Najwa" hati Najwa terasa sakit dan panas mendengar ucapan mama mertuanya.
"Sayank maafin kata-kata mama ya" panji berusaha menguatkan hati istrinya yang terluka karena ulah mamanya. "Yaudah sekarang kita siap-siap, sebentar lagi kita pulang" ucap panji lagi sambil memasukkan baju-baju Najwa dan dirinya. Setelah selesai berberes, panji membantu Najwa untuk duduk dikursi roda. Mereka segera keluar dan bergegas ke arah mobil papanya. Sang mama ternyata sudah ada di dalam mobil. Panji dan Najwa segera masuk. Panji memegang erat tangan Najwa agar istrinya tenang semobil dengan mamanya yang kurang suka pada hubungan mereka. Selama diperjalanan gak ada yang berbicara, semuanya sibuk dengan fikiran masing-masing. Begitupun dengan panji yang terus mencari cara agar mamanya bisa menerima Najwa dan bersikap baik pada istrinya. Tidak butuh waktu lama untuk bisa sampai ke kontrakan panji, pak dedipun langsung memarkirkan mobilnya di halaman kontrakan karena sebelumnya panji sudah memberitahukan alamat kontrakannya pada sang papa.