NovelToon NovelToon
Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:3.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: bung Kus

Selama 19 tahun, aku dan keluargaku mendiami rumah ini. Rumah di tengah sawah. Rumah nyaman khas pedesaan, jauh dari hingar bingar kota. Udara sejuk, malam yang tenang membuat aku betah berlama-lama di rumah.
Hingga akhirnya, kejadian-kejadian aneh menimpaku. Semakin lama kehidupanku semakin terusik. Ditambah lagi kisah asmaraku yang tidak semulus pipi Erni, gadis pujaanku. Ah, apa yang sebenarnya terjadi? Semua masih misteri.
Semua akan terbuka dan kalian akan menemukan satu persatu jawaban dari misteri yang ada, jika kalian mengikuti kisahku dari awal sampai akhir . . .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruangan BEM dan Febi

Aku, Erni dan Irul berada di depan ruang BEM. Terasa sepi yang ganjil. Tidak terlihat batang hidung Febi. Erni menoleh pada Irul, dari tatapannya jelas tergambar Erni mencurigai Irul berbohong. Irul nyengir salah tingkah.

"Kok sepi ya, he he", Irul berkata sambil celingak celinguk.

"Wah, ini nih, kamu bo'ong to Rul?", Erni bertanya setengah menghakimi.

"Mbok ya sumpah, aku tadi lewat sini masih lumayan rame anak anak, ada Febi juga tadi di sini", Irul menjawab yakin.

Tanpa menghiraukan perdebatan aku masuk memeriksa ke dalam ruangan, meskipun sepi siapa tau Febi di dalam, pikirku. Ternyata di dalam ruangan terasa udara lebih lembab dan cukup gelap. Banyak selebaran dan papan tulis bertuliskan spidol hitam tentang program program ke mahasiswaan. Irul dan Erni menyusul masuk ke dalam, celingak celinguk. Kebetulan kami bertiga memang bukan mahasiswa yang aktif di organisasi, jadi jarang banget masuk ruangan ini. Sehingga mungkin kami merasakan perasaan asing yang sama.

Di ujung ruangan sebelah kanan ada pintu yang bertuliskan gudang. Samar samar dari balik pintu terdengar seperti dua orang sedang bercengkerama. Lebih tepatnya berbisik bisik. Entah kenapa bulu kudukku meremang, padahal ini siang hari. Aku menelan ludah, bersiap mengetuk pintu. Namun sebelum punggung jari telunjukku mengenai daun pintu, secara mendadak pintu terbuka. Dari balik pintu muncul Febi tersenyum senyum. Detik berikutnya dia kaget melihatku berada di depan pintu. Dan yang lebih merasa kaget lagi adalah aku. Karena ternyata Febi sendirian, di dalam gudang terlihat kosong tidak ada siapa siapa.

"Hei, ngapain kamu di sini Dan?", tanya Febi setelah melihatku terbengong bengong.

"Kami mencarimu Fee. .", Erni tiba tiba saja menjawab, sebelum aku sempat membuka mulut.

Febi melihat Erni sekilas, terlihat tersenyum ganjil.

"Wah, ada Erni dan Irul juga to, ada apa nih?", tanya Febi penuh selidik.

"Sek bentar Fe, kamu tadi di dalam ngobrol sama siapa?",aku memotong pertanyaan Febi dengan pertanyaanku.

Febi menoleh padaku, tersenyum kecil kemudian mendaratkan cubitan di sikuku.

"R-A-H-A-S-I-A", jawab Febi tengil.

"Yok, ngobrol di luar aja yok, hawane ndak enak nih", Irul merengek.

Aku dan Erni mengangguk setuju. Sejurus kemudian kami bertiga keluar ruangan disusul Erni di belakang yang sempat aku toleh sibuk berbisik bisik dan melambaikan tangan ke arah gudang kosong. Kami berempat kemudian mencari tempat duduk yang nyaman. Area depan perpustakaan, cukup sejuk, rindang namun tidak terkesan aneh seperti ruangan tadi.

"Ada apa kalian nggoleki aku?", Febi bertanya setelah duduk nyaman di salah satu kursi yang berderet di teras perpustakaan.

Erni dan Irul kompak menoleh ke arahku, kelihatannya mereka berdua penasaran kenapa aku mencari cari Febi sedari tadi. Aku menarik nafas, sebenarnya aku hanya ingin bicara empat mata dengan Febi, namun entah mengapa aku merasa kalau aku tidak bercerita sekarang maka itu akan melukai perasaan Erni. Mulailah aku menceritakan tentang suara tawa Irul ketika aku dan Hasan pulang dari mushola, sosok hitam berbulu di sungai, dan bisikan ketika aku tidur pagi tadi. Irul sesekali ikut menjelaskan sesuai yang dia ketahui kemarin. Erni duduk terdiam. Sementara Febi mendengarkan dengan santai, seolah hal itu biasa baginya.

"Entahlah Dan, rumahmu tuh punya aura anget, cenderung panas bagiku", Febi bergumam setelah aku selesai bercerita.

"Sebener e sih, setiap rumah ki ada penunggune, cuma ada yang jail ada yang enggak, nah kalau makhluk yang di kali pas Irul be'ol iku ya berarti penunggunya kali iku to, yang aku belum paham bisikan "wes wayah e" itu, kurasa aneh tuh", lanjut Febi menerangkan.

Penjelasan Febi belum memuaskan bagiku.

. . .

1
Alwa fikriah
ceritannya sangat bagus sekali,
Alexander
good job author.
Alexander
lalu bagaimana dengan nasib anak kembar wira yang perempuan ?
Alexander
ngasih sesajen itu juga wujud ketundukan kita pada kaum lelembut itu.
Alexander
kenapa malah jadi lagunya judika ??
Alexander
kalau mbah kadir adalah anak dari wira, bukankah seharusnya usianya masih di kisaran 58 tahun ?
Alexander
ternyata rumah tembok. dalam banyanganku rumah lek diran adalah rumah kayu.
Alexander
menuntut orang lain bersikap terbuka, dianya sendiri suka main kucing2an.
Alexander
tapi perjanjian seperti itu tidak bisa putus begitu saja. anak keturunannya punya dua pilihan. meneruskan persekutuannya dengan bangsa jin atau memutus mata rantai dengan rukyah dan taubat sungguh2.
Alexander
seperti perempuan saja, merajuk tanpa kejelasan alasan 😅
Alexander
perhatian seorang ayah itu dititipkan melalui istrinya. ibu dari anak2 nya.
Alexander
dan dani sempat melihat pak ndori melayani pelanggan dengan mobil merah kan ?
Alexander
titik terendah itu ada karena kamu sendiri yang menciptakannya. kok menyalahkan roda takdir.
Alexander
kaburnya pakai motor yang dibeli dengan uang bapaknya. hadeehh 😅
Alexander
pemeran utamanya berpikiran sempit. menyimpulkan segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri.
Alexander
tapi bukan dengan cara seperti itu kamu meminta penjelasannya. tidak punya tata krama.
Alexander
kalau yang sakit bukan erni, apakah dani tetap berpikir demikian ?
Alexander
paracetamol sirup ?
Alexander
kalau di sini hari keramatnya hari kamis wage malam jumat kliwon tolu. di novel sebelah hari rabu wage manahil seingatku.
Alexander
seharusnya masjid bisa jadi pilihan untuk beristirahat atau tidur, tapi banyak masjid yang sudah digembok selepas sholat Isya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!