NovelToon NovelToon
Good Partner

Good Partner

Status: tamat
Genre:Romantis / Detektif / Pembunuhan / Kriminal / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Cinta Murni / TKP / Tamat
Popularitas:463.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Chocollacious

TERSEDIA VERSI CETAK

Penny Patterson, sang detektif wanita berjuang menyelidiki kebenaran dibalik berbagai misteri dan kekacauan di kota asalnya, yaitu kota Magnolia, merupakan salah satu kota terdamai di dunia. Bersama rekan tim andalannya menyelidiki beberapa kasus dihadapinya penuh teka-teki.

Di tengah penyelidikannya, Penny selalu didukung, dibantu, dan dilindungi oleh Adrian Christopher, sang jaksa tampan dan cerdas sangat diandalkannya sejak pertama kali berhubungan sebagai partner kerja baik.

Dibalik suasana penuh ketegangan, Penny merasa partner kerjanya memperlakukannya bukan seperti sebatas partner kerja atau sahabat istimewa. Melainkan seperti menginginkan hubungannya lebih dari itu.

Apakah Penny, Adrian, dan rekan timnya berhasil memecahkan semua kasus mereka hadapi? Apakah Adrian sungguh memiliki perasaan istimewa terhadap partner kerjanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocollacious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 10 - Luka yang Membekas

Adrian kembali menghampiri ibunya dengan tangisan tersedu-sedu sambil memeluk tubuh ibunya kini sudah tidak terasa hangat. Tangannya sangat gemetar menyentuh mayat ibunya dan napasnya sesak karena trauma dialaminya tadi. Spontan aku menghampirinya dan memeluknya dengan hangat untuk menenangkannya. Ini merupakan hal yang sangat wajar bagi seorang anak yang melihat ibunya meninggal di hadapannya menangis tanpa henti-hentinya. Apalagi mengingat karakter tante Desy yang sangat perhatian terhadap anaknya dan bahkan perhatian terhadapku juga walaupun hubungan kami hanya tetangga.

"Ibumu pasti sudah masuk ke surga dengan karakternya sangat baik hati," lirihku menangis terisak.

Tangisan Adrian semakin pecah sambil memukul pahanya sendiri berkali-kali melampiaskan kebodohannya membuat orang yang paling disayanginya meninggalkannya tepat di depan mata. "Ini semua salahku. Gara-gara aku yang terlalu ambisius, ibuku menjadi berakhir seperti ini."

Aku menahan kepalan tangannya dan mempererat pelukan untuk menenangkan kondisi mentalnya. "Ini bukan salahmu. Jangan salahkan dirimu, Adrian. Kamu melakukan ini untuk mengungkap kebenaran di balik kasus pembunuhan ini. Kamu berperan sangat besar demi kota ini. Ibumu pasti bangga melihatmu dari atas sana."

Akhirnya netra gagahnya kembali sedikit percaya diri seketika menatapku. Syukurlah teknik penghiburanku sangat sederhana berhasil membuat dirinya kembali tersenyum tipis. Aku bisa merasakan sentuhan hangat tangannya melekat di kepalaku. "Terima kasih telah menghiburku, Penny. Suasana hatiku membaik berkat dirimu. Memang aku tidak salah menganggapmu sebagai sahabat setiaku."

Di tengah perbincangan kami, salah satu anggota tim forensik menghampiri Adrian. "Maaf, Jaksa Adrian, kami harus membawa jasad ibumu untuk diautopsi."

Adrian menghapus air matanya menggunakan lengan jas sambil membangkitkan tubuhnya dan mengulurkan tangan padaku. "Iya silakan. Ayo Penny, kita pergi dari sini!" jawab Adrian yang masih lemas.

Aku berdiri dengan lemas dan berjalan dengan kaki pincang hingga tubuhku kembali terjatuh.  Kakiku terluka parah akibat bertarung dengan Darren tadi. Adrian melihatku terjatuh langsung berjongkok di hadapanku memasang tatapan cemas.

"Kakimu terluka parah. Ayo, kita pergi ke rumah sakit sekarang!" ajak Adrian sambil menatap luka kakiku.

Aku menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja. Aku masih bisa berdiri. Aku harus segera ke kantor."

"Kamu terluka parah, jangan terlalu memaksakan dirimu. Ayo, aku antarkan ke rumah sakit sekarang!" Dengan lincah Adrian menggendong tubuhku tanpa peduli dilihat petugas kepolisian lain, tapi bagiku agak memalukan karena lagi-lagi digendongnya.

Di rumah sakit, luka kakiku diperban dan dokter mengatakan bahwa luka sobekan di kakiku lumayan parah sehingga aku harus menginap di rumah sakit selama dua hari. Selama dua hari ini aku tidak bisa pergi ke mana pun dan harus mengurungkan diri di sini. Rasanya pasti sangat membosankan karena aku tidak bisa berbuat apa pun, sedangkan kasus ini semakin rumit mustahil aku hanya diam. Aku ingin beranjak dari ranjang namun tubuhku dicegah oleh Adrian.

"Kamu harus istirahat di sini dulu selama dua hari. Lihat tuh lukamu sangat parah," tegur Adrian sangat cemas melihat kondisiku.

"Aku harus pergi ke kantor polisi untuk memberitahukan hal ini kepada rekan timku," balasku keras kepala melawannya.

Kedua tangannya menyentuh pundakku. "Jangan keras kepala! Di sini keamanannya lebih terjamin. Kamu tidak akan diculik karena penjagaan di luar kamarmu sangat ketat."

Aku mendesah pasrah terpaksa menuruti perintahnya sekarang. Memang sih Adrian bermaksud menunjukkan sikap kepeduliannya padaku. Tapi ini sangat berlebihan menurutku.

"Baiklah. Tapi kamu jangan beritahu ibuku mengenai kejadian ini, ya. Ibuku bisa membunuhku kalau tahu aku terluka seperti ini," bisikku pelan mendekati daun telinganya.

"Iya tenang saja, aku pergi dulu ya. Aku harus mengurus hal lain dulu," pamitnya bersiap-siap meninggalkanku.

"Hati-hati, Adrian."

Adrian menghentikan langkah kakinya sejenak lalu menolehkan kepalanya menghadapku. "Penny, kamu bisa mengurus dirimu sendiri?"

"Bisa Adrian. Kamu tidak perlu mencemaskanku. Sebaiknya kamu cepat urus urusanmu dulu."

"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu ya."

Satu jam telah berlalu sendirian di kamar ini bisa dikatakan cukup luas rasanya membosankan, meski Adrian yang menanggung biaya rawat inap rumah sakit. Untungnya Tania dan Nathan menjengukku dan membawakan makanan untukku.

"Penny? Kamu baik-baik saja? Di mana lukanya? Aduh aku sangat mencemaskanmu!" Tania sangat cemas melihat kakiku diperban dengan panik.

Aku terus menggelengkan kepala sambil menggerakkan kakiku. "Kamu ini berlebihan sekali. Aku baik-baik saja. Lihat aku masih bisa menggerakkan kakiku."

"Kamu tahu tidak, Penny? Tania ini setelah mendengar kabar bahwa kamu masuk ke rumah sakit, dia mencemaskanmu terus sampai susah makan," lapor Nathan masih bisa tertawa puas.

"Ish kamu ini tidak ada berperasaan! Masa iya temanmu sendiri masuk ke rumah sakit, kamu masih bersikap baik-baik saja," omel Tania kesal sambil memukul lengan kiri Nathan.

"Sudahlah kalian berisik sekali! Omong-omong, kalian bawakan aku makanan apa?" tanyaku mengalihkan pembicaraan aneh ini sambil menatap bungkusan makanan.

"Aku bawakan bubur nih. Buburnya spesial kubuatkan untukmu, Penny," ucap Tania sambil membukakan tempat makanannya.

"Aku mau cicip buburnya dulu.”

Seketika aku memasukkan sesendok bubur ke dalam mulut, rasanya sangat pas sehingga perutku semakin menggoda ingin menghabiskan dalam sekejap. “Mmm ... enak sekali! Wah, aku tidak menyangka bahwa kamu pandai masak juga, Tania!"

"Wah, aku jadi semangat memasak nih! Lain kali akan kubawakan masakan buatanku untuk kalian berdua," seru Tania girang.

Sekarang bukan saatnya bersantai terus. Aku tidak boleh melupakan hal penting yang harus kulaporkan pada dua rekan timku. "Omong-omong, aku mau minta bantuan kalian berdua."

"Kalau mau minta bantuan, serahkan padaku dan Tania. Kami berdua siap membantu," tawar Nathan sambil menepuk pundak Tania.

"Apakah ada kabar mengenai Ray?" tanyaku kepada mereka berdua.

"Kami belum mendapat kabar darinya sejak pembicaraan kita yang terakhir kali di kantor. Omong-omong apakah benar Ray bersekongkol dengan pembunuh? Aku mendengar itu dari Jaksa Adrian," tanya Tania yang lemas.

Semuanya langsung terdiam sejenak, suasana langsung tegang ditambah AC di kamar yang sangat dingin. Aku langsung teringat dengan kejadian sangat menakutkan itu. Kejadian waktu itu sekarang menjadi luka yang membekas di hatiku, rasanya aku ingin menangis dan teriak. Terutama melihat orang yang kusayangi yaitu tante Desy meninggal tepat di hadapanku.

"Penny? Kamu kenapa?" tanya Nathan cemas sambil menatap raut wajahku kembali bersedih.

Aku baru tersadar dari lamunanku. "Oh, maafkan aku. Pikiranku sedang kacau sejak kejadian itu. Waktu itu kalimat yang terakhir yang dikatakan si pembunuh bahwa kita harus berwaspada dengan Ray. Jadinya aku sangat yakin bahwa Ray adalah orang yang bersekongkol dengan pembunuh."

"Aku masih tidak percaya. Ray yang selama ini teman dekat kita itu bersekongkol dengan pembunuh. Dasar pengkhianat, aku rasanya ingin membunuhnya," ketus Nathan geram mengepalkan tangan kanannya.

"Maka dari itu, kalian harus berwaspada mulai sekarang. Aku minta bantuan kepada kalian berdua karena kalian satu-satunya yang kupercayai di kantor. Aku mau kalian mencari informasi mengenai latar belakang Ray dan lacak keberadaannya," pintaku  kepada mereka berdua.

"Baiklah serahkan saja kepadaku dan Tania," patuh Nathan menepuk pundakku.

"Kalau begitu bolehkah kalian meninggalkanku sendiri di sini? Aku ingin sendirian sekarang," ucapku bernapas lesu.

"Ya sudah, kalau begitu aku dan Nathan pergi dulu ya. Kamu harus beristirahat yang cukup," pamit Tania sambil meninggalkan kamar bersama Nathan.

Setelah Tania dan Nathan pergi meninggalkanku, aku masih merenung dan memikirkan kejadian yang menimpaku waktu itu hingga kepalaku sakit sekali. Perkataan yang diucapkan Darren menghantuiku terus sampai sekarang. Lalu aku memutuskan untuk tidur dan berusaha melupakan itu. Namun hingga pukul 11 malam, aku masih tidak bisa tertidur karena pikiranku sangat terusik dan rasanya aku ingin seseorang menemaniku tepat di sebelahku. Tapi tidak mungkin ada yang ingin menemaniku larut malam begini.

Tak lama kemudian, Adrian memasuki kamarku dengan raut wajah sedih. Aku sedikit terkejut karena aku tidak menyangka ia akan menemaniku di saat begini. Apalagi sebenarnya aku tidak memintanya menemaniku. Dilihat dari wajahnya yang tidak bersemangat, aku baru ingat ia selama seharian mengurus berjaga di rumah duka. Pasti Adrian sangat sedih karena masih ingat kejadian yang menimpa ibunya sehingga membuatnya trauma seperti sekarang.

"Sedang apa kamu ke sini? Bukankah kamu harusnya di rumah duka?" tanyaku cemas sambil memposisikan tubuhku dalam kondisi duduk bersandar.

"Tidak apa-apa. Sepupuku dan saudara ibuku berjaga di sana. Aku hanya ingin membutuhkan teman ngobrol saja, maka dari itu aku ke sini menjengukmu," jawab Adrian menghembuskan napas lesu sambil menarik kursinya tepat di sebelah ranjangku.

Senyuman tipis terbit pada sudut bibirku. "Sebenarnya pikiranku juga sedang kacau sekarang. Aku sampai tidak bisa tertidur. Aku juga membutuhkan teman ngobrol untuk menemaniku di sini, untung saja kau datang."

"Kamu masih memikirkan tentang mantan pacarmu?" tanya Adrian gugup.

Mataku mulai berkaca-kaca membayangkan sosok pengkhianat yang pernah menjalin hubungan denganku berkata lancang masih membuatku sakit hati. "Aku masih tidak percaya saja. Kenapa dia melakukan hal ini di hadapanku? Kenapa dia bilang kepadaku bahwa tidak ada kenangan indah selama berpacaran denganku? Kalau begitu kenapa dia terus memaksaku untuk berpacaran dengannya kalau dia juga bosan sama seperti halnya denganku? Kenapa harus aku? Sebenarnya walaupun aku tidak pernah memiliki perasaan padanya sama sekali, aku merasa dikhianati dengan kejam. Sejak kejadian itu, luka itu membekas di hatiku. Gara-gara aku, ibumu jadi kena juga. Ini semua salahku. Maafkan aku, Adrian."

Lengan kekarnya mendekap tubuhku erat sambil mengelus kepalaku perlahan. "Ini bukan salahmu. Jangan menyalahkan dirimu. Ini semua salah mantan pacarmu yang psikopat. Kamu sebaiknya jangan memikirkan hal itu lagi, coba pikirkan hal lain yang membuat kamu bahagia. Aku juga sebenarnya masih tidak rela dengan kepergian ibuku. Tapi aku tetap harus merelakannya dan memikirkan hal yang membuatku bahagia. Yang terpenting aku harus menangkap dalang bedebah yang membunuh ibuku dan menjebak ayahku."

Berkat mendengar perkataannya, lukaku perlahan sedikit demi sedikit menghilang. Apalagi ia memelukku erat begini membuatku ingin berada di dekatnya lebih lama. "Kamu tidak marah denganku, 'kan?"

"Kamu tidak ada salahnya buat apa aku marah?" balasnya santai sambil menyeka air mataku dengan sapu tangannya.

"Maksudku kamu tidak marah padaku karena aku mau kamu menemaniku sepanjang malam sampai besok pagi," kataku dengan malu.

Adrian tertawa gemas sambil mengelus dahiku sejenak. Lagi-lagi jantungku agak berdebar karena perlakuan sederhana ini. "Aku mengira karena hal apa sampai serius begitu. Kalau itu permintaan dari sahabat setiaku, pasti akan aku jalankan. Lagi pula melihat kondisimu seperti ini, aku tahu kamu pasti membutuhkan seseorang menemanimu tidur tanpa kamu meminta bantuanku."

Melihat perlakuan sahabatku yang saat ini sangat peduli padaku dan memperlakukanku dengan hangat rasanya hatiku kini sangat tenang dan nyaman ketika berada di sisinya. Apalagi ia sudah bertekad menemaniku sebelum aku memintanya menemaniku di sini. "Kenapa kamu menganggapku sebagai sahabatmu? Padahal kita kan baru bertemu."

"Karena menurutku kamu adalah wanita yang baik hati."

"Bukankah semua orang kalau baru pertama kali bertemu itu pasti kesan pertamanya baik di depan mata orang itu."

Tatapan Adrian seketika mengamatiku penuh bermakna. Sepasang tangannya menggenggam sepasang tanganku sambil mengelus lambat laun. "Penny, apakah kamu masih mengingat pertama kali kita bertemu? Kamu sangat ramah dan baik hati padaku. Dilihat dari tatapan matamu padaku waktu itu, aku percaya bahwa kamu adalah wanita yang sangat baik dan pengertian. Maka dari itu aku sudah memercayaimu sepenuhnya sejak dulu. Lagi pula kita sudah beberapa kali bertemu tidak sengaja, setiap kali kita bertemu, aku merasa sangat nyaman ketika menjadi sahabat setiamu.”

Mendengar isi hatinya itu, bahkan ungkapannya itu berhasil membuat luka dalam hatiku langsung tersembuhkan. Adrian memang sangat pantas menjadi sahabat setiaku. "Terima kasih telah memercayaiku. Aku juga berpikir hal yang sama denganmu Adrian. Dilihat dari kepribadianmu, kamu terlihat seperti pria sempurna dan berhati lembut seperti malaikat."

Setelah kami berbincang panjang lebar, Adrian menemaniku sepanjang malam hingga besok pagi.

1
martina melati
kesempatan mumpung ada y
martina melati
hehehe... sekali mendayung 2 ato 3 pulau sanggup y /Facepalm/
martina melati
shrsny jangan terbuka beri info, walo pd jaksa sekalipun... cukup katakan, iy sedang bertugas.
martina melati
jangan2 bastian yg menusuk... hehehe, malah curiga y/CoolGuy/
martina melati
katany langsung kabur, melihat jauh koq bisa tahu 2x penusukan... gk cocok nih infony dg kondisi mayat yg dtemukn... luka gores memanjang dsekitar perut
martina melati
cari suami sikorban... berhutang pd sp?? kmungkinan suruhan x
martina melati
gt donk... hrs sergap, agar kasusny lekas terungkap beneran pembunuhan, bunuh diri ato kecelakaan
martina melati
knp bsk sih? bukanny hr ini aja, gercap donkkk
💗vanilla💗🎶
mampir ni thor 😁
Ka
kok saya curiga sama si ray
IG : Chocollacious: monggo kak, bawa sapu sekalian ngikutin ray diam diam dr belakang 🤣
total 1 replies
Daisy Hamra
Aku curiga sama si Ray.
IG : Chocollacious: monggo curiga kak, kalo perlu buntutin diam diam🤣
total 1 replies
KS_Hyde
Sorry g respect sm km Darren, hbs sih kelakuanmu sblmnya itu sungguh menguras emosi
IG : Chocollacious: sama aku bodo amat🤣
total 1 replies
KS_Hyde
Sumpah kl aku ada di sn, dah ku bunuh dr awal dtg. Greget bgt
IG : Chocollacious: sabar sabar kak😅
total 1 replies
KS_Hyde
plisss gpp tembak aja sumpah, ikhlas bgt aku. Kl aku jd penegak hukum, aku memihakmu, Adrian biar km g dpt sanski
IG : Chocollacious: mungkin aku bisa wakilin hrsnya🤭
total 1 replies
KS_Hyde
Ya Tuhan knp kisah nya begini semua, g ada happy² nya:)
IG : Chocollacious: karena authornya memang demen nyiksa pemeran utamanya🤣
total 1 replies
KS_Hyde
Jinja??? Woahh tmpt begini idaman buat kepolisian
IG : Chocollacious: authornya pun jg mau kerja di sana🤣
total 1 replies
ZasNov
Keren banget nih Kak Choco, dua novelnya udah terbit cetak..😍👍
Semoga semakin sukses ya Kakak..🥰
IG : Chocollacious: amiin makasih kak🥰
total 1 replies
Neng Yuni (Ig @nona_ale04)
Aaaa, selamat yaaa, Kak Choco. gegara baca ini jadi semangat lanjutin remake anak emas aku juga 😍 Peny Adrian jaya jaya jaya 🔥🔥😍
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): tau, tuh. padahal udah yakin banget 🤣 eh, tapi endingnya bener juga, kan
total 2 replies
Tia Supriyanto
Polisi atau apa sih mereka, rame2 bawa pistol lagi kok keok, sebenarnya yg goblok yg nulis apa yg baca ya
IG : Chocollacious: kak, terima kasih masukannya. tapi alangkah baiknya jika memberikan kritik dengan bahasa yang lebih halus. memang ini cerita pertamaku sejak di dunia literasi jadinya bakal banyak kesalahan. lalu, sampai sekarang aku masih belum sempat menyempatkan waktu untuk revisi. sebenarnya aku tau banyak amat kesalahannya sampai jariku rasanya gatal ingin revisi, tapi urusan di RL yang menghalangiku melakukannya.

mengenai polisi membawa pistol kok bisa keok? dari sepengalaman aku riset dr berbagai film yg pernah aku tonton, polisi sebenarnya tidak boleh sembarangan memakai senjata api kecuali hanya untuk menakuti musuhnya. mungkin penggambaran adegannya masih kurang tepat, jadinya aku memang pengen revisi sebenarnya
total 1 replies
Tia Supriyanto
Cerita pembodohan, katanya taekwondo ban item kok ada perlawanan sama sekali
IG : Chocollacious: ga pembodohan. emgnya haruskah detektif itu selalu sempurna di mata manusia? coba kakak baca novel atau nonton film, pasti ada sisi kelemahannya. mengenai sabuk hitam, itu karakter Penny memang sengaja dia agak mulut besar, meski dia cewek, mana mungkin bisa melawan pelaku pelecehan hanya seorang diri. semua cewek ketika berhadapan dengan pelaku pelecehan pasti akan trauma dan ketakutan dong.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!