NovelToon NovelToon
SCANDAL Part II: To Cacth A Star

SCANDAL Part II: To Cacth A Star

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jee Jee

SCANDAL Part II: To Catch a Star

Sinopsis:

Bagi dunia, Galasky Ardayana (35 tahun) adalah definisi kesempurnaan. Aktor papan atas yang telah merajai layar kaca selama 12 tahun, pewaris tunggal Ardayana Group yang membangkang, dan pria lajang yang paling diinginkan se-Indonesia. Namun, di balik lampu spotlight, Gala adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan di masa kuliah membuatnya menutup pintu hati rapat-rapat, lebih memilih hidup sebagai "perjaka tua" daripada harus terluka lagi.

Namun, ketenangannya hancur saat Airaya Greline Pradipta (19 tahun)—putri dari sahabat karibnya sendiri, Elang Adytama—muncul kembali sebagai gadis dewasa yang luar biasa cantik... dan sangat berani.

Yaya tidak main-main. Dia tidak peduli dengan perbedaan usia 16 tahun. Dia juga tidak peduli kalau Gala adalah orang yang sering menggendongnya saat ia masih bayi. Bagi Yaya, Gala adalah satu-satunya pria yang harus ia taklukkan.

"Om Gala, jangan sok jual mahal. Daripada diledekin perjaka tua terus sama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

...

Malam semakin larut saat seluruh lampu sorot berukuran raksasa di area luar ruangan hotel resor Bandung itu satu per satu dipadamkan. Bunyi riuh suara kru yang membereskan kabel-kabel tebal, tawa lelah para asisten sutradara, serta deru genset yang perlahan mati menandakan proses syuting adegan malam milik Gala akhirnya resmi selesai. Jam di pergelangan tangan Gala sudah menunjuk angka sebelas malam lewat, dan hawa dingin pegunungan mulai turun dengan pekat, menyelimuti wilayah Bandung dan menusuk hingga ke tulang.

Setelah seharian dipadati oleh jadwal take adegan yang menguras tenaga,

Cklek.

Gala mendorong pintu ruang istirahat pribadinya yang hangat. Di sana, di atas sofa empuk, Aira tampak sedang duduk meringkuk sambil memeluk tas selempangnya, wajah cantiknya ditekuk habis-habisan dengan bibir yang mengerucut judes. Dia sudah berganti pakaian, mengenakan hoodie oversize rajut tebal berwarna hitam kesayangannya, dipadu dengan celana panjang dan sepatu sneakers putih.

"Sudah selesai mengobrol dan tebar pesona dengan Tante Jesica dan Tante Viona, Bang Gala?" sindir Aira frontal, sengaja menekankan sebutan 'Bang Gala' dengan nada mengejek yang sangat kentara saat melihat kedatangan pria itu di ambang pintu.

Gala terkekeh rendah, suara tawa baritonnya terdengar sangat seksi di dalam ruangan yang sunyi tersebut. Pria itu berjalan mendekat, melepas jaket denim syutingnya lalu menyambar sebuah jaket casual hitam tebal berkerudung dari dalam lemari pakaian. Dia juga mengambil dua buah masker kain hitam polos dari atas meja.

"Gak usah mulai deh, Yaya. Pakai masker kamu," perintah Gala lembut, mengabaikan sindiran judes gadis itu yang sedang cemburu buta. Dia berjongkok di depan Aira, memakaikan masker hitam itu ke wajah mungil Yaya dengan sangat telaten, memastikan hanya sepasang mata sayu indah milik gadis itu saja yang terlihat di udara terbuka nanti. Setelah itu, Gala memakai maskernya sendiri dan menarik kupluk hoodie hitamnya hingga menutupi dahi dan rambut acak-acakannya yang berantakan.

Aira mengernyit bingung di balik maskernya. "Om mau ngapain sih? Rapi banget pake masker segala. Mau maling ya malam-malam begini di Bandung?"

"Kita keluar," jawab Gala pendek sambil meraih jemari mungil Aira, menggenggamnya erat masuk ke dalam saku jaket tebalnya. "Om mau ajak kamu jalan-jalan."

"Hah?! Keluar?! Jam segini?! Om gak takut dikejar paparazi atau diserbu fans di luar?" tanya Aira kaget, melotot tidak percaya dari balik maskernya. Selama ini dia tahu betul kalau kehidupan seorang Galasky Ardayana itu sangat terkekang oleh aturan ketat popularitas. Jangankan jalan-jalan tengah malam, keluar apartemen tanpa pengawalan ketat saja bisa jadi berita nasional esok paginya di berbagai akun gosip.

"Kalau di Jakarta mungkin iya, semua orang bakal mengejar gua. Tapi malam ini, di Bandung, di jam tengah malam begini... gak akan ada yang tahu siapa kita, Yaya," bisik Gala tenang, menarik perlahan tubuh ramping Yaya untuk melangkah keluar lewat pintu belakang resor yang sepi, menghindari Devan dan kru lain yang masih sibuk merapikan alat di lobi depan.

Mereka berdua berjalan kaki membelah kesunyian jalanan kota Bandung yang sudah mulai lengang dari kendaraan. Embusan angin malam bertiup cukup kencang, menggoyang dedaunan pohon-pohon besar di pinggir jalan, menciptakan suasana adem dan menenangkan yang belum pernah Aira rasakan sebelumnya selama tinggal di tengah kebisingan kota Jakarta.

Tidak ada lampu blitz kamera yang menyilaukan mata, tidak ada bisik-bisik paparazi yang mengintai, dan tidak ada kerumunan orang yang meneriakkan nama Galasky Ardayana dengan histeris. Malam itu, di bawah temaram lampu jalanan kota kembang, Gala benar-benar menjelma menjadi seorang pria biasa berumur 35 tahun yang sedang menikmati waktu luangnya. Sementara Aira berjalan dengan langkah ringan, kedua tangannya bergelayut manja memeluk lengan kekar Gala yang terbalut jaket tebal, aroma stroberi dari tubuhnya menguar tipis di antara hawa dingin yang menusuk kulit mereka.

Langkah kaki mereka terhenti di depan sebuah warung tenda pinggir jalan sederhana yang menjual kuliner malam khas daerah setempat—sepasang porsi bubur ayam malam hangat dan sate-satean yang asapnya mengepul wangi menggoda selera di tengah keheningan malam.

Gala menarik kursi plastik kecil di sudut tenda, mempersilakan Yaya duduk terlebih dahulu di sana. "Kamu lapar kan? Makan di sini gak apa-apa ya? Gak ada restoran VVIP bintang lima malam ini," ucap Gala sambil menurunkan sedikit maskernya hingga sebatas dagu saat pesanan mereka yang masih mengepulkan asap hangat datang disajikan di atas meja kayu.

Aira menatap mangkuk bubur hangat di depannya dengan mata berbinar-binar penuh semangat. "Dih, Om pikir Yaya ini anak manja banget apa yang gak bisa makan di warung? Gini-gini Yaya juga doyan tahu makan di pinggir jalan bareng sirkel kampus kemarin!" jawab Aira ketus, namun tangannya dengan lincah menyendok bubur itu ke dalam mulutnya dengan lahap, menikmati sensasi gurih dan hangat yang langsung mengalir ke perutnya yang kosong sejak sore tadi.

Gala tersenyum manis—sebuah senyuman lepas tanpa beban yang sangat jarang dia tunjukkan di depan layar kaca atau saat berhadapan dengan rekan sesama artis. Pria itu makan dengan tenang, matanya tidak pernah lepas menatap wajah polos Aira yang tampak begitu bahagia menikmati kesederhanaan malam ini tanpa polesan make-up tebal. Rasanya sisa-sisa trauma masa lalu Gala tentang dikhianati wanita, atau ketakutannya akan komitmen hubungan emosional, malam ini benar-benar menguap habis tersapu angin malam Bandung yang menyejukkan hati.

Selesai makan dan membayar pesanan, Gala kembali menaikkan maskernya dengan rapi untuk menutupi wajah tampannya. Dia menggandeng kembali jemari mungil Yaya, memasukkannya ke dalam saku jaketnya, lalu menuntun langkah mereka untuk berjalan kaki santai mengelilingi trotoar jalanan kota Bandung yang semakin sunyi menuju arah pulang ke hotel resor.

Suasananya bener-bener adem, damai, dan terasa begitu romantis bagi mereka berdua. Aira mengeratkan pelukan tangannya pada lengan berotot Gala, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu tegap pria itu saat mereka melangkah lambat di bawah rindangnya pohon-pohon besar kota Bandung yang berjejer rapi.

Gala menghentikan langkah kakinya sejenak di bawah temaram lampu kuning sebuah pilar jalan kuno bergaya eropa. Dia membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata sayu Yaya yang malam ini terlihat begitu bersinar indah memantulkan cahaya lampu kota dari balik masker hitamnya. Tangan besar Gala yang hangat terulur, merapikan kupluk hoodie hitam Yaya yang sedikit bergeser karena tiupan angin malam yang kencang, lalu mengelus lembut pipi mulus gadis itu dengan penuh perasaan kasih sayang.

"Nikmati kencan pertama kita yang sederhana ini, Yaya. Om kasih liat dunia yang tidak kamu tau sebelumnya," bisik Gala dengan suara baritonnya yang berubah menjadi sangat rendah, berat, dan dipenuhi oleh kelembutan rasa sayang yang teramat dalam, menembus langsung ke relung hati gadis di depannya.

Mendengar untaian kalimat romantis yang keluar jujur dari mulut Gala, tubuh Yaya mendadak menegang kaku di tempatnya berdiri. Jantungnya bukan lagi dugem atau berdegup biasa, melainkan serasa mau copot karena desiran aneh dan sensasi manis yang menjalar hebat ke seluruh organ tubuhnya. Remasan tangannya pada baju kaos oblong hitam di balik jaket Gala semakin kencang, menahan lututnya yang mendadak lemas tak bertulang menerima tatapan mata Gala yang begitu pekat memuja kepemilikannya malam ini.

1
Desy Bengkulu
wala mak posesifnyoooo
langsung di kurung yeeee
🤣🤣🤣🤣🤣🤣om om mateng satu ini emang beda
jhiee: wkwkwk iya dong🤣 tapi maklum aja si Aira emang segenit itu🤣🤣
total 1 replies
Desy Bengkulu
wah si gala lebih serem dari elang ternyata yee gila🤣🤣🤣
jhiee: hahahah🤣🤣 salahin aja tuh om om yang lain, eh salahin aja si elang yang bilang dia gak ada nafsunya sama anak kecil🤣
total 3 replies
jhiee
ya bingung juga beb😭 masa gala jadi penjahat sih.. yang rubah licik kan si yaya🤧
Desy Bengkulu
aku komen satu rangkap aja ya beb
di sini kesannya gala jadi tersangka yang paling jahat ya ?!
Desy Bengkulu
hihihihi kayk mbak kunti aku beb cekikikan sendiri seneng banget up cerita yang ini
semngat beb , aku selalu menanti karya2 mu love you😘😘😘😘😘
jhiee: love you to🥺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!