Diusir dari rumah tak membuat Halley melemah. Justru sebaliknya, semenjak diangkat oleh sebuah keluarga kaya, gadis itu kini menjadi gadis lain yang sangat kuat, dingin, dan kejam apalagi sejak ia menjadi leader dari Black Devil. Dia menjadi BAD GIRL!
Lulus SMA, gadis yang mengubah nama menjadi Camilla itu malah mengulang sekolah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan sahabat kecil, keluarga kandungnya, sekaligus musuhnya. Tak lepas dari itu, hadirlah seorang ketua OSIS tampan yang sangat Camilla benci nyatanya berhasil mengubah kehidupan gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara Tania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninggalkan kota.
Keesokan harinya. Matahari masih malu-malu menunjukkan dirinya. Pagi itu keadaan langit sedang berawan, sejuk. Tapi tidak sesejuk hati keluarga Renaga yang kini diselimuti kekhawatiran akan hilangnya Zherra.
Kakek Jae dan Nenek Agy juga ada di rumah besar keluarga Renaga. hati mereka diselimuti kekhawatiran pada menantu satu-satunya itu.
"Halley, ayo makanlah dulu. Setelah ini kita akan mencari Mama lagi!" Kakek Jae, Nenek Agy, Papa Harchan, dan James tak henti-hentinya meminta Halley untuk memakan makanannya. Sedari tadi Halley nampak lesu, tidak mau makan. Ia hanya menatap steak di depannya itu sambil memainkan garpu. Ia melamun.
"Kita makan enak-enak seperti ini, tapi tidak tahu apakah Mama sudah makan atau belum?" Perkataan Halley seketika menghentikan kegiatan makan keluarganya. Papa Harchan terdiam, tak bisa berkata-kata.
Kemudian Halley menancapkan garpu pada potongan daging dengan keras, menunjukkan perasaannya saat ini. "Halley, pelan-pelan, Nak!" Kata Nenek Agy yang berada di samping kirinya.
Setelah makan, mereka semua berjalan menuju ruang tamu, dimana orang-orang suruhan Harchan menunggu. "Bagaimana? Apa ada perkembangan tentang menantuku?" Tanya Kakek Jae to the point.
Orang-orang suruhan itu menundukkan kepalanya menyusun kata-kata. Lalu dengan berani ia mengangkat kepalanya menatap Kakek Jae, "Hanya ada sedikit, Tuan. Terakhir kali, jejak Nyonya ditemukan di sebuah bangunan, bangunan tua yang tidak dilanjutkan proses pembangunannya. Tapi, hanya itu yang dapat ditemukan tentang Nyonya, Tuan." Orang itu menundukkan kepalanya lagi.
Keluarga Renaga yang berada di ruangan itu mengernyitkan dahinya. "Apa ada jejak lain di bangunan itu?" Tanya James antusias.
Tapi orang itu hanya menggelengkan kepalanya, "Maaf, Tuan Muda. Tidak ada. Sepertinya orang-orang yang membawa Nyonya ke bangunan itu memang sudah handal, jadi mereka tidak akan meninggalkan jejak." Katanya lagi.
"Apa yang kau temukan di bangunan itu?" Tanya Harchan menimpali.
"Di sebuah ruangan di bangunan itu terdapat sebuah meja besar, kursi, dan beberapa pisau diatas meja. Ada satu pisau menancap di dinding ruangan itu. Namun, tidak ditemukan darah sama sekali. Kalaupun terdapat bekas darah yang dibersihkan, pasti baunya tetap akan tercium oleh Oyn, anjing kami yang sangat berbakat dalam hal itu, Tuan." Jawab orang itu.
Mendengar semua jawaban dari orang-orang itu, keluarga Renaga semakin diselimuti oleh kekhawatiran.
"Ya Tuhan, dimanapun keberadaan menantuku, jaga Zherra baik-baik, Ya Tuhan. Sesungguhnya Zherra orang baik, tolong jangan celakai dia !" Guman Kakek Jae dan Nenek Agy.
"Kenapa Engkau menakdirkan ini, Ya Tuhan? Aku benar-benar tidak sanggup! Aku sangat mencintainya. Jangan hilangkan dia, Ya Tuhan!!!" Guman Papa Harchan lalu mengusap wajahnya kasar.
"Mama, Mama dimana? Kenapa Mama belum kembali? Kami semua disini mengkhawatirkan Mama! Cepatlah kembali Mama! Ada beberapa game terbaru yang sangat menyenangkan. Kuharap Mama cepat pulang dan bisa bermain bersamaku !" Guman James lalu melirik ke adiknya yang meneteskan air mata itu.
"Mama!!! Mama dimana!!! Apa benar orang yang menerorku itu yang mencelakai Mama? Ya Tuhan, benar-benar ingin kutendang orang itu! Mama, Apa aku harus memberitahu tentang teror itu?" Guman Halley sambil menyeka air matanya yang keluar.
***
"Semua tentang keberangkatan pesawatmu sudah siap! Ini kuberi kau dua juta! Aku masih berbaik hati, bukan? Carilah pekerjaan di sana! Jangan lupa selalu memakai masker! Jika perlu aku akan mengoperasi wajahmu supaya nampak berbeda! Ingat satu hal, jangan pernah laporkan hal ini pada siapapun, jangan pernah coba-coba kau bongkar identitasmu! Kau tau kan apa akibatnya jika melanggar? Halley! Ingat Halley! INGAT APA YANG AKAN TERJADI PADA HALLEY!!!" Kata Vera penuh penekanan pada Zherra yang hanya duduk manis dan diikat di kursi di apartemennya.
"Kenapa kau lakukan ini semua, Vera? Apa salahku?" Tanya Zherra sembari menundukkan kepalanya. Setelah diberi makan tadi ia hanya melamun dengan tatapan kosong.
Vera menoleh ke arah Zherra. Lalu mengalihkan pandangannya lagi ke handphone di tangannya, "My Harchan itu milikku, sumpah suci yang ia ucapkan dulu padaku itu masih berlaku! Aku cinta pertamanya, DAN KAMU HANYA PERUSUH!"
"Ah satu lagi! Namamu sekarang ANNE HAWEY! Mengerti, Anne? Jika ada yang mengatakan kau mirip Nona Azalya Zherra Remira. KAU TAU KAN APA YANG HARUS KAU KATAKAN!!!" Vera mengambil pisau di sampingnya, lalu dilemparkan tepat di kursi yang berada di samping Zherra. "Seharusnya ada Halley di kursi itu! Aku tau kau mengerti maksudku, Anne!"
Zherra menundukkan kepalanya. Ia meneteskan air mata, "Jadi kau melakukan semua ini hanya demi suamiku, Vera? SUNGGUH JAHAT!, jika kau memisahkan kedua pasangan yang terikat dalam hubungan sah agama. Apalagi kau membawa-bawa anak orang yang tidak bersalah dalam masalah sepele ini. Jahat, KAU JAHAT VERA!"
Vera tersenyum sinis. "KAU BANYAK BICARA, ANNE. Kalau begitu kusuruh orang saja untuk mencelakai Halley sekalian!" Vera menyalakan handphonenya dan hendak menelepon seseorang.
"JANGAN! JANGAN LAKUKAN ITU!" Vera mengehentikan niatnya tadi. Lalu ia mengambil selembar kertas. Ia menaruh kertas itu di atas meja, tepat di depan Zherra.
Surat Perceraian
"KAU INI APA-APAAN! AKU TIDAK MUNGKIN MENCERAIKAN HARCHAN!"
"Apa benar begitu? Baiklah, akan ku telepon orang untuk mencelakai Halley!" Vera kembali menyalakan handphonenya.
"JANGAN! JANGAN CELAKAI ANAKKU!"
"Kalau begitu, kau lebih memilih menandatangani surat itu agar Halley selamat, atau sebaliknya?" Kata Vera mengancam.
"Ya Tuhan ini benar-benar keterlaluan!"
"Kau terlalu lama!" Vera hendak menelepon seseorang.
"JANGAN! AKU AKAN MENANDATANGANI INI!!!" Air mata Zherra mengalir deras. Menceraikan orang yang dicintai? Itu tidak pernah dibayangkannya sekalipun dalam hidup.
"Itu pilihan yang bagus! Kupastikan anakmu akan selalu dalam keadaan baik, Anne!"
"Kuharap kau berani bersumpah untuk keselamatan anakku!"
"Dengan senang hati! Kecuali jika kau melanggar kesepakatan!" Vera mengambil sebuah bolpoin dari dalam tasnya, disodorkan ke Zherra.
"HEI KAU! LEPASKAN IKATAN TANGAN KANAN PADA WANITA INI!" Teriak Vera pada salah satu pria yang ada dibelakangnya. Pria itu pun melepaskan ikatan tangan kanan Zherra, lalu menjaganya dari belakang.
Setelah dipaksa dan diancam berulang kali, akhirnya dengan terpaksa Zherra menandatangani surat itu. Vera tersenyum sinis melihat tanda tangan Zherra tertera pada surat itu.
"Berangkatlah sekarang!"
.
.
.
Kini Zherra sudah berada di Bali, jauh dari Jakarta. Ia melamar kerja menjadi seorang koki, dan entah mengapa Zherra langsung diterima kerja di restauran tersebut saat sang manager restauran mencicipi masakan Zherra. Ia hanya membawa satu koper, yang merupakan kebutuhan selama sebulan dan hanya membawa uang dua juta di pulau itu.
"Kau benar-benar mirip dengan Nona Azalya Zherra, Anne. Aku tidak berbohong!" Ucap salah satu koki yang merupakan teman baru Zherra. Pasalnya, saat di restauran itu Zherra tak memakai masker, ia hanya mengubah identitasnya saja.
"Haha, entahlah semua orang berkata seperti itu. Ngomong-ngomong aku juga fans beratnya Nona Zherra dulu! Jadi aku senang sekali dikatakan mirip dengan idola!" Kata Zherra tersenyum manis pada teman-teman koki barunya itu.
"Apa kalian juga mengidolakannya?" Tanya Zherra pada koki di sekitarnya itu.
"Ya, aku sempat mengidolakannya. Namun, semenjak ia undur diri menjadi model, entahlah, aku sudah tidak mengidolakannya lagi." Kata salah satu koki yang bernama Rita.
"Iya, hanya karena anak keduanya lahir, dia meninggalkan pekerjaannya. Pasti senang sekali anak itu, sangat disayang oleh ibunya!" Kata koki lain yang bernama Heru. Mendengar anaknya dibicarakan, Zherra hanya tersenyum getir.
"Iya, tapi bagaimana ya kabar keluarga itu. Sudah tak ada kabar lagi sepertinya." Tanya koki lain yang bernama Ali.
"Iya ya. Eh. Ngomong-ngomong, apa kau sudah menikah, Anne?" Tanya Rita sambil membetulkan ikatan rambutnya. Saat ini adalah jam istirahat, shift koki lain yang menggantikan mereka.
Zherra bingung, mencari jawaban, "Ehm, a- aku ditinggal suami-ku." Katanya gugup.
"Ya Tuhan. Maafkan aku, Anne." Kata Rita merasa bersalah karena mengingatkan Zherra pada suaminya.
"Tidak apa!" Zherra tersenyum kikuk.
"Apa kau sudah memiliki anak, Anne?" Tanya Ali ikut menimpali.
"Ehm. Anakku dibawa oleh suamiku." Kata Zherra gugup, ia berbohong lagi.
"Kau harus bersabar, Ann.." Kata mereka.
"Terimakasih, kalian orang baik. Aku sangat senang bisa berkenalan dengan kalian." Zherra tersenyum manis pada teman-teman barunya itu.
"Kami juga senang, Anne. Ngomong-ngomong berapa nomor handphone mu? Supaya kita bisa saling menyimpan nomor." Kata Rita sambil mengeluarkan handphone miliknya dari saku celana.
"Bagaimana ini. Aku kan tidak membawa handphone di sini. Jika meminjam handphone Rita, ingin sekali rasanya aku menelepon keluargaku, mereka pasti khawatir. Tapi aku tidak ingin Halley celaka."
"Ehm, aku tidak mempunyai handphone." Zherra menundukkan kepalanya.
"Eh? Yasudah kalau begitu, tidak apa." Rita memasukkan handphonenya pada saku celananya.
"Dimana rumahmu, Anne?" Tanya Ali.
"Ehm. Aku pendatang baru di sini. Koperku masih ada di ruangan barang."
"Oh.. Apa kau hendak mencari rumah, atau kontrakan, atau kost-kostan, Anne?"
"Iya, tapi aku tidak memiliki uang untuk itu."
"Hey, tenanglah. Kau bisa sementara tinggal di kost-kostan bersamaku." Rita memeluk pundak Zherra.
"Atau kau bisa meminjam uangku dulu untuk mengontrak, Anne." Kata Heru menimpali.
Zherra tersenyum mendengar tawaran mereka, "Kalian orang baik. Terimakasih. Rita, apa boleh aku menginap di kost-kostan mu?"
"Tentu saja, Anne. Dengan senang hati." Rita memeluk Zherra, dan dibalas olehnya.
***
"Papa, mengapa Mama belum saja ketemu??" Halley terus menangis sedari tadi.
"Nak, kita harus bersabar. Do'akan yang terbaik untuk Mamamu." Kata Nenek Agy. Halley hanya membuang muka sambil menyeka air matanya. Ia memandang foto keluarganya di atas laci tempat ia menyimpan surat teror.
"Permisi, Tuan, Nyonya. Ada Nona Vera dan anaknya di bawah." Kata salah satu pelayan.
"Tuh, Halley. Ada temanmu, lebih baik kau bermain dengannya daripada menangis terus seperti ini." Halley hanya mengaguk. Kemudian bergegas turun ke bawah untuk menemui temannya.
"Caitlin!!!" Halley memeluk Caitlin sambil menangis. Caitlin mengelus punggung Halley dengan lembut, "Bersabarlah, Halley. Mamamu pasti baik-baik saja."
"Ehm." Deheman Kakek Jae dan Nenek Agy, membuat mereka melepaskan pelukannya.
"Ehm, siang Om. Tante." Kata Vera menyalami tangan Kakek Jae dan Nenek Agy. "Siapa kamu?" Tanyanya dengan kening berkerut, sedikit asing melihat wajah Vera.
"Saya teman SMA nya Harchan, Om. Ini anak saya." Ucapan Vera hanya dijawab anggukan oleh Kakek Jae.
"Bagus. Dua si tua ini ada di rumah. Rencanaku pasti berjalan mulus!"
.
.
.
Tapi kalo Cam sama Welly ntar judul novel nya outhor bukan Cewek bar2 sama Ketos ya, Pasti judul novelnya akan lain ya 😃😃