Alur maju-mundur.
****
Kini senyum menawan itu hilang, menyisakan penyesalan merayap datang.
Hal terindah di sia-siakan demi nafsu pekerjaan.
Terpuruk dalam kesedihan, seakan mimpi menjadi kenyataan.
Istri cantik ku berlumuran darah kaku seperti kayu.
****
Menikahi seorang wanita yang masih asing, membuat Ridwan acuh dalam rumah tangganya. Ridwan yang merupakan seorang peneliti, tetap sibuk dengan penelitian meski sudah menikah. Hingga suatu saat, Ridwan baru menyadari jika dirinya mulai nyaman dan tertarik Ketika istrinya sudah tiada.
Apa yang akan di lakukan seorang genius gila penelitian untuk menebus kesalahannya?
Hal gila akan di lakukan demi melihat senyum istrinya yang sangat jarang nampak di lihat.
Akan tetapi, hal gila tersebut membuatnya merasakan sakit yang berulang dan lebih sakit dari sebelumnya.
yuk ikuti ceritanya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pejuang imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebingungan Ridwan
"Tidak perlu kamu ke kamar Reisya, aku yakin Reisya sudah mendengar suaramu dari tadi. Reisya dari tadi berada di kursi teras." Bersamaan dengan kata-katanya, Ayla berdiri dan menuju teras dan menarik Reisya untuk berdiri bersamanya.
"Benar bukan yang aku katakan, Ridwan benar akan meminta maaf padamu? meski ada kata-kata yang lain." Ayla berbicara kepada Reisya dengan membawanya masuk ke ruang tamu.
"Benar-benar ada Reisya dari tadi di depan. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan.? Tidak mungkin aku berbicara ingin menikahinya karena aku tertarik dengan kecantikannya dan juga karena aku sudah melihatnya setengah tel*njang. Cara mencintai yang konyol jika hanya karena fisik dan cara berpakaiannya tanpa mengetahui kepribadiannya." Ridwan berbicara dalam hatinya dengan menunjukkan raut wajah panik.
"Kenapa aku sangat bodoh. Kenapa aku hanya diam mematung setelah mendengar kata-kata laki-laki itu. Kenapa aku seolah berharap kepadanya setelah mendengar kata-katanya. Seharusnya aku menolak ajakan mbak Ayla untuk masuk ke sini dan bertemu kembali dengan laki-laki ini. Apakah aku tertarik dengan laki-laki ini? Aduh, kenapa aku berpikir seperti ini." Reisya berbicara sendiri dalam hatinya ketika Reisya berjalan menuju ruang tamu dengan kepala tertunduk karena malu dan bingung untuk bersikap.
Alya mengajak Reisya untuk duduk, dan memberikan Ridwan waktu agar berbicara kepada Reisya. Tetapi, hingga beberapa waktu semua diam tanpa ada yang berbicara.
"Ridwan, bukankah kamu akan mengatakan sesuatu. Yaa... Meski Reisya pasti sudah dengar kata-katamu barusan." Ayla berucap dengan santai membuyarkan kesunyian ruang tamu rumah Surya. Tetapi ucapan Ayla membuat Jantung Reisya dan Ridwan berpacu seperti sedang berlari maraton.
"Sepertinya mereka cocok. Reisya juga terlihat tertarik pada Ridwan." Surya berbisik kepada Ayla, tetapi Ayla membalas bisikan Surya dengan sikutan kecil, tanda agar Surya jangan berisik.
"Ridwan, cepetan ngomong...!!" Ayla mendesak Ridwan untuk berbicara. Tetapi Ridwan hanya terdiam dan terlihat wajah Ridwan pucat seperti tidak di aliri darah.
"Aku harus ngomong, tapi mau ngomong apa? Kenapa aku seperti gak punya nyali? Benar-benar lebih sulit dari yang terlihat. Lebih mudah berbicara dengan Presiden dari pada dengan wanita secantik Reisya." Ridwan hanya membatin tetapi mulutnya menganga seakan ingin berkata-kata tetapi lidah dan mulutnya kaku dan hanya dapat membatin.
"Reisya, perlu kamu tau, Ridwan ini adek suami aku. Dia seorang fisikawan, seorang peneliti. Untuk masalah kemapanan kamu juga tidak perlu khawatir. Ridwan sudah sangat mapan. Ridwan ini orangnya juga baik, mbak Ayla bisa jamin itu. Kamu tadi juga dengar sendiri kalau Ridwan mengatakan tertarik dan suka sama kamu, dan berniat berpacaran setelah menikahi kamu. Memang Ridwan ini sudah lama mencari pendamping hidup. Tapi karena memang dia lebih tertarik dengan penelitian selama ini, dia sampai tidak memiliki waktu untuk dekat dengan wanita manapun jadi Ridwan ini masih orisinil." Ayla yang sudah tidak sabar, berbicara seolah mewakili Ridwan dan mempromosikan Ridwan seperti barang dagangannya.
Mendengar Ayla yang mempromosikan dirinya seperti dagangan kepada Reisya, Ridwan seolah malu-malu mau. Tetapi juga tidak mungkin menghentikan Ayla jika sudah seperti itu, sebab Ridwan juga sudah paham dengan karakter istri Surya.
Sedangkan Reisya sungguh terkejut dengan ucapan Ayla, hal yang tidak dia sangka. Tetapi Reisya hanya menanggapi dengan senyuman yang tertutup oleh wajahnya yang tertunduk.
"Ridwan, aku juga sudah kenal Reisya lumayan lama, jadi aku juga sudah tau dengan sifat Reisya yang baik dan rendah hati. Aku juga mengenal keluarganya, Keluarganya juga sangat baik. aku berani menjamin itu." Sekarang Ayla ganti mempromosikan Reisya kepada Ridwan. Sedangkan Reisya sudah tidak dapat berbuat apa-apa karena terlalu malu untuk mengangkat kepalanya.
"Sudah terlanjur basah sampai dada, sekalian aja nyelam." Ridwan membatin dan mulai mengumpulkan keberaniannya.
"Res... Reisya... Kamu tadi... Ka... Kamu tadi sudah dengar yang... yang aku omongkan. Itu se... Semua benar. Apa... Apa kamu mau berpacaran denganku setelah kita menikah...?" Dengan mengeluarkan seluruh tenaganya, Ridwan memberanikan diri berbicara meski dengan suara yang terbata-bata.
Sedangkan Reisya yang mendengarkan hal itu, benar-benar tidak menyangka dengan apa yang menimpanya malam ini adalah sebuah berkah atau musibah. Reisya seolah tidak dapat memutuskan.
"Sebaiknya mas Ridwan bicara sama ayah saya saja. Saya akan patuh dengan semua keputusan ayah saya. Saya tidak berani untuk menjawab, hanya ayah saya yang berhak atas diri saya." Reisya menjawab pertanyaan Ridwan tetap dengan pandangan tertunduk ke bawah.
"Besok ayah saya akan datang. Sebenarnya kedatangan ayah saya untuk berpamitan kepada pak Surya dan mbak Ayla. Tapi jika mas mau berbicara dengan ayah saya, Silahkan. Saya tidak bisa melarang." Saat berbicara, terlihat kedua tangan Reisya saling menggenggam dengan erat. Menandakan kegugupan saat berbicara dan berusaha untuk dapat mengendalikan diri.
"Baiklah, aku akan menunggu kedatangan ayahmu besok." Ridwan berbicara dengan jantung yang berdegup sangat kencang. Jika jantung Ridwan buatan manusia, mungkin jantung tersebut sudah lepas dari tempatnya.
**Di teras rumah Surya**
"Apa kamu sungguh-sungguh akan berbicara pada ayah Reisya? Apakah kamu memiliki nyali?" Surya bertanya dengan nada sedikit mengejek. Sebab, Surya tau dengan karakter Ridwan yang pemalu. Sangat fenomenal jika Ridwan sampai berani meminta anak gadis orang secara mendadak seperti saat ini.
"Entahlah, aku tadi berbicara juga seperti tanpa sadar. Mulutku tiba-tiba saja berbicara demikian. Padahal jika aku mengingat caraku berbicara tadi, tubuh ku terasa gemetar tidak memiliki nyali." Mendapat pertanyaan dari Surya, Ridwan menoleh kepada Surya lalu menghadap langit-langit sambil menghisap rokoknya.
"Yang aku fikirkan tadi hanya kesempatan emas belum tentu datang 2 kali. Kecantikan natural Reisya benar-benar menghipnotis pikiran ku. Aku yang belum pernah pernah merasakan jatuh cinta seakan otakku memerintahkan mulut ku untuk berbicara demikian." Ridwan melanjutkan kata-katamya dan kembali menghisap rokoknya. Terlihat tangan Ridwan gemetar saat akan menghisap rokoknya.
"Kamu benar-benar gila. Jangan memberi harapan palsu kepada wanita. Setahuku Reisya tidak pernah bersama laki-laki. Mendapat harapan seperti itu, pasti Reisya saat ini memikirkan tentang besok saat kamu berjanji akan berbicara kepada ayah Reisya. Apalagi aku juga melihat Reisya memiliki tatapan ketertarikan kepadamu, terlebih lagi ketika kamu mengucapkan akan berbicara pada ayah Reisya. Terlihat tatapan menaruh harapan." Surya menanggapi jawaban Ridwan atas pertanyaannya.
"Entahlah..." Ridwan menjawab dengan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.
"Akan menghadapi hal ini, terasa lebih berat dari pada saat mengikuti Olimpiade fisika dunia. Bahkan bebannya terasa seperti menjalani penelitian 8 tahun ku." Ridwan melanjutkan kata-katanya setelah menyandarkan kepalanya ke sofa.
"Sudah larut, sebaiknya kamu beristirahat. Besok kamu akan menghadapi pilihan berat, antara berbicara atau tidak." Surya berbicara lalu berdiri dari duduknya.
"Aku akan beristirahat dulu, kasian Ayla di kamar kalo aku anggurin." Berpamitan sambil menepuk pundak Ridwan dan tersenyum atas ucapannya sendiri.
🙏🙏 mohon dukungannya ya, dengan cara LIKE, COMMENT, BERI HADIAH dan VOTE jangan lupa jadikan Favorit😍💕 🙏🙏
setiap org mengharapkan dpt istri salehah yg selalu berbakti pd suami, krn tanggungan sebagai suami itu sangat lh berat..
penelitian apa yg membuat Ridwan tega meninggalkan istri yg baru 1 hari dinikahinya..