Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepanikan Sang Putri Mahkota
"Berani sekali dia mengabaikan undanganku? Ksatria peliharaan itu benar benar sudah kehilangan akal sehatnya!"
Sebuah vas porselen kuno bermotif bunga lili hancur berkeping keping menghantam dinding marmer Istana Soleil. Putri Mahkota Camille berdiri dengan dada naik turun, napasnya memburu penuh amarah. Wajah malaikatnya yang biasanya terlihat sangat suci dan rapuh kini memerah padam, urat urat halus menonjol di pelipisnya.
Di sudut ruangan, Marquis de Chanteclair berdiri gemetar. Pria paruh baya itu meremas topi berbulunya dengan cemas, tidak berani menatap langsung ke arah keponakannya yang sedang murka.
"Duke Vaudémont beralasan beliau sedang melakukan patroli keamanan wilayah, Yang Mulia," cicit sang Marquis dengan suara bergetar. "Beliau menolak mentah mentah teh bunga lili yang Anda siapkan."
"Patroli keamanan omong kosong!" jerit Camille, mengabaikan serpihan tajam porselen di dekat kakinya. "Mata mataku melaporkan bahwa dia pergi ke Alun Alun Kemenangan hanya untuk menemui wanita jalang Montmirail itu! Dia berdiri di depan gerobak kayu kampungan itu dan berbicara dengan Geneviève!"
Camille mencengkeram tepi meja riasnya hingga kuku jarinya memutih. Rasa frustrasi yang luar biasa pekat menekan dadanya. Rencananya selama tiga tahun terakhir terancam hancur berantakan.
"Paman, apakah kau tidak mengerti bagaimana cara kerja relik leluhur kita?" desis Camille dengan mata biru yang memancarkan kilat kegilaan. "Sihir Putih ini bekerja seperti kutub magnet yang berlawanan. Selama Geneviève terus mengejar Lucien dengan cinta yang buta dan obsesif, sihir di otak Lucien akan secara otomatis memproduksi rasa jijik dan benci yang sama besarnya. Aku menggunakan obsesi Geneviève sebagai bahan bakar untuk mengendalikan Lucien!"
Sang Marquis menelan ludah. "Lalu... apa yang salah sekarang, Yang Mulia?"
"Yang salah adalah wanita jalang itu tiba tiba berhenti peduli!" teriak Camille, suaranya melengking memantul di dinding ruangan. "Geneviève mengubah penampilannya, dia membangun bisnis, dan dia menatap Lucien seolah pria itu hanyalah debu di sepatunya. Tanpa dorongan obsesi dari Geneviève, keseimbangan sihirku hancur! Kabut di otak Lucien perlahan menipis karena tidak ada lagi kebencian yang memicu sihir tersebut bekerja. Pria itu mulai mengingat hal hal yang seharusnya terkubur selamanya!"
Kepanikan mulai melanda Camille. Jika Lucien mengingat masa lalunya, jika pria itu sadar bahwa ia dan Geneviève adalah sepasang kekasih sebelum ingatan mereka dihapus, maka dukungan militer Vaudémont akan berbalik menghancurkan faksi kerajaan. Dinasti Aurelius akan runtuh.
Camille menarik napas panjang, memaksa tubuhnya yang gemetar untuk tenang. Senyum dingin dan kejam perlahan terbentuk di bibirnya yang merah.
"Jika magnet itu tidak lagi bekerja secara otomatis, maka aku harus mengikat rantainya secara manual," bisik Camille dengan nada mematikan. "Siapkan ruang bawah tanah rahasia, Paman. Bawa darah segar ke altar. Aku harus memperkuat segel Sihir Putih itu malam ini juga, sebelum ksatria bodoh itu menyadari kebenarannya."
Sementara kegelapan sedang direncanakan di balik dinding istana, suasana di Alun Alun Kemenangan justru sangat cerah dan dipenuhi tawa.
Gerobak etalase kayu mahoni Le C'eow dikelilingi oleh para bangsawan kelas menengah. Geneviève de Montmirail berdiri di balik etalase kaca, mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat yang memancarkan keanggunan seorang penguasa bisnis. Tangannya sibuk menerima koin emas dan mencatat pesanan kalung safir.
Di tengah kesibukan itu, kerumunan pelanggan tiba tiba terbelah.
Lucien de Vaudémont melangkah maju dengan langkah lebar dan tergesa gesa. Jubah hitam ksatrianya berkibar tertiup angin. Wajah pria itu terlihat sangat tegang, rahangnya mengeras, dan matanya menyorotkan urgensi yang tidak bisa diabaikan.
Melihat kedatangan pria itu, Geneviève menghela napas pelan. Logikanya langsung membangun tembok pertahanan yang tebal. Ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa pria ini hanyalah karakter utama novel yang sedang mengalami gangguan psikologis. Tidak ada kisah masa lalu. Semuanya hanya ilusi yang diciptakan oleh konspirasi politik.
"Selamat siang, Tuan Duke," sapa Geneviève santai, menata kotak beludru kosong di depannya tanpa repot repot menatap wajah Lucien. "Apakah Anda kembali untuk menerima tawaran gaji koin tembaga saya? Maaf, posisi asisten pemoles batu sudah diisi oleh orang lain pagi ini."
Lucien tidak memedulikan sindiran itu. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua tangannya di atas permukaan kaca etalase.
"Seseorang membakar seluruh catatan masa laluku dari tiga tahun yang lalu, Geneviève," ucap Lucien dengan suara rendah yang bergetar. Kalimat itu meluncur begitu saja, membawa keputusasaan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Geneviève menghentikan gerakannya sejenak. Otaknya memproses informasi tersebut. Namun, alih alih menunjukkan simpati, ia justru memamerkan senyum profesional yang sangat dingin.
"Lalu? Apakah Anda mengharapkan saya untuk menyewakan tukang sihir agar bisa menghidupkan kembali abu tersebut?" balas Geneviève jenaka. "Mungkin tikus di perpustakaan kediaman Vaudémont sedang kedinginan dan memutuskan untuk membuat api unggun dari buku harian Anda."
Odette yang sedang menyapu debu di samping gerobak langsung menyela dengan nada riang.
"Atau mungkin Anda ingin membeli kalung safir untuk menghibur diri, Tuan Duke? Hari ini Le C'eow memberikan diskon khusus sebesar dua persen untuk bangsawan yang sedang bersedih karena kehilangan barang rongsokan," tawar Odette sambil menyodorkan sebuah kalung perak dari balik kaca.
Gaspard yang berdiri tepat di belakang Lucien melangkah maju. Ksatria bayangan itu menatap Odette dengan wajah tegak dan kaku.
"Nona Odette, Tuan Duke sedang berada dalam krisis investigasi internal tingkat tinggi," tegur Gaspard secara harfiah. "Penawaran diskon komersial sangat tidak relevan dengan situasi keamanan nasional yang sedang kami hadapi. Mohon simpan kembali kalung tersebut."
Odette berkacak pinggang, mengangkat dagunya menantang ksatria bertubuh besar itu. "Krisis internal kalian bukan urusan pembukuan kami, Tuan Ksatria Kaku. Jika Anda tidak mau membeli, setidaknya mundurlah dua langkah agar bayangan Anda tidak menutupi kilauan batu kecubung kami."
Gaspard terdiam sejenak, lalu dengan sangat patuh ia melangkah mundur tepat dua langkah ke belakang, membuat Odette harus menahan diri agar tidak tertawa melihat kepolosan pria tersebut.
Lucien sama sekali tidak terpengaruh oleh keributan kecil pelayan mereka. Matanya tetap terkunci pada wajah Geneviève.
"Ini serius, Geneviève," desak Lucien. "Tidak ada lagi keraguan di kepalaku. Ingatanku dimanipulasi. Ada konspirasi besar yang sengaja menghapus bukti bahwa kita... bahwa aku mungkin pernah memiliki hubungan yang sangat dekat denganmu di masa lalu."
Jantung Geneviève berdegup satu ketukan lebih cepat, tetapi ia dengan paksa menekan perasaan itu kembali ke dasar hatinya. Novel itu adalah panduan hidupnya. Kematian di ujung pedang adalah takdir yang menunggunya jika ia berani bermimpi tentang cinta pria ini. Lucien pasti hanya merasa bersalah karena perlakuan kasarnya selama ini dan mencoba mencari alasan untuk membenarkan tindakan bodohnya.
"Itu hanya teori konspirasi yang lahir dari rasa bersalah dan kelelahan mental Anda, Lucien," potong Geneviève dengan nada final. Ia menatap lurus ke dalam mata hijau pria itu. "Anda membakar catatan Anda sendiri secara tidak sadar, atau pelayan Anda yang ceroboh melakukannya. Tidak ada rahasia masa lalu. Kita hanyalah dua bangsawan yang kebetulan pernah bertunangan karena paksaan politik. Sekarang, jika Anda tidak berniat membeli perhiasan, silakan pergi. Kuda hitam besar Anda itu menakuti pelanggan saya."
Lucien terdiam. Kata kata Geneviève terasa seperti cambuk es yang menghantam wajahnya. Penyangkalan wanita itu sangat sempurna, sangat rasional, seolah olah memang tidak ada setitik pun kebohongan di sana.
Namun, insting Lucien berteriak sebaliknya. Ia tahu ada yang salah. Bros di balik kemejanya terasa hangat saat berdekatan dengan wanita ini.
"Kau boleh menyangkalnya sekarang," bisik Lucien dengan tekad yang membara di matanya. "Tetapi aku akan membuktikannya. Aku akan pergi ke markas arsip kota dan mencari dokumen eksternal yang tidak sempat mereka bakar. Aku akan kembali ke sini membawa kebenaran, Geneviève. Dan saat aku kembali, kau tidak akan bisa menghindariku lagi."
Tanpa menunggu balasan dari Geneviève, Lucien memutar tubuhnya. Ia berjalan cepat menuju kuda hitamnya, melompat ke atas pelana dengan gerakan tangkas, dan memacu kudanya membelah jalanan berbatu Lumière. Gaspard segera berlari mengikuti dari belakang, meninggalkan alun alun dengan kecepatan penuh.
Geneviève berdiri diam, menatap kepulan debu yang ditinggalkan oleh kuda Lucien. Tangan kanannya meremas pinggiran meja kayu hingga buku buku jarinya memutih. Rasa sesak yang aneh kembali mencoba merayap di dadanya, tetapi ia mengusirnya dengan paksa. Ia tidak akan jatuh ke dalam jebakan perasaan. Tidak akan pernah.
Jauh di bawah fondasi marmer Istana Soleil, terdapat sebuah ruangan rahasia yang tidak pernah tersentuh oleh cahaya matahari.
Ruangan batu itu diterangi oleh puluhan lilin merah darah. Udara di dalamnya terasa sangat lembap, berbau anyir, dan dipenuhi oleh aura yang membuat bulu kuduk berdiri.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah altar batu kuno. Di atas altar itu, melayang sebuah artifak kristal seukuran kepalan tangan. Kristal itu memancarkan pendaran cahaya putih yang menyilaukan, cahaya yang selalu diklaim oleh Keluarga Kerajaan sebagai berkah suci dari dewa dewi pelindung kekaisaran.
Namun, di dalam ruangan gelap ini, kebenaran dari Sihir Putih itu terungkap.
Putri Mahkota Camille berdiri di depan altar, tidak lagi mengenakan gaun sutra mewahnya. Ia mengenakan jubah panjang berwarna hitam pekat. Wajah malaikatnya kini terlihat seperti iblis yang sedang kelaparan.
Marquis de Chanteclair melangkah maju, menyeret seorang pelayan istana yang mulutnya dibekap erat. Pelayan malang itu adalah gadis yang sempat melakukan kesalahan kecil saat menyeduh teh untuk Camille pagi tadi. Mata gadis itu melotot ketakutan, air matanya membasahi kain pembekap.
"Bawa dia ke altar," perintah Camille dingin.
Sang Marquis mendorong pelayan itu hingga berlutut di depan kristal yang melayang. Camille mengambil sebuah belati perak berukir tengkorak dari balik jubahnya. Tanpa sedikit pun keraguan atau rasa belas kasihan, Camille mengiris telapak tangannya sendiri, membiarkan darah bangsawan Aurelius menetes ke atas permukaan kristal tersebut.
Kristal itu bergetar hebat. Cahaya putihnya seketika meredup, menyerap tetesan darah merah itu dengan rakus.
Camille kemudian mencengkeram rambut pelayan yang berlutut di depannya. Dengan satu gerakan kejam dan cepat, ia mengayunkan belati perak itu, menyayat telapak tangan sang pelayan dan menempelkannya paksa ke atas altar batu.
"Darah penguasa sebagai pembuka jalan, darah kaum hina sebagai persembahan energi," rapalkan Camille dalam bahasa kuno yang telah lama dilupakan.
Seketika, kristal itu berubah warna menjadi hitam legam. Sebuah lolongan mengerikan terdengar menggema dari dalam batu tersebut. Energi gelap yang luar biasa pekat menyebar ke seluruh ruangan, membuat nyala lilin merah bergoyang liar.
"Kekuatan leluhurku, dengarkan perintahku!" seru Camille dengan mata terbelalak. "Tutup kembali ingatan Lucien de Vaudémont! Hancurkan setiap keraguan di dalam otaknya! Paksa dia untuk mengingat rasa muak dan benci kepada Geneviève de Montmirail seribu kali lipat lebih kuat dari sebelumnya!"
Kristal yang menghitam itu berdenyut sangat keras. Tiba tiba, ia meledakkan cahaya putih yang luar biasa menyilaukan, cahaya suci palsu yang menyembunyikan sihir hitam parasit di dalamnya. Gelombang energi itu melesat menembus atap batu ruang bawah tanah, melayang tak kasatmata membelah langit ibu kota, mencari inangnya yang sedang memberontak.
Di jalanan utama kota Lumière, Lucien memacu kudanya dengan kecepatan tinggi menuju gedung arsip kota.
Pikirannya terasa sangat jernih. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia merasa beban yang menutupi matanya perlahan terangkat. Ia memikirkan Geneviève. Ia memikirkan senyum sarkas wanita itu, kecerdasannya, dan cara wanita itu berdebat dengannya tanpa rasa takut. Tidak ada rasa jijik di hatinya, yang ada hanyalah rasa kagum yang meluap luap dan debaran cinta yang mulai bangkit dari kematiannya.
Namun, tepat saat kudanya berbelok di persimpangan jalan yang ramai, gelombang sihir tak kasatmata dari Istana Soleil menghantam kepalanya dengan kekuatan penuh.
Lucien tersentak hebat di atas pelana.
Sebuah jeritan melengking yang hanya bisa didengar olehnya meledak di dalam tengkoraknya. Rasa sakitnya tidak bisa dilukiskan dengan kata kata. Rasanya seolah olah sebatang besi panas berkarat ditusukkan tepat menembus kedua bola matanya hingga ke otak kecilnya.
"Argh!"
Lucien berteriak parau. Ia melepaskan tali kekang kudanya dan mencengkeram kepalanya sendiri dengan kedua tangan. Kuda hitamnya meringkik panik, mengangkat kedua kaki depannya tinggi tinggi.
Sihir gelap itu memaksa masuk, mencabik cabik ingatan baru yang mulai tersusun, dan menanamkan kembali ilusi kebencian dengan paksa. Lucien bertarung melawan intrusi itu. Insting bertahannya sebagai ksatria terkuat menolak untuk tunduk. Pertarungan antara tekad murni dan sihir parasit itu menciptakan reaksi fisik yang mematikan di dalam tubuhnya.
Napas Lucien terhenti. Pandangannya berubah merah, lalu memutih sepenuhnya. Organ organ di dalam tubuhnya terasa seperti dipelintir paksa.
Tiba tiba, Lucien terbatuk keras. Rasa besi yang sangat pekat memenuhi mulutnya.
Di tengah keramaian warga kota yang memandang ngeri, Komandan Ksatria Kekaisaran itu memuntahkan darah segar berwarna hitam pekat ke atas jalanan berbatu.
Tubuh besar Lucien kehilangan seluruh kekuatannya. Ia merosot dari atas pelana, jatuh berdebum menghantam kerasnya jalanan Lumière, dan terbaring tak sadarkan diri di bawah genangan darah hitamnya sendiri.