NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Suamiku Seorang CEO?

Dua mangkuk mie rebus yang masih mengepulkan uap panas kini sudah tersaji rapi di atas meja makan. Aroma gurih kaldu berpadu dengan wanginya sayuran segar dan telur yang dimasak setengah matang langsung menggoda indra penciuman.

Nara mengambil sendok, lalu dengan gerakan perlahan mencicipi kuah mie buatan Sagara untuk pertama kalinya.

Di luar dugaan, rasanya benar-benar pas. Gurihnya tidak berlebihan, kematangan mienya pun persis seperti yang Nara sukai, tidak terlalu lembek. Nara refleks mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sagara memperhatikan gerak-gerik Nara, lalu langsung bertanya. "Bagaimana? Enak, kan?"

Nara buru-buru mengubah ekspresi wajahnya menjadi sebiasa mungkin. Ia menelan kunyahannya lalu bergumam pelan. "Hm, ya. Lumayan." Egonya terlalu tinggi untuk memuji pria itu secara langsung.

Sagara terkekeh geli melihat gengsi gadis itu yang setinggi langit. "Bilang saja enak, tidak usah malu-malu begitu."

Nara tidak memedulikan godaan itu. Ia menarik mangkuknya, lalu berjalan menuju ruang tengah untuk makan sambil menonton televisi.

Sagara mengekor di belakang, membawa mangkuk miliknya sendiri dan duduk di samping Nara. Kedua pun menikmati makanan masing-masing, ditemani suara riuh dari layar kaca.

Nara sibuk mengunyah sambil matanya menatap layar TV yang kebetulan sedang menayangkan sebuah acara talk show. Namun, sedetik kemudian, kunyahan Nara mendadak terhenti. Sorot matanya menajam, dipenuhi rasa tidak suka yang teramat sangat ketika pembawa acara menyebutkan nama bintang tamu dan kamera menyorot kedatangannya. Tak lain mantan brengseknya.

Tanpa babibu, Nara langsung menyambar remote di dekatnya dan menekan tombol channel dengan kasar, mendengus penuh ketidaksukaan.

Sagara yang menyadari perubahan atmosfer itu menoleh. "Kenapa diganti? Bukannya tadi kamu lagi serius menonton?"

"Acaranya tidak menarik," jawab Nara singkat, namun nada suaranya terdengar datar.

Sagara mengangkat bahu, lalu kembali menatap layar televisi yang kini menayangkan drama bergenre romansa.

Mereka menonton dalam diam sampai sebuah adegan di drama tersebut menarik perhatian Sagara. Pria itu menopang dagunya, menatap layar yang menampilkan sang tokoh utama pria yang ternyata menyembunyikan identitas aslinya sebagai penguasa.

"Nara, bagaimana menurutmu jika seperti wanita di drama itu? Bagaimana kalau suamimu ini ternyata adalah seorang CEO dari perusahaan besar?" tanya Sagara tiba-tiba, suaranya terdengar biasa saja. Namun, matanya melirik Nara dengan binar jenaka sekaligus penasaran.

Nara yang baru saja meneguk air minum sontak tersedak. Ia terbatuk-batuk kecil, mendengar pertanyaan yang menurutnya tidak masuk akal itu. Setelah berhasil menguasai diri, Nara menatap Sagara dengan pandangan tidak percaya lalu tertawa renyah kemudian.

"Heh, ayolah! Aku tidak segila itu pada drama sampai harus membayangkan hal yang mustahil seperti itu," ujar Nara di sela tawanya. "Sama sekali tidak ada bayangan di kepalaku kalau suamiku adalah seorang CEO."

Sagara menanggapi dengan senyum misterius. "Tapi, bagaimana jika itu benar-benar terjadi? Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, kan?"

"Hahahaha ... sudah, A. Perut aku sakit, habis makan ini." Nara kembali tertawa lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, menganggap ucapan Sagara hanya bualan untuk mencairkan suasana.

Obrolan mereka pun berlanjut membahas topik absurd tersebut.

***

Keesokan harinya, suasana pagi hari di rumah itu tampak hening. Tidak ada Ratna yang setiap paginya selalu mengomeli anaknya Nara.

Bau harum nasi goreng menguar dari arah dapur ke penjuru ruangan yang langsung menyapa penciuman Nara saat dirinya membuka pintu.

Nara melirik jam di dinding kamarnya yang baru memasuki pukul 6 pagi. Ia baru saja bangun akibat begadang menyelesaikan naskahnya.

"Siapa yang memasak? Apa ibu sudah pulang?" gadis itu bergumam sendiri lalu melangkah ke dapur.

Baru saja ingin memanggil ibu, tetapi pandangannya bertemu dengan pandangan Sagara yang tengah menata dua piring nasi goreng di atas meja makan.

"Aku baru saja ingin membangunkan mu untuk sarapan," sapa pria itu, lalu kembali fokus pada kegiatannya yang kini menuangkan air pada gelas untuk Nara kemudian untuk dirinya.

Nara berjalan mendekat dengan sungkan, sudah terlambat bangun, sekarang dimasakkan pula. Ia meraih gelas dan meminum airnya perlahan dengan mata mengikuti setiap gerakan Sagara yang tampak lincah.

Pria itu memegang spatula dengan begitu lihai, gerakan lengannya mengekspos lekuk bahunya yang lebar. Mungkin kalau dijadikan sandaran akan sangat nyaman.

"Duduklah dulu, telurnya sebentar lagi matang," ujarnya, menoleh sekilas ke arah Nara karena tengah memasak telur mata sapi untuk pelengkap menu sarapan mereka.

Nara terbatuk kecil. "Hm, iya. Tapi aku mau cuci muka dulu."

Gadis itu segera pergi setelah mendapatkan anggukan dari Sagara.

Yang ampun, apa yang kamu pikirkan Nara. Bisa-bisanya ... batin Nara, mengetuk-ngetuk kepalanya karena membayangkan bersandar di bahu pria itu.

Saat Nara kembali, ia mendapati Sagara yang baru saja menurunkan ponselnya, pria itu sepertinya baru saja bertelepon dengan seseorang.

"Ayo kita makan," ajak pria itu menarik kursinya sendiri dan duduk di sana. Nara mengikuti yang Sagara lakukan. Ia mulai menyendok nasi goreng masakan pria itu, matanya seketika berbinar. Di luar dugaannya, ia kira nasi goreng ini akan asing dan bersiap untuk hal terburuknya. Tetapi ternyata, rasanya sangat enak dan pas. Gadis itu pun memulai menyendok lagi dan memakannya dengan lahap.

"Uhuk ... uhukk ...!"

"Pelan-pelan saja, tidak akan ada yang mengambil makananmu," sahut Sagara.

Pria itu dengan sigap menggeser duduknya lebih dekat, satu tangannya terulur menyodorkan segelas air putih sementara tangan lainnya dengan lembut menepuk-nepuk punggung Nara untuk meredakan sumbatan di tenggorokannya.

Nara langsung menyambar gelas itu dan meneguk isinya dengan rakus hingga menyisakan setengahnya saja. Wajahnya mendadak merah padam, bukan lagi karena sisa rasa perih akibat tersedak, melainkan karena rasa malu yang mendadak menyergap dada. Rasa laparnya akibat begadang membuatnya rakus menyantap makanan di depan Sagara. (Haist ... sungguh memalukan,) batinnya.

"Terima kasih," ujar Nara pelan, meletakkan kembali gelasnya ke atas meja dengan gerakan agak kikuk. Ia menatap sisa nasi goreng di piringnya. "Nasi gorengnya enak, aku tidak menyangka Aa ternyata jago juga memasak," pujinya yang kali ini mengesampingkan egonya. Masakan Sagara benar-benar enak.

Sagara yang kini kembali tengah mengunyah langsung menghentikan gerakannya. Pria itu menegakkan punggung, menoleh ke arah Nara dengan wajah jumawa, senyum miring tersungging di bibirnya menandakan kepercayaan dirinya meningkat. "Hm, ya. Tentu saja. Masak begini mah perkara sepele buatku," sahutnya. "Makanya, kamu harus bangga punya suami serba bisa kayak aku. Paket lengkap, kan?" alisnya bergerak naik-turun dengan bibir tersenyum lebar.

Nara langsung memutar bola matanya jengah, mendadak menyesal setengah mati karena sudah sudi menurunkan gengsi untuk memuji pria jumawa di sampingnya ini.

"Hah, ya ... silahkan dilanjut makannya, A," ujar gadis itu dengan senyum terpaksa.

Saat selesai makan, Nara langsung menawarkan diri untuk mencuci piring karena Sagara telah memasak.

"Oh ya, aku kayaknya siang nanti nggak pulang ke rumah. Ada beberapa urusan penting yang harus diselesaikan di kantor desa, jadi kamu makan siang sendiri nggak apa-apa, kan?"

Nara terdiam sejenak, lalu kemudian mengangguk. "Iya," jawabnya.

Hatinya sedikit bergetar, Sagara memberitahukan kegiatannya padanya. Apa dia benar-benar menganggap serius pernikahan ini?

***

Bersambung ...

1
Maseni Maseni
perasaanmu sudah terjawsb oleh sagara ga usah repot cari cari cara ya nara

cukup layani suamimu, hormati, jaga dari pelakor
dijamin bucin tuh Aa saga
lanjut kak 😍/Coffee//Rose/
Maseni Maseni
awalnya nara kasihan ma sagara yg tersiksa , nanti tinggal nara yg tersiksa

lanjut kak
Maseni Maseni
kalau orang kaya tuh makanya getuk ya nara😀

wuih bau baunya ibu mertua bakal ketagihan masakan nara nih
lanjut kak 😍/Coffee//Rose/
Anvika: Siap Kak🤗🥰
total 1 replies
Maseni Maseni
huahaha nara takut digigit ibu mertua
Maseni Maseni
hahaha nara lucu, ditanya ukuran malah marah .....tinggal bilang aja size 38 cup B😀

mereka dekat dengan cara yg lucu
makasih upnya kak😍/Coffee//Rose/
Anvika: Heheh, malu dia Kak🤭

Siap Kak, makasih juga sudah membaca karyaku🥰🥰💕
total 1 replies
Maseni Maseni
nah gitu dong nara..... balas dendamnya cantik halus
dan suami juga seneng
hati hati menhaga istri ya sagara

lanjut /Coffee//Rose/
Anvika: Siap Kak💕
total 1 replies
Hosniyah Niyah
lanjut Thor ❤❤❤💞💞💞😘😘😘👍👍👍👌👌👌
Anvika: Siap Kak😍🥰🥰🥰
total 1 replies
Maseni Maseni
wuih bisa balas kesongongan sang mantan nih

balas dendam yg elegan dengan suami sah ya nara
yg akhirnya tumbuh rasa cinta
lanjut kam
Anvika: Siap dilanjut, kak🤗
total 1 replies
Maseni Maseni
wah bakal ada tantangan besar nih buat sagara, memperjuangkan cintanya atau jadi anak yang takut miskin?

hayo pilih mana kak othornya
Anvika: Sagara sudah bucin mampus Kak 🤭 jadi milih jadi miskin beliau 😁
total 1 replies
Maseni Maseni
ayo gara cari tau ke ibu mertua apakah istrimu pergi ke jakarta? jangan lupa minta alamatnya

atau jangan jangan nanti pas gara pulang dari kantor melihat nara naik motor sagara

lanjut kak 😍
Maseni Maseni: yesss
total 2 replies
fabdul
Lanjut💪
Anvika: Siap 😊
total 1 replies
Maseni Maseni
balas dendamnya dibantu suami ya nara
libatkan sagara semua akan bere
lanjut kak😍
Anvika: Siap Kak🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
sakit ya. bang... cinta blm berbalas....
tenang aj bang... nara juga mulai suka lho..
Maulidia Okta
sabar bang.... emang rada sulit njelasin orang yg tetlanjur sakit hati..
Maulidia Okta
bucin bang...
Anvika: Bucin dia Kak 🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
mau nalas dendam nich ceritanya
Maulidia Okta
ikut penasaran thor
Maulidia Okta
semakin menggelitik pesona sagara.....
Maseni Maseni
makin dibaca makin asyik nih cerita
Anvika: Wahhh, makasih Kak 🤗 😍
total 1 replies
Maseni Maseni
betul bu ratna, cara menampar mulut tetangga macam nurlela tuh emang harus dengan kepastian

lanjut A saga ma neng nara
semangat kak😍
Anvika: Siap Kak, makasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!