"Saya akan berikan kamu satu milyar, jika kamu bisa melahirkan anak laki-laki untuk saya!"
Demi kesembuhan sang ibu, malam itu Aluna mengambil keputusan yang begitu besar dalam hidupnya
Arjuna Bimantara, pengusaha ternama yang ingin mencari seorang wanita untuk melahirkan penerus bagi Bimantara sebab istrinya yang super model menolak memberikan anak
Akankah kesepakatan Arjuna dan gadis muda itu menghadirkan cinta? Atau selamanya Aluna hanya akan menjadi istri rahasia pria bernama Arjuna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EMPAT BELAS
Keduanya berada dirumah sederhana milik keluarga Aluna hingga siang hari. Aluna memang ingin menikmati masakan sang ibu dan terpaksa Arjuna mengiyakan
"Kakak" Suara teriakan membuat penghuni meja makan menoleh
"Azzura" Aluna bangun dan berlari menuju sang adik, hal yang membuat Arjuna ketar-ketir mengingat istrinya itu tengah hamil muda
Keduanya saling berpelukan, Aluna benar-benar merindukan keluarganya
"Kakak apa kabar? Aku telepon gak pernah bisa" Azura melepas diri dari perlakuan sang kakak
"Kakak kan kerja dek, gak bisa main HP"
Gadis remaja itu mengangguk, mencoba mengerti pekerjaan sang kakak mengingat uang yang Aluna berikan tidaklah sedikit
"Terus kenapa kakak kesini? Gak takut dimarahin sama majikan kakak?"
"Kakak kesininya sama tuan Arjuna"
Barulah Azzura melongo ke meja makan dimana seorang pria tampan berbadan tegap duduk disana
"Majikan kakak ganteng banget" Bisiknya membuat Aluna mendengus
"Kamu jangan liatin cowok ganteng! Fokus aja sama sekolah" Gadis manis itu menyengir, menunjukkan deretan giginya yang rapi
"Mau sampai kapan kalian disini? Ayo makan! Kasian itu tuan Arjuna nungguin" Diah terpaksa menyusul anak-anaknya karena tidak enak pada pria yang sejak tadi diam saja
Aluna makan dengan sangat lahap, masakan sang ibu hanyalah masakan sederhana namun terasa sangat istimewa
"Pelan-pelan nak?" Diah jadi ngeri sendiri
"Masakan ibu enak banget, Aluna kangen banget sama masakan ibu"
"Kakak udah kayak orang ngidam aja"
Aluna terbatuk-batuk, dengan penuh perhatian Arjuna memberinya segelas air bahkan pria itu sampai mengusap punggung sang istri
Hal itu jelas menarik perhatian Diah, Arjuna tidak bersikap seperti majikan. Sikap ini malah seperti seorang suami yang memberikan perhatian pada istrinya
"Kamu baik-baik aja nak?" Tanya Diah lalu menoleh pada putri bungsunya "Kamu tuh bicara terus, kasian kakakmu"
"Maaf yaa kak" Azzura merasa bersalah
"Gak pa-pa, tadi kakak emang buru-buru makannya" Aluna menunjukan senyumnya
"Kamu tidak apa-apa?" Arjuna memastikan
"Saya baik-baik aja tuan, terima kasih" Keempatnya kembali melanjutkan makan siang hingga tiba saatnya Aluna harus meninggalkan rumah orang tuanya
Mobil mewah itu melaju meninggalkan kediaman sederhana itu, Diah dan putri bungsunya masih berada di beranda rumah hingga mobil milik Arjuna hilang dari pandangan
"Aku kok ngerasa kalau kak Luna sama tuan itu punya hubungan lebih" Ucap Azzura tiba-tiba
"Maksud kamu?"
"Tuan Arjuna keliatan perhatian banget sama kakak"
Diah terdiam, ia pun merasakan hal yang sama. Harusnya hubungan seperti itu tidak terjadi mengingat siapa Aluna dan siapa pria yang bersamanya
"Mungkin emang tuan Arjuna itu baik sama pekerjanya, sudahlah! Ayo masuk! Gak usah mikir yang macem-macem"
***
"Kamu senang?" Tanya Arjuna saat keduanya berada didalam mobil, sejak tadi istrinya itu senyum-senyum sendiri
Aluna mengangguk "Banget, terimakasih yaa tuan. Ngidam saya akhirnya terpenuhi"
"Saya cuma tidak mau anak-anak saya ileran" Pria tampan itu kembali fokus pada jalanan didepannya
"Saya tau"
"Oh iya, apa sudah ketahuan jenis kelaminnya?" Tanya Arjuna, dirinya memang tidak pernah menemani istrinya itu saat melakukan pemeriksaan
"Kata dokter Samuel, tunggu sampai masuk trimester kedua" Jawab Aluna
"Baiklah, bulan ini saya akan temani kamu periksa"
"Sungguh?" Aluna tampak antusias
Ya, Aluna hanyalah wanita biasa yang ingin ditemani suaminya saat menjalani kehamilan
Namun ia tidak menuntut apapun, Aluna sadar siapa dirinya ini bagi pria disampingnya
Arjuna mengangguk "Saya ada waktu sampai satu Minggu kedepan"
Sesampainya dirumah wanita hamil itu malah tertidur, sudah kenyang maka membuat siapa saja akan mengantuk
Arjuna turun lebih dulu, ingin membangunkan namun urung karena wanita ini terlihat lelah
Perjalanannya memang cukup jauh, berada di jalan selama berjam-jam pasti membuatnya lelah
"Apa nona Aluna tidur?" Tanya Joseph yang menghampiri sang atasan
"Hmm"
"Biar saya pindahkan kekamar!" Pria tampan berdarah eropa itu membuka pintu dimana Aluna terlihat pulas
Joseph sedikit membungkuk namun suara Arjuna membuatnya kembali tegak
"Biar saya saja" Pria bermata biru itu mengangguk lalu menyingkir dari sana
Tubuh wanita hamil itu sudah berada dalam gendongan suaminya, Aluna menggeliat namun kembali pulas
Tanpa sadar Arjuna menarik sudut bibirnya, wajah polos wanita dalam gendongannya membuat hatinya menghangat
Tiba dikamar pun tidak membuat Aluna terbangun, Arjuna menuju kamar mandi untuk membersihkan diri
"Tuan" Joseph mendekat saat Arjuna menuruni anak tangga
"Ada apa Joseph?"
"Ada kabar dari rumah utama" Arjuna mengernyit
"Ada kabar apa? Apa para baji____ itu sudah pergi dari sana?" Joseph diam, ia adalah saksi betapa sakit hatinya Arjuna pada ayah serta istrinya
"Tuan William ingin mencalonkan diri sebagai wali kota periode tahun ini"
Arjuna diam, ayahnya itu jelas ingin melambungkan lagi namanya
Karena menikahi Rose Bimantara, William kecipratan nama besar itu. Sekarang pria serakah itu ingin mencalonkan dirinya agar semakin kokoh dipuncak popularitas
"Kita lihat apa dia bisa mencapai mimpinya itu"
"Tuan ingin kita melakukan apa? Apa perlu kita gagalkan?" Tanya Joseph
"Tidak perlu Joseph! Kita tidak perlu membuang waktu dan tenaga, baji____ itu tidak akan mendapatkan apapun yang dia inginkan"
"Baiklah"
"Saya mau menemani Aluna untuk periksa kandungan, saya tidak ingin melewatkan masa bahagia ini hanya karena sampah seperti William"
Arjuna kembali kekamar nya, disana istrinya masih terlelap. Pria itu tersenyum, ikut berbaring disamping istrinya sambil menatap wajah yang polos itu
"Tetaplah disamping ku, Aluna" Bisiknya seraya mengusap pipi lembut itu
Arjuna menghela napasnya, walaupun ia berusaha membenci, nyatanya perasaan cinta itu masih ada
Zoya adalah cinta pertama nya, tidak mudah untuk melupakan cinta pertama. Namun saat ini Arjuna begitu membenci wanita itu
Ia trauma akan cinta, seperti tidak percaya akan wanita. Namun detak jantung ini berbeda saat melihat Aluna
Ada perasaan hangat terlebih saat melihatnya tersenyum. Namun kembali pada kenyataan bahwa wanita ini adalah wanita biasa yang tidak akan bisa bersama pria problematik seperti dirinya ini
"Setelah bayi ini lahir, saya akan membebaskan kamu" Ucapnya sambil menarik wanita itu kedalam dekapannya
Aluna menggeliat, ia merasa pinggangnya terasa berat. Perlahan manik indah itu terbuka
Aluna menatap wajah tampan yang tersaji dihadapannya, begitu nyaman, rasanya ia tidak ingin ini berakhir
Aluna berusaha melepas pelukan suaminya namun pria itu sepertinya sadar karena adanya pergerakan
"Mau kemana?" Tanya Arjuna dengan suara serak, matanya juga belum terbuka
"Saya lapar"
Pria tampan itu membuka matanya, Aluna dapat melihat mata tajam bak elang itu lebih dekat
"Mau makan apa? Biar saya minta pelayan untuk menyiapkan makanannya" Arjuna beringsut bangun disusul oleh sang istri
"Tidak perlu, kasian mereka pasti udah pada tidur" Aluna merasa tidak enak membangunkan para pelayan ditengah malam seperti ini
"Itu sudah tugas mereka" Bagaimana Arjuna menjelaskan jika Aluna harus bersikap seperti ratu
"Saya bisa makan apa saja, mie instan juga gak apa-apa"
Aluna menyadari kesalahannya saat melihat wajah galak sang suami. Harusnya ia ingat saat Wulan dan Bona hampir kehilangan nyawa hanya karena semangkuk seblak
"Saya makan buah saja" Cicitnya
"Ayo ke dapur! Biar saya yang buatkan" Cepat sekali raut wajah itu berubah, baru beberapa detik lalu Aluna terlihat sedih sekarang terlihat begitu bahagia