Sejak menjalankan misi dari SKAK, kehidupan Fabian Bara Akalanka mulai membaik. Bahkan, dia bisa membalas dendam kepada mantan kekasihnya—Adara Sandria.
Namun, belum sempat Fabian menuntaskan semua misi, system tersebut mendadak rusak. Lantas, dia dihadapkan pada rahasia besar yang ada di balik SKAK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berselisih
Setibanya di dekat Fabian, Adara langsung bertanya perihal motor dan vila, dari mana uang yang digunakan untuk membeli aset tersebut.
"Memangnya itu penting buatmu?" Fabian balik bertanya. Nada suaranya santai, seolah-olah sengaja meremehkan Adara.
"Nggak penting sih, cuma ... mana tahu kamu mencuri atau merampok. Hal yang merugikan orang lain itu harus diurus, jadi ... sebelum aku bawa polisi ke mari, mending kamu jujur dari mana mendapatkan uang sebanyak ini," jawab Adara tak mau kalah.
"Dari dulu aku punya uang, kamu aja yang nggak tahu." Fabian membalas ucapan Adara tanpa menoleh. Sedari tadi perhatiannya terfokus pada motor.
"Kamu jangan belagu ya! Jangan mentang-mentang bisa membeli motor dan vila, jadi kamu merasa seimbang denganku. Asal kamu tahu ya, motor dan vila ini nggak ada seperempatnya hartaku, paham?" Kali ini bukan Adara yang menjawab, melainkan Zayan.
Lelaki itu menyahut penuh emosi karena sikap Adara yang mendadak peduli pada Fabian. Meski bibirnya terus melontarkan tuduhan pedas, tetapi mata Adara menyirakan kekaguman, dan hal itu tidak luput dari perhatian Zayan.
"Yang bilang seimbang juga siapa. Aku cuma nggak mau aja dituduh mencuri atau merampok karena uang ini murni milikku sendiri," jawab Fabian, lagi-lagi dengan sikap santai.
"Tapi, dulu kamu nggak punya uang? Bahkan, untuk sekali makan aja harus menghabiskan separuh gaji. Mana bisa untuk membeli vila?" timpal Adara.
"Kamu aja yang nggak banyak tahu," sahut Fabian.
"Maksudmu apa?" tanya Adara.
"Sayang, udah. Nggak usah banyak tanya sama dia. Mungkin uang ini hanya hasil menang undian, nggak akan bertahan lama. Ayo, pergi saja! Aku akan mencarikanmu hunian yang lebih mewah dari ini," ucap Zayan sebelum Fabian sempat menjawab.
"Tapi, Sayang," protes Adara.
"Udah, Ra, pergi sana. Aku juga mau istirahat kok," ujar Fabian.
"Kamu jangan sombong ya! Ingat, hartamu ini nggak akan abadi. Dalam waktu dekat, kamu akan jatuh miskin dan semua orang akan menghinamu, ngerti!" Zayan membentak Fabian sambil menunjuk tepat di wajahnya.
"Bukannya yang sombong itu kamu, ya?" jawab Fabian.
"Kamu berani?" sahut Zayan masih dengan nada tinggi.
"Aku hanya bicara apa adanya." Fabian menghela napas panjang. "Udah ya, jika ke sini cuma untuk marah-marah, mending pergi aja. Aku capek, mau istirahat," sambungnya.
Zayan makin geram, "Awas kamu, ya."
Tak lama kemudian, Zayan dan Adara pergi. Meski sebenarnya masih penasaran dan ingin bertanya lebih lanjut, tetapi Adara tak berani membantah Zayan. Untuk saat ini, hanya lelaki itu yang paling menguntungkan baginya.
Sepeninggalan Zayan dan Adara, Fabian sempat berpikir. Zayan adalah orang kaya, jelas sulit bermasalah dengannya. Karena zaman sekarang, apa pun bisa dilakukan jika ada uang. Bagaimana jika nanti Zayan mengacaukan hidupnya?
"Tapi enggak, sebentar lagi aku kan kaya. Setiap hari SKAK memberiku misi dan hadiah yang fantastis. Jadi, dalam waktu dekat aku akan punya banyak uang. Zayan ... nggak akan berkutik lagi," batin Fabian dalam kesendiriannya.
Setelah itu, Fabian melangkah memasuki vila barunya dan berhenti di dalam kamar yang ada di lantai dua. Sangat nyaman. Dengan ranjang yang berukuran besar dan empuk maksimal, juga bantal-guling dan selimut tebal, malam itu tidur Fabian sangat nyaman. Bahkan, mimpi-mimpi indah datang dengan sendirinya dan mewarnai lelapnya.
Bersambung...