Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.
Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.
Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.
Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.
Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?
"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Varren Lucien Kaelor
PLAK!
Tamparan itu menggema di ruang tamu mansion keluarga Kaelor.
Kepala Varren terlempar ke samping. Sudut bibirnya robek akibat cincin berlian yang melingkar di jari wanita di hadapannya.
Namun, ia tidak mengeluh.
Tangannya hanya terangkat perlahan, menyeka darah yang mengalir dari sudut bibir.
Tatapannya tetap datar.
Seolah tamparan seperti itu bukan lagi sesuatu yang pantas dirasakan sakit.
"Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali!"
Suara Shena Kaelor menggema memenuhi ruangan.
"Lalu apa yang kau lakukan? Kau meninggalkan Celine sendirian di markas gengmu! Gadis itu pulang sambil menangis!"
Varren tidak menjawab.
Diam.
Selalu diam.
Diam adalah satu-satunya cara bertahan hidup di rumah ini.
"Celine itu tunanganmu!" bentak Shena lagi. "Dia cantik, pintar, berasal dari keluarga terpandang, bahkan rela menunggu laki-laki keras kepala sepertimu. Tapi kau memperlakukannya seperti orang asing!"
Varren tersenyum tipis.
Senyum yang bukan karena bahagia.
Melainkan karena lelah.
"Kenapa tersenyum?" tanya Shena murka.
"Aku hanya berpikir..."
Varren mengangkat wajahnya.
"...Mama benar-benar yakin aku bisa mencintainya?"
Ruangan mendadak sunyi.
Tatapan Shena berubah tajam.
"Maksudmu apa?"
Varren mengembuskan napas pelan.
"Mama tahu alasannya."
Kalimat itu terdengar pelan.
Tetapi cukup untuk membuat wajah Shena kehilangan warna.
Untuk pertama kalinya, wanita itu tampak takut.
"Bungkam."
"Aku hanya mengatakan kenyataan."
"BUNGKAM!"
PLAK!
Tamparan kedua mendarat lebih keras.
Tubuh Varren terhuyung.
Sudut bibirnya kembali robek.
"Aku tidak mau mendengar satu kata pun lagi!" bentak Shena. "Kau adalah putra keluarga Kaelor! Kau akan menikahi Celine! Dan kau akan menjalankan semua yang sudah kutentukan!"
Varren menatap ibunya tanpa rasa takut.
"Putra keluarga Kaelor..."
Ia tertawa lirih.
"Kalimat itu lucu sekali."
Sorot mata Shena langsung berubah panik.
"Kau..."
"Apa Mama tidak lelah terus mengulang kebohongan yang sama?"
Seketika napas Shena tercekat.
Ia menatap seluruh ruangan dengan gelisah, memastikan tidak ada seorang pun yang mendengar percakapan mereka.
"Kalau sampai ada orang lain yang mendengar ucapanmu..." bisiknya penuh ancaman.
"Aku akan menyesal?" potong Varren.
"Itu sudah biasa."
Shena mengepalkan tangan.
"Bersiaplah. Besok kau masuk ke Kaelor Imperial Academy."
Varren mengernyit.
"Kau akan tinggal di asrama eksklusif."
Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran itu dimulai...
Ekspresi Varren berubah.
"Asrama?"
"Iya."
"Dengan... siswa lain?"
"Benar."
Shena membalikkan badan tanpa sedikit pun menoleh.
"Jangan membuat masalah. Jangan mengecewakan keluarga Kaelor."
Suara langkah sepatu hak tingginya semakin menjauh.
Meninggalkan Varren seorang diri.
Ruangan kembali sunyi.
"Asrama..."
Varren bergumam pelan.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Telapak tangannya perlahan mengepal.
Ia benci ini.
BANJINGAN!
Amarah yang selama ini ia pendam meledak dalam diam. Ia akan tidur sekamar dengan laki-laki. Ia akan mandi di kamar mandi yang sama dengan laki-laki. Ia akan berbagi ruang dengan mereka. Bagaimana jika identitasnya terbongkar? Bagaimana jika mereka mengetahui bahwa Varren—ketua geng berandal yang ditakuti itu—sebenarnya adalah seorang gadis?
Varren menggigit bibirnya sampai berdarah. Tangannya mengepal erat, kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Tapi itu tidak cukup untuk meredakan amarah yang membakar dadanya.
Ia membenci mamanya.
Sungguh, sangat membenci.
Sejak kecil, Shena tidak pernah sekali pun menunjukkan kasih sayang yang tulus. Yang ada hanya tuntutan. Hanya target. Hanya ambisi yang harus ia penuhi. Ia tidak pernah merasakan pelukan lembut. Tidak pernah mendengar kata "sayang" yang tulus. Tidak pernah merasakan kehangatan seorang ibu.
Tatapannya kosong.
Lalu untuk pertama kalinya malam itu...
Rasa takut memenuhi kedua matanya.
Besok..
Varren menyandarkan punggungnya pada daun pintu.
Perlahan.
Tubuh tegap yang selama ini tidak pernah goyah itu akhirnya kehilangan tenaga.
Bruk.
Ia terduduk di lantai.
Tangannya masih mengepal, tetapi kini mulai bergetar.
Entah karena marah.
Atau karena lelah.
Ruangan itu begitu sunyi hingga suara napasnya sendiri terdengar berat.
Di atas meja, berdiri sebuah bingkai foto yang selalu ia simpan rapat-rapat agar tidak ada seorang pun menyentuhnya.
Bukan foto keluarga.
Hanya selembar foto usang seorang pria muda yang tersenyum hangat ke arah kamera.
Pria yang bahkan tidak pernah benar-benar ia kenal.
Papa.
Varren meraih bingkai itu dengan kedua tangan.
Ujung jarinya mengusap wajah pria dalam foto tersebut seolah takut senyum itu ikut memudar.
"Papa..."
Suaranya nyaris tak terdengar.
"Apa Papa benar-benar tidak pernah menginginkan aku?"
Tidak ada jawaban.
Hanya hujan yang semakin deras menghantam jendela.
Bibir Varren bergetar.
"Kenapa Papa tidak pernah datang...?"
Satu tetes air mata jatuh mengenai bingkai foto.
Disusul tetes berikutnya.
Dan berikutnya lagi.
"Kalau Papa ada disini...."
Ia menggigit bibirnya sendiri, menahan isak yang sejak tadi ingin pecah.
"...apa Papa juga akan memaksaku hidup seperti ini?"
Dadanya terasa sesak.
Selama bertahun-tahun ia bertahan.
Selama bertahun-tahun ia meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.
Bahwa ia cukup kuat.
Bahwa ia tidak membutuhkan siapa pun.
Namun malam itu...
Seluruh pertahanannya runtuh.
Ia memeluk bingkai foto itu erat-erat, seolah sedang memeluk seseorang yang selama ini hanya hidup di dalam khayalannya.
"Aku capek, Pa..."
Tangisnya akhirnya pecah.
"Aku benar-benar capek..."
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Pangeran Kaelor yang selalu terlihat dingin dan tak terkalahkan itu menangis seperti anak kecil yang kehilangan arah.
Ia menangisi seseorang yang bahkan tidak pernah sempat memeluknya.
Seseorang yang wajahnya hanya ia kenal lewat selembar foto.
Dan malam itu, di tengah hujan yang tak kunjung reda, Varren hanya memiliki satu harapan...
Semoga di suatu tempat, papanya masih hidup.
Dan suatu hari nanti...
Datang menjemputnya pulang.
Bersambung