Ayuna putri yang akrab dipanggil Yuna ini terpaksa menikah dengan pria yang tidak dikenal sebelumnya karena berdasarkan tradisi adiknya tidak boleh menikah terlebih dahulu sebelum sang ayah kakak
Awalnya ia setuju tapi saat dirinya sah menjadi istri dari Yusuf Mahendra malah dipertemukan dengan pria yang selama ini ditunggu.
Yang tidak lain adalah pria yang ingin dinikahi oleh adiknya sendiri
Bisakah Yuna menerima kenyataan yang ada di depan matanya? Dan menerima Yusuf suaminya seutuhnya?
maraton bacanya entah bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marianay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan siang
#IPARKU_MASA_LALUKU_10
ku membalas pelukannya, aku takut bertatap dengannya. Hingga saat ini aku belum ada rasa padanya. Aku hanya takut dia meninggalkanku seperti yang dulu ku alami.
Cukup aku yang merasakannya. Walau belum ada cinta. Aku akan berusaha mempertahankan hubungan ini.
Aku mendengar jantungnya berdetak kencang, apa dia juga jantungan. Kok bisa sama sih.
"Bang? Besok kita cek kerumah sakit ya. Kayaknya Abang sakit jantung, kencang banget detaknya" dia terdiam menyimak setelah itu tertawa, apa yang lucu?
Aku tak tau. Bingung?_?
"Apa yang lucu sih bang?" Aku kesal melepaskan diri paksa. Dia masih tertawa. Kucubit lengannya dia melenguh kecil setelahnya tertawa lagi. Aku kan khawatir.
Aku menyentak langkah pelan menuju kasur. Aku bersiap tidur dia masih tertawa.
"Bang. Diam gak, kalau gak tidur di lantai malam ini" aku berteriak pelan. dia diam mendadak
"Gak mau dek, disini aja" dia ikut naik keranjang. Merebahkan diri disampingku. Dia ingin memeluk
"Jangan peluk-peluk, aku marah. Sana peluk guling tuh" aku benar-benar dongkol dibuatnya.
"Yahh. Jangan marah dong dek, maaf ya. Kalau Abang meluk guling gak ada bedanya sama jomblo dong" dia merengek, aku hanya bisa tersenyum menahan tawa, suaranya sungguh lucu.
"Itu mah derita Abang"
"Maaf ya. Jangan marah " aku tak mau berdebat. Tangannya menyusup ke perutku. Aku tak melawan lagi.
"Maaf ya dek" dia menarikku menghadapnya
"Jantung ini memang berdetak kencang jika dekat sama kamu. Yang jelas bukan sakit jantung" dia menarik tanganku kedadanya, dan benar. Aku jadi malu.
Tangannya menyusup diantara helaian rambutku. Aku memenjamkan mata.
"Kamu cantik dek" mendadak mataku terbuka lebar, aku benar-benar malu dipuji gini. Dia terkekeh. Ku balikkan badan membelakanginya lagi. Selalu digoda. Kan malu
"Ihh. Malu-malu jadi tambah sayang" dia mendekapku erat dari belakang.
Setelah cukup lama kudengar deru nafasnya teratur. Kubalikan badan dan aku balas memeluknya, aku sangat nyaman dipelukannya. Aku pun terlelap menyusulnya di alam mimpi.
-----
Bangun saat azan subuh. Kulihat tidak ada lagi Bang Yusuf disamping. Mungkin dia sudah ku mesjid. Bergegas aku bersih-bersih dan shalat.
Aku sudah menyiapkan keperluannya dari baju maupun air untuk mandi. Aku turun ingin memasak nasi goreng, ini cukup simple.
Bang Yusuf sudah pulang ketika aku selesai masak. Memang aku masak lebih awal untuknya karena dia mulai kerja hari ini.
"Udah pulang bang? Aku udah siapin semua dikamar, cepet siap-siap, ntar keburu telat" aku menyalaminya, senyum mengembang diwajahnya. Aneh sekali
"Ah iya dek, Abang ke kamar dulu ya?" Aku hanya mengangguk samar. Lanjut sekarang nyuci lagi
Bang Yusuf sudah siap dengan pakaian yang kupilihkan. Ahh.. senangnya jadi tambah sayang, eh? Dari kapan?
"Sarapan dulu bang" dia mengangguk dan langsung duduk ditempatnya. Aku mengambil makanannya, dia memakan dengan lahap, aku terharu. Ehh? Kok jadi Lebay
Aku baru memperhatikan, dia imut sekali saat makan, uhh. Gemes. Aku ikut makan bersamanya sesekali melempar senyum. Aku jadi malu, macam ABG saja.
Selesai sudah sarapan, dia bergegas berangkat karena memang pekerjaan sudah menumpuk beberapa hari ini. Selesai sudah hanya tinggal pakaian yang belum dijemur.
Hari audah beranjak siang, aku ingat hari ini Acara makan siang bersama. Aku sudah masak untuk Bapak dan Ibu. Hana pun sudah siap berangkat bersamaku.
Setelah bersalaman dengan Bapak dan Ibu kami berdua melaju dalam hening. Aku hanya duduk dibelakang jok motor, karena memang tak tau tempat yang dituju. Setelah sampai kami memilih kursi pojok, karena memang tidak suka jadi pusat perhatian ditengah-tengah.
Setelah 5 menit menunggu Bang Yusuf dan juga Adrian belum datang, hana izin ke toilet. Aku pun sudah mengirim pesan pada Bang Yusuf tempat janjian makan siang. Asik dengan ponsel aku tak memperhatikan sekitar.
"Yuna?" Mataku membulat, aku tau itu dia, masih fokus pada ponselku tak berani melihat si empunya suara. Kudengar kursi didepanku berdecit.
"Yun, maafkan aku" aku masih diam
"Dengarkan aku, aku terpaksa melakukan ini, orang tuaku mengizinkanku menikahimu jika aku menuruti kemauan mereka. Maafkan aku" aku tak peduli
"Aku sudah mencarimu setahun ini, bahkan aku ke rumahmu tapi bukan kau yang kudapati disana"jelasnya. Aku tak tertarik.
Kami memang pindah rumah, karena Bapak sudah bisa membeli rumah baru karena sudah mendapat rezeki lebih. aku mendongak. Dasar pria. Apa katanya satu tahun?. Ck
"Kau bilang setahun? Aku bahkan mencarimu hampir 3 tahun. Tapi apa? Kau bahkan hilang bak ditelan bumi, miris bukan. Ck.. Aku cukup tau diri, dulu aku memang gadis dari keluarga miskin. Aku bahkan menunggumu hingga aku terpaksa menikah itu pun karena untukmu." aku tertawa hambar, sungguh lucu.
"Kau tahu, bertahun aku bertahan karena berharap kau kembali dan benar menikahiku. Jadi diamlah, adikku jauh lebih penting dari pada dirimu" aku masih menahan sesak didada. Sakit tapi aku harus tegar.
"A-aku tak.."
"Eh, Bang Ian udah dateng, udah lama datengnya?"
"Gak kok Han. Baru aja" balasku cepat.
Tak lama bang Yusuf pun datang, dengan kemeja digulung sampai siku. Tampannya suamiku. Eh?
"Nah tuh Bang Yusuf" Bang Yusuf duduk tepat didepanku, tadi Adrian sudah lebih dulu pindah kehadapan Hana.
Kami sudah memesan makanan, tinggal menunggu pelayan mengantarnya. Aku sebenarnya tak suka dengan suasana begini, sungguh tak nyaman, aku merasa diperhatikan.
Makanan pun hanya jadi bahan eksperimen tak membentuk karena terus ku aduk.
"Gak makan dek?" Bang Yusuf ternyata memperhatikan dari tadi
"Gak laper"
"Jangan buang makanan, ayo makan. Aa.." dia ingin menyuapiku. Aku membuka mulut hanya makan sedikit.
Dia yang menghabiskan sisa makananku. Aku memang tidak ingin makan. Dikepalaku masih berputar-putar kenangan dengan Adrian.
"Kak Yuna, Bang Yusuf dan dek Hana, aku permisi dulu ya" ujar Adrian. Semua mengangguk kecuali aku.
Dia pun sudah membayar semua makanan karena dia yang mengajak makan siang.
"Dek, kamu ikut kekantor Abang ya, mau ngenalin ke para karyawan disana" antusiasnya, aku tersenyum simpul.
"Boleh, bosen juga dirumah, oh ya Han? Bisa pulang sendiri kan"
"Bisa dong. Hana gitu loh" aku hanya terkekeh pelan.
Aku menaiki mobil bang Yusuf, tak lama mobil melaju membela jalanan meninggalkan tempat kami makan siang, sekitar 15 menit mobil Bang Yusuf sampai disebuah gedung 20 tingkatan mungkin kurang lebih.
"Ayo masuk"dia menarik tanganku, kami berjalan beriringan. Aku jadi malu jadi pusat perhatian begini.
Di ujung ruangan besar ini aku dan Bang Yusuf berhenti, dia berbalik. Mengumpulkan para karyawan dengan pengeras suara. Dia benar-benar memperkenalkanku sebagai istrinya pada karyawan yang ada disini. Jadi malu
Setelah selesai perkenalan singkat itu aku dibawanya ke ruangan yang cukup megah, saat kulihat nama yang tertera dimeja, aku tau ini ruangannya.
"Duduk dek, jangan diri mulu" aku menurut, duduk disofa agak jauh dengannya. Dia duduk di meja kerjanya.
"Mau apa? Minum?
"Nasi goreng sama teh hangat aja" jawabku cepat. Dia nampak bingung
"Bukannya tadi baru makan siang"
"Tadi gak laper, sekarang udah lapar, boleh ya Bang?" Dia mengenyit, aku hanya nyengir kuda.
"Oke" dia merogoh handphone dan mengetik sesuatu. Aku melihat majalah. Majalah lelaki semua. Aku jadi bosan.
Setelah menunggu 5 menit seorang wanita cantik berkelas masuk membawa pesananku.
"Pak ini pesanannya"
"Ya, letakkan saja disitu" Bang Yusuf menunjuk meja didepanku. Aku tersenyum ramah pada wanita itu yang dibalas senyum simpul darinya. Sungguh cantik.
"Makasih" dia hanya mengangguk sekilas
"Saya permisi pak, bu" aku mengangguk pelan, dia pun berlalu keluar ruangan.
Aku membuka makanan dan mulai menyuap satu persatu suapan. Kulirik Bang Yusuf seperti memperhatikan
"Abang mau?"
"Boleh, sini suapin. Kerjaan numpuk, jadi gak sempat nemenin kamu makan" aku mendekatinya membawa sisa nasi dan teh ikut serta. Kududuk didepannya mulai menyendok makanan untuknya.
"Ini makan! Buka mulutnya" Dia hanya menurut dan tetap sibuk dengan pekerjaannya. Dasar workaholic. Makanan sudah habis walau tak kenyang tapi cukup.
"Kapan kita pulang Bang? Bosen disini mulu"
"Buat dirimu nyaman dek, kita pulang nanti sore, mau baca buku di rak belakangmu ada buku buat dibaca. Kalau mau istirahat disini ada kamar untuk tidur" dia bicara panjang lebar tanpa mengalihkan pandangan dari komputer
"Mana kamar gak ada pun" tanyaku penasaran
"Itu pintu pojokan sana, buka saja disana ada kamar tapi tak terlalu besar" kukira itu pintu toilet tapi ternyata salah.
"Oke, Aku ngantuk Bang, mau tidur. Entar kalau mau pulang bangunin aja" .
Kubuka pintu, ternyata benar ini kamar lumayan luas. Merebahkan diri dikasur ruangan kecil ini dengan cepat aku tertidur.
Aku terbangun mendengar suara azan, kubuka mata, ingin beranjak tapi tak bisa. Berpaling ke samping, rupanya Bang Yusuf,bukannya tadi dia sibuk sekali bekerja, sekarang malah buat aku seperti bantal guling. lagi dan lagi dia selalu bersikap romantis.
"Bang, bangun udah sore"Dia bergumam pelan tanpa melepasku
"Bang bangunn" kucubit lengannya yang santai bertengger diperutku.
"Aww.. Apa sih dek, sakit tau?"
"Itu hukumannya dibangunin gak bisa-bisa, rasain" ucapku garang
"Ooo. Mulai garang ya? Awas kamu" dia tersenyum smirk, menarikku ke dekatnya. Dengan cepat dia menindihku.
"A-apaan ini"
*******
Hy guys like, komen, follow juga
Ig ku follow juga di @mariana_4775
love you all😍😍
jgn lupa untuk mampir ya
di Mr. Latto- latto- mencari cinta sejati