Aqila gadis cantik berusia delapan belas tahun yang baru saja menyelesaikan pendidikan nya di negara Finlandia.
Malam itu untuk merayakan kelulusan nya, Aqila berhasil kabur dari penjagaan ketat para bodyguard milik kakak nya.
Tetapi siapa yang menyangka gadis itu malah kabur ke sebuah night club terkenal di kota tempat ia tinggal dan terjebak oleh sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan?
Lalu bagaimana kisah selanjutnya? Sesuatu seperti apa yang akan menimpah dirinya? Atau mungkin sebuah jebakan?
Note:- Agar mengerti jalan cerita sebelumnya, disarankan membaca karya "Terjebak Cinta Om Mafia Possesive"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri_923, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-10- Ketahuan
"Huaaa hahaha Lia meluncur hahaha"
"Pelan-pelan Lia!" Teriak marah Lio
"Ayo Lio kejar Lia hahaha"
"Dasar nakal!"
Lio pun langsung mempercepat gerakan kaki nya yang tengah bermain di area Ice Skating mengejar kembaran nya yang saat ini meluncur begitu cepat.
Tentu kedua nya sudah sangat lihat walaupun baru berumur tujuh tahun, dan hal itu pun tak luput dari pengawasan Aqila yang hanya berdiri dan tidak berniat menikmati wahana ini.
"Ayo kita main bersama mereka" Ajak Bram seraya mengulurkan tangan nya meminta tangan Aqila untuk digenggam.
Tetapi Aqila hanya menatap malas uluran tangan itu. Mood Aqila berantakan setelah mencoba menghubungi kekasih nya tetapi tidak kunjung mendapat jawaban.
"Tidak usah di pikirkan, mungkin dia sedang asik bersama kekasih baru nya" Lanjut Bram meraih tangan Aqila lalu menggenggam nya.
"Apa-apaan sih! Lepas!" Sentak marah Aqila melepaskan paksa tangan nya.
Helaan napas berat terdengar keluar dari mulut Bram, sejujurnya ia sangat marah melihat gadis kecil nya sedang memikirkan pria lain.
Tetapi mau bagaimana pun ini salah Bram yang tidak menemani nya selama tujuh tahun ini akibat desakan Ayah nya dan juga karena perbuatan nya di masa lalu.
"Baiklah aku akan menemani mereka, jika kamu ingin bermain menyusul saja" Pamit Bram mengusap sekilas kepala Aqila lalu mulai berseluncur bebas dengan sepatu skate nya.
"Apa dia tidak ada pekerjaan lain, selain menganggu hidup ku?!" Gerutu Aqila menatap Bram yang mulai bermain dengan dua keponakan nya.
Dengusan kesal Aqila kembali terdengar setelah beberapa kali ia mencoba menghubungi nomor kekasih nya, yang untungnya Aqila menghapal nomor kekasih nya.
"Arghh! Kamu kemana sih, Rev?! Belum seminggu aku meninggalkan kamu di sana, sekarang kamu malah menghilang!" Gerutunya frustasi.
Dengan kesal Aqila meletakkan handphone nya di tempat mereka menaruh barang-barang, dan berniat bermain untuk menenangkan pikiran nya.
Tetapi baru saja Aqila hendak berjalan tetapi dering handphone menghentikan gerakan nya, dan dengan cepat Aqila mengambil kembali handphone nya.
Namun sayang nya yang berdering bukan handphone milik Aqila tetapi handphone di sebelah, milik Bram.
"Ck!" Decak kesal Aqila. Mata nya beralih mencari keberadaan pria pemilik handphone tersebut, tetapi jarak mereka sangat jauh.
Dering handphone milik Bram berhenti menandakan panggilan tersebut terlah berakhir, tetapi lagi-lagi handphone Bram berbunyi.
"Haishh merepotkan!" Dengan terpaksa dan tidak berniat untuk mengetahui siapa yang menelpon, akhirnya Aqila mengambil handphone yang terus berbunyi itu.
"Kak Grey?" Gumam bingung Aqila saat melihat panggilan itu ternyata dari kakak nya.
Dengan gerakan cepat Aqila menggeser ikon hijau di handphone Bram, lalu panggilan pun tersambung.
"Hal--"
"Kau dimana sialan!"
Aqila terperanjat kaget saat mendengar teriakan Grey di sebrang sana, terdengar sangat marah dan napas pria di sebrang sana pun sangat memburu.
"Bram! Sialan dimana kau!" Ulang Grey masih dengan nada yang sama.
"Ha-halo kak, ini aku Qila" Sahut takut Aqila.
Sesaat tidak ada sahutan di sebrang sana, Grey terdiam dan hanya terdengar deru napas berat nya.
"A-ada apa kak?" Tanya Aqila terbata-bata.
"Pulang sekarang!" Titah Grey dengan nada menekan marah.
"Kenapa kak? Kami--"
"Pulang sekarang Aqila!" Bentak Grey murka.
Panggilan terputus bersamaan dengan napas Aqila yang terasa tercekat, keringat mengalir dari kening nya padahal tempat yang sekarang ia tempati sangat dingin.
"Ada apa?" Tanya Bram yang tiba-tiba sudah berada di samping Aqila.
Mata Bram beralih menatap tangan bergetar Aqila yang memegang handphone milik nya.
"Hei, ada apa baby?" Bram mulai panik saat mata Aqila terlihat sedang menahan tangis nya. Lantas Bram langsung mengambil alih handphone nya dan melihat riwayat panggilan nya.
"Kak Grey menyuruh kita pulang dan.. Dan dia terdengar sangat marah.."
Deg!
Mata Bram langsung beralih menatap wajah Aqila, hingga beberapa saat kemudian handphone nya kembali berbunyi dan kali ini panggilan masuk dari asisten nya, Digo.
"Akhirnya anda menjawab, boss!" Seru lega Digo dengan nada panik di sebrang sana.
"Ada apa?"
"Mr.Grey merentas CCTV di rumah anda yang ada di finlandia"
Mata Bram seketika langsung melotot lebar, mengingat CCTV itu memiliki bukti kejadian malam itu walaupun tidak di lanjutkan.
"Siaal!" Geram tertahan Bram.
"Dari tadi pagi saya mencoba menghubungi boss karena ada yang mencoba merentas keamanan CCTV di rumah itu, tetapi boss tidak menjawab nya dan sekitar setengah jam yang lalu CCTV berhasil di rentas, dan ternyata ID itu milik Mr.Grey"
Wajah Bram terlihat tenang, tetapi tidak dengan matanya yang terlihat gusar. Dan tentu Aqila melihat mata gusar milik Bram.
"Aku akan tetap hidup 'kan? Kak Grey tidak akan membunuh aku 'kan? " Tanya Aqila panik memegang kedua pipi pria dihadapan nya agar menatap dirinya.
Bram tertegun sesaat, hingga akhirnya pria itu memutuskan sambungan telpon nya dan mengusap-usap tangan Aqila yang berada di pipi nya.
"Gak akan, sayang" Jawab lembut Bram dengan senyuman nya. "Mungkin aku yang akan mati di tangan kakak mu dan Papa mu" Sambung Bram dalam hati.
...****************...
*Jangan lupa like supaya author semangat🤭