Siapa sangka. Hidup bahagia bersama pria yang sangat dicintai Lala kandas begitu saja hingga akhirnya dia dijuluki sebagai pelakor. Kesabarannya telah habis hingga ia memutuskan menikah dengan pria lain. Sayangnya, Rama tidak membiarkan Lala bahagia. Dia terus mengusik hidup Lala karena baginya Lala adalah miliknya.
Bukan hanya itu saja. Pria yang dinikahi Lala juga memiliki segudang rahasia. Lala merasa frustasi melihat takdir hidupnya yang tidak pernah memihak kepadanya.
Akankah Lala bisa meraih kebahagiaan yang selama ini ia impikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BP. Bab 10
Sebenarnya Lala sangat berat melepas Rama pulang. Namun, apa yang bisa ia lakukan? Kini Lala duduk di sofa sambil menyeruput teh hangat yang baru saja dia buat. Rintik hujan di luar membuatnya hati dan pikirannya sedikit tenang. Walau terkadang rasa takut itu kembali memenuhi pikirannya. Namun, beberapa pria yang terlihat berjaga di depan rumah membuatnya bisa bernapas lega.
Lala meletakkan gelas teh di meja sebelum memakai kaca mata baca yang sudah ia sediakan. Sebuah novel fiksi menjadi pilihannya untuk melupakan rasa lelah karena sudah berjam-jam menunggu Rama.
Rama sempat mengirim pesan dan berjanji akan kembali jam delapan. Kini jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan namun Rama tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan kembali.
"Apa di jalan macet ya?" gumam Lala yang terus saja berusaha menghibur diri agar tetap tenang. Suara deringan ponsel di meja membuat Lala segera mengambil ponselnya. Wajahnya sedikit cemberut ketika melihat panggilan masuk itu berasal dari Rena.
"Halo La. Lo gak masuk kerja?"
Lala memijat dahinya sambil memejamkan mata. "Gue gak enak badan," jawabnya rada malas.
"Sakit?"
"Apa Pak Robbi marah?"
"Nah, itu dia. Pak Robbi tadi nyariin Lo."
"Terus, Lo bilang apa?"
"Ya, gue bilang aja Lo sakit. Apa lagi?"
"Ren, kayaknya gue dan Mas Rama gak jodoh dech."
"La, kenapa baru sadar sekarang? Bukannya uda dari semalam gue bilang kalau kalian memang gak jodoh. Menikahnya Rama dan Maya, itu sudah petunjuk dari Tuhan agar kalian berpisah," sahut Rena dengan nada yang sangat semangat.
"Tapi ...."
"Lo belum siap pisah dari Rama?" sahut Rena cepat.
Lala menghela napas berat. Ia membuka matanya dan bersandar di sofa. "Gue bingung. Gue cinta mati sama Mas Rama. Masih Bayangi hidup tanpa dia aja gue gak bisa. Bagaimana kalau kenyataan memang kayak gitu?"
"Karena Lo belum mencobanya La ...."
"Ren, untuk saat ini. Aku ingin memperbaiki hati. Aku belum siap putus. Masih tersimpan harapan untuk Mas Rama menceraikan Maya dan menikahiku."
"Lala Lala. Jadi cewek itu, kalau kita udah miskin. Setidaknya punya harga diri. Harga diri Lo Uda di injak-injak sama Rama. La, Lo gak jelek-jelek amat kok. Gue yakin, kalau Lo mau buka hati untuk pria lain. Pasti Lo akan bertemu dengan pria yang tulus mencintai Lo dan mau menikahi Lo."
Lala hanya diam mendengarkan ucapan Rena. Rasanya tidak hanya malam ini saja Rena menasehatinya seperti itu. Namun, Lala tidak pernah menghiraukannya. Namun, malam ini entah kenapa ucapan yang dikatakan Rena tersimpan di dalam pikirannya.
"Gue mau lanjut kerja. Lo istirahat aja ya."
"Oke. Thanks ya Ren."
"Hmmm."
Panggilan telepon terputus. Lala meletakkan ponsel itu kembali ke meja sebelum memandang ke teh yang sudah dingin. Ia tidak lagi berselera untuk menghabisinya. Sejenak ia menatap jam dinding yang sudah hampir setengah sembilan.
"Mas, apa malam ini kau tidak datang? Apa malam ini kau sedang bersama dengan Maya?"
...***...
Rama tidak bisa tenang ketika menghabiskan makan malamnya. Di meja itu bukan hanya ada Maya dan Ny. Asri. Tapi, kedua orang tua Maya juga ada di sana. Rama tidak bisa berkutik. Pria itu tidak mau sampai timbul masalah dan membuat kerja sama di antara mereka berakhir.
"Mas, ikannya mau tambah?" tawar Maya.
Rama memandang Maya sejenak sebelum menggeleng. Walau dia tidak banyak bicara, tetapi sifat pria itu membuat kedua orang tua Maya curiga.
"Rama, apa kau sakit?" tanya sang ayah mertua.
"Mas Rama tadi banyak kerjaan di kantor, Pa. Mungkin Mas Rama butuh istirahat," sahut Maya yang berjuang membela Rama di depan orang tuanya.
Rama terus saja memikirkan Lala di rumah. Apa yang dibicarakan di meja makan, sama sekali tidak dia dengarkan.
"Rama, jika kau capek. Setelah makan malam, kau bisa ke kamar bersama Maya. Mama yang akan menemani besan mama," ucap Ny. Asri.
Rama meletakkan sendok dan garpu di piring. Memang itu yang ia butuhkan sejak tadi. Rama ingin segera menghubungi Lala dan bilang sama wanita itu kalau dia akan pulang terlambat. Namun, baru berdiri dari kursi tiba-tiba Rama terlihat sempoyongan. Pria itu tidak bisa menguasai pemandangan di depan dengan baik. Maya yang terlihat khawatir segera memeluk Rama. Di bantu oleh ayah kandungnya.
"Mas, Mas baik-baik saja?" tanya Maya dengan wajah khawatir.
"Tolong bantu saya bawakan Rama ke kamar. Mungkin dia kelelahan," ujar Ny. Asri.
Kedua orang tua Maya terlihat khawatir. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa ketika pelayan pria yang ada di sana membantu Maya dan Ny. Asri membawakan Rama ke kamar. Mereka memilih menunggu di meja makan sampai nantinya Ny. Asri kembali.
Setibanya di dalam kamar, pelayan pria itu segera pergi. Maya mengambil minyak berusaha membangunkan Rama. Ny Asri sendiri terlihat tenang saja.
"Mama yang sudah buat Rama seperti ini," ucap Ny. Asri.
Maya melebarkan kedua matanya dan menatap Ny. Asri dengan tatapan tidak percaya. "Apa yang sudah mama kasih ke makanan Mas Rama, Ma?"
"Maya, kita harus bergerak cepat. Apa kau mau kehilangan Rama? Kau harus segera hamil agar Rama mau meninggalkan wanita murahan itu!" sahut Ny. Asri sedikit geram.
"Hamil?" Maya masih tidak percaya. Ia memandang wajah Rama sebelum memandang Ny. Asri lagi. "Bagaimana caranya Ma? Mas Rama pingsan."
"Maya, kalian sudah menikah. Jangan lagi kau jual mahal. Kau harus bisa menggoda suamimu sendiri. Obat itu akan bereaksi belasan menit lagi. Mama harap kau bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa mengandung anak Rama. Jika malam ini gagal, mama tidak tahu kapan lagi kita bisa melakukannya."
"Tapi, Ma-"
"Maya, mama mau menemani kedua orang tuamu. Mama harap, besok pagi mama bisa mendapat kabar baik." Ny. Asri pergi begitu saja meninggalkan Rama dan Maya di dalam kamar. Setelah pintu kembali tertutup rapat, Maya memandang wajah Rama dengan Maya berkaca-kaca.
"Kenapa takdirku harus seperti ini? Aku harus melewati malam pertamaku dengan cara yang begitu memalukan." Maya menutup wajahnya dengan tangan. Isak tangis mulai terdengar. Untuk beberapa saat dia tidak melakukan apapun hingga ada akhirnya obat yang ada di dalam tubuh Rama bereaksi.
"Lala Lala ...."
Maya menatap wajah Rama dengan tangan terkepal kuat. Dia marah dan cemburu ketika mendengar nama Lala terucap di bibir Rama.
"Tapi aku tidak mau sampai kehilangan Mas Rama. Aku sangat mencintainya. Apapun caranya akan aku lakukan asal aku bisa mempertahankan pernikahan ini!"