Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.
Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Mata yang Mengawasi
Foto di layar ponsel itu masih terlihat nyata seolah baru saja diambil detik yang lalu. Gambar itu menampilkan momen yang kami yakini hanya milik kami berdua—saat kami berdiri berdampingan di puncak bukit, berjanji untuk tidak pernah berpisah walau harus melawan arus waktu sekalipun. Namun di sudut gelap yang tak pernah kami sadari, tersembunyi bayangan samar yang diam-diam merekam setiap gerak-gerik kami. Di bawah foto itu hanya tertulis satu kalimat singkat yang cukup untuk membuat darah kami berdesir hebat: "Terima kasih telah merawat benih itu dengan sangat baik. Tak lama lagi... panen akan tiba." Nomor pengirimnya tidak bisa dilacak, seolah pesan itu datang entah dari mana tanpa jejak yang bisa ditelusuri kembali. Erlan mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih, urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang meluap-luap bercampur keprihatinan yang mendalam.
"Mereka tahu segalanya," ucapnya pelan namun penuh ketegasan yang menyakitkan. "Setiap langkah yang kami ambil, setiap tempat yang kami kunjungi, setiap kata yang terucap di antara kami... semuanya sudah tercatat dan diketahui jauh sebelum kami sendiri menyadarinya. Dan yang paling mengerikan dari semuanya ini... mereka tidak menyerang kami dengan pedang atau kekuatan dahsyat. Mereka menyerang kelemahan terbesar kami: rasa percaya yang selama ini menjadi pondasi pertahanan kami."
Aku meremas buku catatan kecil milik Dimas yang masih tergenggam erat di tanganku, jari-jariku meraba tulisan terakhirnya yang masih terasa segar dan penuh peringatan: "Jika ikatan itu retak, maka kekuatan itu akan jatuh ke tangan yang salah." Musuh yang kami hadapi jauh lebih licik dan kejam daripada sekadar pencari kekuasaan biasa. Mereka tidak ingin mengalahkan kami dari luar, melainkan menghancurkan kami perlahan dari dalam—menanam keraguan, menyebarkan kecurigaan, hingga akhirnya kami sendiri yang merusak ikatan kasih sayang yang telah kami bangun dengan susah payah melintasi waktu. Dan saat ikatan itu putus, tidak akan ada lagi yang mampu menahan mereka mengambil alih segalanya.
Keesokan harinya, suasana di dalam rumah yang biasanya terasa teduh dan aman kini berubah menjadi penuh kewaspadaan yang menyesakkan. Setiap bayangan yang bergerak, setiap bunyi pintu yang berdecit, setiap pesan yang masuk ke perangkat kami... semuanya kini terasa seperti jebakan yang sedang menanti kami lengah. Erlan segera memerintahkan penjagaan diperketat berkali-kali lipat, memeriksa setiap sudut ruangan, setiap perangkat elektronik, hingga benda-benda kecil yang tampak tidak berarti sekalipun. Namun tidak ditemukan satu pun jejak penyusup, alat penyadap, atau bukti fisik yang mencurigakan. Seolah-olah pengawasan itu tidak dilakukan melalui benda mati, melainkan melalui sesuatu yang jauh lebih dekat, jauh lebih halus, dan sama sekali tak kasat mata—sesuatu yang sudah menyatu dengan kehidupan kami sehari-hari.
Siang itu, saat kami sedang kembali menelusuri tumpukan arsip lama di ruang kerja dengan harapan menemukan petunjuk yang terlewatkan, sebuah kejadian tak terduga mengubah seluruh pandangan kami. Saat Erlan berdiri mengambil sebuah dokumen dari rak paling atas, sebuah kotak kayu kecil yang tersembunyi di bagian belakang rak terjatuh ke lantai dengan bunyi yang pelan namun nyata. Kotak itu terbuat dari kayu jati tua yang sudah menghitam dimakan usia, tidak memiliki kunci, hanya terikat seutas tali rami yang sudah mulai rapuh. Dengan hati-hati Erlan membukanya, dan di dalamnya tersimpan sekumpulan foto hitam putih yang tampak berusia puluhan tahun. Kami memindai satu per satu foto itu dengan penuh rasa ingin tahu, hingga pandangan kami terhenti pada satu foto yang membuat napas kami tertahan seketika.
Di dalam foto itu, terlihat kakek Erlan berdiri tegak di samping seorang pria muda yang wajahnya memiliki kemiripan yang luar biasa dengan Dimas—bukan sekadar mirip, melainkan persis seperti saudara kandung yang terpisah waktu. Pakaian mereka kuno, namun tatapan mata pria itu sama persis dengan tatapan sahabat kami: penuh kesetiaan yang tak tergoyahkan, namun tersembunyi kesedihan yang mendalam di baliknya. Di bagian belakang foto itu tertulis tulisan tangan kakek Erlan yang sedikit miring seolah ditulis dengan perasaan haru: "Penjaga yang tak pernah berhenti menjaga, meski harus melupakan siapa dirinya sendiri demi menjalankan tugas yang diembankan."
Darahku terasa berdesir hebat menyadari makna tersembunyi di balik kalimat itu. "Dimas..." suaraku bergetar pelan, "dia bukan sekadar sahabat yang datang secara kebetulan, bukan? Dia adalah pewaris tugas yang diturunkan dari generasi ke generasi. Sejak lahir, hidupnya sudah diikat untuk melindungi kalian, melindungi ikatan ini... bahkan jika ia harus mengorbankan ingatannya sendiri, bahkan jika ia harus mengorbankan nyawanya sendiri demi menjaga rahasia ini tetap utuh."
Erlan menatap foto itu lama sekali, matanya perlahan berkaca-kaca menahan rasa haru dan kehilangan yang mendalam. Potongan-potongan teka-teki yang selama ini membingungkan kami kini perlahan menyatu menjadi satu gambaran yang utuh. Mengapa Dimas selalu muncul tepat di saat yang paling kritis? Mengapa ia begitu paham akan hal-hal yang bahkan kami sendiri belum ketahui? Mengapa ia rela berkorban sedemikian rupa seolah itu adalah takdir yang tak bisa ia tolak? Dan pesan terakhirnya sebelum menghilang... ia tahu persis apa yang akan terjadi pada dirinya jauh sebelum kejadian itu benar-benar terjadi.
Namun di tengah rasa hormat dan rindu yang meluap, muncul pertanyaan baru yang jauh lebih mengerikan: Jika Dimas adalah penjaga setia yang telah bersiap seumur hidupnya, lalu siapa yang diam-diam mengawasi sang penjaga? Dan mengapa musuh mengetahui persis cara untuk melumpuhkannya hingga harus mengorbankan dirinya sendiri?
Sore itu, saat kepenatan mulai merayap dan aku mencoba mencari sedikit ketenangan di taman belakang, mataku menangkap sesuatu yang terselip di bawah pot bunga besar yang rimbun. Sebuah kertas yang dilipat rapi, seolah sengaja diletakkan di sana agar aku menemukannya. Dengan tangan yang mulai gemetar, aku membuka lipatan kertas itu dan seketika itu juga darahku terasa membeku di pembuluh darah. Di atasnya terdapat sketsa gambar wajahku dan Erlan yang berdiri saling berhadapan, namun di antara kami tergambar sosok bayangan kecil yang memegang benang halus yang mengikat kedua pergelangan tangan kami. Di bagian bawah sketsa itu tertulis pesan yang membuat bulu kuduk meremang:
"Penjaga sudah pergi. Kini giliran benang itu diputus satu per satu. Pertama, hilangkan rasa percaya... lalu ambil sisanya."
Belum sempat aku berteriak memanggil Erlan, langkah kaki terdengar mendekat dengan irama yang tenang namun penuh ancaman. Bukan langkah kaki Erlan. Langkah itu begitu ringan, begitu luwes, dan begitu akrab di telingaku. Saat aku perlahan menoleh ke arah sumber suara, kakiku terasa lemas seketika hingga hampir membuatku terjatuh.
Di sana berdiri Sari. Wanita yang dulu bersekongkol dengan Rian dan Paman Dika untuk merenggut nyawaku, yang kami yakini sudah tertahan rapat di balik jeruji penjara bersama sekutunya. Namun kini ia berdiri tegak di hadapanku dengan senyum miring yang penuh kemenangan yang menyakitkan, dan di tangannya tergenggam sebuah liontin kecil yang persis sama dengan milikku—namun berwarna hitam pekat yang menyerap segala cahaya di sekitarnya.
"Kau pikir tembok penjara yang dibangun manusia cukup kuat untuk menahan kami?" ucapnya dengan nada yang terdengar manis namun penuh kebencian yang tak terhingga. "Kau pikir hanya ada satu atau dua orang yang menginginkan hancurnya kalian? Kasihan sekali kalian... kalian bahkan tidak sadar bahwa musuh terdekat kalian sudah berdiri tepat di samping kalian sejak lama sekali, menunggu waktu yang tepat untuk menampakkan wajah aslinya."
Erlan berlari mendekat secepat kilat saat mendengar suaraku yang tercekat ketakutan. Namun saat matanya menangkap sosok Sari, ia segera menarikku dengan sigap ke belakang tubuhnya yang kokoh, seolah menjadi perisai terakhir yang tersisa. "Kau seharusnya terkunci rapat di tempat yang tak bisa kau sentuh dunia luar!" bentaknya dengan suara bergetar menahan amarah yang meluap. "Siapa yang membebaskanmu? Dan untuk tujuan apa kau kembali?"
Sari tertawa kecil, suara tawanya terdengar menggema di antara pepohonan taman yang sunyi. Perlahan ia mengangkat jari telunjuknya menunjuk tepat ke arah pergelangan tangan kiri Erlan. "Bukan aku yang membebaskan diriku. Aku hanya melaksanakan perintah dari tuan yang sebenarnya. Dan tahukah kau... tanda yang kau banggakan sebagai warisan leluhur itu? Itu bukan tanda perjanjian suci atau perlindungan. Itu adalah tanda kepemilikan. Dan saat tuanku memanggil... kau tidak akan memiliki kekuatan sedikit pun untuk menolak perintah apa pun yang ia berikan."
Tiba-tiba Erlan meringis menahan rasa sakit yang tajam, tangannya mencengkeram pergelangan tangannya yang perlahan mulai bersinar merah samar. Matanya sempat berubah kosong sejenak, seolah ada kendali asing yang perlahan mengambil alih kesadarannya. Namun dengan sisa kekuatan dan perjuangan yang luar biasa, ia berhasil melawan pengaruh itu dan kembali menatapku dengan tatapan yang masih miliknya—tatapan yang penuh kasih sayang namun juga penuh peringatan.
"Lari..." bisiknya parau, napasnya terengah-engah menahan perang batin yang sedang terjadi di dalam dirinya. "Lari dan jangan percaya pada siapa pun... bahkan pada diriku sendiri jika nanti aku tidak lagi mengenalimu."
Sari tersenyum semakin lebar, dan di belakangnya perlahan muncul sosok bayangan besar yang selama ini kami kira sudah musnah lenyap bersama waktu. Sosok yang wajahnya masih tertutup kabut tebal, namun suaranya yang berat dan bergema seolah membuat tanah di bawah kaki kami bergetar pelan:
"Selamat datang kembali, penerus takdir yang sesungguhnya. Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai..."