NovelToon NovelToon
SANGHYANG RASA

SANGHYANG RASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:532
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.

Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.

Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.

Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.

Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.

Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.

Dan apinya... baru saja mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 : FITNAH SEMAKIN KUAT

Matahari sudah naik tegak di atas langit Galuh, menyinari halaman istana yang biasanya riuh namun pagi ini hening menyesakkan. Di Balai Agung, Prabu Kertayuda duduk diam di singgasana tinggi, tangannya perlahan mengetuk lengan kursi. Di sebelahnya Permaisuri Dyah Wulandari terus memandangi pintu masuk, seakan menanti sesuatu yang membuat hatinya gelisah.

Pintu besar terbuka lebar. Adipati Rangga Sasmita melangkah masuk diiringi Panglima Ki Wira Kusuma dan puluhan pengikutnya. Wajah Bupati tampak penuh kesungguhan, namun di sudut matanya tersembunyi senyum kemenangan yang tak terlihat siapa pun.

"Melapor, Baginda," ucap Adipati sambil bersujud hormat.

"Ceritakan apa yang kau temukan, Rangga. Kami sudah menunggu sejak tadi pagi," kata Raja tenang namun nada bicaranya menyiratkan harap-harap cemas.

Adipati mengangkat kepalanya perlahan, menatap lurus ke arah Prabu.

"Baginda, seluruh desa di wilayah selatan gempar. Semua orang sudah tahu siapa pelaku sesungguhnya pencurian harta pusaka Kerajaan Galuh. Tak lain dan tak bukan adalah Bayu Suta, Si Pemanah Rasa."

Suasana seketika berubah riuh rendah. Para pejabat saling berpandangan, berbisik-bisik satu sama lain.

"Benarkah begitu keterangannya?" tanya Prabu, suaranya sedikit bergetar menahan keterkejutan.

"Benar sekali Baginda," sambung Adipati Rangga dengan lantang.

"Sudah banyak saksi mata yang melihat dirinya berkeliling malam sebelum kejadian di sekitar gudang. Anak buah kami juga menemukan jejak langkahnya yang sama persis dengan tapak yang ada di halaman istana."

"Belum lagi bukti nyata berupa panah peninggalannya yang menancap di tiang penyangga. Tak mungkin ada orang lain yang memiliki benda sakti pusaka leluhur yang begitu khas bentuknya."

Panglima Wiraatmaja yang berdiri di sisi kiri balai maju selangkah.

"Akan tetapi Adipati, sampai hari ini tak pernah sekalipun terlihat sifat serakah atau berniat jahat darinya. Selama ini ia selalu hadir untuk menolong desa yang tertindas, melindungi rakyat dari perampok. Bagaimana mungkin tiba-tiba ia melakukan perbuatan hina begini?"

"Itulah hebatnya akal busuk orang yang pandai menyembunyikan niat," potong Adipati Rangga Sasmita cepat.

"Ia sengaja berbuat baik sedemikian rupa agar semua percaya, agar tak pernah ada yang curiga. Padahal sejak awal ia sudah merencanakan ini semua demi mengumpulkan kekuatan untuk melawan kekuasaan Raja. Ingatlah Baginda, ia berasal dari desa yang selalu merasa dirugikan oleh aturan Kadipaten. Dendam itu sudah lama tersimpan di hatinya."

Ki Wira Kusuma ikut menyahut dengan nada tegas.

"Hamba juga mendapat laporan, Baginda. Sejak ia menemukan busur sakti itu, sikapnya perlahan berubah. Sering terlihat sombong, tak mau tunduk pada perintah pejabat yang sah. Tanda-tanda itu sudah ada sejak lama, hanya saja kita semua buta karena terpesona akting baiknya."

Prabu Kertayuda menghela napas panjang, matanya menerawang ke kejauhan. Di satu sisi ia sangat ingin percaya pada pemuda yang pernah menyelamatkan putrinya dari bahaya, namun di sisi lain laporan yang datang bertubi-tubi tampak begitu menyakinkan.

"Belum ada keputusan yang akan diambil saat ini. Kami perlu menyelidiki lebih dalam lagi," ucap Raja akhirnya.

"Ampun Baginda! Jangan sampai kita terlambat!" seru Adipati Rangga seakan sangat khawatir.

"Kalau ia sudah membawa lari harta itu ke tempat persembunyiannya, nanti akan semakin sulit ditelusuri. Belum lagi dikhawatirkan ia akan membagi-bagikan emas itu kepada orang-orang yang juga memendam rasa tidak suka pada Kerajaan, lalu bersatu menyerbu kita."

Di sudut ruangan, Larasati berdiri mematung mendengar semua tuduhan itu. Tangannya meremas ujung selendang erat sekali. Bukti nyata sudah ada di markas Jaka Jagad, tapi mengapa semua orang justru semakin yakin bahwa Bayulah pelakunya? Ia hendak maju melapor, namun langkahnya terhenti saat melihat betapa kuatnya pengaruh perkataan Rangga Sasmita. Kalau ia bicara sekarang tanpa membawa barang bukti fisik, dikhawatirkan malah ia yang akan dituduh bersekongkol.

Setelah sidang selesai, Larasati berjalan cepat menyusul ayahnya menuju ruang pribadi.

"Ayahanda..." panggilnya pelan.

Raja berbalik, melihat raut wajah putrinya yang tampak bimbang.

"Ada apa, Larasati? Kau tampaknya ingin mengatakan sesuatu sejak tadi."

Larasati menunduk sejenak, mengumpulkan keberanian. "Ayahanda, harta itu tidak dibawa oleh Bayu. Hamba menemukannya tersimpan rapi di dalam gua di Wana Kelor. Dan di sana juga ditemukan tanda-tanda milik gerombolan Jaka Jagad, bahkan ada topeng yang dibuat persis menyerupai wajah Bayu untuk menyesatkan kita."

Mata Prabu sedikit melebar, namun keraguannya belum sepenuhnya hilang.

"Apakah kau yakin itu bukan jebakan yang sengaja disiapkan? Bisa saja Bayu menyuruh orang lain menyembunyikannya di sana agar terlihat seolah ia yang dituduh sewenang-wenang. Dunia ini penuh dengan akal yang licik, Putriku. Kita tak boleh terlalu cepat percaya pada apa yang terlihat di permukaan."

"Tapi Ayah, semua cirinya jelas mengarah pada Jaka Jagad. Mengapa Ayah masih meragukan?"

"Karena Adipati Rangga Sasmita juga membawa banyak keterangan dari puluhan orang yang mengaku melihatnya. Banyaknya kesaksian ini membuatku sulit menentukan mana yang benar-benar nyata dan mana yang rekayasa," jawab Raja lembut namun tegas.

"Biarkan waktu yang membuktikan. Untuk sekarang, perintah tetap berlaku: cari keberadaan Bayu, bawa kemari untuk dimintai keterangan lebih lanjut."

Di sepanjang jalan kembali ke kediamannya, hati Larasati terasa semakin perih. Bahkan ayahnya yang bijaksana pun mulai goyah. Kalau Raja saja demikian, bagaimana dengan rakyat biasa yang hanya mendengar kabar sepihak?

Benar saja. Di pasar pusat kota, di pinggir jalan, hingga di kedai makan tempat para petani beristirahat, nama Bayu Suta kini diucapkan dengan nada kebenci.

"Dulu saya pikir dia malaikat penolong, ternyata setan penyamar!"

"Pantas saja selalu diam, pasti sedang merencanakan kejahatan!"

"Kalau tertangkap, seharusnya dihukum seberat-beratnya! Itu harta hasil keringat kita semua!"

Hanya sedikit orang yang masih ragu, namun mereka tak berani bersuara takut dimusuhi banyak orang.

Di Kadipaten Ciaruteun, Adipati Rangga Sasmita tersenyum puas sambil duduk di kursi empuknya. Ki Wira Kusuma berdiri tak jauh darinya.

"Rencana berjalan lancar sekali, ki Rangga. Raja mulai ragu, rakyat sudah marah besar. Tak lama lagi nama Bayu akan hancur sepenuhnya," ucap Panglima itu.

"Belum selesai sepenuhnya," jawab Adipati pelan. "Selama dia belum tertangkap dan belum dihukum mati, kita belum merasa aman. Suruh Jaka Jagad bersembunyi lebih jauh lagi, jangan sampai ada jejak yang tertinggal yang bisa membongkar semua rekayasa ini."

"Siap Ki Rangga."

Sementara itu jauh di dalam hutan, di tempat persembunyiannya yang tersembunyi, Bayu duduk diam mendengarkan cerita dari Mbah Suryanata yang baru pulang membawa kabar dari kota. Karta duduk bersandar rapat di sampingnya, tangannya memegang erat ujung baju kakaknya.

"Semakin lama, semakin banyak orang yang membenci Kakang. Padahal Kakang tak melakukan apa-apa," ucap Karta dengan suara gemetar.

Bayu mengusap kepala adiknya perlahan. "Biarlah mereka membenci sekarang. Yang penting hati kita tahu kita tak bersalah. Seberat apa pun fitnah yang ditimpakan, selama kebenaran masih ada, ia pasti akan terungkap juga pada waktunya."

Namun meski bibirnya berkata begitu, dalam hati Bayu sadar: badai yang datang kali ini jauh lebih dahsyat daripada apa pun yang pernah dihadapinya. Musuhnya tak hanya satu orang, melainkan orang yang memegang kekuasaan, yang pandai memutarbalikkan fakta hingga terlihat seolah-olah kejahatan itulah yang tampak benar.

Langit Galuh tampak cerah bersinar, namun di tengah cahayanya, awan gelap fitnah semakin menebal menutupi pandangan mata siapa saja.

Kini saatnya mereka berjuang bukan hanya melawan pedang atau tombak, melawan sesuatu yang jauh lebih tajam dan mematikan: kata-kata yang sudah tertanam di dalam hati ribuan orang.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!