NovelToon NovelToon
Menantu yang Dihinakan

Menantu yang Dihinakan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Steele

Evan Wibawa sudah terbiasa menjadi bahan hinaan keluarga Halim. Di mata mereka, ia hanya menantu miskin yang menumpang nama istrinya, Gracia. Namun satu malam di Kediaman Halim mengubah semuanya: hadiah yang dihancurkan, kebohongan yang terbongkar, dan cincin hitam yang selama ini mereka abaikan mulai menarik perhatian orang-orang yang jauh lebih berbahaya.
Di balik diamnya Evan, ada warisan keluarga Wibawa, jalur modal Apex Meridian Holdings, dan seorang ibu yang kembali dari bayang-bayang membawa bukti serta perang lama. Saat Kaleb Halim mencoba menjeratnya di HaleWorks, Evan justru menemukan pintu menuju pembalasan yang bersih, legal, dan mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Steele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Makan malam dimulai dengan semua orang pura-pura kejadian di teras tidak pernah terjadi.

Kotak kayu kenari yang patah diletakkan di meja samping dekat pintu ruang makan. Gracia sudah menyusun kepingannya sebelum duduk. Tidak ada yang berterima kasih. Tidak ada yang meminta maaf.

Evan duduk di sampingnya, di ujung jauh meja Viktor Halim.

Kaleb memastikan keheningan itu tidak sempat sembuh.

"Sebelum kita terkubur pidato," katanya sambil berdiri dengan sebuah kotak kayu mengilap, "aku membawa sesuatu yang pantas untuk acara ini."

Tatapan Viktor menghangat setengah derajat. Di Kediaman Halim, itu sudah setara tepuk tangan.

Kaleb meletakkan kotak itu di depan Viktor dan membuka kait kuningannya.

Dua belas vial kaca terbaring di atas beludru hitam. Segel lilin. Label emas. Sertifikat terlipat di balik tutup.

"Koleksi apotek pribadi," kata Kaleb. "Akhir abad kesembilan belas. Saffron, cengkeh, jeruk pahit, lada pegunungan, dan campuran cordial yang dibuat untuk tabib istana Eropa. Blake Rowe membantuku mendapatkannya."

Nama itu bekerja bahkan sebelum hadiahnya bekerja.

Blake Rowe berarti klub privat, dewan amal, undangan perumahan elite, dan uang yang tidak perlu memperkenalkan diri dua kali. Setengah meja langsung condong mendekat.

Grant Halim bersiul pelan. "Itu tidak mudah dicari."

"Nilai taksirnya delapan puluh ribu," kata Kaleb. Matanya meluncur ke meja samping. "Kurang lebih beberapa proyek kerajinan yang patah."

Tawa yang mengikuti lebih kecil daripada tawa di teras, tetapi lebih tajam.

Gracia meletakkan garpunya.

Evan memandangi vial-vial itu.

Lilinnya salah.

Bukan salah murahan. Salah profesional. Tepi yang dibuat tua dengan panas, retakan bersih, label aus di tempat yang tidak akan disentuh tangan sungguhan. Sertifikatnya tampak cukup mahal untuk menipu orang yang memang ingin ditipu.

Viktor mengangkat vial bertanda jeruk pahit.

"Jangan dibuka," kata Evan.

Seluruh meja menoleh.

Kaleb tersenyum. "Nah, muncul juga. Pakar tetap kita untuk barang-barang yang tidak mampu dia beli."

Suara Ellen rendah dan cepat. "Evan, berhenti."

Gracia tidak menyebut namanya. Ia menatap Evan seolah membutuhkan pria itu punya alasan.

Evan punya.

"Lilin itu dituakan dengan panas langsung," kata Evan. "Kerusakan penyimpanan asli menyebar tidak rata di sepanjang leher botol. Label itu memakai perekat modern. Garis minyaknya terlalu jernih untuk benda setua itu."

Kaleb tertawa. "Kamu menonton satu dokumenter lalu merasa paham obat antik?"

"Itu bukan obat kalau sertifikatnya palsu."

Viktor menurunkan vialnya.

Gerakan kecil itu mengubah meja. Tawa menipis. Kaleb melihatnya, lalu menekan lebih keras.

"Kakek, jangan biarkan dia melakukan ini. Dia membawa kotak yang nilainya lebih rendah dari tip valet, sekarang dia ingin menjatuhkan hadiah sungguhan."

Tatapan Evan tetap pada vial itu. "Harga tidak mengubah kimia."

Di ujung lain meja, Dokter Lewis Arden mencondongkan tubuh.

Ia konsultan medis pribadi Viktor, diundang karena Viktor suka memiliki dokter dalam jangkauan dan karena Ellen suka memberi tahu orang bahwa keluarga mereka punya satu. Dokter Arden menerima sertifikat ketika Viktor menyerahkannya.

Ia membaca baris pertama.

Lalu baris kedua.

Matanya bergerak ke segel cetak di bagian bawah.

Evan melihat pengenalan itu.

Gracia juga.

Kaleb menepuk tangan sekali. "Sempurna. Dokter, katakan padanya dia sedang mempermalukan diri sendiri."

Dokter Arden menatap Viktor sebelum menjawab.

Tatapan Viktor mengeras.

Itu bukan ancaman yang bisa dikutip siapa pun. Itu pekerjaan, undangan, rujukan, dan nama Halim yang dipadatkan menjadi satu tatapan.

Dokter Arden berdeham. "Ini benda pajangan yang bagus."

Kaleb merentangkan tangan. "Tuh."

"Saya tidak menyarankan membuka, membakar, mencicipi, atau menghirup apa pun di dalam kotak ini tanpa konfirmasi laboratorium," tambah sang dokter.

Meja kembali sunyi.

Gracia menatap Evan.

Evan berkata, "Itu bukan peringatan standar."

Dokter Arden meletakkan sertifikat dengan hati-hati, seolah kertas itu bisa menodainya.

Wajah Kaleb memerah. "Kamu tidak tahu apa yang kamu bicarakan."

"Jika campuran cordial itu mengandung minyak almond pahit sintetis dan Viktor sedang memakai obat jantung, ia tidak boleh menghirupnya untuk demonstrasi di meja makan."

Tangan Viktor bergerak ke saku jas sebelum ia menghentikannya.

Gracia juga melihat itu.

Ia sudah hidup bersama Evan selama tiga tahun. Ia mengenal diamnya, jaket murahnya, caranya menepi ketika kerabatnya membutuhkan sasaran. Ia tidak mengenal pria yang bisa membaca barang palsu dari lilin dan minyak sementara dokter bayaran keluarga berusaha tidak mengakuinya.

"Kita harus mengujinya," kata Gracia.

Ellen membentak, "Gracia."

Viktor menutup kotak itu.

"Cukup."

Kaleb menatapnya. "Kakek, serius?"

"Aku bilang cukup." Suara Viktor meratakan ruangan. Ia menatap Dokter Arden. "Untuk pajangan saja?"

Dokter itu berhenti sejenak.

"Untuk pajangan saja paling aman."

Viktor mengangguk sekali, lalu menoleh kepada Evan.

"Kamu tidak akan mengubah makan malam syukur menjadi kuliah dari pria yang belum mendapatkan tempatnya di meja ini."

Itu dia.

Kebenaran sudah terlihat. Kebenaran sudah dipangkas. Kebenaran kini akan dihukum jika ada yang bersikeras menyebut namanya.

Kaleb duduk, diselamatkan oleh gengsi Viktor. "Pajangan saja karena berharga. Mengerti."

Grant mengangkat gelas anggurnya. "Mungkin memang sebaiknya barang antik tidak dipegang-pegang saat makan malam."

Ia membuatnya terdengar masuk akal. Itulah bakat Grant: membuat kepengecutan terdengar seperti kebijakan.

Gracia tidak ikut tertawa. Matanya bergerak dari kotak tertutup itu ke tangan Dokter Arden.

Dokter itu melipat kedua tangannya di pangkuan.

Kaleb mencondong ke arah Evan. "Coba jangan periksa kalkunnya. Sebagian dari kami ingin makan."

Ponsel Evan bergetar sekali di kaki.

Ia menunggu.

Grant mulai berbicara tentang izin Port Meridian. Ellen membetulkan posisi duduk seorang sepupu. Kaleb menuang anggur yang tidak ia butuhkan.

Baru setelah itu Evan memeriksa pesan di bawah tepi meja.

Nomor aman tidak dikenal.

Tuan Wibawa, saya di luar. Ketua Kresna meminta panggilan aman. Kebijaksanaan Anda dihormati. - Markus Belawan

Di bawah teks itu terlampir sebuah gambar: cincin hitam Wibawa di bawah lampu teras.

Gracia melihat tepi layar sebelum Evan menggelapkannya.

"Siapa Markus Belawan?" tanyanya pelan.

Evan menyelipkan ponsel kembali ke saku.

Di seberang meja, Kaleb masih tersenyum di atas kepalsuan yang tertutup.

"Seseorang," kata Evan, "yang mendokumentasikan sesuatu dengan benar."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!