NovelToon NovelToon
Skandal Di Balik Layar

Skandal Di Balik Layar

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: Rizaidhan Luthfian

Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penguasa di Balik Bayang-Bayang

Kaca patri raksasa di lantai tiga puluh enam gedung perkantoran milik Ajo memantulkan bayangan seorang wanita yang berdiri anggun, menyesap kopi hitam dari cangkir porselen mahal. Di luar, hujan deras mengguyur Jakarta, membilas sisa-sisa badai media yang seminggu lalu menghantam nama Ajo dan Adam.

Namun di dalam ruangan ini, tidak ada kekacauan. Hanya ada ketenangan dingin yang dirancang dengan sangat presisi.

Maya memutar tubuhnya perlahan, melangkah menuju meja kerja jati tempat Ajo biasa mengambil keputusan. Dengan gerakan lambat yang hampir terasa seperti ritual kemenangan, ia menduduki kursi kulit eksekutif itu. Jemarinya yang dihiasi cat kuku berwarna merah darah mengelus permukaan meja yang dingin.

Dokumen alih kuasa dan akuisisi darurat tergeletak di hadapannya.

Masyarakat dan media menduga Maya adalah korban tragis dari skandal skema plagiarisme dan pencucian uang yang dibocorkan Adam. Dunia mengasihaninya. Publik melabelinya sebagai "wanita berbakat yang dikorbankan oleh persaingan dua pria berdarah dingin." Alibi itu begitu sempurna, dibungkus dengan air mata buatan dan pernyataan pers yang penuh kepedihan hingga seluruh industri berpihak padanya.

Namun realitasnya jauh lebih gelap.

Malam ketika Ajo mengamuk dan memukul Adam di Gala Premiere, bukan Adam yang mengendalikan sistem peretasan layar raksasa itu. Itu adalah Maya.

Maya menggunakan akses rahasia yang pernah ia curi dari komputer Ajo saat mereka masih menikah, dikombinasikan dengan celah keamanan jaringan perusahaan Adam yang sengaja ia pelajari saat berpura-pura menjadi mitra bisnisnya. Ia sengaja mengadu domba kedua pria itu, memicu amarah Ajo hingga memukul Adam di depan puluhan kamera, lalu membiarkan Ajo menghilang karena rasa bersalah pada Elsa.

Dengan Ajo yang buron tanpa kabar dan reputasinya hancur di mata hukum, otoritas rumah produksi berada dalam kondisi vakum. Di sinilah Maya melangkah masuk—bukan sebagai musuh, melainkan sebagai "penyelamat". Dengan memanfaatkan alibi bahwa ia adalah mantan istri sekaligus kreditur terbesar yang dirugikan, Maya mengeksekusi klausul pengambilalihan aset darurat yang sudah ia persiapkan sejak dua tahun lalu.

Ia tidak hanya menguasai rumah produksi Ajo; ia menduduki takhta kekuasaannya.

"Nona Maya," pintu ruang kerja berketuk pelan. Sekretaris Ajo yang baru melangkah masuk dengan wajah pucat dan tangan gemetar. "Tim pengacara dari pihak Adam sudah menunggu di ruang rapat utama. Tuan Adam sendiri yang datang."

Sudut bibir Maya terangkat tipis. Sebuah senyuman dingin yang tidak pernah disaksikan oleh Ajo maupun Adam selama bertahun-tahun.

"Biarkan dia menunggu sepuluh menit lagi," ujar Maya santai, suaranya halus namun meneteskan racun. "Buat dia merasa tidak berdaya, seperti yang selalu dia lakukan pada orang lain."

Di ruang rapat utama, Adam duduk sendirian di seberang meja oval. Penampilannya yang biasa klimis kini tampak berantakan. Bekas lebam di rahangnya akibat pukulan Ajo masih berwarna keunguan, dan lingkaran hitam melilit matanya. Saham distributor filmnya merosot tajam pasca-insiden pemukulan yang viral, dan para investor memburunya tanpa ampun.

Adam merasa ia telah menghancurkan Ajo, namun ia tidak sadar bahwa ia sedang berjalan masuk ke dalam perangkap yang jauh lebih mengerikan.

Pintu ganda mahoni terbuka. Maya melangkah masuk, tidak lagi mengenakan raut wajah rapuh seorang korban, melainkan dibalut setelan jas hitam terstruktur dengan aura dominasi yang pekat. Di belakangnya, lima pengacara hukum papan atas berjalan mengekor.

Adam mendongak, berusaha menegakkan punggungnya untuk mempertahankan sisa-sisa keangkuhannya. "Maya... akhirnya kau datang. Kita harus membicarakan strategi untuk menuntut Ajo sampai dia tidak punya apa-apa lagi. Aku sudah menyiapkan—"

"Duduk, Adam," potong Maya pelan. Kata-kata itu diucapkannya tanpa nada tinggi, namun mengandung tekanan otoritas yang membuat kalimat Adam terhenti di udara.

Maya duduk di ujung meja, menyilangkan kakinya dengan anggun. Salah satu pengacaranya menggeser seberkas dokumen tebal bercap kerahasiaan tingkat tinggi ke hadapan Adam.

"Apa ini?" tanya Adam, dahi berkerut bingung.

"Itu adalah surat tuntutan ganti rugi atas pencemaran nama baik, penyalahgunaan wewenang distribusi, dan sabotage produksi Cinta Dua Batas," jawab Maya tenang, mengambil pena emas dari sakunya. "Beserta dokumen penjualan seluruh saham distribusi mu kepada konsorsium baru... yaitu perusahaanku."

Mata Adam membelalak. Rasa dingin yang mendadak menusuk mengaliri seluruh aliran darahnya. "Kau gila?! Aku yang membiayai proyek ini! Kau cuma mantan istri Ajo yang kariernya runtuh minggu lalu!"

Maya terkekeh pelan—sebuah tawa renyah, merdu, namun begitu mematikan hingga membuat bulu kuduk para pengacara di ruangan itu berdiri.

"Kariermu yang runtuh, Adam. Bukan karierku," bisik Maya, memajukan tubuhnya menatap Adam tepat di manik matanya. "Semua bukti plagiarisme yang tayang di layar malam itu? Aku sendiri yang mengunggahnya. Dan besok pagi, bukti balik yang membuktikan bahwa kau yang merekayasa fitnah itu akan rilis ke seluruh media nasional. Kau akan didakwa atas kejahatan siber, perusakan aset, dan manipulasi pasar."

Adam tersentak mundur, napasnya memburu kencang. Wajahnya berubah pucat pasi bagai mayat saat potongan teka-teki jahat itu menyatu di kepalanya. Pria yang selama ini merasa dirinya adalah pemain catur terhebat baru saja menyadari bahwa ia hanyalah sebuah pion yang dimainkan oleh wanita di depannya.

"Kenapa...?" suara Adam bergetar hebat, runtuh oleh rasa cemas dan ketakutan yang tak tertahankan. "Kenapa kau lakukan ini, Maya?! Aku memberikan apa pun yang kau mau waktu kuliah dulu! Aku merebutmu dari Ajo karena aku menginginkanmu!"

Mata Maya berkilat oleh kegelapan dan kepahitan yang tersimpan bertahun-tahun.

"Kamu dan Ajo tidak pernah benar-benar menginginkanku, Adam," desis Maya, suaranya rendah dan penuh dendam yang pekat. "Kalian berdua hanya menjadikan aku sebagai piala untuk memuaskan ego 'Tiga Jenderal' kalian. Ajo mencintaiku karena ingin terlihat sempurna, dan kamu merebutku hanya untuk membuktikan kamu lebih kuat dari Ajo! Kalian memperlakukanku seperti objek!"

Maya berdiri, menekan kedua telapak tangannya ke meja jati, menatap Adam yang kini tampak begitu kecil dan hancur di kursinya.

"Sepuluh tahun aku diam, menyaksikan kalian berdua bermain menjadi penguasa di industri ini. Kalian pikir kalian bisa mengendalikan hidup wanita seperti aku dan Elsa?" Maya tersenyum manis, senyuman yang menyembunyikan iblis di dalamnya. "Ajo sudah kubuat hancur dan melarikan diri bagai penakut. Dan sekarang... giliranmu, Adam. Aku akan mengambil setiap sen uangmu, setiap jengkal kekuasaanmu, hingga kau tidak punya apa-apa lagi selain nama busukmu."

"Kau iblis, Maya..." bisik Adam dengan napas tersengal, air mata penyesalan dan keputusasaan akhirnya menetes di pipinya yang lebam.

"Bukan, Adam," bisik Maya di telinga Adam sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan. "Aku hanyalah mahakarya dari permainan yang kalian ciptakan sendiri."

Maya melangkah keluar dari ruang rapat, meninggalkan Adam yang terkulai hancur di tengah kejayaan yang baru saja dirampas. Saat ia berjalan menyusuri koridor megah itu, ponsel di saku jasnya bergetar. Sebuah laporan satelit menunjukkan bahwa mobil Ajo dan Jimi baru saja memasuki perbatasan Jakarta.

Maya menatap layar ponselnya, lalu tersenyum tipis. Badai belum berakhir. Justru, mangsa utamanya baru saja kembali ke sarangnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!