Jourrel Alvaro, pembunuh bayaran yang selalu melakukan pekerjaannya dengan sangat bersih tanpa kendala berarti. Banyak para pejabat atau pengusaha yang menyewanya untuk menghabisi musuh-musuh mereka.
Cheryl Anastasia, gadis 24 tahun yang berbakat menjadi seorang arsitek. Darah seni mengalir dari ibunya, sedang jiwa kepemimpinan merupakan turunan dari sang ayah.
Suatu hari, Jourrel dibayar untuk menghabisi nyawa Cheryl. Namun seolah memiliki nyawa seribu, gadis cantik itu selalu lolos dari kematian.
Hingga akhirnya, kekaguman Jourrel meluluhkan hatinya. Ia kalah dan justru jatuh cinta dengan Cheryl karena gadis itu ternyata bukan gadis lemah. Memiliki banyak talenta luar biasa.
Akankah Cheryl membalas cintanya? Lalu bagaimana jika ayah Cheryl yang seorang ketua mafia dapat mengendus pria bayaran itu mengincar putrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 : DENDAM DAN PENASARAN
"Aduduh! Bu, ini Jourrel!" pekik lelaki itu merunduk sembari menghindari pukulan-pukulan telak wanita itu.
Mendengar pekikan suara yang dikenal, Dina menghentikan aksinya, kemudian menyalakan saklar lampu, sedari tadi rumah mereka sudah gelap.
"Haih! Ngapain kamu tengah malam, ngendap-ngendap kaya maling?!" seru Dina, wanita yang telah melahirkannya.
Akhirnya, Jourrel bisa bernapas lega setelah pukulan telak menghujam tubuhnya, telah berhenti. Ia menegakkan punggungnya kembali.
"Aku pikir ibu sudah tidur, takut ganggu." Pria itu melenggang pergi. Meletakkan baju-baju kotornya lalu hendak ke kamar.
"Eh, tunggu! Motor kamu ke mana? Ibu nggak denger suara berisik kendaraan kamu itu!" Suara Dina menghentikan langkah kaki Jourrel. Ia berhenti dan kembali menatap ibunya.
"Di bengkel, Bu. Habis jatuh," aku Jourrel.
"Apa? Kok bisa? Kamu terluka?" tanya ibunya khawatir semakin mendekati putranya, menangkup kedua pipinya.
"Nggak apa-apa, Bu. Ibu tidurlah, ini sudah tengah malam. Ingat apa kata dokter," ucap pria itu menepuk pelan kedua bahu ibunya dengan seulas senyum tipis.
Dina mengangguk, "Kamu juga istirahat, Nak. Pasti lelah bekerja sampai selarut ini," ucapnya.
Jourrel mengangguk, ia segera masuk ke kamarnya. Suasana berbeda pun langsung menyapa pria muda itu. Jika dari luar, rumahnya memang terlihat sederhana. Begitu pun kamarnya tampak biasa saja.
Tidak ada yang tahu, bahwa ada sebuah pintu yang menyerupai lantai kamarnya, tepat di bawah ranjang. Ibunya sendiri sama sekali tidak tahu menahu mengenai putranya.
Jourrel hanya mengaku, ia bekerja sebagai pegawai biasa di sebuah kantor. Jika pulang tengah malam, ia mengaku mengambil pekerjaan part time.
Jourrel menggeser pintu yang cukup berat, lalu memasukkan tubuhnya ke dalam lubang yang hanya berukuran 50x50 cm. Usai menuruni tangga beberapa langkah, ia mendongak untuk menutup kembali ruangan rahasianya.
Kaki panjangnya menyusuri tangga tersebut sembari menggerak-gerakkan kedua tangannya yang terasa kaku. Hingga langkahnya terhenti tepat di kursi putar lalu mendudukinya.
"Cheryl Anastasia! Perempuan gila! Seperti macan betina yang mengerang waktu diinjak ekornya," decaknya sebal menyalakan seperangkat komputer di mejanya.
Ia mencoba menelusuri identitas gadis itu. Jemarinya bergerak lincah, gerakan matanya menyorot dengan serius ke layar tersebut. Tak peduli malam yang semakin merangkak naik.
Hampir satu jam lamanya ia bergelut dengan pencarian dalam jaringan internet. Akan tetapi, Jourrel sama sekali tidak bisa menemukan identitas lengkap gadis itu.
Hanya terlihat hasil karya-karyanya yang luar biasa, rancangan bangunan interior maupun exterior dari banyaknya gedung di kota ini. "Hah! Kenapa sama sekali nggak ada biodatanya sih?!" gerutunya kesal menepuk keyboardnya. Jourrel mengerang frustasi sembari mengacak-acak rambutnya.
Tentu saja, Tiger sudah menutup semua akses yang berkaitan mengenai keluarganya. Semua media hanya akan menampilkan karya dan usaha keluarganya saja. Tidak dengan identitas pribadi mereka.
Dendam kian mulai mengakar di hatinya. Rasa penasaran pun mulai menjalar di setiap urat nadinya. Kesialan bertubi-tubi yang dialaminya hari ini, berakar dari gadis incarannya itu.
Kebenciannya membuncah sampai ubun-ubun. Mengingat namanya saja sudah membuatnya sesak napas dan ingin menghancurkannya saat itu juga.
"Selama bertugas baru kali ini gagal. Bahkan berbalik menyerang. Sial! Siapa sih sebenarnya dia? Perempuan pula. Memalukan!" geram Jourrel membuka dan menutup kepalan tangannya.
Tatapan tajamnya dilayangkan pada foto cantik Cheryl yang sudah dia cetak dan tertempel pada sudut layar komputernya. Rasa kantuknya bahkan menguap begitu saja.
Bersambung~
Jou... jangan terlalu benci. lu tau nggak singkatannya? Ehm, biar dijelasin sama para suhu ya. cek aja nanti di kolom komentar. 🙄