Pelukan Rio membuat rasa traumatik dalam diri Diana Lorenza berangsur mereda. "Ri-rio?
"Iya, aku Rio ... apa kau masih mengingatku?Aku anak kecil gila yang pernah berjanji padamu 'I promise you that i never leaves you until my life ends, and i will always trying to prove to the whole world, that our love will come true in a marriege'. Dan percayalah, anak kecil gila itu pasti akan membuktikan janjinya." Rio semakin memperat pelukannya.
Diana terdiam, membiarkan dirinya hanyut dalam hangat dan nyamannya pelukan Rio.
Namun, bisakah Rio menepati janjinya itu?
Akankah Rio bisa membahagiakan Diana yang hidupnya terus dirudung kemalangan?
Sementara Rio sendiri sudah dijodohkan dengan sepupunya!
Mungkin saja ini hanya sebatas kebahagiaan semu untuk Diana!
Follow ig: @poel_story27
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poel Story27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saudara Tiri yang Keji
Di atas ranjang empuk itu Diana merenungi nasib. Kapan semua penderitaannya akan berakhir? Kapan nasib baik akan berpihak padanya?
"Ah, sudahlah!" Diana mengibaskan tangan, mengusir berbagai pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya.
Hanya dalam mimpi Diana bisa berharap penderitaannya segera berakhir, karena di dunia nyata neraka baru sudah menanti di depan mata.
Cklek!
Diana menoleh saat pintu kamarnya mengayun terbuka, lalu disusul sosok Aiden yang berjalan mendekati ranjangnya.
"Kau mau apa?" tanya Diana ketakutan, terlebih dia tahu sejak tadi saudara tirinya itu terus menatapnya penuh maksud.
Aiden menyeringai, dia terus mendekat dengan tatapan yang penuh minat pada tubuh Diana. Tentu saja Diana langsung gelagapan, dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang hanya berbalut pakaian minim.
"Aku baru sadar, ternyata selama ini kau memiliki tubuh yang sangat menggairahkan. Bagaimana jika kita bersenang-senang dulu, sebelum kau menikah dengan pria tua itu." Aiden terkekeh sembari menampakkan seringaiannya yang keji.
Selama ini Diana memang tidak kenal yang namanya berhias, apalagi mengenakan pakaian minim. Baru kali ini Diana mengenakan short dress, itu pun karena paksaan dari Amara.
"Aiden, apa maksudmu? Jangan kurang ajar!" sergah Diana seraya menepis tangan Aiden yang ingin mencolek dagunya.
"Jangan sok jual mahal! Aku tahu kau masih perawan, lebih baik kau berikan kesucianmu itu padaku, daripada kau serahkan pada Jhoni si tua bangka!"
"Buang jauh-jauh akal busukmu itu, Aiden! Ingat, kita ini saudara!" bentak Diana dengan suara gemetar.
"Ya, aku tahu kau saudara tiriku. Yang aku tidak tahu, ternyata selama ini kau menyembunyikan tubuh yang sangat menggoda, hahaha ...."
Aiden terus mendekat, sedangkan Diana beringsut menghindar. Diana semakin ke pinggir hingga nyaris terjatuh, tapi secepat kilat Aiden menyambarnya.
"Lepaskan, Aiden. Kau gila!" Diana berusaha mendorong tubuh saudara tirinya itu sekuat tenaga.
"Ayolah, Diana ... kita lakukan atas dasar suka sama suka. Aku bisa mengajarimu cara bercinta, agar kau menjadi ahli sebelum melayani Jhoni nanti. Aku yakin tua bangka itu tidak akan mempermasalahkan keperawananmu!" bujuk Aiden melancarkan aksi biadabnya.
"Jangan mimpi, aku tidak sudi melayani nafsu binatangmu!" Diana berusaha lepas dengan memukuli Aiden sekuat tenaga.
Sayangnya tenaga Diana kalah jauh dibanding saudara tirinya itu. Sehingga Aiden dengan mudah berhasil meredam perlawanan Diana, lalu dia membanting tubuh gadis malang itu ke tengah ranjang.
Aiden yang isi pikirannya sudah dikuasai hawa nafsu iblis, tidak sabar untuk segera menikmati tubuh Diana.
Dalam satu sentakan Aiden berhasil merobek dress Diana yang berbahan tipis. Kini yang tersisa hanyalah dalaman yang menutupi bagian pribadi Diana.
Diana terus menggeleng, bersamaan dengan air matanya yang tumpah menganak sungai. Dia tidak kuat melawan Aiden, tapi dia juga tidak sudi menjadi budak nafsu saudara tirinya tersebut.
Mata biadab Aiden menyusuri kulit mulus Diana yang kini terekspos bebas, dia menelan ludah.
"Sempurna!" gumam Aiden. Secepat kilat dia melepas pakaian sendiri, lalu naik ke atas ranjang.
Setiap orang memiliki insting alami untuk melindungi diri, begitu juga dengan Diana. Lututnya mengayun ke atas, dan berhasil menghantam sumber kekejian yang ingin dilakukan Aiden.
Pria itu meraung kesakitan, tapi dia tidak berhenti, malah semakin beringasan. Diana yang ingin melompat turun dari ranjang, langsung ia sambar lalu dibantingnya sekali lagi.
"Kurang ajar! Rupanya kau lebih suka cara kekerasan ya!" desis Aiden murka.
Wajah pria berhati iblis itu menggelap, dia meraih kemeja yang baru saja ia lepaskan, untuk mengikat Diana.
Diana terus memohon, tapi Aiden tidak peduli. Dia mengikat tangan Diana menjadi satu ke tiang yang ada pada headboard ranjang.
"Kau pikir bisa lepas dariku, Diana? Hahaha ... kau milikku Diana ... tidak ada yang bisa menolongmu sekarang!"
Bersambung.
Ikuti terus kisah selengkapnya ya man-teman.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
tp klu tdk ada peran si ibu tiri pasti tdk seruu.