“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Bab 17: Bayangan Sirine di Gerbang Sekolah
Suara derap langkah kaki Satria dan Bara yang menggema di lantai keramik perpustakaan mendadak terasa begitu memekakkan telinga. Napas keduanya memburu, menyiratkan kepanikan luar biasa yang belum pernah diperlihatkan oleh para punggawa Black Raven itu sebelumnya. Di luar jendela perpustakaan, sayup-sayup mulai terdengar suara bising dari arah lapangan utama—suara kerumunan siswa yang berhamburan ke koridor untuk melihat apa yang sedang terjadi di gerbang depan.
Keisha Zahra Aurellia merasakan sekujur tubuhnya mendadak dingin. Darahnya seolah berhenti mengalir, dan tenggorokannya tercekat rapat. Surat penangkapan darurat? Kepolisian datang ke sekolah? Semua kata-kata itu berdengung di dalam kepalanya, berubah menjadi mimpi buruk paling mengerikan yang selama ini ia takutkan.
"Bos, kita harus gerak cepat!" seru Bara dengan suara bergetar panik, mencengkeram lengan jaket Rangga. "Dua mobil patroli polisi baru saja masuk lewat gerbang samping. Pak Gunawan sama kepala sekolah sekarang lagi digiring ke pos satpam buat menyambut mereka. Tujuan utama mereka langsung ke sini—mencari pelaku penusukan di gudang pelabuhan!"
Rangga tetap berdiri tegak di tempatnya. Sedikit pun tidak ada gurat kepanikan di wajah tampannya. Sorot mata kelam pemuda itu menatap lurus ke depan dengan kepala dingin, seolah ia sudah memperhitungkan konsekuensi terburuk dari setiap tindakan yang ia ambil di dunia jalanan. Namun, ketenangan itu mendadak retak saat ia menoleh ke samping dan melihat Keisha yang sudah menangis tersedu-sedu, menatapnya dengan pandangan penuh keputusasaan.
"Kak Rangga..." cicit Keisha parau, air matanya tumpah tak terbendung membasahi pipinya. Ia melangkah mendekat, mencengkeram erat ujung jaket kulit Rangga dengan tangan bergetar hebat. "Ini... ini semua gara-gara aku... Kalau waktu itu aku nggak diculik dan Kakak nggak nekat nolongin aku, Kakak nggak bakal buron kayak gini... Polisi... polisi bakal nangkep Kakak..."
Rangga merendahkan sedikit tubuhnya, menyamakan tinggi mereka, lalu dengan lembut menangkup kedua pipi Keisha yang basah oleh air mata. Ibu jarinya mengusap lembut kulit wajah gadis itu, menghapus setiap tetes kesedihan yang tumpah karenanya.
"Hei... dengerin aku, Keish," ucap Rangga dengan suara baritonnya yang sangat tenang, begitu dalam dan penuh kepastian. "Jangan pernah bilang ini salah lo. Apa pun yang terjadi di luar sana, itu adalah pilihan yang udah aku ambil sendiri. Aku nggak pernah nyesal sedikit pun."
"Tapi penjara, Kak...! Masa depan Kakak..." isak Keisha semakin menjadi-jadi, keputusasaan meremukkan dadanya.
"Dengar," potong Rangga tegas namun lembut. "Selama aku masih bisa berdiri di hadapan kamu, tidak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa misahin kita—bahkan penjara sekalipun. Tapi untuk sekarang, aku nggak boleh tertangkap di sini dengan cara yang nggak adil."
Rangga beralih menatap Satria dan Bara yang berdiri tegang di belakangnya. "Sat, Bara. Bawa Keisha keluar lewat pintu darurat belakang perpustakaan sekarang juga. Bawa dia ke tempat yang aman, jauh dari kerumunan polisi."
"Bos, terus gimana sama lo?" protes Satria tidak terima. "Lu nggak bisa nyerahin diri begitu aja atau kabur sendirian!"
"Aku nggak nyerah, Sat. Aku cuma mau beresin masalah ini dengan cara aku sendiri," jawab Rangga dingin penuh otoritas. "Cepat bawa Keisha pergi dari sini!"
Sebelum Keisha sempat melayangkan protes atau menolak perintah tersebut, Bara dengan sigap namun hati-hati merangkul bahu Keisha untuk membimbingnya mundur menjauh dari meja sudut perpustakaan.
"Maaf ya, Keish... Kita harus nurutin perintah Bos sekarang demi kebaikan dia juga," bisik Bara penuh penyesalan, menarik paksa langkah kaki Keisha yang terus memberontak sambil memanggil nama Rangga di tengah isak tangisnya.
"Kak Rangga! Jangan... jangan tinggalin aku...!" teriak Keisha histeris, air matanya mengalir deras, menciptakan pemandangan paling menyayat hati yang membuat dada Rangga bergemuruh hebat.
Rangga mengepalkan tangan kirinya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak emosi luar biasa di dalam dadanya saat melihat gadis yang dicintainya diseret pergi menjauh untuk menyelamatkan diri. Setelah bayangan Keisha benar-benar menghilang di balik pintu darurat belakang, ekspresi wajah Rangga kembali berubah menjadi dingin dan tanpa kompromi.
Brak!
Pintu utama perpustakaan terdorong terbuka secara paksa dengan suara berdebam keras. Tiga orang petugas kepolisian berseragam lengkap, didampingi oleh Pak Gunawan dan Kepala Sekolah Haryono, melangkah masuk ke dalam ruangan dengan sorot mata tajam memindai setiap sudut ruangan.
"Rangga Dewantara Aldebaran!" panggil salah seorang perwira polisi dengan suara tegas, mengangkat selembar surat perintah penangkapan di tangan kanannya. "Atas laporan kepemilikan senjata tajam dan keterlibatan dalam kasus kekerasan berat bersenjata di kawasan pelabuhan tua malam kemarin, Anda kami tangkap untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Jangan melakukan perlawanan!"
Pak Gunawan menggelengkan kepalanya kecewa, menatap murid berandalannya itu dengan helaan napas berat. "Sudah saya bilang berkali-kali, Rangga... tindakan brutal kamu cepat atau lambat pasti akan membawa kamu berurusan langsung dengan hukum."
Rangga tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya berdiri. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap lurus kepada para petugas kepolisian yang kini mulai melangkah mendekatinya dengan borgol besi di tangan. Sedikit pun tidak ada rasa takut atau penyesalan di manik mata kelam pemuda itu.
"Saya tahu hak saya," jawab Rangga dengan nada suara datar yang sangat dingin, memecah keheningan ruangan perpustakaan. "Dan saya akan ikuti proses hukum ini kooperatif... tanpa perlu kalian borgol."
Sebelum petugas kepolisian sempat mendekatkan tangan mereka, Rangga melangkah maju secara sukarela, mengulurkan kedua pergelangan tangannya ke depan. Kedua petugas sempat tertegun sesaat oleh sikap tenang dan sorot mata mengintimidasi dari seorang remaja SMA yang seharusnya panik menghadapi hukum, namun mereka tetap menjalankan tugasnya membawa pemuda itu keluar dari perpustakaan.
Berita penangkapan Rangga menyebar bagai kobaran api di tengah ilalang kering di seluruh penjuru SMA Nusantara. Ratusan siswa berkerumun di sepanjang koridor utama, menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri ketika sang ketua geng Black Raven digiring keluar menuju mobil patroli polisi yang terparkir di halaman depan. Bisik-bisik, rasa kaget, hingga isak tangis dari beberapa siswi yang mengidolakannya menggema di udara yang kelabu.
Tiga kilometer dari area sekolah, di dalam sebuah mobil SUV hitam milik Satria yang berhenti di pinggir taman kota, suasana terasa begitu sunyi dan menyesakkan. Keisha duduk di kursi belakang, menatap kosong ke arah jendela kaca mobil yang mulai dibasahi oleh rintik-rintik air hujan. Air matanya sudah mengering, meninggalkan jejak basah dan mata yang sembab merah akibat menangis tiada henti.
Satria dan Bara duduk di depan dengan wajah muram, sama sekali tidak berani membuka suara untuk menghibur gadis di belakang mereka. Mereka tahu betul betapa hancurnya perasaan Keisha saat ini.
"Sat..." cicit Keisha pelan dengan suara parau yang hampir tak terdengar, memecah keheningan di dalam kabin mobil. "Kak Rangga... apa dia bakal baik-baik saja di kantor polisi? Apa mereka bakal nyiksa dia di sana...?"
Satria menghela napas panjang, menoleh ke belakang lewat kursi pengemudi menatap Keisha dengan sorot mata penuh simpati. "Tenanglah, Keish... Jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Lo tahu sendiri siapa ayah Rangga—Danendra Aldebaran. Meskipun hubungan mereka nggak akur, pria tua itu punya pengaruh besar dan kekuasaan hukum yang cukup buat nyelesaiin kasus hukum putranya di kantor kepolisian. Rangga nggak akan dibiarin hancur begitu saja di dalam sel."
Meskipun mendengar penjelasan tersebut, rasa cemas di dalam dada Keisha sama sekali tidak berkurang. Ia tahu persis bahwa masalah ini tidak akan selesai semudah membalikkan telapak tangan. Penusukan itu nyata, darah di lengan Rangga nyata, dan ancaman musuh bebuyutan mereka dari kelompok Viper masih terus mengintai di luar sana.
Keisha menundukkan kepalanya, meremas ujung bajunya erat-erat. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia membuat sebuah janji suci yang tidak akan pernah ia langgar seumur hidupnya: apapun yang terjadi, betapapun kerasnya dunia luar berusaha memisahkan mereka, ia akan menunggu kepulangan sang penguasa malam.
Malam harinya, di dalam ruang tahanan sementara kantor kepolisian sektor kota, suasana terasa begitu dingin dan pengap. Cahaya lampu neon kuning berkedip redup dari langit-langit sel yang berdindingkan jeruji besi tebal. Rangga duduk bersila di atas lantai semen yang dingin, menyandarkan punggungnya pada tembok bata kasar. Lengan kanan atasnya yang dibebat perban masih sedikit terasa berdenyut nyeri setiap kali ia bergerak, namun rasa sakit fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan beban pikiran yang sedang bergelayut di kepalanya.
Pintu besi sel mendadak terbuka dengan suara berderit nyaring. Seorang petugas kepolisian melangkah masuk membawa secangkir air mineral, lalu berhenti di depan jeruji besi sel Rangga.
"Aldebaran," panggil petugas itu tegas. "Ada tamu yang datang menemui kamu di ruang pemeriksaan utama. Pengacara keluarga sudah datang bersama ayahmu."
Rangga mendengus pelan, menampilkan seulas senyuman miring yang sinis. Tanpa banyak bicara, ia bangkit berdiri dari lantai semen, membersihkan debu di celana abu-abunya, lalu melangkah keluar dari sel mengikuti petugas menuju ruang pemeriksaan.
Di dalam ruangan berukuran sedang yang terang benderang itu, Bapak Danendra Aldebaran sudah berdiri tegak di dekat meja dengan tangan terlipat di dada, didampingi oleh seorang pengacara berjas rapi yang membawa setumpuk berkas dokumen hukum. Raut wajah Danendra tampak dingin, kaku, dan dipenuhi oleh kemarahan tertahan yang siap meledak.
Begitu pintu tertutup dan Rangga masuk ke dalam ruangan, Danendra langsung menatap anak laki-lakinya dengan sorot mata menusuk tajam.
"Hebat," buka Danendra dengan nada suara rendah yang dingin dan penuh sindiran tajam. "Belum cukup sekolah mempermalukan nama keluarga kita lewat surat skorsing massal kemarin, sekarang kamu berhasil masuk kantor polisi dengan kasus penusukan dan perkelahian jalanan. Mau jadi apa kamu sebenarnya, Rangga?!"
Rangga berdiri tegak beberapa meter di hadapan ayahnya. Sedikit pun tidak ada rasa gentar atau rasa bersalah di wajah tampannya. Ia menatap lurus manik mata Danendra dengan sorot mata dingin yang persis sama dengan milik ayahnya.
"Kalau Bapak datang ke sini cuma buat menceramahi saya dan memperpanjang masalah, lebih baik Bapak tanda tangani saja surat pelepasan kuasa hukum dan biarkan saya membusuk di penjara," balas Rangga tanpa ragu sedikit pun, suaranya terdengar sangat datar dan menantang.
Danendra mengepalkan rahangnya, nyaris kehilangan kendali atas emosinya. Namun, sebelum kemarahan sang ayah meledak menjadi bentakan besar, pengacara keluarga buru-buru maju menengahi situasi menegangkan di antara mereka berdua.
"Tolong tenangkan diri kalian berdua," ucap sang pengacara tenang sambil merapikan kacamatanya. "Tuan Muda Rangga, kedatangan Tuan Danendra ke sini bukan untuk memperkeruh keadaan, melainkan untuk menyelesaikan proses pembebasan bersyarat Anda malam ini juga. Berkas laporan dari pihak sekolah dan pelabuhan sudah berhasil diredam berkat pengaruh koneksi hukum keluarga Aldebaran."
Mendengar kata-kata itu, alis Rangga sedikit terangkat. "Pembebasan bersyarat?" tanyanya dingin. "Apa syaratnya?"
Danendra menghela napas panjang, meredam amarahnya, lalu menatap anak tunggalnya itu dengan tatapan penuh ultimatum mutlak. "Syaratnya sederhana, Rangga. Besok pagi, kamu harus keluar dari SMA Nusantara secara resmi, dan lusa kamu diterbangkan langsung ke luar negeri untuk melanjutkan sekolah di bawah pengawasan ketat keluarga besar kita di London."
Deg!
Mendengar persyaratan mutlak tersebut, seluruh darah di tubuh Rangga seakan mendadak berhenti mengalir. London? Dikeluarkan secara paksa dari sekolah? Dan yang paling mengerikan dari semua itu: dipisahkan secara mutlak dari Keisha Zahra Aurellia—gadis yang baru saja berhasil meruntuhkan seluruh dinding es di dalam hatinya.