"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAKAN HALUS DI RUANG TENGAH
Lampu-lampu gantung kristal di ruang keluarga kediaman Mahendra memancarkan cahaya hangat yang pendar. Jam dinding antik berlapis emas baru saja berdenting sebelas kali, menandakan malam yang kian melarut. Suara televisi layar lebar berukuran delapan puluh inci yang menayangkan pertandingan sepak bola liga Eropa menjadi satu-satunya latar belakang suara di ruangan yang megah namun terasa hening itu.
Di sofa utama, Clara duduk dengan sebuah buku novel ber-sampul tebal di pangkuannya. Sesekali matanya berpaling dari halaman buku, menyapu wajah anak-anaknya yang berkumpul di sana. Kael tidak bergabung malam ini; pria itu sudah berada di kamar tidurnya di lantai atas sejak satu jam lalu untuk beristirahat setelah seharian penuh memimpin perundingan sengit dengan keluarga Alveric.
Di sudut sofa lain, Nora tampak santai mengecat kuku jarinya dengan warna merah marun. Dengan gayanya yang selalu acuh tak acuh namun elegan, Nora sama sekali tidak terusik oleh atmosfer hening yang menggantung di ruangan. Bagi Nora, berkumpul tanpa perdebatan bisnis sang Papi adalah sebuah ketenangan tersendiri yang patut dinikmati.
Namun, keheningan itu terasa berbeda bagi Zavier.
Si bungsu keluarga Mahendra itu duduk di karpet bulu tebal, bersandar pada kaki sofa tempat Clara duduk. Di depannya, sebuah buku sketsa terbuka lebar, namun pensil di tangannya tak lagi bergerak. Sejak Raka dan Ethan pulang dari gedung Alveric Tower sejam yang lalu, Zavier menyadari ada perubahan sikap yang amat kentara dari abang keduanya itu.
Raka, yang biasanya selalu punya seribu kata godaan atau sindiran jahat yang menggelitik setiap kali melihat Zavier melukis, malam ini benar-benar bungkam. Pria itu duduk di sofa tunggal, melempar jasnya begitu saja ke sandaran tangan, dan hanya menatap layar televisi dengan pandangan kosong. Ketika Zavier menyapanya saat Raka baru tiba di rumah tadi, Raka hanya melewatinya begitu saja, seolah-olah Zavier adalah udara hampa.
"Raka..." suara Clara mengalun lembut, memecah ketegangan yang merayap pelan. Clara meletakkan bukunya di atas meja kaca. "Mami lihat kamu tidak menyentuh camilanmu sama sekali. Kamu lelah setelah rapat dengan keluarga Alveric?"
Raka tidak langsung menoleh. Ia membiarkan jeda beberapa detik sebelum akhirnya menyahut dengan nada yang terlampau datar, sangat tidak mencerminkan sosok Raka yang biasa penuh energik.
"Tidak apa-apa, Mami. Cuma agak capek saja," jawab Raka pendek. Jemarinya sibuk memutar-mutar gelas berisi air mineral tanpa berniat meminumnya.
Clara menyipitkan matanya pelan, naluri seorang ibu dengan cepat menangkap ketidakberesan. Clara tahu betul karakter anak-anaknya. Ethan memang dingin, Nora menukik tajam, Leo meledak-ledak, dan Zavier pendiam. Namun Raka... Raka yang mendadak membisu dan memancarkan aura dingin adalah pertanda ada hal besar yang mengganggu pikirannya.
"Capek rapat atau capek menahan kekesalan, Bang?" celetuk sebuah suara dari arah belakang sofa.
Leo, yang baru saja selesai meneguk minuman proteinnya setelah stretching ringan, melangkah mendekati area ruang tengah. Anak keempat keluarga Mahendra itu mengusap lehernya dengan handuk kecil, lalu mendaratkan tubuh atletisnya tepat di samping Raka. Tatapan mata Leo yang jahil dan dipenuhi rasa ingin tahu tertuju lurus pada wajah abang keduanya.
Raka melirik Leo dari sudut matanya, alisnya terangkat sebelah. "Jangan sok tahu, Leo. Mending kamu tidur, besok ada latihan pagi, kan?"
"Ah, jangan mengalihkan pembicaraan," kekeh Leo sambil menyandarkan sikunya di paha, menatap Raka dari jarak dekat dengan raut kepo yang makin menjadi. "Dari tadi waktu Abang melangkah masuk lewat pintu depan, mukanya sudah ditekuk lima lipatan. Waktu Zavier sapa 'Selamat malam, Bang', Abang cuma buang muka. Ada apa, sih? Kalian berdua ada masalah di luar?"
Zavier menghentikan ketukan pensilnya di atas kertas. Ia menoleh pelan ke arah Raka, menantikan jawaban yang sama. Zavier merasa tidak pernah berbuat salah atau berinteraksi secara langsung dengan Raka sepanjang hari ini, yang membuat sikap dingin abangnya itu makin membingungkan.
Nora, tanpa menghentikan gerakan kuas cat kukunya, menyela santai. "Paling-paling urusan pekerjaan di kantor. Leo, kamu seperti tidak tahu saja gaya Bang Raka kalau investasinya sedang terancam."
"Bukan soal investasi, Kak Nora," pangkas Leo cepat, lalu kembali menyenggol bahu Raka dengan kekehan. "Aku ini ahli membaca gestur tubuh. Ini bukan muka rugi uang, ini muka... tidak puas. Ayo dong, Bang Raka, cerita! Ada kejadian seru apa di Alveric Tower tadi sore? Abang Ethan juga mukanya lempeng-lempeng saja dari tadi."
"Leo, hentikan. Jangan mengganggu Abangmu," tegur Clara lembut namun bernada tegas, melihat rahang Raka yang makin mengetat di bawah cecaran pertanyaan Leo.
Raka meletakkan gelas air mineralnya ke meja kaca dengan bunyi klak yang cukup keras, menarik perhatian seluruh orang di ruangan itu. Ia berdiri dari sofanya, merapikan kemejanya yang sedikit kusut dengan gerakan kasar.
"Aku cuma butuh istirahat, Mami," ujar Raka seraya memutar tubuhnya, hendak melangkah menuju tangga utama.
Namun, sebelum Raka sempat melangkah lebih jauh, Zavier akhirnya bersuara dari tempat duduknya di lantai.
"Bang Raka," panggil Zavier. Suaranya berat, tenang, namun menuntut kejelasan. "Kalau ada hal dari diriku yang buat Abang tidak terkesan, katakan langsung. Tidak perlu bersikap seolah aku ini tidak ada di rumah ini."
Langkah Raka terhenti di anak tangga pertama. Ruang keluarga itu mendadak menjadi amat senja. Nora menghentikan aktivitas mengecat kukunya, Leo menegakkan posisi duduknya menyadari situasi mulai memanas, sementara Clara menatap kedua putranya dengan raut cemas yang tak bisa disembunyikan.
Raka berbalik perlahan. Tatapan matanya yang biasanya penuh dengan kilat kecerdasan santai kini menatap adik bungsunya dengan tatapan dingin yang tajam, sebuah tatapan yang belum pernah ia perlihatkan pada Zavier sebelumnya.
"Tidak ada yang salah denganmu, Zavier," balas Raka dengan suara yang amat tenang, namun tiap katanya terasa bagaikan taring yang tajam. "Kamu kan anak emas Papi. Mana mungkin kamu bisa melakukan kesalahan?"
Setelah melempar kalimat beracun itu, Raka kembali berbalik dan melangkah menaiki anak tangga menuju lantainya tanpa menoleh lagi, meninggalkan gema langkah kakinya yang menghilang di kegelapan lantai dua.
Zavier terpaku di tempatnya, matanya menatap tangga yang kosong dengan raut wajah yang membeku. Sementara itu, Clara menghela napas panjang dengan dada yang terasa sesak. Di balik tembok megah Istana Mahendra dan di tengah hangatnya ruang keluarga malam itu, benih-benih keretakan yang tak pernah disadari Zavier kini mulai menampakkan wujudnya.
Keheningan menggantung begitu berat di ruang tengah, menyisakan gema langkah kaki Raka yang telah menghilang di balik lorong lantai dua. Kalimat beracun yang baru saja diucapkannya seolah merenggut seluruh kehangatan di ruangan megah tersebut.
Leo dan Nora saling melempar tatapan penuh arti. Leo, yang biasanya selalu punya seribu lelucon untuk mencairkan suasana, kini bungkam dengan kening berkerut dalam. Ia melirik Nora, seolah meminta penjelasan dari sang kakak perempuan yang biasanya memiliki analisis paling tajam. Namun, Nora hanya mendesah pelan, menyimpan kembali botol cat kukunya ke atas meja kaca dengan gerakan yang amat tenang, walau sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa terkejut.
Clara memegang dadanya yang mendadak terasa sesak. Sebagai seorang ibu, ia tahu betul bahwa hubungan antar-saudara di keluarga Mahendra selalu dibayangi persaingan ketat, tetapi ia tidak pernah membayangkan Raka akan melontarkan kata-kata semenyengat itu langsung di hadapan adik bungsunya.
Pandangan Clara perlahan beralih, menatap lurus ke arah Ethan si anak pertama yang sejak tadi duduk diam di sudut sofa berpelindung bayang-bayang. Ethan yang memegang kendali saat Kael tidak ada, dan Ethan pula yang mendampingi Raka sepanjang pertemuan sore tadi.
"Ethan..." suara Clara mengalun gemetar, menuntut jawaban yang tak bisa ditawar. "Kenapa dengan adikmu? Apa yang sebenarnya terjadi saat rapat di Alveric Tower sampai Raka berucap seperti itu?"
Ethan tidak langsung menjawab. Pria berusia 28 tahun itu memperbaiki posisi duduknya, meletakkan cangkir teh yang sudah dingin ke atas tatakannya dengan gerakan yang terukur dan tanpa cela. Wajahnya yang kaku bagaikan pahatan batu tak menunjukkan emosi apa pun, namun ketegangan di rahangnya membocorkan kenyataan bahwa ia tahu persis apa yang berkecamuk di dalam kepala Raka.
"Tidak ada kejadian khusus di ruang rapat, Mami," jawab Ethan pendek, suaranya tenang dan terkontrol, gaya khas seorang CEO yang terbiasa menutupi krisis.
"Jangan bohong pada Mami, Ethan!" tegur Clara dengan nada yang lebih tinggi dari biasanya, membuat Leo dan Nora terkejut. Clara berdiri dari sofanya, menatap putra sulungnya penuh penekanan. "Raka tidak pernah bersikap sedingin itu pada adiknya sendiri tanpa alasan! Jangan coba-cual menutup-nutupi sesuatu dari Mami."
Ethan menghela napas pendek. Ia melirik Zavier yang masih terdiam di atas karpet, menatap kosong ke arah buku sketsanya yang terbuka. Ethan tahu, cepat atau lambat, bom waktu ini memang akan meledak di dalam kediaman Mahendra.
"Papi memuji Zavier di depan Alexander Alveric dan anak-anaknya," aku Ethan akhirnya, suaranya terdengar datar namun sarat akan bobot kenyataan yang pahit. "Papi bilang di depan semua orang bahwa Zavier memiliki intuisi kepemimpinan yang jauh lebih tajam dibanding kami, dan Papi berencana menempatkan Zavier di jajaran dewan direksi begitu dia lulus sekolah."
Kata-kata Ethan melayang di udara, menjawab seluruh teka-teki yang menyelimuti sikap Raka.
Nora menyandarkan punggungnya di sofa, mengembuskan napas halus. "Pantas saja..." gumam Nora pelan. "Bang Raka membanting tulang semalam suntuk mengurus venture capital dan risk assessment Mahendra Group, tapi di mata Papi, pujian tertinggi selalu jatuh pada si bungsu."
Leo ikut mengusap tengkuknya dengan raut wajah serba salah. "Tapi kan Zavier masih SMA? Maksudku... Zavier bahkan belum menyentuh urusan kantor sama sekali. Kenapa Papi harus bicara begitu di depan keluarga Alveric?"
"Karena Papi selalu melihat Zavier sebagai mahakaryanya," sela Ethan dingin, menatap adik bungsunya yang kini perlahan mendongakkan kepala. "Papi merasa Ethan dan Raka sudah terbentuk sesuai cetakan korporat, sementara Zavier... Papi melihat potensi besar yang belum tersentuh batas. Raka merasa semua kerja kerasnya selama ini dipandang sebelah mata oleh Papi."
Zavier memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa sesak yang membakar dadanya terasa kian menyiksa. Ia tidak pernah meminta pujian dari Papi Kael, tidak pernah meminta untuk dispesialkan di hadapan keluarga Alveric, dan ia sama sekali tidak pernah berambisi untuk mengambil alih posisi yang telah diperjuangkan oleh Ethan dan Raka berdarah-darah.
"Aku tidak pernah minta Papi bicara seperti itu..." bisik Zavier pelan, suaranya yang berat kini terdengar bergetar.
Clara mendekati Zavier, berlutut pelan di samping putra bungsunya lalu memeluk bahu Zavier yang tegap. "Mami tahu, Sayang. Mami tahu ini bukan salahmu." Clara kemudian mendongak, menatap Ethan dengan pandangan terluka. "Tapi kalian berabang harusnya bijaksana. Zavier ini adik kalian! Raka tidak berhak melampiaskan kekecewaannya pada Papi kepada adiknya sendiri."
"Raka cuma manusia biasa, Mami," balas Ethan tenang, berdiri dari duduknya sembari merapikan kancing jasnya. "Dia bekerja tanpa tidur untuk memastikan aset Mahendra tidak jatuh. Saat usahanya dianggap angin lalu sementara Zavier dipuji setinggi langit hanya karena 'potensi alami', wajar kalau Raka merasa tidak adil."
Ethan melangkah mendekati Zavier, menepuk bahu adiknya itu sekali dengan ketegasan seorang anak pertama.
"Jangan dimasukkan ke hati, Zavier. Raka cuma butuh waktu untuk mendinginkan kepalanya," kata Ethan pelan. "Tapi ingat satu hal... di keluarga ini, makin tinggi Papi menaruhmu di atas angin, makin besar badai yang harus kamu tanggung sendiri."
Tanpa menunggu balasan, Ethan berbalik dan berjalan menuju kamarnya, meninggalkan ruang tengah yang kembali diselimuti keheningan yang perih. Di antara kilauan kemewahan Istana Mahendra malam itu, Zavier akhirnya menyadari bahwa pujian sang Papi bukanlah sebuah hadiah, melainkan beban berat yang mulai merenggangkan ikatan darah di antara mereka.
kekny zavier ini tipe aku 🤭