Kegelapan dan Cinta sangat cocok untuk menggambarkan cerita ini. Karakter utamanya adalah seorang pemuda bernama Hayakawa Yugioh.
Ia bertemu dengan tiga gadis cantik di tempat yang berbeda-beda. Kuroyuki Yukino (Stasiun Kereta), Minazuki Reina (Klub Voli), dan Hanamori Airi (Hujan Badai).
Yugioh membantu semuanya untuk menyelesaikan masalah hidup masing-masing. Seiring berjalannya waktu, ketiganya mulai jatuh cinta padanya.
Dimulai dengan mengancamnya menggunakan benda tajam, menguntitnya ke manapun ia pergi, dan paling parah mengajaknya mati bersama.
Diakhir... Mereka mengajukan pertanyaan yang intinya: 'Siapa yang akan ia pilih untuk menjadi istrinya?.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Giraldin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1.11: Stasiun Tokyo
Entah kamar mandi ujungnya atau bukan, yang pasti bagian dalamnya semakin megah saja.
Kalau bagian luar abstrak, bagian dalam terutama kamar mandi masih normal-normal saja.
Kolam Onsen dan Arai-ba tampak sangat cantik. Dikelilingi lantai dan tembok bunga sakura membuat ruangan kayak sejuk gitu.
Bukan dari pohon, melainkan embusan angin pelan yang dihasilkan dari AC di langit-langit penuh lampu downlight.
Onsen-nya bersih dan kelihatan banget kayak baru dibersihkan. Lantainya tak ada bekas injakan sandal atau sepatu.
“Pertama-tama, duduk dulu.”
Yukino berjalan ke arah kursi kecil Arai-ba. Setelah itu, ia langsung menekan shower untuk membasahi tubuhnya.
“Ah!” dirinya agak terkejut. “Aku lupa belum lepas pakaian.”
Di belakang dekat pintu masuk ada keranjang rotan untuk pakaian. Ia melepas semua itu dan melemparnya ke sana. Kerennya tepat sasaran.
Selesai melakukannya, ia lanjut mengambil sabun untuk membasuh keseluruhan tubuhnya terlebih dahulu. Setelah itu menyimpannya kembali dan mengambil sampo untuk keramas.
Banyak sekali busa keluar dari sampo tersebut dan terlihat begitu indah. Selesai melakukannya, Yukino mengambil ember dan mengguyur keseluruhan tubuhnya dimulai dari atas kepala.
Walaupun shower masih menyala, mungkin agar busa-busa cepat hilang, mengguyur adalah pilihan tepat baginya.
Setelah itu, keran dimatikan dan Yukino berjalan perlahan memasuki Onsen dengan sangat hati-hati.
“A-aku nggak bisa renang. Ta-tapi, harusnya dangkal, ja-jadi bakal baik-baik saja kan!”
Semoga saja!
Harapannya kurang lebih terkabul dan membuatnya sangat bahagia walau tubuhnya gemetaran.
“Kenapa aku malah memberanikan diri memasuki air yang lumayan dalam ini! dan juga...”
Ekspresinya kecewa. “Nggak terlalu hangat dan malahan dingin. Yahh... nanti juga harusnya bakal ada yang ngurus, jadi ku biarkan aja deh.”
“Oke, aku akan berendam selama 10 menit saja. Kalau terlalu lama, papa bakalan marah. Dan juga itu tidak baik untuk kesehatan.”
Walau airnya nggak panas-panas amat dan tampilannya mirip Onsen padahal cuman bak mandi biasa, aku tetap melakukannya sesuai aturan.
Karena... pengen aja sih, hehehe. Dan juga, buat apa mandi lama-lama? Aku agak heren ada manusia mandi sampai 1 jam lamanya atau bahkan lebih.
Kenapa? Memangnya mereka ngapain sampai bisa selama itu? Apakah sambil makan-minum? Hahaha, mungkin gabut kali ya!
10 menit kemudian...
“Oke, aku sudah selesai. Waktunya ke kamar tidur buat ganti pakaian.”
Ia keluar tanpa mengenakan apa-apa dan sekumpulan asap Onsen menghalangi sebuah pemandangan.
Di tempat keranjang bagian atas ada gantungan dan di situ terdapat handuk. Ia pun mengenakannya dan berjalan keluar ruangan.
“Hem! Hem! Hem...!”
Dirinya berjalan dengan riang gembira. Begitu berada di luar dapur, ekspresinya jadi ngambek.
“Mouu! Aku harus ke mana sekarang?! Kamarku...”
Ia melirik ke segala arah dan memutuskan berjalan ke arah kanan saja. Ruangan bernama ‘Toy’s’ yang isinya dapur ditinggalkan.
Begitu sampai di ujung, ruangan bernama “Bedroom’ tertulis. “Kalau isinya bukan kamar tidur, aku bakal memarahi papa habis-habisan.”
“Awas saja kalau nggak sesuai ekspektasiku lagi, papa sia*an!”
Saat ia membukanya, Yukino bisa bernapas lega. “Akhirnya... yang ini waras. Isinya sesuai nama.”
Bagusnya ini adalah kamar tidurku dan bukan kamar orang tuaku. “Yosha! Waktunya pakai baju tidur.”
Kamar tidurnya tampak keren. Detail-detail abstrak terlihat tidak berlebihan serta dapat diterima oleh banyak orang awam yang tak mengerti dunia asal-asalan.
Banyak sekali polisi yang sedang mengejar penjahat menggunakan kendaraan berupa hewan bernama kuda.
Lalu, lantai dan atap bermotif luar angkasa yang begitu luas. Gambaran sekilas ada semua di situ.
Tembok diisi semua oleh berbagai macam poster idola. Dari yang terkenal sampai pemula ada, walau tidak lengkap.
Kasur besar untuk dua orang terlihat empuk dan bukan cuman satu, melainkan ada lagi satu di bawah.
Sekarang beralih ke lemari kayu yang ia buka. Di dalamnya terdapat banyak sekali pakaian-pakaian bermerek.
Yang sudah pasti harganya mahal. Punyanya Yukino harganya kisaran 80.000 yen ke atas dan tak lebih dari 300.000 yen untuk satu pasangnya.
“Aku pakai baju tidur yang mana ya untuk malam ini?”
Pajama putih motif anak harimau ini kayaknya bagus. Chibi gitu, jadinya aku suka. Sesuatu yang lucu menurutku menarik.
Cewek suka yang lucu-lucu adalah hal normal bukan? Kalau itu cowok, mungkin udah diasingkan.
Yahh... aku sendiri nggak tahu, karena jarang masuk kelas. Cuman 1-2 jam pelajaran aja tiap minggunya.
Tahun kedua ini harusnya bakalan lebih cepat. Yosha! Aku mau konsultasi dengan papa.
“Baiklah. sebelum tidur, waktunya ngobrol bentar dulu dengannya. Hehehe, dia pasti akan mendengarkan putrinya yang cantik ini kan!”
Oh benar! Papa kira-kira lagi ngapain sekarang?
Di dalam ruangan ‘Poison Place’ terlihat seorang pria berjas putih ilmuwan sedang melakukan eksperimen aneh dengan seekor katak mainan.
“Hehehe! Katak aneh ini di dalamnya ada racun, sesuai julukanku. Pasti dia bakalan mati kan!”
“Jangan mengatakan hal yang mengerikan, Fujimoto-sama!”
“Oh! Kau sudah bangun, Bibi Kasumi!”
“Ya, tentu saja. kalau begitu, maaf sudah menganggu waktu anda!”
Bibi Kasumi ternyata ada di ruangan papanya Yukino.
Semoga saja tidak ada yang berpikir aku melakukan hal-hal aneh dengannya. Lagipula... dia sudah tua sih.
Usianya aja 80 tahun-an. Aku sendiri baru 54 tahun. Dan... kami cuman lagi membahas tentang banyak eksperimen mengerikan yang harus dibalas kepada Kobayashi Sato.
Sebenarnya, perkataanku agak terlalu berlebihan, namun semoga saja tak ada yang mendengarkannya.
Dan juga... maksud mati tadi bukan ke alam sana, melainkan serasa berada di surganya dunia.
Surga di mana kau bisa kenyang selama beberapa menit ke depan. “Hehehe, Bos pasti senang.”
Kenapa? Dia pengen jarang makan, jadinya memintaku membuat sesuatu yang seperti ini.
Yahh... Aku nggak keberatan, jadinya ku buat saja. Sebagai seorang pria lulusan Osaka University, S1 Bachelor of Science (S.Si.) serta mendapatkan banyak sekali Tokkyo, Hatsumei, juga Hatsumeisha hal beginian biasa bagiku, hahaha.
Bukan bermaksud sombong, tapi otakku itu sudah berada di tingkat yang siapapun tak bisa mengalahkannya.
Dan itu semua dicurahkan ke rumah ini beberapanya. Walaupun butuh bantuan orang, eksperimen tetaplah didasari dari seseorang.
Hehehe, kata-kata bagus lagi dariku. Terimakasih sudah berkomentar, Kuroyuki Fujimoto.
Kau masih tetap hebat seperti biasanya, hahaha.
“Oke, sekarang waktunya bermain game sebentar.”
Game yang bakal ku mainkan tidak berasal dari konsol murahan, melainkan di atas meja kaca ini.
“Aku takkan bermain game aneh. Melakukan eksperimen merupakan hal terba__”
Belum selesai ngomong, pintu terbuka dan dia langsung melirik tajam ke arah seseorang itu. “Oh!”
Wajahnya jadi konyol serta kelihatan lucu. “Yuki-chan rupanya!” dia jadi bahagia. “Bagaimana kabarmu?”
Yukino terus menundukkan kepalanya dan tak menjawab pertanyaan papanya. “Eemm... apakah kau sedang tidak enak badan?”
“Ma-maaf ya! Papa kayaknya kecepatan memanggilmu untuk pulang. Ta-tapi tenang saja, kapan-kapan kau boleh pergi lagi ke tempatnya .”
Dia masih tetap diam dan tak membalas ucapan papanya.
Ga-gawat! Kayaknya anakku yang ku cintai serta satu-satunya di dunia ini sedang dalam masa berontak.
Kemungkinan besar, dia akan banyak mengatakan hal-hal di luar nalar. Baiklah, sepertinya sudah waktunya seorang papa beraksi.
“Yu-yuki-chan, to-tolong tenanglah sedikit ya! Je-jelaskan dengan baik secara terperinci oke! Ng-nggak usah ngomong cepat-cepat.”
Mendengar hal tersebut, Yukino tersenyum dan menatap lurus papanya. Ia pun langsung ngomong cepat banget dengan kalimat panjang tanpa jeda sedikitpun.
“Padahal aku sudah bilang padamu untuk berhenti mengotak-atik rumah ini, tapi kaunya nggak mau. Sudah berapa kali anak tercintamu ini tersesat pikirmu! Papa benar-benar nggak punya otak atau apa?! Walau dirimu suka bereksperimen, sesekali dengarkanlah kata-kata istri juga anakmu ini!. Hahh...! Kalau begini terus, yang ada Yuki-chan nggak mau lagi ngomong sama papa. Ngambek terus pun tidak masalah. Kalau tak mau terjadi, berhentilah melakukan perubahan besar-besaran pada rumah ini!. Mengerti kan!”
Karena omongannya terlalu panjang, aku jadinya cuman bisa menggeleng-gelengkan kepala tanpa mengerti ucapannya satupun.
Pilihanku... Kayaknya salah ya!
Tangisan mulai keluar dari matanya Yukino. Dia merasa bersalah dan dengan panik langsung ngomong:
“Ma-maafkan papa ya, Yuki-chan! D-dan juga... ta-tadi kamu ngomong apa? Bisa diulangi atau tidak?”
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Be-begitu ya! Tidak bisa rupanya. Berarti... takkan papa setujui permintaanmu itu.”
“Yahh... kayaknya nggak terlalu penting juga, jadinya tak masalah bukan!”
Yukino malah kelihatan ngambek dan dengan cepat berjalan ke tempat papanya berdiri. Ia mencubit pipinya hingga membuatnya merintih kesakitan.
“Adu-du-duh...!! Ma-maafkan papa!”
“Aku mau melaporkannya ke mama! Bakal ku katakan papa jahat. Tidak mau mendengarkan kata-kata putrinya yang dicintainya ini.”
Tunggu!? Itu bakal sangat merepotkan. Apalagi...
“Sayang mau ke mana?”
Pertanyaanku sekitar dua minggu lalu tak dijawabnya dan membuatnya menatap sinis ke arahku. “Ng-nggak jadi. Si-silakan lanjut pergi saja! Ja-jangan lupa makan malamnya ya, hahaha.”
Dia pun nggak ngomong apa-apa lagi padaku. entah apa yang ku perbuat padanya, tapi pastinya istriku lagi dalam kondisi tidak baik.
Kalau anak tercintaku sampai melaporkannya padanya bisa gawat diriku ini. Makhluk terkuat di bumi tak boleh dilawan.
Dulu aku bodoh juga ya! Ku kira dengan menghina bahwa dirinya nggak bisa masak bakal aman-aman aja, ternyata tidak sama sekali.
A-aku nggak bisa melupakan pukulan-pukulan mengerikan itu. Awawawa!! I-istriku kalau marah seram bangett...!!
“Baiklah. Maafkan papa! Kalau begitu, mari kita anggap impas! Akan ku kabulkan permintaanmu. Intinya... katakan dengan singkat oke!”
Putriku tersenyum manis. Hahaha, ternyata dia gampang juga berubahnya. Yahh... syukurlah mamanya nggak dibawa-bawa lagi.
Sebagai papanya, bisa gawat urusannya nanti soalnya. “Papa nggak boleh lagi ubah rumah ini. buat kayak semula lagi oke!”
“Semula lagi? Ba-baiklah. tapi mulainya besok oke!”
“Ya, itu bagus. Dan...” kedua matanya menjadi dingin. “Kalau masih tak mau, bakal ku laporin ke mama.”
“Y-yaa... a-aku mengerti kok, hahaha.”
Salah satu hobi favoritku jadi tak bisa dilakukan lagi setiap waktu yang diinginkan. Baiklah!
Untuk sekarang aku sudah menyetujuinya dan kalau dia fokus lagi dengan pekerjaannya serta sudah kembali lagi ke asramanya, hobi bakal diteruskan.
Fufufu, jangan pikir papamu ini bodoh! Seorang ilmuwan sejati, takkan ciut semudah itu.
“Lalu... apakah ada yang mau papa bahas denganku? Jika terlalu serius, lebih baik lupakan saja.”
Bahas ya? eemm... benar juga. Yang itu aja, hehehe.
“Jadi, dia akan menjadi cowok favoritmu?”
“Ya. Kenapa memangnya?”
Ia mengembuskan napas. “Bukan apa-apa. Keluarga Hayakawa itu pada dasarnya orang-orang jahat dan tidak bisa puas dalam hal nafsu duniawi.”
“Aku bahkan tidak habis pikir, bisa-bisanya Bos mau berurusan dengan papanya cowok favoritmu.”
“Apakah dia sedang tidak tahu harus berbuat apa? Atau... ingin menguji saja?”
Apa yang dikatakan papaku benar juga. Pada dasarnya, Keluarga Hayakawa tak sebesar itu.
Hanya termasuk salah satu keluarga yang biasa saja. apalagi... papanya pernah jadi budakku.
Sebenarnya, kenapa Bos atau Kobayashi Sato mau berbuat sampai sejauh itu hanya untuk pria biasa saja kayak papanya?
Mungkin ada hal lain yang diincarnya kali ya!
“Aku tidak tahu papa. Tapi yang pasti, Bos sudah benar-benar memutus hubungan dengan Keluarga Hayakawa. Oh iya! Tolong bayarkan hutang mereka! Cuman 10 juta yen kok!”
Kenapa aku mengetahuinya? Fufufu, gini-gini diriku adalah seorang detektif. Selain itu, otak ini dapat menyerap segala informasi dengan hanya sekali lihat saja.
Walau kayak keren, tetap saja punya banyak kekurangan. Aku nggak tahu apa aja, tapi pastinya seperti itu.
Lalu... sekarang waktunya dengarkan jawaban papa.
“Baiklah. Aku akan membayarnya kepada Bos.”
“Serius! Bagus.”
Jarang-jarang sekali papa langsung menerimanya begitu saja. Hehehe, kayaknya dia tidak mau banyak bertingkah, karena dapat ku laporkan pada mama kapanpun yang ku inginkan.
“Namun, ada syaratnya.”
Bersambung...