NovelToon NovelToon
BERBEDA

BERBEDA

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Romansa-Percintaan bebas / Komedi / Indigo / Teen School/College / Tamat
Popularitas:43.5k
Nilai: 5
Nama Author: DES_Putri:)

"Lo itu kurang kerjaan atau gimana sih, hah?!."

"Lah ini lagi kerja..."

"....Ngerjain Senior maksudnya."

"Berani banget yah lo sama Senior!."

"Ya, lebih baik berani didepan dari pada dibelakang ngomongin...Sorry, Varo nggak serendah itu orangnya."

♡♡♡

"Kita berada di iman yang berbeda. Di amin yang berbeda pula. Sungguh ironis my love story."
-Alvaro Genandra

"Antara tasbih yang kugenggam dan salib yang ada dilehermu. Antara adzan yang berkumandang dan lonceng yang berdentang. Dan, dari sanalah perbedaan antara kita yang tak akan pernah bisa bersatu."
-Zoya Prameswari

"Yang seagama aja berat, apalagi yang beda. Gobloknya temen gue itu masih aja diharapin."
-Reihan Aditama

♡♡♡

#familyship
#brothership
#friendship
#kisahremaja
#bedaagama
#cintaterlarang

Semoga suka🤗 Jangan lupa Like & Komen sebagai pembaca yang budiman😊


Dan untuk my Bestie, tolong kalau tahu cerita ini jangan dibaca. Sekali lagi jangan dibaca, terima kasih🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DES_Putri:), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chap 9 (Modus)

...Hanya hal berbeda disaat waktu yang tak pernah merestui sejak awal. Kini, masa itu masih melekat. Dan siap menjadi rangkaian kata yang ku abadikan....

Tatapan tajam yang menghunus kedua bola mata itu memancarkan percikan api yang bisa meledak kapan saja. Tangan dikoran wanita paruh baya itu sedetik kemudian terhempas diatas meja. Suara decitan kursi terdorongpun memenuhi ruang kerjanya.

"Kamu tahu, besok adalah hari penentuan kelas unggulan! Lalu, apa yang kamu lakukan diluar sana hah?!."

Dia, Miranti. Suaranya melebur bersama deru napas sosok yang tak lain Varo. Cowok itu hanya bisa menunduk meski tak terlalu peduli. "Dari mana?," lanjut Miranti melirihkan suara meski penuh penekanan.

"Dari luar."

Balasan enteng dari Varo semakin menyalakan percikan api didalam dada Miranti. Hingga belum sempat Miranti kembali membuka suaranya, ketukan dari luar membuatnya beranjak.

"Maaf Mah, Pak Andrian nya udah nyariin Varo," ucap Vero setelah pintu terbuka.

"Yaudah kamu balik! Belajar yang benar."

Sebelum Vero melenggang pergi, tatapannya sedetik bertemu dengan manik hitam pekat itu.

"Kamu bisa pergi!."

"Jangan sampai kecewain Mama sama Papa lagi," lanjut Miranti.

Varo melangkah keluar dengan mood yang sudah berada diurutan paling bawah. Berulangkali mengembuskan napas dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.

"Ya ya ya...Belajar sangat membosankan."

Satu jam terlewatkan begitu saja tanpa ada yang Varo pahami sedikit pun. Suara Pak Andrian seperti angin yang berlalu tanpa permisi. Bahkan kesadaran Varo mulai melemah sampai berulangkali terkantuk meja. Dan berulangkali pula suara tegas Pak Andrian menguap.

"Varo!."

"I-iya Pak siap!," sahut Varo langsung menegakkan badannya ketika mata itu mulai tertutup.

"Cuci muka dulu sana!."

"Baik pak," balas Varo ogah ogahan.

Saat menutup pintu, idenya melesat dipikirannya. Jenius. Langkah kakinya ia percepat menuju kamar yang tak pernah ia sukai. Terlalu monoton menurutnya.

"Ro..Ro..Ro...Bantuin gue," heboh Varo meski menggunakan suara bisikan.

Vero mengalihkan pandangannya dari buku. Lalu menatap Varo heran. "Bantu apa?."

"Gantiin gue dong! Lo kan mukanya mirip banget tuh sama gue, pasti Pak Andrian nggak bisa bedain."

"Enggak!."

"Pliiss lah Ro bantuin abang lo ini. Gue ngantuk banget udah nggak tahan."

"Nggak Var! Gue nggak mau cari masalah lagi."

"Yaelah ayolah Ver pliss! Lagian percuma gue berjam jam disana kalau nggak ada yang masuk ke otak gue. Mendingan lo aja yang disana biar tambah pinter, ya?!," cerocos Varo sembari mengatupkan kedua tangannya.

"Engg-."

"Lagian gue juga nggak minat masuk kelas unggulan," potong Varo.

"Terus, lo dengan sengajanya nggak mau ikut eksta vokal?."

"Kalau itu sih udah gue lepas," balas Varo melemas.

"Demi ikut geng nggak jelas itu?," sarkas Vero membuat mata Varo menajam.

"Bukan geng nggak jelas ya! Lo sama aja kayak Kak Zoya."

Detik berikutnya Vero dan Varo saling tatap. Vero memandang curiga Varo yang langsung gelagapan.

"Ekhmm, gimana mau yaa plisss! Entar gue traktir deh."

"Sejak kapan lo deket sama Kak Zoya?."

Damn. Pertanyaan keramat akhirnya keluar juga.

"Hahh, deket apaan?!."

"Jangan bilang lo pulang telat gara-gara ketemu sama Kak Zoya ya?."

"Jangan ngawur lo! Udahlah nggak guna lo jadi adik," kesal Varo beranjak. Sesaat tangannya memegang handle pintu, suara Vero kembali menguar.

"Ngaku aja! Gue udah lihat beberapa kali lo diantar pulang sama Kak Zoya."

...)(...

"Zoya dimakan dulu itu. Jangan main HP terus."

Zoya membalas dengan seulas senyum. "Jangan pacaran! Awas aja sampai nilai kamu anjlok, Nenek pulangin ke Surabaya."

"Siapa juga yang pacaran. Lagi baca novel," balas Zoya sembari mengunyah makanan.

"Ibumu nggak nelpon?."

Sendok ditangan Zoya kembali turun diatas piring. Membalas pandangan sang Nenek yang membuatnya heran. "Tumben nanya Ibu nelpon atau enggak."

"Habis ini kan tahun baru, kamu nggak mau ke sana?."

"Eemm mau, tapi-."

"Yaudah makan lagi," potong Nenek sebelun sempat Zoya mengutarakan suaranya.

Beberapa menit berlalu, makanan yang ada dipiring Zoya akhirnya tandas tak tersisa. Sampai decitan kursi membuat Nenek mendongak menatap Zoya yang sudah berdiri.

"Zoya udah selesai," ujar Zoya sembari membawa piring bekasnya untuk dicuci.

Langkah kakinya terhenti tak kala ingin masuk kedalam kamar. "Masih sore jangan dikamar."

"Zoya mau nulis Nek."

"Emang kamu nggak belajar?."

Zoya menyengir. "Besok pagi aja," balasnya lalu masuk kedalam kamar.

Jarum jam berdetak begitu cepat. Hingga tepat pandangannya melihat jam dunding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, matanya melebar.

"Astaga! Lupa belum shalat isya," ucapnya menepuk jidat lalu beranjak turun dari ranjang.

Selesai shalat Zoya menghela napas kasar. Bagaimana tidak jika sedari tadi gawainya terus saja berbunyi. Dengan kesal dia kembali menyimpan mukenanya lalu naik keatas ranjang. Dahinya melipat dalam, melihat nomor tak dikenal terpampang diatas layarnya. Sudah banyak spam disana.

"Siapa sih nggak punya kerjaan banget," ujar Zoya sembari membaca pesan dari atas layar.

Detik berlalu membuat Zoya berteriak hingga suara dari seberang kamarnya membuat ia menutup mulut rapat-rapat. "Tidur Zoya jangan main HP terus! Udah malam, tidur!."

Hening kembali merayap, tapi tidak dengan detak jantungnya yang membrutal. Dan, entah kenapa ada getar aneh didalam sana.

085*********

|| Hai kak👋

|| Udah tidur?

|| Save ya kak

|| Centang dua, buka dong kak!

|| Kaak Zoyaaa

|| Kak mau tanya boleh?

Kurang lebih seperti itulah isi pesan yang sudah ia duga siapa si pengirim. Namanya saja terpampang jelas di info whatsaapp nya.

"Nih anak dapat nomor gue dari siapa coba?," guman Zoya amat lirih.

Cukup lama Zoya menimang untuk membuka Chat itu, hingga suara pesan masuk kembali mengisi senyap yang tercipta.

|| Jawab kak, udah online loh

"Buka nggak ya?."

"Tapi kalau nggak buka, malah gue yang kepo dia dapat nomornya dari siapa," monolog Zoya.

Detik berikutnya, tanpa pikir panjang dia membuka pesan paling atas itu. Dan jari jemarinya mulai menari diataas layar pipih itu.

^^^Siapa? ||^^^

Ya, cuma basa basi sebelum pertanyaan berikutnya ia tanyakan. Padahal sudah sangat jelas dari info siapa pemilik nomor itu.

Tak butuh waktu lama centang dua abu-abu berubah menjadi warna biru.

|| Alvaro kak, yang ganteng yaa bukan Alvero si kutub utara

|| Jangan lupa di save, oke?!

Disana, Varo berguling guling diatas kasurnya, menunggu cukup lama sampai centang itu berubah warna.

^^^Tahu nomor gue dari mana? ||^^^

|| Dari Kak Laila

Zoya berdecak, dasar. Siapa lagi kalau bukan si usil Laila yang suka gonta ganti cowok itu.

"Awas aja ya besok disekolah, Laila!."

|| Gimana kak, Varo boleh tanya nggak?

Karena sudah setengah sadar, Zoya membuka dan membalas cepat sembari merebahkan tubuhnya. Menarik selimut sampai keatas kepala, antisipasi agar sewaktu waktu sang nenek masuk kedalam mengecek sudah tidur atau belum.

^^^Iya apa? ||^^^

|| Tau rumus trigonometri nggak? Kan ada tiga tuh, sinus terus cosinus, satunya apa?

^^^Tangen ||^^^

|| Iya sama aku juga

Damn!

"Anjir! Eh astaghfirullah," teriak Zoya yang langsung menutup mulut rapat. Beruntung tak ada sahutan lagi dari samping kamarnya.

Mata yang sempat terpejam itu kembali terbuka lebar. Bersama getar aneh didalam sana. Dan dari mana rasa malu itu datang, membuat wajahnya serasa memanas. Sedangkan disana, ada senyum lebar yang memancarkan binarnya. Beruntung ada Tuan Tik Tok yang memberinya sebuah pesan gila itu. Dan berakhir kepada sang empu, Zoya.

"Aaiisshh tuh anak!," geram Zoya menghentak hentakkan kaki diatas kasurnya.

|| Masih disana kan kak?

|| Besok Varo tunggu dikantin ya, ada yang mau Varo omongin

^^^Nggak mau! ||^^^

^^^Dasar modus ||^^^

|| Siapa yang modus? Beneran kangen ini heheehhee

|| Sebentar aja kak, Varo tunggu dikantin ya

Zoya menggela napas kasar. Tanpa membuka ruang chat itu kembali, dia mematikan seluler datanya lalu melempar gawai itu sembarangan.

"Bisa bisanya tuh anak, aduhh tidur-tidur Zoya," gumamnya menarik selimut rapat-rapat.

Gila, baru kali ini gue kena modus, batin Zoya

Dilain  sisi, cowok itu terus mengetik diatas layarnya. Meski jumlah centang itu berubah menjadi satu.

...)(...

"Lo itu resek banget sih La?!."

Sang empu mengernyit. Memandang sahabatnya yang tiba-tiba nongol lalu meneriakinya tanpa alasan. "Resek gimana maksud lo?."

"Kasih nomor gue ke Varo, ya kan? Itu apa namanya kalau nggak resek."

Lia yang berada dibelakang Zoya hanya bisa geleng-geleng kepala. Sedangkan Ayu yang sudah berada disamping Laila sibuk dengan gawainya. Tanpa peduli sebentar lagi akan ada bom meledak.

"Kok resek sih? Emang salah gue kasih nomor lo ke siapa itu namanya, Varo?!."

"Ya itu namanya lancang La! Lo nggak minta ijin ke gue dulu!."

"Ngapain minta ijin sih? Terus kalau gue minta ijin nggak bakal lo bolehin gitu?."

"Iya!."

"Hah? Kenapa emang ?!."

"Ya nggak apa-apa!."

"Sorry, udah terlanjur Zoy. Gue orangnya baik hati ya nggak pelit dan rendah hati."

"Iisshh lo tuh...aahh tau lah kesel gue!," kesalnya lalu beranjak menuju bangku.

"Idih nggak jelas banget tuh anak," ujar Laila yang dibalas senyum kecut Lia.

"Udah gue bilang kan jangan main kasih."

"Udahlah Lia, udah telanjur juga."

"Tapi La-."

"Suutt mending lo contekin gue tugas matematika yang bejibun itu daripada nasihati gue nggak jelas sama kayak Zoya, mana?!."

Belum sempat Lia membuka tasnya, suara tangis mengalihkan atensi seluruh kelas. Terutama Zoya yang sebelumnya membenamkan kepalanya diatas meja, kini menoleh kearah sumber suara.

"Ck, nih satu anak kenapa lagi hah?! Nangis nggak jelas, pusing gue punya sahabat kurang waras otaknya," ngegas Laila.

"Lo kenapa Yu?," tanya Lia.

Ayu tak menjawab, masih sesenggukan dengan napas naik turun.

"Di ghosting lagi tuh!," teriak Zoya dari tempat duduknya. Dan detik berikutnya semakin membuat Ayu menangis histeris.

"Dasar, mau aja dijadiin mainan kaum Buaya."

...)(...

Dering bel istirahat menggema diseluruh penjuru Adi Bangsa. Waktu yang ditungu tunggu akhirnya telah tiba. Seluruh murid sebelas Ipa 4 berbondong bondong keluar kelas kecuali empat remaja yang masih stay.

"Udah cari aja lagi. Lo kan cantik, pasti gampang kecantol sama yang lebih bening," ujar Laila yang langsung kena tabok Zoya.

"Ngawur aja! Lo mau mental Ayu tambah parah?."

"Ya nggak apa-apa biar gila sekalian," balas Laila membuat tawa Zoya dan Lia pecah seketika. Namun, detik berikutnya kembali senyap saat tatapan tajam Ayu menghunus keduanya.

"Ekhmm sorry," ujar Lia

"Makanya Yu, nggak usah pacar pacaran! Nambah dosa aja tahu nggak."

"Bener tuh kata Zoya. Nambah dosa," sahut Lia.

"Kalau lo pengen ngerasain pacaran nih ya mending baca novel aja. Buat pengalihan, entar lo juga bisa kok ngerasain gimana rasanya pacaran, bahkan sebelum lo punya suami juga bisa rasain-.'

Bugh

"Otak lo kotor banget sih Zoy!," potong Laila sembari menimpuk kepala Zoya dengan buku.

"Jangan bilang lo udah baca novel yang plus plus gitu ya?!."

"Pikiran lo tuh yang kotor! Negatif mulu kalau sama gue."

"Husstt jangan berantem mulu, tuh kasihan Ayu tambah pusing dengerin kalian," sahut Lia

Zoya memangku dagunya diatas meja. Melirik Ayu yang selalu saja seperti itu. "Gue itu kasihan sama lo Yu. Udah dibikin sakit hati, nambah dosa pula."

Hening kembali mengisi ruang disana. Hingga dobrakan pintu membuat keempat orang itu menegakkan tubuhnya kaget.

"Kalau masuk itu salam dulu! Jangan grusak grusuk bikin ribut," omel Laila memandang sengit cowok yang kini menyengir tak berdosa.

"Mau apa?," tanya Zoya.

"Lo ada hubungan apa sama Varo hah?!," tanyanya yang tak lain Arthur si biang kerok plus pelawak kelas.

Semua mata kini tertuju pada Zoya yang mengerjap bingung. "Maksudnya punya hubungan?."

"Nggak usah sok nggak tahu! Tuh anak nungguin lo dikantin noh!."

Deg

Detik itu mata Zoya membola. Sial.

"ZOYA?!," teriak Laila menganga lebar.

"Nggak ya gue nggak punya hubungan apa-apa sama dia. Beneran sumpah!,"  sahut Zoya cepat.

"Bener hayooo?! Kok lo pake janjian segala sih, hm?!."

"Apaan sih Thur nggak ada yang janjian juga! Jangan nyebar hoax ya lu!," tuding Zoya menunjuk tepat kearah Arhtur yang tersenyum licik.

"Yang beneerr?!."

"IYAAA."

"Nih gara-gara Laila main kasih nomor gue sembarangan."

"Kok gue lagi sih?!."

"Ya em-."

"Wwoyy udah gue mau pergi dulu! Pusing lihat ciwi-ciwi debat."

...)(...

Kini, matahari mulai tergelincir ke ufuk Barat. Melihatkan warna orange yang memanjakan mata. Gerimis yang sedari tadi membasahi bumi tak juga henti. Dua pasang mata itu saling memandang dengan isyarat berbeda. Disini, didepan mading sekolah, pengumuman hasil kelas unggulan yang baru dilaksanakan tadi pagi terpampang nyata. Banyak sorak sorai dari murid lainnya yang lolos masuk. Dan, tak banyak dari mereka hanya bisa menghela napas berat.

"Jangan bilang lo sengaja," suara itu penuh penekanan. Tak cukup keras tapi mampu masuk kedalam pendengaran lawan bicaranya.

"Menurut lo, apa untungnya gue sengaja?!."

"Demi gue," balasnya cepat.

Vero yang mendengar itu tertawa pelan. "Percaya diri banget ya, lo."

"Terus? Lo kira gue percaya dengan standar otak lo itu yang tiba-tiba anjlok, hah?!."

"Lo kira dari semua anak yang ada disini itu bodoh? Iya?!."

"Lo lupa Var, ini sekolah anak-anak ambis. Dan masih banyak yang cerdas dibanding gue!," lanjut Vero.

Varo berdecak. Tidak habis pikir jika sang adik tidak masuk kelas unggulan. Dia sih jelas sudah menduga tidak akan masuk kelas unggulan, tapi tidak dengan Varo yang sudah ia kenal kemampuannya.

"Nggak mungkin lo nggak lolos. Pasti ada masalah."

"Kenapa lo yang cemas Var? Seharusnya gue lah yang kecewa."

"Gimana gue nggak cemas kalau lo itu satu satunya yang diharapin mereka, Ver."

Varo mengerutkan kening melihat balasan Vero yang tertawa sinis. "Seumpamanya gini ya, Var. Kalau gue nggak di A, berarti lo juga nggak akan di A. Kalau lo di B, gue juga harus di B."

"Bukannya dulu kita pernah janji, ya? Kalau apapun yang terjadi, kita harus sama-sama."

Varo terdiam. Sekarang dia tahu, Vero melakukannya lagi lagi untuk dirinya yang tidak berguna. "Jadi, lo sengaja kan?!," tegas Varo.

"Iya, puas?!."

"Nggak seharusnya lo lakuin itu, Ver!."

"Harus!..."

"...Bukannya lo sendiri kan yang bilang supaya gue  jadi diri gue sendiri?."

Hening sejenak sebelum suara Vero kembali mengisi. "Dan dengan cara ini, gue bakal jadi diri gue sendiri. Nggak ada lagi yang bisa ngatur gue kayak boneka. Kita berhak tentuin apa yang kita mau. Bukannya itu yang lo mau, Bang?!."

Ada rasa lega diantara desir hangat yang Varo rasakan. Hingga tarikan diujung bibirnya terlukis digaris wajahnya yang terlihat lepas. Senyumnya kini mengembang sempurna.

"Ini baru Alvero yang gue kenal," balas Varo sembari menepuk kedua pundak Vero.

Keduanya kini memancarkan senyum satu sama lain. Tanpa menyadari ada sepasang mata yang juga menyaksikan keduanya.

"Kalau kena omel, gimana?," tanya Vero

"Ya jalanin bareng dong."

"Gantian lah, lo yang pikirin caranya biar nggak kena hukuman. Gini-gini gue udah relain biar kita tetep searah," balas Vero acuh sembari mulai melangkah disusul Varo.

"Ck, nggak ikhlas banget lo kayaknya."

Netra coklat itu masih mengamati keduanya ditempatnya. Kembali menatap gawai yang beberapa lalu terdapat notifikasi pesan masuk.

085*********

|| Kak nanti sepulang sekolah Varo tunggu diwarung belakang

|| Harus datang, penting!

Lagi, Zoya membuang napasnya kasar. Sial, seperti sedang diuntit penjahat rasanya.

...♡♡♡...

...HOLAP HOLAAPP👋...

...Senyum senyum sendiri aku kalau keinget🙃 Sayang buktinya dah hilang:(...

...Menyelami masa lalu lagi ini mah heheheee...

...♡...

Aku Update sehari satu kali 2000+ kata dalam satu Chap aja yaaa biar panjang. Kalau pengen dua Chap juga lebih pendek, karena maksimal aku cuma bisa nulis 2000an kata aja. Terima kasih Friends yang udah baca like and komen🥰

^^^Tertanda^^^

^^^Naoki Miki^^^

1
Fadiylah19
andai aja cerita ini d lanjut😟😟😟
Dheana Rabbani Alghozy
kapan update lg author?
leeshuho
woahh ak mmpir thor slm dari North pole couple ❤️,btw bucin nya ank SMA klau di fiksi rumit batt ya😆,
leeshuho
so sad klau bda nya kek gini🤧
Ganis Khanne
kok lama sih up nya
Aprilia Desi
next Thor, jangan lupa mampir diceritaku ya kk 🤗
Echa zaaaa
Hai, yg masih setia nunggu klnjutan cerita ini, maaf ya, ini akun ku kedua, lupa sandi jadi nggk bisa masuk akun ku yg desputri

sekali lagi maaf ya nggk bisa lanjut
cry:(
mociiii
next thor 🤗
Umaymay Sifa
lama nya update🙄
Umaymay Sifa: iya ditunggu2 gak muncul2
total 2 replies
Echa zaaaa
Ini nggk lanjut? Beneran nggk mau ditamatin thor?
Umaymay Sifa
ihhh kok gak update lagi kk
Naoki Miki: Tunggu sbentar lagi ya, Kak
ini masih updte cerita sebelah 'Awan sang Biru'
total 1 replies
Fadiylah19
bentar bentar aq msih loading inih pas d akhir gmna sih mksudnya 🙄🙄aaaaahhh dripda bingung mnding lanjut lagi lah thor,,yo semangat yo✊✊✊🥰🥰🥰
Ika Sartika
ada ada aja
oom komalasari
yuch double yuch .🤩🤩 jgn lama lama Kaya nunggu di Lamar Sama ayang nya orang🥲
sya-sha
sabar y varo
Umaymay Sifa
iihhhh..... pura pura lupa ingatan... tapi lucu juga sih gk ingat sama vero dan mama miranti, tapi ingat zoya eh malah tunangan.. dasar varo modus😂😂kasihan ya varo masih belum d akui sama keluarga ny.. klo dia pindah keyakinan. semangat varo💪
Dheana Rabbani Alghozy
diih...pura² lupa😂😂

modus ke zoya itu😝

tp...varo ngelakuin itu karena denger ucapan mama miranti itu
Intan Lpg
nah kannn betull,, feeling ku varo g'bner" amnesia Dy hnya pura" ehhh beneran..🤣🤣
lagiii Thor
haa
semangat thorrr
Echa zaaaa
Sakitnya smpe sini:(
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!