NovelToon NovelToon
Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Sistem
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Darma

"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.

Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.

Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.

Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: Jejak Pertama — Siapa Anton?

PT Sejahtera Pangan Jaya terlihat terlalu bersih untuk tempat yang kehilangan dua pemiliknya.

Pagar besi dicat putih. Pos satpam rapi. Truk pendingin keluar masuk dengan jadwal teratur. Di dinding depan, spanduk besar menampilkan wajah Hasan Wirawan sedang menyerahkan paket sembako kepada warga miskin.

Senyumnya lebar.

Raka menatap spanduk itu lebih lama dari perlu.

Dimas mengikuti arah matanya. "Foto CSR. Setiap pabrik punya. Semakin besar senyumnya, biasanya semakin besar bagian yang tidak masuk kamera."

"Pengalaman?"

"Trauma administrasi."

Manajer pabrik menyambut mereka di lobi. Namanya tidak penting bagi Raka; keringat di pelipisnya lebih jujur daripada kartu namanya. Ia terlalu sering berkata kooperatif, seolah kata itu bisa menjadi pagar.

"Kami tentu membantu kepolisian sepenuhnya. Pak Hasan dan Pak Feri sangat dihormati di sini. Semua karyawan khawatir."

Di belakangnya, beberapa karyawan menunduk terlalu cepat.

Raka menangkap gerakan itu.

Takut bukan selalu berarti bersalah.

Kadang takut berarti terlalu lama melihat sesSatu dan belajar untuk diam.

Mereka mulai dari kantor Hasan di lantai dua. Ruangan itu besar, dingin, dan wangi pengharum mahal. Ada foto Hasan berjabat tangan dengan pejabat lokal. Ada lemari penghargaan. Ada meja kayu berat yang permukaannya mengilap seperti tidak pernah disentuh orang yang benar-benar bekerja.

Raka berdiri di dekat jendela dan mengaktifkan Mata Dosa.

Dunia berubah tipis.

Warna ruangan meredup. Di sekitar meja Hasan, kabut abu-abu gelap menempel di tepi laci, kursi, dan karpet. Tidak sepekat ruang bawah tanah Bardi. Tidak seperti bau busuk dosa pembunuhan langsung. Tapi ada sesSatu di sini.

Dosa sedang.

Tua.

Terbiasa.

Seperti noda yang berulang kali dibersihkan, tetapi tidak pernah benar-benar hilang.

Di area produksi bawah, aura itu hampir tidak ada. Mesin berjalan, pekerja mengemas produk, bau daging olahan dan plastik panas memenuhi udara. Tempat itu bukan lokasi pembunuhan. Setidaknya bukan pembunuhan yang dideteksi Mata Dosa sekarang.

"Kantor lantai dua," gumam Raka kepada Dimas saat mereka turun.

"Apa?"

"Di sana ada sesSatu. Mereka tidak dibunuh di sana. Ada dosa yang menempel."

Dimas menatapnya sebentar. Ia sudah belajar tidak langsung bertanya bagaimana Raka tahu.

"Kita cari bukti manusia," katanya.

"Selalu."

Di ruang keamanan, Andi memeriksa rekaman CCTV bersama teknisi pabrik yang tampak ingin menghilang ke balik kursi.

Hasan dan Feri terlihat masuk pukul 17.42, tiga hari lalu. Hasan berjalan lebih dulu. Feri di belakang sambil melihat ponsel. Mereka masuk ke lift menuju lantai dua.

Tidak ada rekaman mereka keluar lewat lobi.

Kamera parkiran depan normal.

Kamera gerbang normal.

Kamera koridor lantai dua normal.

Terlalu normal.

Andi mempercepat rekaman malam. Pukul 23.18, kamera loading dock belakang berkedip. Bukan mati, hanya terganggu beberapa detik. Lalu sebuah van putih masuk pelan. Plat nomornya tertutup lumpur atau sesSatu yang sengaja dioleskan. Van berhenti di dekat pintu loading selama hampir dua jam.

Pukul 01.09, van pergi.

Tidak ada suara alarm.

Tidak ada satpam menghentikan.

Dimas memukul meja pelan dengan buku jarinya. "Orang dalam, mantan orang dalam, atau seseorang yang punya jadwal patroli."

Teknisi pabrik menelan ludah. "Malam itu satpam shift baru, Pak. Dia bilang van itu kiriman bahan tambahan. Ada surat jalan."

"Surat jalannya?"

"Hilang."

Dimas tersenyum tanpa hangat. "Tentu saja. Surat jalan selalu hilang tepat ketika hidup orang ikut hilang."

Raka mewawancarai karyawan satu per satu. Kebanyakan memberi jawaban aman. Pak Hasan baik. Pak Feri tegas. Pabrik disiplin. Tidak tahu apa-apa. Semoga segera ditemukan.

Kata-kata mereka bersih.

Tangan mereka tidak.

Seorang pria muda di bagian gudang terus menggosok ibu jarinya sampai merah. Raka menunggu sampai Dimas berpura-pura melihat mesin di sisi lain, lalu bertanya pelan, "Kau takut pada siapa?"

Pria itu tersentak.

"Tidak, Pak. Saya cuma..."

"Aku tidak meminta kau menuduh siapa pun. Aku hanya tanya kau takut pada siapa."

Matanya bergerak ke kamera sudut ruangan.

Raka memahami. Ia memiringkan tubuh, menutup garis pandang kamera dengan punggungnya.

Pria itu berbisik, nyaris tidak terdengar.

"Pak Hasan dan Feri... orangnya buruk, Pak. Saya tidak bisa bilang lebih dari itu. Saya punya anak. Saya masih kerja di sini."

"Anton Saputra?"

Wajah pria itu langsung pucat.

Itu jawaban yang lebih keras daripada kata apa pun.

"Dia orang baik?" tanya Raka.

Pria itu menunduk. "Dulu. Sebelum istrinya meninggal. Setelah itu... mukanya seperti lampu padam."

Alamat terakhir Anton membawa mereka ke kontrakan sempit di belakang pasar lama. Pintu kamar sudah digembok dari luar. Tetangga berkata Anton pindah dua bulan lalu, membawa sedikit barang, tanpa pamit panjang.

Seorang ibu tua yang menjemur pakaian menunjuk kamar kosong itu.

"Anton pendiam. Tidak suka ribut. Istrinya baik sekali, Yuli. Buta sejak lahir, tapi kalau orang lewat, dia tahu dari suara langkah. Sering kasih teh ke tetangga. Kasihan, meninggal beberapa bulan lalu. Katanya bunuh diri."

Raka merasa kalimat terakhir itu jatuh seperti batu.

"Bunuh diri?"

"Iya. Setelah itu Anton berubah. Badannya kurus. Matanya gelap. Kalau malam kadang duduk di depan pintu sampai pagi. Saya pernah tanya makan belum, dia cuma bilang, 'Bu, kalau hukum tidur, orang kecil harus bagaimana?' Saya tidak mengerti maksudnya."

Dimas yang berdiri di samping Raka menjadi diam.

Kribo menghubungi lewat earphone beberapa menit kemudian.

"Aku dapat datanya. Anton Saputra, tiga puluh dua tahun, mantan satpam PT Sejahtera Pangan Jaya. Di-PHK enam bulan lalu. Alasan resmi: pelanggaran disiplin. Detail kosong. Ini aneh. Perusahaan besar biasanya suka menulis pelanggaran orang kecil sampai tiga halaman."

"Yuli?" tanya Raka.

Suara Kribo melambat. "Yuli, dua puluh sembilan tahun. Tunanetra sejak lahir. Meninggal empat bulan lalu. Penyebab resmi: bunuh diri. Tidak ada autopsi lengkap. Laporan sangat tipis. Terlalu tipis untuk kematian perempuan hamil."

Raka berhenti berjalan.

"Hamil?"

Dimas menoleh tajam.

Kribo menghela napas di seberang. "Ya. Catatan kelurahan menyebut bayi ikut meninggal. Aku belum punya detail medis. Tapi, Bro... ini bau busuk. Bukan bau Bardi. Bau orang kaya yang membayar kertas supaya diam."

Raka menatap pintu kontrakan kosong.

Di balik korban, ada pelaku.

Hasan dan Feri hilang. Mereka korban penculikan.

Di balik pelaku, ada korban yang sebenarnya.

Anton mungkin pelaku penculikan.

Yuli mungkin korban yang tidak pernah didengar siapa pun.

Kembali di kantor, papan kasus berubah bentuk. Foto Hasan dan Feri tetap di tengah. Tapi di bawahnya kini ada foto dokumen Anton, catatan PHK, alamat kontrakan kosong, potongan rekaman van putih, dan nama Yuli yang ditulis Raka dengan spidol hitam.

Dimas berdiri di samping papan. "Kalau Anton memang menculik mereka karena dendam, itu masih kriminal. Kita tidak boleh lupa bagian itu."

"Aku tahu."

"Menemukan alasan seseorang melakukan kejahatan tidak membuat kejahatannya hilang."

"Aku tahu, Bang Dimas."

Dimas menatapnya. Kali ini suaranya lebih pelan. "Aku cuma mengingatkan sebelum kau terlalu banyak merasa."

Raka diam.

Kribo dari laptop berkata, "Tapi cerita ini bukan hitam-putih. Istrinya buta, meninggal, laporan tipis, perusahaan menutup banyak perkara. Kalau Anton meledak, mungkin karena semua pintu sebelumnya dikunci dari luar."

Andi menambahkan, "Van putih belum terlacak. Plat disamarkan. Tapi pola masuk loading dock cocok dengan orang yang tahu prosedur internal. Aku bisa tarik data kendaraan di sekitar kamera jalan. Butuh waktu."

Yudha masuk ke ruang briefing tanpa suara besar. Ia membaca papan kasus, lalu berhenti pada nama Yuli.

"Jelaskan."

Raka menjelaskan singkat. Tidak berlebihan. Tidak menyebut panel sistem. Tidak menyebut Mata Dosa secara langsung, hanya kantor Hasan sebagai titik yang perlu didalami karena pola perilaku karyawan.

Yudha mendengarkan sampai selesai.

"Prioritas tetap menemukan Hasan dan Feri hidup," katanya.

"Siap."

"Tapi mulai besok, kita buka latar belakang Yuli. Kalau ada yang ditutup, kita buka. Kalau ada yang dibayar untuk diam, kita cari siapa pembayarnya."

Raka menatapnya.

Yudha membalas tatapan itu. "Kau bukan satu-satunya yang bisa marah, Raka. Bedanya, marahku harus bisa masuk berkas."

Kalimat itu menancap.

Malamnya, Raka berdiri sendirian di ruang arsip. Map baru untuk Kasus #003 belum tebal, tetapi rasanya sudah lebih berat daripada banyak kasus lama.

Ia menulis di kertas kosong:

Hasan Wirawan.

Feri Wirawan.

Anton Saputra.

Yuli.

Lalu ia berhenti.

Dalam kasus sebelumnya, pelaku adalah monster yang jelas. Wisnu. Bardi. Orang-orang yang saat terlihat dosa aslinya, tidak menyisakan ruang ragu.

Kasus ini berbeda.

Jika Anton menculik Hasan dan Feri, ia harus dihentikan.

Jika Hasan dan Feri menghancurkan hidup Yuli, mereka harus diadili.

Dan jika hukum manusia pernah membiarkan Yuli jatuh sendirian, Raka tidak tahu apakah ia masih punya hak untuk menyuruh Anton percaya pada hukum yang sama.

Dimas masuk dan bersandar di pintu. "Pulang. Besok panjang."

Raka menutup spidol.

"Bang Dimas."

"Ya?"

"Menurutmu Anton penjahat?"

Dimas tidak langsung menjawab.

"Mungkin," katanya akhirnya. "Mungkin ada sisi lain."

Raka melihat nama Yuli sekali lagi.

"Sistem bilang di balik pelaku ada korban sebenarnya," gumamnya.

Dimas tidak mendengar jelas. "Apa?"

Raka menggeleng.

"Mungkin Anton bukan penjahat," katanya pelan. "Mungkin dia pencari keadilan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!