NovelToon NovelToon
Bad Liar

Bad Liar

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:968.4k
Nilai: 5
Nama Author: Theodora Ara

Meet Theora Bathassa Ghazy - gadis berkulit kuning langsat dengan lesung pipi di kedua pipi nya itu harus melanjutkan beasiswa S2 nya di salah satu Universitas ternama di Korea Selatan. Dengan bahasa korea nya yang masih terbata bata, ia harus menjalani kehidupan baru nya di negeri gingseng tersebut.

Meet Lee Elfensius Jeno - Laki laki berdarah korea-Inggris itu terlihat sangat dingin namun lembut secara bersamaan. Dengan garis wajah yang keras, rahang yang sempurna dan kulit putih bersinar khas orang korea. Ia merupakan CEO sekaligus pemilik tunggal Jeora Entertaiment yang kini menjadi agensi terbesar di korea selatan.

Bertemu dengan seseorang yang sulit memahami bahasa korea dengan cepat ketika ia terbiasa berbicara dengan cepat membuat seorang Jeno yang terbiasa menuntut dan bergerak cepat frustasi. Sedangkan Ara yang masih belum terbiasa menggunakan bahasa korea juga harus selalu menajamkan otak serta pendengaran nya ketika Jeno berbicara pada nya. Namun tak terasa kedua nya seolah olah menikmati hal aneh tersebut.

Lalu bagaimanakah kelanjutan dari hubungan mereka? Ikuti terus kisah mereka yaaa...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theodora Ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bad Liar - Bagian 10

“Siapa itu Ra?” Pertanyaan Shahi membuat Ara mengalihkan perhatian nya dari ponsel.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Ara singkat dan meletakkan ponsel nya ke atas meja.

“Apa kau yakin?” Tanya Shahi lagi, tak puas dengan jawaban dari Ara.

“Tentu saja Shahi. Aku sangat yakin,”

“Lalu mengapa kau berkata akan bertanggung jawab?” Shahi kembali bertanya untuk memuaskan rasa penasaran nya.

“Ahhh… Itu karena aku tanpa sengaja mengotori kemeja miliknya, oleh karena itu aku harus bertanggung jawab,”

“Ahh… Baiklah. Kupikir ada sesuatu yang aneh atau berbahaya,” Shahi menghela nafas lega, ia takut sahabat nya ini memiliki masalah serius dengan orang korea.

Shahi tau, jika orang asing seperti dirinya dan Ara memiliki masalah dengan orang korea, maka urusan nya akan panjang dan rumit. Jadi sebisa mungkin ia akan menjauhkan Ara dari orang korea sehingga sahabatnya itu kecil kemungkinan untuk bermasalah dengan mereka. Ara hanya menggeleng pelan dan kembali fokus ke makanan nya.

“Ohh satu lagi, jika kau ada apa-apa, katakan saja padaku. Aku akan berusaha membantu mu, jangan memendam nya sendirian. Oke?!?” Shahi kembali mengingatkan Ara mengenai bahaya yang mungkin saja mengincar ketika kita tidak berhati-hati di negeri orang seperti saat ini.

“Tentu saja. Aku akan mengatakan nya. Lagipula kau tau bukan, jika aku tidak mungkin menceritakan masalah ku pada saudara laki-laki ku di Indonesia. Karena jika ia tau, aku akan di paksa untuk berhenti kuliah, dan melanjutkan nya saja di Indonesia agar ia tidak perlu merasa khawatir lagi," Jelas Ara tenang, dan menutup wadah bekal nya hari ini. Ia sudah selesai makan siang. Tinggal menunggu Shahi yang kini sudah kembali focus untuk memakan makan siang milik nya.

                                          ***

Tok…tok… tok…

Suara ketukan terdengar dari arah pintu itu mengembalikkan Jeno dari bawah sadar nya, dengan cepat ia menegakkan tubuhnya kembali dan bergerak mendekati laptop yang sedari tadi menyala.

“Masuk,” Ujar Jeno dengan suara sedikit lebih keras. Lalu tak lama setelahnya, Park Seong Jo muncul dari balik pintu sembari membawa sebuah map di tangan kanan nya.

“Ini berkas untuk meeting yang Anda minta Mr. Lee,” Park Seong Jo menyerahkan map biru muda tersebut kepada Jeno yang hanya menatap dirinya dengan tatapan tajam.

“Baik. Kau boleh keluar,” Jeno segera mengambil map tersebut dan mulai mempelajarinya sebentar.

“Oh tunggu Sekretaris Park,” Jeno mengalihkan perhatian nya dari arah berkas menuju ke arah Park Seong Jo yang sudah memegang gagang pintu, hendak keluar.

“Ya Mr. Lee, ada yang bisa saya bantu?” Park Seong Jo membalikkan badan nya dan menatap ke arah Jeno. Menunggu atasan nya tersebut berbicara.

“Jam berapa meeting hari ini," Tanya Jeno

“15 menit lagi Mr. Lee,” Sahut Park Seong Jo sopan sembari tersenyum ramah.

“Apa jadwal saya selanjutnya?” tanya Jeno lagi.

“Tidak ada Mr. Lee. Anda tidak ada jadwal lagi, hingga esok hari,"

“Besok? Pukul?” tanya Jeno sembari kembali menatap berkas yang ada ditangan nya.

“Pukul 10 pagi Mr. Lee,” Sahut Park Seong Jo lagi.

“Ajukan meeting tersebut hari ini, sebab besok aku mungkin akan terlambat datang,” Ujar Jeno dengan masih tetap membaca berkas untuk meeting hari ini.

“Tapi Mr. Lee —”

“Apa saya harus mengulangi nya lagi Sekretaris Park?” Tanya Jeno memotong apa yang hendak dikatakan oleh sang sekretaris, sedangkan Park Seong Joo hanya dapat menghembuskan nafas nya perlahan. Mencoba menahan diri.

“Tidak perlu Mr. Lee, akan saya lalukan sesuai dengan perintah Anda. Kalau begitu saya permisi dulu. Selamat siang," Park Seong Jo dengan cepat meninggalkan ruangan Jeno dan mulai mengatur ulang jadwal Jeno esok hari.

Setelah Park Seong Joo meninggalkan ruangan nya, Jeno kembali menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi besar miliknya. Ia menutup matanya sejenak, dan meletakkan tangan kanan nya menutupi kedua matanya. Ia merasa sangat lelah. Namun entah mengapa, bayangan Ara terlintas dibenak Jeno ketika ia baru saja mengeluh.

Ada apa dengan diriku ini, mengapa bayangan gadis itu selalu muncul ketika aku merasa... sendiri?

Jeno bertanya tanya dalam hati. Mengapa harus gadis itu yang muncul di benak nya. Mengapa tidak gadis lain yang lebih cantik dari dirinya. Mengapa harus dia. Itu yang slalu dipikirkan Jeno.

Meskipun tak dapat dipungkiri olehnya, memang hanya mendengar suara nya saja, Jeno merasa beban nya terangkat seketika. Ia pun segera mengeluarkan ponsel miliknya dari saku jas hitam yang sudah melekat sempurna di tubuh atletis miliknya.

Ia mencari nomor ponsel gadis itu—nomor yang sudah ia dapatkan dari Park Seong Jo tak lama setelah ia menelfon ketika dirinya masih di pelataran kampus Ara— setelah menemukan nya, jarinya mendadak berhenti di atas layar ponsel nya.

Apakah aku harus menelpon nya sekarang? Apakah gadis itu akan mengangkat nya?

Ia ragu, apakah ia harus menelpon nya atau tidak. Di pikiran nya jelas ia menolak melakukan hal tersebut, namun tidak dengan hatinya. Untuk pertama kali didalam hidupnya, hati dan pikiran nya tidak sejalan. Dan tanpa diduga, tubuhnya seolah merespon baik apa yang di katakan hati nya. Jari-jari nya bergerak menekan tombol memanggil. Jeno hanya terpaku dan melotot untuk sesaat. Kaget dengan apa yang baru saja ia lakukan.

Tuuuuttttt……

Suara panggilan terdengar di telinga Jeno, namun tak kunjung di angkat oleh si pemilik nomor. Hingga suara operator yang menjawab panggilan dari Jeno. Kejadian itu terus berulang hingga panggilan ke 10.

Apa yang sedang gadis ini lakukan? Mengapa tidak diangkat? Apa ia sedang bersama dengan kekasihnya hingga tidak menjawab panggilan ku? Apa ia tengah makan siang? Apakah aku mengganggu makan siang nya? Ataukah ia tidak mengenali nomor ponsel ku?

Pertanyaan-pertanyaan itu seolah olah muncul di benak nya, tatkala panggilan nya tak kunjung terjawab. Pertanyaan terakhir lebih terdengar masuk akal dibandingkan dengan opsi yang lain. Mengingat nomor yang ia gunakan saat ini adalah nomor pribadinya. Nomor yang hanya di miliki oleh anggota keluarga dan sahabat terdekatnya saja.

Bahkan sekretaris nya pun tidak memiliki nomor ini, karena ia tidak ingin quality time nya terganggu oleh masalah pekerjaan. Jadi untuk urusan bisnis dan pekerjaan nya, ia menggunakan nomor lain yang memang slalu ia bawa kemana-mana. Dan gadis itu adalah orang yang beruntung karena ia panggil dengan nomor pribadinya. Meskipun gadis itu tidak mengetahui nya, hal itu membuat Jeno merasa geli sendiri.

Tok… Tok… Tok…

Suara ketukan pintu terdengar di telinga Jeno yang masih mengeluh karena panggilan darinya tak kunjung terangkat juga. Ia pun menginstruksikan orang yang tadi mengetuk untuk masuk ke dalam.

“Masuk,” sahut Jeno dengan suara lantang nun berat milik nya.

“Maaf mengganggu Anda Mr. Lee, saya ingin mengingatkan bahwa, 5 menit lagi meeting akan dimulai,” Suara Park Seong Jo terdengar setelah pintu ruangan Jeno terbuka. Jeno hanya mengangguk kan kepala nya mengerti. Ketika ia hendak mematikan panggilan ke 15 nya, sebuah suara yang terdengar kesal namun berusaha untuk di tutupi itu terdengar mengalun di telinga nya. Jeno dengan cepat menghentikan langkah kaki nya.

“Halo!?!” suara Ara yang terdengar dari sebrang sana membuat senyum di wajah Jeno muncul.

“Apa kabar Nona?” Sapa Jeno dengan suara berat yang ia usahakan untuk tetap terdengar dingin.

“Maaf ini siapa?” Tanya Ara to the point, tak ingin berlama-lama menjawab panggilan dari nya.

“Apa kau sudah lupa suara ku Nona?” Tanya Jeno menjawab pertanyaan Ara dengan pertanyaan lagi. Ia bisa menebak dahi gadis itu pasti sudah berkerut dalam.

“Maaf jika memang tidak ada kepentingan, saya akan mematikan panggilan ini,"

“Tunggu!!!” Mendengar Ara yang hendak menutup panggilan darinya, membuat Jeno tanpa sadar setengah berteriak mencegah nya.

“Ini aku, Jeno oppa” Ujar Jeno saat ia sudah kembali menetralisir suaranya agar terdengar seperti semula.

“Hah? Jeno Oppa?” Jeno dapat membayangkan wajah Ara yang menyerit bingung saat mengatakan nya.

Jeno pun kembali melangkahkan kaki nya ke arah ruang meeting. Disana semua orang sudah menunggu nya, namun mereka semua menyerit heran saat melihat Jeno yang masih meletakkan ponsel nya ditelinga kanan nya. Tidak seperti biasanya. Jeno yang sadar akan apa yang tengah di perhatikan semua orang pun dengan segera menghubungkan panggilan tersebut ke earphone milik nya dan duduk di ujung meja besar disana.

“Ada apa Paman?” Suara Ara kembali terdengar ketika Jeno sudah menduduki dirinya di kursi yang berada di paling ujung dari meja meeting kali ini.

“Huh….” Jeno menghembuskan nafas nya perlahan, lalu mempersilahkan meeting kali ini dimulai.

“Bagaimana kelanjutan dari tanggung jawab mu Nona?” Tanya Jeno setelah menghela nafas pelan karena Ara yang kembali memanggil nya dengan sebutan ‘Paman’ saat semua perempuan ingin sekali memanggilnya dengan ‘Oppa’.

“Ahhh… Itu, kau tidak usah khawatir paman, aku akan tetap bertanggung jawab. Karena besok aku ada kelas pagi, maka aku akan mampir ke tempat mu lebih dahulu. Jadi sekarang berikan alamat rumah mu,” Suara Ara yang terdengar pelan itu mengalun lembut namun tetap jelas di telinga nya, meskipun suara salah satu karyawan nya yang tengah presentasi itu terdengar menggema di seluruh ruangan kedap suara itu.

“Apa kau yakin akan datang ke rumah ku Nona?” Tanya Jeno dengan suara tak kalah pelan karena ia tengah meeting saat ini. Dan bertelfonan saat meeting bukanlah hal yang patut dilakukan oleh seseorang seperti dirinya yang terkenal akan kedisiplinan nya.

Namun untuk pertama kali nya, ia melanggar apa yang ia larang sendiri. Jeno memastikan apa yang baru saja Ara katakan karena dari yang ia tau, perempuan akan merasa riskan saat akan berkunjung ke rumah lawan jenis nya, terlebih lagi mereka baru saja bertemu kemarin.

“Tentu saja Paman, mengapa? Kau tidak mengizinkan nya? Baiklah jika kau memang melarang nya. Aku tidak akan datang,” Suara Ara kembali terdengar ketika ia tengah mendengarkan client nya yang tengah bertanya.

“Tidak. Tidak apa-apa. Maksud ku, apa kau yakin tidak akan terlambat lagi seperti tadi?” Tanya Jeno lagi namun dengan wajah yang terlihat serius menatap dan mendengarkan presentasi di depan.

“Paman tenang saja. Hal itu tidak akan terulang lagi. Jadi Paman, apa kau akan memberikan ku alamat rumah mu?”

“Baiklah aku akan mengirimkan nya lewat pesan. Dan satu lagi, simpan nomor ku ini tapi jangan kau sebar ke orang lain karna ini nomor pribadi ku,” Ujar Jeno mengingatkan.

“Tenang saja paman, tidak ada untung nya juga aku menyebarkan nomor ponsel mu ini," Sahut Ara dengan nada yang terdengar seolah tidak perduli.

“Satu lagi, jika ada yang menelpon mu, segeralah diangkat. Jangan membuat nya menunggu terlalu lama,” Ujar Jeno lagi dengan nada sedikit kesal karna ia harus menelpon hingga berkali-kali terlebih dahulu baru gadis itu mau mengangkat nya. Dan untung saja, ia masih bisa menahan diri untuk tidak menghampiri gadis itu langsung di kampus nya. Karena jika ia masih tidak menjawab panggilan dari nya, dapat ia pastikan bahwa ia akan pergi menghampiri nya saat itu juga.

“Iya aku mengerti. Sudah ya aku tutup dulu. Selamat siang,” Suara Ara dengan cepat tergantikan oleh suara yang menandakan bahwa panggilan sudah ditutup terlebih dahulu bahkan sebelum ia mengucapkan kalimat penutup.

Apa yang sudah kau lakukan padaku Nona, hingga rasanya aku ingin terus mendengar suara mu.

Jeno menyenderkan badan nya ke arah kursi kebesarannya dan mulai menutup matanya. Mencoba menghilangkan bayang-bayang wajah gadis yang kemarin di temui nya — Ara.

“Mr. Lee apa Anda baik-baik saja?” Pertanyaan dari moderator meeting hari ini pun menyadarkan Jeno atas apa yang baru saja ia lakukan. Karena tingkah gadis itu, Jeno sampai melakukan hal hal yang tidak pernah ia lakukan sebelum nya. Gadis itu benar-benar sudah mengacaukan harinya.

“Tidak apa-apa. Lanjutkan saja," Sahut Jeno dan kembali menegakkan tubuhnya untuk kembali melanjutkan meeting nya kali ini yang akan berjalan sangat lama dan amat membosankan tentunya.

Untung saja aku sudah mendengarkan suara gadis itu.

Jeno tersenyum singkat sembari terus mendengarkan kelanjutan presentasi tadi dengan khidmat dan mood yang lebih baik dari sebelum nya.

                             

                                           ***

                                          TBC

Halo semuaaa.... 👋👋👋

Aku lagi ikut kontes nih, jika berkenan bantu aku dengan terus memberi vote, komentar dan like kalian ya. Ditunggu vote nya semuaaa....

Oh iya, jangan lupa mampir di karya ku yang lain yaa!!!

Yang suka tema horror dan misteri bisa baca karya kedua ku yaitu "Haloween",

Ditunggu kehadiran nyya semuaaa!!!

Sampai jumpa di bab selanjutnya 👋👋👋

Yang mau mutualan sama nanya-nanya soal cerita ini bisa chat aku di instagram atau di grup chat yaaa

^ ^

                                             Follow my Instagram :

                                                       @chocho_lalattee

        

1
Evilathifah
bertele2 jadi males bacanya .
Yani Cuhayanih
Aku nyimaks thor
Lettaandreyana11 Yana
Halo gays jangan lupa mampir YAA ke cerita aku judul nya " I LOVE YOU DOSEN GALAK (tamat)
🌻Ruby Kejora
Hai Kakak salam kenal salam buat kakak ya❤️❤️
Salmah S
mampir thor
Opin Mulyarovina
ya
kookv
cie jeno memerah...
juni
lanjut dong 🙏🙏
Rahma Wati
lahh ko lanjuttt tanggung nih
Eka Prastya Kurniawan
tiap hari dong thor up nya
Nela Newaty
smngat Thor
miss keling
jan lama2 donk updatenya 🙃semangat2 author
Dewiqita
jeno bucin.
Eka Prastya Kurniawan
haduchhh thor jangan lama2 dong up nya😔😔
Eka Prastya Kurniawan
lanjuttt thorrr,kangen sama Jeno oppa😍😍
Hasfar
Lanjuttt Thor, yang semngattt dong...
Gaspolll👌👍👍😍😍😍
Nela Newaty
lanjut thor
Sumarni
Up yg Bnyk donk thor 💪💪😍
Rahma Wati
lanjutt thor jgan kendorrr
Eka Prastya Kurniawan
author nya kemana,,up nya laaamaaa bangettt😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!