NovelToon NovelToon
Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 19 : Undangan Pesta Elite

Pagi itu, selembar kartu undangan eksklusif berlapis emas dengan cetakan timbul yang mewah mendarat di atas meja marmer ruang makan kediaman Mahendra. Kartu tersebut bukan sekadar undangan biasa, melainkan tiket masuk menuju *The Grand Aurora Gala*—sebuah perhelatan amal tahunan paling bergengsi yang menyatukan para taipan bisnis, pejabat tinggi negara, serta jajaran diplomat asing. Di dunia elite, menghadiri pesta ini bukan sekadar tentang formalitas, melainkan panggung unjuk kekuatan, pengaruh, dan citra keluarga.

Ibu Sarah mengambil kartu tersebut dengan ujung jarinya yang dihiasi cat kuku merah mewah, lalu menatap Nadira yang sedang menuangkan teh hangat untuk Opa Wijaya dengan pandangan yang sarat akan skeptisisme.

"Tahun ini, Mahendra Group menjadi salah satu donatur utama," ujar Ibu Sarah, suaranya terdengar sengaja ditinggikan agar menggema di seluruh ruang makan. "Arka, sebagai CEO, tentu harus hadir dan membawa pasangannya. Tapi, jujur saja, Mama benar-benar meragukan apakah istrimu ini siap menghadapi atmosfer di sana."

Nadira menghentikan gerakannya sejenak. Ia melirik Arka yang duduk di ujung meja, tampak tenang memotong roti panggangnya tanpa ekspresi berarti.

Ibu Sarah mendengus, melipat tangannya di depan dada. "Tamu-tamu yang hadir di *The Grand Aurora* bukan orang-orang sembarangan, Nadira. Mereka adalah kaum borjuis yang bisa menilai kelas sosial seseorang hanya dari cara memegang garpu atau cara melangkah. Saya tidak ingin reputasi Arka dan nama besar Mahendra hancur dalam semalam hanya karena kamu melakukan tindakan udik yang memalukan."

"Sarah, jaga bicaramu!" Opa Wijaya menyela dengan nada ketat. "Nadira adalah menantu di rumah ini. Dia memiliki keanggunan alami yang tidak perlu dibuat-buat."

"Keanggunan alami tidak cukup untuk jamuan makan malam tujuh lapis dan obrolan politik makro, Papa," balas Ibu Sarah sengit. "Jika dia tetap harus pergi, dia harus belajar. Dan waktunya tidak banyak. Hanya ada waktu lima hari."

Nadira terdiam, merasakan kecemasan yang perlahan merayap di dadanya. Pesta elite dengan ratusan pasang mata yang siap menghakiminya terdengar seperti labirin yang mengerikan. Namun, melihat bagaimana Ibu Sarah terus meremehkannya, dan menyadari bahwa ia membawa nama Arka di pundaknya, setitik api tekad mulai berkobar di dalam hati Nadira. Ia tidak boleh menjadi batu sandungan bagi pria yang belakangan ini diam-diam mulai melindunginya.

"Saya akan belajar, Nyonya," ucap Nadira dengan nada suara yang tenang namun sarat akan ketegasan. "Saya akan mengusahakan yang terbaik agar tidak mengecewakan keluarga ini."

---

Sejak hari itu, kediaman Mahendra berubah menjadi ruang pelatihan intensif bagi Nadira. Setiap sore, sepulang dari kegiatannya mengajar di sekolah, Nadira tidak langsung beristirahat. Didampingi oleh Kepala Pelayan rumah, Pak sidiq—seorang pria paruh baya yang telah mengabdi selama tiga dekade dan menguasai seluruh protokol etika Eropa—Nadira memulai transformasi dirinya.

Di ruang makan sekunder, meja panjang telah ditata dengan puluhan perangkat alat makan perak yang rumit.

"Nyonya Muda, mari kita mulai dari jamuan makan formal," ujar Pak sidiq dengan sikap formal yang membimbing. "Ingatlah aturan dasarnya: gunakan alat makan dari urutan paling luar menuju ke dalam seiring bergantinya hidangan. Jangan pernah mengangkat mangkuk sup, dan pastikan posisi punggung Anda tetap tegak lurus dengan sandaran kursi, berjarak tepat satu kepalan tangan."

Nadira mengangguk, mencatat setiap detail di dalam benaknya. Ia memegang pisau dan garpu kecil untuk hidangan pembuka, mencoba menggerakkannya tanpa menimbulkan suara dentingan sedikit pun di atas piring porselen. Tangannya sempat kaku, beberapa kali Pak sidiq harus membetulkan sudut kemiringan lengannya.

Tak hanya etika makan, tata krama sosial pun menjadi menu wajib. Nadira harus menghafal cara menyapa para pejabat, intonasi suara yang tepat saat melakukan obrolan ringan, hingga cara mempertahankan kontak mata yang sopan namun penuh percaya diri.

Opa Wijaya pun tidak tinggal diam. Dari atas kursi rodanya di sudut ruangan besar, sang kakek bertindak sebagai pengamat sekaligus pemberi koreksi.

"Senyummu sudah sangat manis, Nadira," pajar Opa Wijaya sambil terkekeh pelan saat melihat Nadira berlatih berjalan dengan sebuah buku tebal yang diletakkan di atas kepalanya demi menjaga keseimbangan. "Tapi ingat, di pesta nanti, jangan biarkan tatapan merendahkan orang lain membuat bahumu merosot. Angkat dagumu. Kamu adalah istri dari seorang Arka Mahendra, tunjukkan bahwa kamu layak berada di sana."

---

Di sela-sela jam latihannya yang menguras energi, ada sepasang mata lain yang terus memperhatikan setiap jengkal usaha keras Nadira dari kegelapan.

Arka yang belakangan ini sengaja pulang lebih awal dari kantor, sering kali berdiri di balik pilar koridor lantai dua yang menghadap langsung ke ruang tengah. Dari posisinya, ia bisa melihat bagaimana Nadira berulang kali jatuh bangun melatih langkah kakinya menggunakan sepatu hak tinggi setinggi sepuluh sentimeter—sesuatu yang hampir tidak pernah wanita itu sentuh dalam kehidupan sehari-harinya sebagai guru TK.

Arka melihat bagaimana pelipis Nadira dibanjiri keringat, bagaimana jari-jari kakinya mulai memerah dan lecet akibat gesekan sepatu, namun wanita itu sama sekali tidak mengeluh. Setiap kali Pak sidiq menawarkan untuk menyudahi latihan, Nadira selalu menggelengkan kepala sambil tersenyum dan berkata, *“Sekali lagi, Pak sidiq. Saya ingin memastikan langkah saya tidak ragu.”*

Melihat kegigihan dan keteguhan hati istrinya, ada rasa hangat yang tak kasat mata yang merayap di dalam dada Arka. Penghargaan dan rasa kagumnya pada Nadira tumbuh berkali-kali lipat. Wanita ini tidak sedang mengejar kemewahan; ia sedang bertarung habis-habisan demi menjaga kehormatan nama suaminya.

Pada malam ketiga latihan, ketika rumah sudah sunyi dan semua orang telah beristirahat, Nadira masih berada di ruang tengah, mencoba berlatih gerakan dansa dasar sendirian tanpa musik. Ia melangkah maju, berputar, namun kehilangan keseimbangan di langkah akhir karena kakinya yang teramat lelah. Tubuhnya limbung ke belakang.

"Ah—"

Sebelum tubuh Nadira menyentuh lantai marmer, sebuah lengan yang kokoh dan kuat tiba-tiba melingkar di pinggangnya, menahan bobot tubuhnya dengan sangat pas. Aroma maskulin kayu cedar yang familier langsung menyeruak, menenangkan kepanikan Nadira dalam sekejap.

Nadira mendongak, matanya membelalak saat mendapati Arka sudah berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan mata yang dalam di bawah temaram lampu malam.

"Pak... Arka?" bisik Nadira, napasnya memburu karena terkejut.

Arka tidak melepaskan lengannya dari pinggang Nadira. Ia membetulkan posisi berdiri mereka, namun tangan kanannya beralih meraih telapak tangan kiri Nadira, menautkan jemari mereka dengan erat, sementara tangan kirinya tetap menumpu di pinggang wanita itu. Posisi mereka kini menjadi posisi dansa klasik yang sempurna.

"Langkah kirimu terlalu cepat di putaran kedua," ucap Arka, suaranya terdengar berat dan rendah di dalam keheningan malam, bebas dari nada dingin yang biasanya ia gunakan. "Ikuti ketukan saya. Satu, dua, tiga... mundur."

Tanpa menunggu persetujuan Nadira, Arka mulai menggerakkan kakinya dengan perlahan, menuntun langkah Nadira menari di atas lantai marmer yang sunyi. Nadira yang awalnya canggung, perlahan-lahan mulai menyelaraskan gerakannya dengan ritme langkah Arka yang tegas namun penuh perhitungan. Jas tidur satin hitam yang dikenakan Arka sesekali bergesekan dengan blus rajut milik Nadira, menciptakan atmosfer keintiman yang mendebarkan di antara mereka.

Untuk beberapa menit, mereka berdansa dalam keheningan yang magis. Tatapan mata mereka saling mengunci, memancarkan debaran-debaran perasaan yang selama ini terkunci rapat di balik benteng ego masing-masing. Arka bisa merasakan bagaimana kelembutan tubuh Nadira menyatu dengan kekuatannya, sementara Nadira menyadari bahwa di balik ketegasan sikap suaminya, ada sebuah kenyamanan luar biasa yang melindunginya.

Begitu gerakan dansa itu berakhir dengan putaran sempurna, Arka tidak langsung menjauhkan tubuhnya. Ia menatap wajah Nadira yang merona merah, lalu melirik sekilas ke arah kaki wanita itu yang tampak ditempeli beberapa plester luka.

"Besok, kurangi jam latihanmu," perintah Arka lembut, sebuah nada perhatian yang jarang ia tunjukkan. "Saya tidak ingin mendampingi seorang istri yang pincang di atas altar pesta nanti."

Nadira tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang membuat matanya menyipit manis. "Terima kasih, Pak Arka. Saya akan berhati-hati."

---

Sementara itu, di sudut lain kota metropolitan yang berkilau, Selena sedang berdiri di dalam butik perancang busana papan atas, menatap pantulan dirinya di depan cermin besar. Ia mengenakan gaun malam berbahan sutra merah menyala yang berpotongan berani, memancarkan aura kemewahan yang provokatif.

Di sampingnya, sebuah tablet digital menampilkan konfirmasi kehadiran untuk *The Grand Aurora Gala*. Nama Selena tertera dengan jelas sebagai salah satu perwakilan komite humas yayasan mitra.

Sebuah senyuman kejam dan penuh kedengkian terukir di wajah rupawan Selena. Informasi mengenai masa lalu keluarga Nadira yang gagal ia gunakan untuk menghancurkan wanita itu di rumah Mahendra karena pembelaan Arka, kini telah ia kemas dalam skenario yang jauh lebih matang dan berskala besar.

"Kamu pikir kamu bisa membersihkan namamu dengan belajar tata krama dalam beberapa hari, Nadira?" gumam Selena, matanya berkilat penuh kebencian yang mendalam. "Pesta amal itu akan dihadiri oleh seluruh kolega bisnis utama Arka dan media massa nasional. Dan di sanalah, di depan ratusan pasang mata yang paling berkuasa di negeri ini, aku akan menguliti seluruh kebohongan dan latar belakang miskinmu."

Selena sudah menyuap salah seorang staf pengisi acara untuk menyelipkan sebuah video dokumenter khusus di tengah-tengah sesi presentasi amal—sebuah video yang memuat detail kebangkrutan keluarga Nadira dan catatan utang masa lalu ayahnya yang akan ditayangkan secara langsung di layar raksasa aula utama.

"Aku akan memastikan bahwa malam yang seharusnya menjadi panggung debutmu sebagai istri CEO, akan berubah menjadi malam pemakaman bagi harga diri dan martabatmu di dunia elite," bisik Selena dalam hati, mengukuhkan sumpah jahatnya seraya membayangkan kehancuran total dari pernikahan kontrak yang begitu ia benci.

---

Hari yang dinantikan pun akhirnya tiba.

Malam itu, lobi utama hotel bintang lima tempat berlangsungnya *The Grand Aurora Gala* telah dipenuhi oleh deretan mobil-mobil mewah berseri premium. Karpet merah membentang panjang, menyambut kedatangan para tokoh penting yang melangkah masuk di bawah kilatan lampu kilat para fotografer media massa.

Sebuah mobil sedan hitam komersial milik Mahendra Group berhenti tepat di depan lobi utama. Petugas valet bergegas membukakan pintu penumpang belakang.

Arka Mahendra melangkah keluar terlebih dahulu. Pria itu tampak luar biasa tampan dan berwibawa dalam balutan setelan tuksedo hitam klasik potongan *tailor-made*, dengan kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu yang terpasang sempurna. Auranya sebagai salah satu pemimpin bisnis muda paling berpengaruh langsung menyedot perhatian seluruh mata di sekitar karpet merah.

Arka berbalik, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah dalam kabin mobil dengan sikap yang sangat ksatria.

Sebuah tangan halus dengan jemari lentik yang dihiasi cincin pernikahan emas murni menyambut uluran tangan Arka. Nadira melangkah keluar dari dalam mobil, dan seketika itu juga, suasana di sekitar lobi seolah senyap selama beberapa detik karena keterpukauan yang masif.

Nadira tampil memukau dalam balutan gaun malam *A-line* berwarna cokelat susu—warna yang sengaja ia pilih untuk menyelaraskan diri dengan warna syal hangat yang selalu ia sukai. Gaun itu terbuat dari perpaduan kain satin premium dan brokat halus bermotif minimalis yang menutup tubuhnya dengan sangat sopan namun memancarkan keanggunan tingkat tinggi. Rambut hitamnya ditata dalam sanggul modern yang rapi, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajahnya yang dipulas riasan natural yang segar.

Tidak ada kesan wanita udik atau guru TK dari pinggiran kota. Yang berdiri di samping Arka malam itu adalah seorang wanita yang memancarkan aura ketenangan, martabat, dan kelas sosial yang berkelas berkat latihan keras dan keanggunan alaminya.

Arka menatap istrinya dari samping, dan untuk sejenak, ia sempat terpaku memandangi kecantikan Nadira yang begitu memikat malam itu. Ia menekuk lengan kirinya, memberi isyarat.

Nadira tersenyum tipis, lalu menyilangkan tangan kanannya di atas lengan Arka, menggenggamnya dengan lembut namun penuh keyakinan. Langkah kaki mereka yang bergerak selaras—hasil dari latihan dansa rahasia di tengah malam—mulai menapaki karpet merah, berjalan masuk menuju aula utama pesta.

Di balik pilar lobi, Selena yang baru saja tiba menatap kedatangan pasangan itu dengan mata yang menyipit tajam penuh amarah. Menyaksikan bagaimana Nadira bisa tampil begitu memukau dan menggandeng lengan Arka dengan begitu serasi membuat rasa cemburunya membakar habis akal sehatnya.

"Nikmatilah senyumanmu itu selagi bisa, Nadira," desis Selena dengan senyum miring yang penuh racun, seraya melangkah masuk mengikuti mereka dari belakang. "Karena sebentar lagi, tirai pertunjukan yang sesungguhnya akan segera dibuka, dan aku akan memastikan kamu keluar dari ruangan ini dengan air mata penyesalan yang paling dalam."

Badai besar di atas panggung elite telah resmi dipersiapkan, dan malam itu akan menjadi saksi apakah ketegaran hati Nadira dan debaran rasa bersalah serta kepedulian di dalam hati Arka mampu bertahan menghadapi gempuran fitnah yang siap diledakkan di depan seluruh dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!