NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Malam di Dalam Gua.

Kegelapan tebal langsung menyergap Erlang dan Sekar Arum begitu mereka melangkah melewati batas mulut Goa Langse. Angin malam dari samudra selatan berembus masuk lewat celah-celah langit-langit gua, membawa suara deru ombak yang memantul di dinding karang basah, menciptakan gema yang konsisten dan magis. Setelah berjalan sekitar seratus tindak ke dalam, Erlang memutuskan untuk berhenti di sebuah ceruk batu yang cukup lapang dan kering.

"Nimas Sekar, kita istirahat di ceruk ini saja dulu, yuk?" ajak Erlang sembari menurunkan pikulan bambunya. "Hari sudah beneran gelap di luar. Kalau kita nekat merayap terus di jalan segelap ini, takutnya malah salah injak lalu terperosok ke palung bawah gua."

Sekar Arum bersandar lemas pada dinding gua, napasnya masih agak berat sisa dari ketegangan menembus Hutan Larangan tadi. "Nggih, Erlang. Aku ikut bagaimana baiknya menurutmu saja. Tubuhku rasanya masih sedikit kaku karena sisa dari kabut peraba jiwa tadi."

"Waduh, kalau begitu biar saya buatkan perapian kecil dulu ya, Nimas. Kebetulan di buntalan kain saya ada sisa batu api dan beberapa potong ranting jati kering yang saya pungut di bukit pasir tadi," kata Erlang cekatan.

Hanya dalam beberapa hitungan jantung, sebuah perapian kecil telah menyala di tengah ceruk batu, mengusir kegelapan sepi dan hawa dingin yang menusuk tulang. Erlang duduk bersila di depan api, lalu menoleh menatap Sekar yang duduk agak jauh dari jangkauan kehangatan bara.

"Nimas Sekar, sini mendekat ke dekat api," panggil Erlang ramah sembari menepuk-nepuk sebongkah batu rata di sampingnya. "Jangan duduk di sudut yang lembap begitu. Biar sisa racun dingin di urat darah Nimas beneran larut total, sini saya bantu alirkan lagi sedikit hawa hangatnya."

Sekar Arum sempat ragu sejenak, namun rasa dingin yang menggigit tubuhnya membuat gadis itu akhirnya mengalah. Ia bangkit berdiri, melangkah lalu duduk di atas batu tepat di samping Erlang. "Terima kasih, Erlang. Maaf ya, aku jadi merepotkanmu terus sejak sore tadi."

"Ah, tidak usah sungkan toh, Nimas," sahut Erlang renyah.

Erlang memutar tubuhnya, lalu meletakkan telapak tangan kanannya yang kokoh di atas pundak kiri Sekar. Pusaran inti energi hangat dari balik bajunya kembali mengalir, merembes masuk dengan sangat lembut seperti aliran air hangat yang membasuh urat-urat darah Sekar yang tersumbat.

Di bawah pengaruh gelombang hawa hangat murni yang begitu kuat dan pekat itu, sebuah keajaiban biologis mendadak terjadi pada tubuh Sekar Arum. Selama ini, untuk menyembunyikan identitas aslinya dari kejaran mata-mata keraton, Sekar menggunakan sejenis bedak herbal kuno dan teknik penyamaran tingkat rendah yang membuat rona wajah aslinya tampak agak kusam, kaku, dan matanya terlihat biasa saja khas perempuan kalangan menengah biasa.

Namun, hawa murni dari Erlang yang beraliran panas alami langsung melarutkan seluruh lapisan bedak yang menyumbat pori-pori samaran tersebut. Perlahan-lahan, lapisan tipis kusam di kulit wajah Sekar mengelupas dengan sendirinya, luruh bersama keringat hangat yang menetes di pipinya.

Saat Erlang menarik kembali tangannya setelah memastikan sisa racun benar-benar bersih, ia menoleh untuk memeriksa kondisi Sekar. Detik itu juga, Erlang mendadak terpaku. Sepasang matanya yang jernih melebar sempurna, dan mulutnya menganga kecil tanpa bisa mengeluarkan kata-kata sekejap pun.

Di bawah temaram cahaya api unggun yang menari-nari merah keemasan, penyamaran Sekar Arum telah terbongkar sepenuhnya. Kulit wajah gadis itu kini berubah menjadi putih bersih, halus bak porselen keraton yang memancarkan binar murni yang sangat lembut. Sepasang alisnya bergaris hitam tegas menaungi sepasang mata bulat yang begitu jernih dan sarat akan wibawa agung. Bibir tipisnya yang semula pucat kini merona merah delima alami tanpa polesan apa pun. Kecantikan asli Sekar Arum terpampang nyata di depan mata Erlang, sebuah kecantikan yang teramat sangat luar biasa, yang tidak akan mungkin dimiliki oleh perempuan dari kalangan rakyat jelata maupun anak pengembara biasa.

"G-Gusti Allah..." bisik Erlang terbata-bata, jantungnya mendadak berdegup sangat kencang, jauh lebih cepat daripada saat ia menghadapi amukan Jurus Karang Menerjang Ombak milik Bagas Suroto tadi siang. "N-Nimas Sekar... ini... ini beneran Nimas?"

Sekar yang menyadari perubahan pandangan Erlang langsung meraba wajahnya sendiri dengan gugup. Begitu jemarinya merasakan kehalusan kulit aslinya yang bebas dari bedak samaran, Sekar langsung panik. Wajah cantiknya seketika merona merah padam karena malu yang amat sangat.

"Erlang... jangan... jangan menatapku seperti itu!" seru Sekar gugup, buru-buru menutupi sebagian wajah aslinya menggunakan lipatan lengan jubah sutra birunya. "A-aku... penyamaranku ternyata luntur karena hawa hangat dari mu tadi."

Erlang menggaruk kepalanya yang tidak gatal, matanya masih menatap takjub seolah tidak mau kehilangan sedetik pun pemandangan indah di depannya. "Waduh, Nimas Sekar... beneran, saya tidak bermaksud lancang. Tapi... tapi Nimas kalau penyamarannya hilang begini... indahnya luar biasa sekali, Nimas. Mirip dewi-dewi kahyangan yang sering diceritakan Paman Suro di dongeng tidur saya dulu. Kenapa... kenapa selama ini Nimas harus repot-repot mendempul wajah ayu begini pakai bedak kusam toh?"

Sekar perlahan menurunkan lengannya, menatap lurus ke dalam mata jernih Erlang dengan pandangan yang campur aduk antara rasa hangat, malu, dan dilema batin yang besar. "Ada alasan mendesak mengapa aku harus bersembunyi di balik wajah kusam itu, Erlang. Dunia persilatan dan kalangan atas saat ini sangat kejam. Kalau aku menggunakan wajah asliku ini di sepanjang jalan darat kemarin, mungkin kita sudah dikepung oleh ratusan pasukan berkuda sebelum sempat sampai di Kediri."

"Oalah, begitu toh," sahut Erlang, logikanya yang polos mencoba mencerna ucapan Sekar dengan realistis. "Iya sih, Nimas. Orang kalau wajahnya seindah Nimas begini pasti bakal sering diganggu preman pasar seperti Macan Wetan kemarin. Keputusan Nimas mendempul wajah itu beneran cerdas sekali."

Sekar Arum tersenyum tipis, sebuah senyuman murni yang membuat dada Erlang kembali berdesir hangat. "Erlang... maafkan aku ya. Aku sengaja membohongimu tentang penampilan asliku ini. Apakah... apakah kau merasa kecewa atau merasa dikhianati olehku?"

"Lho, kenapa harus kecewa toh, Nimas?" jawab Erlang santai sembari terkekeh gembira, kembali membenahi posisi duduk silanya di depan perapi. "Malah saya ini merasa beruntung sekali. Berarti selama ini pelindung lusuh seperti saya ini ditakdirkan untuk melindungi seorang gadis yang beneran berharga dan luar biasa ayu. Paman Suro selalu bilang, ksatria itu tugasnya menjaga hal-hal yang indah di dunia agar tidak rusak oleh orang-orang serakah."

Mendengar ucapan tulus Erlang, getaran cinta di hati Sekar kian mengembang pekat. Ia meremas ujung jubahnya, menatap bara api yang meliuk-liuk di tengah gua. “Erlang... keluhuran budimu ini beneran membuatku makin tenggelam,” batin Sekar penuh rasa haru. “Tapi... maafkan aku, untuk saat ini aku masih belum berani jujur kepadamu kalau aku ini adalah Sekar Arum Ningrum, putri kandung dari trah raja Kerajaan Jenggala kuno. Aku takut... aku takut jika kau tahu siapa ayahku dan apa yang diperbuat oleh orang-orang keratonku terhadap keluargamu, kau tidak akan mau lagi tersenyum polos di sampingku seperti ini.” batinnya lagi.

"Erlang," panggil Sekar lembut, suaranya kini sepenuhnya terdengar manis tanpa ada sisa ketus sedikit pun.

"Nggih, Nimas Sekar? Ada apa?" tanya Erlang polos.

"Mengingat musuh kita di depan sana kian samar dan memiliki jaringan yang sangat luas... maukah kau berjanji satu hal kepadaku?" tanya Sekar, matanya menatap lekat ke dalam sepasang mata jernih Erlang.

"Janji apa, Nimas? Kalau masalah membelikan tahu bacem yang banyak, uang koin saya belum cukup nggih," gurau Erlang polos.

Sekar tertawa kecil, sebuah tawa merdu yang menggema indah di dalam ceruk batu Goa Langse. "Bukan masalah tahu bacem, Bodoh. Aku mau kita berjanji untuk saling menjaga dan saling melindungi di sepanjang sisa perjalanan ini. Kau menjadi tamengku dari bahaya serangan fisik luar, dan aku akan menjadi batin pengarahmu untuk membaca kelicikan intrik dunia luar. Kita... kita hadapi sisa-sisa pasukan bayaran Gagak Hitam dan misteri di dalam gua ini bersama-sama. Bagaimana?"

Erlang terdiam sejenak, menatap uluran tangan lentik Sekar yang putih bersih di atas bara api. Wajah pemuda desa itu perlahan dihiasi oleh senyuman tulusnya yang paling menenangkan. Ia mengulurkan tangannya yang kasar, menjabat tangan Sekar dengan kehangatan murni yang menjalar mengunci janji batin di antara mereka berdua.

"Nggih, Nimas Sekar. Saya berjanji," ucap Erlang mantap. "Saya akan selalu berdiri di depan Nimas sebagai pelindung paling kokoh, tidak akan membiarkan seujung rambut pun dari kepala Nimas terluka oleh musuh."

Kehangatan perapi kecil di dalam ceruk batu Goa Langse malam itu seolah menjadi saksi bisu atas runtuhnya dinding-dinding penyamaran fisik di antara kedua pengembara muda tersebut. Meskipun sebuah rahasia besar tentang darah biru keturunan raja masih tersimpan rapat di dalam batin Sekar Arum, ikatan janji suci untuk saling menjaga yang baru saja mereka ikrarkan telah melekatkan hati mereka kian erat, siap menghadapi segala bentuk rintangan dan bahaya batin yang kian merayap di sepanjang lorong gelap gua demi menemukan keberadaan Mbah Wiro.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!