follow yuk ig : @riana.kristina
Sekuel "Di Antara Dua Hati"
Jangan lupa siapkan tissu🤧
Plakkk!!
Sebuah kisah yang berawal dari ciuman yang tidak terduga. Mengharuskan gadis bernama Cinta Yasmila Pratama melayangkan tamparan keras ke wajah tampan seorang Adipati Rangga Wijaya.
Pemuda yang selama ini menganggap para gadis hanyalah boneka barbie.
Hingga pada akhirnya mereka saling jatuh cinta, Rangga harus dihadapkan pada kenyataan pahit lantaran Cinta adalah adiknya sendiri.
"Apapun yang terjadi di antara kita, itu semua bukan salah cinta. Tidak ada yang bersalah jika kita saling mencintai."
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Apakah hubungan keduanya harus kandas lantaran adanya hubungan darah?
Penasaran? Ikutin kisahnya ya di,,
"Bukan Salah Cinta"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riana Kristina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Presdir
"Ternyata ibumu orangnya asik ya," kata Rangga saat sudah tiba kembali di kantornya sehabis mengantar Cinta pulang.
"Ya begitulah ibu, kadang ibu bisa jadi ibuku kadang ibu juga bisa jadi teman buatku." jawabnya tersenyum bangga.
Kejadian pagi tadi sudah membawa perubahan pada hubungan mereka. Cinta sudah tidak bersikap dingin lagi pada Rangga. Ternyata pemuda itu tidak seburuk yang dia pikirkan.
Mereka sekarang sudah masuk ke dalam lift,
"Lalu siapa pria yang kamu panggil ayah barusan?" Rangga menekan nomor lantai menuju ruangannya.
"Owh, itu ayah Bayu. Ayah Bayu itu yang selama ini menjaga kami. Restoran itu juga sebenarnya milik ayah Bayu tapi, dikasih ke aku sebagai kado ultah ketujuh belasku." Mata cinta menerawang.
"Ayah Bayu sudah seperti ayahku sendiri." Cinta tersenyum lagi memperlihatkan kedua dimples di pipinya.
Rangga melihat itu, sungguh dia sangat menyukai senyuman Cinta. Rangga menatap Cinta dengan menyandarkan tangan kanannya ke dinding lift, dan tangan kirinya dimasukkan ke saku celananya.
"Aku menyukai senyummu, Sweetheart," gumamnya, "kapan aku bisa memilikinya?" Tatapnya serius
Cinta merasa hatinya berdesir mendengar ucapan Rangga. Padahal Rangga sudah berulang kali mengatakan kata-kata rayuan buatnya, tapi kali ini terdengar berbeda baginya. Cinta menatap Rangga sehingga mata mereka saling bertemu. Ya, sepanjang pertemuan mereka baru kali ini Cinta benar-benar menatap wajah Rangga. Benar kata ibunya, Rangga adalah pria yang tampan. Dia juga memiliki mata yang indah, sorot mata yang teduh, memberi rasa nyaman bagi siapa yang memandangnya.
Rangga menjentikkan dua jarinya di depan wajah Cinta, "Hei, kok malah ngelamun, terpesona ya, sama wajah tampanku," godanya.
Cinta yang sudah kembali pada kesadarannya, wajahnya seketika merona. "Ish, ge-er banget sih, siapa juga yang terpesona," elaknya. Kemudian, dia keluar dari lift lebih dulu.
"Lho, Kak Lina kenapa bisa ada di sini?" tanya Cinta heran saat melihat Lina duduk di ruangannya. Ditambah ekspresi Lina saat melihat kedatangan mereka.
"Kamu dari mana? Presdir ada di dalam, dan marah-marah karena tidak ada yang mengangkat telpon dari tadi," katanya cemas.
"Ayah sudah datang?"
"Iya Pak Adipati, sudah dari tadi." jawab Lina gugup. Rangga lalu masuk ke dalam ruangannya.
"Kamu lain kali kalau mau keluar di jam kerja, titip pesan sama yang lain, minta tolong angkatin telpon," pesan Lina, "itupun hanya untuk urusan yang benar-benar mendesak."
"Iya Kak terima kasih, maafkan saya," jawab Cinta gugup.
"Ya sudah, kalau begitu aku kembali ke ruanganku. Semua pesan dari telpon yang masuk tadi sudah aku tulis di memo nanti kamu yang atur ya."
"Baik, terima kasih banyak, Kak."
"Sama-sama." Menepuk pundak Cinta dan berlalu menuju ruangannya.
Cinta lalu mendudukkan dirinya dengan lemas di kursi. Bisa-bisanya dia teledor begini. Namun, baru saja dia mendudukkan pantatnya telepon di atas mejanya berdering.
"Halo selamat pagi, dengan Cinta di sini, ada yang ...."
"........." Wajah Cinta seketika berubah tegang.
"Baik Pak," jawabnya gugup.
Cinta menghela napas berkali-kali sebelum memasuki ruangan Direktur. Kemudian, dia masuk setelah mengetuk pintu itu.
"Selamat pagi Pak," sapanya. Dia menutup pintu kembali dan berjalan mendekati Reyhan yang duduk di kursi kebesarannya. Di belakangnya telah berdiri tegap seorang pria yang nampak seumuran dengan Reyhan. Sementara Rangga berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
"Jam berapa sekarang?" Suara bariton Reyhan seketika membuat tengkuknya bergidik. Ragu-ragu diangkatnya kepalanya sedikit, diliriknya pria yang berbicara padanya tadi. Pria berwajah tegas dengan sorot mata elang.
Sorot mata yang sangat berbeda dengan Adipati! batin Cinta.
Rambutnya yang memutih tidak menutupi aura ketampanan yang masih terlihat jelas di wajahnya.
"Ayah ...." Rangga menyela.
"Diam! Aku tidak bertanya padamu," bentaknya.
Cinta tersentak, "Maaf Pak, tadi saya ...."
"Kamu tahu, 'kan aturan kerja di perusahaan ini!"
Glekk!
Cinta menelan ludahnya sendiri, dia semakin gugup, tubuhnya mulai gemetar, keringat dingin mulai bermunculan di dahinya. Tiba-tiba otaknya terasa kosong dan lidahnya terasa kelu. Hingga dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata apa pun.
"Ayah ...."Rangga mencoba menjelaskan kembali.
"Sudah kubilang kau diam! Aku sedang bertanya padanya." Reyhan menunjuk Cinta dengan tatapan sinis.
"Tapi Ayah, ini bukan salah Cinta. Dia terlambat karena aku." Rangga meninggikan suaranya. Dia tidak tega melihat Cinta yang harus menanggung akibat dari ulahnya.
Reyhan menautkan kedua alisnya, "Apa maksudmu?"
"Aku memberinya banyak pekerjaan kemarin, jadinya Cinta lembur sampai subuh. Aku juga yang menyuruhnya pulang dulu sebelum kembali bekerja."
"Tapi tetap saja, dia sudah tidak profesional. Meninggalkan tugasnya di jam kerja. Coba kalau Lina tidak ada siapa yang akan menjawab telpon dari klien?"
"Maafkan saya, Pak. Lain kali saya tidak akan mengulanginya lagi," jawab Cinta gugup.
Reyhan menatapnya sebentar, dia merasa pernah melihat gadis ini tapi lupa di mana.
"Ya sudah, ini peringatan pertama buatmu. Kali ini kau kumaafkan, kau boleh keluar sekarang," perintah Reyhan pada Cinta.
"Baik, terima kasih, Pak. Saya permisi." Menganggukkan kepalanya lalu berbalik menuju pintu keluar.
"Dan kau, potong rambutmu! Mulai besok ayah tidak mau melihat rambut seperti preman begitu," tunjuknya pada Rangga.
Rangga menyentuh rambutnya, "Dipotong, Yah? Ini style anak muda jaman now Ayah. Ayah kuno sekali, masak dikatain rambut preman," protesnya.
Samar-samar Cinta masih bisa mendengar perdebatan ayah dan anak itu sebelum dia menutup pintu kembali.
...****************...
"Setelah ini apa jadwalku hari ini, Jo?" Reyhan menutup map terakhir. Sementara Rangga duduk di sofa sembari bermain game di ponselnya.
Jonathan membuka buku agenda di tangannya, "Sebentar lagi, Anda ada undangan makan siang dari tuan Hartadi, Tuan. Kata tuan Hartadi, istrinya ingin sekali bertemu dengan Tuan."
"Untuk?" tanyanya heran.
"Kurang tau Tuan, tadi pak Hartadi hanya pesan agar saya mengusahakan Tuan bersedia menemui mereka."
Reyhan manggut-manggut, "Lalu, apa lagi?"
"Untuk hari ini, itu saja Tuan. Karena, nanti malam anda harus berangkat ke Maldives untuk meeting dengan Mr.Leon besok paginya." Jonathan menutup bukunya kembali.
Reyhan nampak berpikir sebentar, "Bagaimana kalau Rangga saja yang berangkat ke sana?" Menatap Jonathan untuk meminta pendapat, "aku pikir ini kesempatannya untuk belajar."
Mata Rangga melebar saat mendengar ucapan ayahnya. Seketika dia menghentikan tangannya bermain game.
"Menurut saya juga begitu, Tuan. Sudah waktunya tuan muda untuk belajar."
Rangga mencebikkan bibirnya ke arah Jonathan, Kenapa kalian begitu kompak?
"Kalau begitu persiapkan semuanya!"
"Wait Ayah, kenapa aku?" protesnya, "aku masih belum mengerti apa-apa, Yah."
"Maka dari itu, kamu harus mulai belajar dari sekarang. Usiamu sudah dua puluh lima tahun. Sudah lebih dari cukup. Ayah dulu sudah menjalankan perusahaan dari umur tujuh belas tahun."
Itu 'kan Ayah bukan Aku! batinnya.
"Persiapan keberangkatannya Jo, juga sekretarisnya yang tadi. Aku ingin melihat kinerja mereka berdua."
"Baik, Tuan."
Mata Rangga langsung berbinar begitu mendengar ucapan Reyhan, "Maksud Ayah, aku berangkat dengan Cinta?" tanyanya antusias.
"Hm,"
"Yes!" Rangga mengepalkan tangannya.
"Hei, ayah menyuruh kalian pergi untuk urusan pekerjaan, bukan hal lain!" Reyhan menyunggingkan sudut bibirnya.
"Iya aku paham, Ayah."
"Bagus! Kalian harus berhasil. Kalau tidak, Ayah akan berpikir ulang untuk mempertahankan gadis itu di sini," ancamnya sembari bangkit dari duduknya.
Matanya kini membulat mendengar ucapan terakhir Reyhan. Sementara Reyhan memberi kode kepada Jonathan untuk mengikutinya keluar dari ruangan itu.
"Semangat!" dia menepuk pundak putranya sebelum beranjak keluar pintu.
bersambung....
Jangan lupa dukungannya ya, vote, like n coment. Makasih🤗
thor tolong y sembunyikan cinta sampai dia melahirkan dan bikin rangga prustasi berat