Terlempar kembali pada saat ulang tahunnya yang ke 19 tahun, Deena Prameswari Bakara atau yang sering di sapa Deena itu harus menelan kenyataan yang membuat hatinya bagai tertusuk belati berkarat, perlahan tapi menyakitkan.
Penghianatan, hinaan, dan kehilangan orang terkasih membuat dendam dalam hati tertumpuk, gadis itu bersumpah akan membalas lebih menyakitkan pada mereka yang telah menyakitinya.
Bertemu dengan sosok Hanska Regantara Alzavier, seorang presdir sekaligus mafia kejam berdarah dingin yang dengan menatap matanya saja membuat musuh bergetar. Namun satu hal, Hanska itu bucin jika sudah cinta, possesive setengah mati, membuat yang baca pada ilfeel.
hati-hati gregetan,
mengandung beberapa bawang,
ingin jitak kepala pelakor,
bawaannya kesemsem..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ritsmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tercyduk mama
Hati" kesandung typo ^-^
Happy reading 😘
_____________________
Episode sebelumya
Hanska menaikkan sebelah alisnya, tersenyum miring. "Tak membacanya dulu?" Tanya pria itu.
Deena menggeleng. "Hanya surat perjanjian." Jawab Deena ringan. "Kalau begitu, apa pekerjaan saya om?" Tanya Deena polos menatap kearah Hanska sambil mengerjab kan matanya.
Hanska tersenyum miring. "Jadi pembantu, ku." Jawabnya.
Lanjut
Deena membelalakkan matanya. "Ja.. jadi pembantu..?" Beo nya. Susah payah meneguk saliva.
"Kenapa? menyesal? Dalam perjanjian itu jelas tertulis." Cibir Hanska.
"Salah sendiri ceroboh. Baca." Ledek pria itu menyesap kembali kopinya.
Deena membaca baik-baik perjanjian yang Ia pegang. Matanya melotot melihat ada beberapa point penting, bagai perjanjian perbudakan.
Tertera pihak pertama sebagai Hanska, dan pihak kedua sebagai dirinya.
Point ke 2. Pihak kedua harus menuruti semua perintah dari pihak pertama, tanpa bantahan.
Point ke 3. Pihak pertama bebas menghukum pihak kedua, jika, pihak kedua membangkang.
Point ke 5. Pihak kedua bertugas sebagai pembantu yang siaga, kapanpun pihak pertama memanggil.
Point ke 7. Pihak kedua harus selalu berada di sekitar pihak pertama.
Deena memanyunkan bibirnya ingin protes. Raut mukanya muram.
Pria itu berdecak. "Hal sepele begini pun kau abaikan, bagaimana jika kau kusuruh mengurus proyek ratusan juta?" Ucap Hanska memasukkan tangan kedalam saku celananya, berjalan kearah Deena.
Kelethok.
Sentilnya di jidat mulus Deena.
Gadis itu refleks memundurkan langkahnya, menabrak meja. Wajahnya sudah tertekuk menahan kesal.
Entah mengapa, menyentil gadis di hadapannya, jadi hobi tersendiri bagi Hanska.
"Iya iya, ga Deena ulangi lagi om." Jawabnya pelan. Masih menyematkan panggilan om pada pria dihadapannya.
Hanska mendengus, tangannya mengunci pergerakan Deena, dengan menghimpit gadis itu dengan meja kerja.
Wajah tegas Hanska mendekat, refleks Deena menjauhkan wajahnya. "Coba ulangi?" Ujar Pria itu dengan suara berat, matanya yang tajam menatap mata Deena.
Gadis itu meneguk ludah susah payah.
Tok. tok
"Permisi tuan, nyonya.."
Belum sempat Arga menyelesaikan kalimat. Dari arah pintu, muncul wanita berpakaian sederhana namun elegan, berjalan masuk kedalam ruangan.
"Ya ampun Hanska!" Teriak Rihlah berjalan cepat, menghampiri kedua orang dalam ruangan itu.
Bila di lihat, posisi Hanska berdiri memang sangat ambigu, apalagi jika terlihat dari arah pintu.
Tubuh tegap Hanska, menutupi sebagian besar tubuh mungil Deena, siapa pun yang melihat, akan salah paham dibuatnya.
Jari-jari lentik wanita itu terangkat kearah telinga Hanska. "Kamu apakan anak gadis orang, hemm?" Sambil berkacak pinggang, Rihlah menjewer gemas telinga sang putra.
Deena berdiri tegak menghembuskan napasnya, seolah beban berat sudah terangkat.
Hanska bungkuk, mensejajarkan tingginya dengan sang mama yang hanya sebatas dagu.
"Ampun ma, Hans ga ngapa ngapain kok." Bela Pria itu, berusaha mengurai jeweran mamanya, yang tak sakit sedikitpun.
"Halah alesan, buktinya mama lihat tadi kamu, ngapain itu? mau main di meja?" Bantah Rihlah galak, namun masih dengan nada lembut.
Hanska melepaskan jeweran di telinganya. Ia meraih lembut tangan sang mama, menuntun Rihlah untuk duduk di sofa ruangan.
Hanska duduk bersebrangan. "Mama kenapa dateng ga bilang Hans? kan bisa di jemput." Tanyanya membenarkan dasi.
"Mama denger kamu sembunyikan anak gadis orang."
Hanska memicingkan matanya, menatap Arga yang berdiri dekat pintu.
Arga yang sedari tadi memilih diam, angkat suara. "Nyonya terus meneror saya tuan."
Rihlah manyun. "Jika tak begitu, kapan kamu membawanya ke mama?"
"Membawa apa sih mama? Hans juga tak menyembunyikan anak orang." Gemas Hanska. Rihlah memilih, mengedikkan bahu acuh.
Wanita itu menoleh kearah Deena, tatapannya berubah lembut. "Sini sayang." Panggil Rihlah, menepuk sofa, mengisyaratkan Deena untuk duduk disampingnya.
Gadis itu menunduk melangkahkan kakinya. "Kamu ditindas sama anak mama? bilang aja kamu di apain? biar mama jewer telinganya." Ancam Rihlah menoleh kearah putranya. Tangannya mengusap-usap kepala Deena sayang.
Ada gelenyar aneh menjalar, perasaan hangat yang telah lama Ia rindukan, melingkupi relung hatinya. Wajahnya memanas, matanya mengabur akibat air mata menumpuk.
"Hiks.. hikss." Bukan karena Ia ditindas atau di bully. Hal seperti itu sudah makanannya sehari-hari, saat berada di keluarga Bakara.
Tapi sekuat apapun Deena, jika diperhatikan begini, Ia jadi teringat almarhumah Thalia, ibunya.
Sudah sangat lama, Deena tak merasa di bela dan diperhatikan begini oleh seorang ibu.
Sedihnya menumpuk, hingga Ia baper mendapat perhatian kecil dari seorang wanita, yang mungkin saja seumuran dengan mamanya.
Rihlah gelagapan langsung memeluk Deena. "Cup cup sayang, gausah takut, disini ada mama." Bujuknya sambil mengelus surai lembut Deena.
Deena menangis bombay.
"Hanska Regantara Alzavier, ini kenapa anak orang sampe nangis?" Tuntut wanita itu kepada anaknya.
"Kenapa Hans yang di salahin ma? mana Hans tau." Bela pria itu tak terima dituduh.
"Dengan nada apa kau berbicara dengan istriku?" Interupsi sebuah suara, membuat mereka semua menoleh.
"Papa?" Hanska mengernyit.
Terlihat pria ber rahang kokoh di tumbuhi bulu halus, berjalan dengan penuh kharisma kearah mereka.
"Ini lagi, kenapa pake peluk peluk segala?" Regantara melepas paksa pelukan sang istri, dengan seorang gadis yang tak Ia kenal sedikit pun.
Rihlah melotot garang ke arah suaminya. Namun, bagi seorang Regantra Alzavier, wajah di hadapannya malah terlihat seperti kucing kecil yang imut.
Deena menghentikan air matanya yang mengalir. Ia menatap bingung, sekaligus canggung kearah Regantra.
Rihlah beralih menatap Deena. "Nak, kamu pasti di tindas kan? ayo bilang aja." Bujuknya.
Deena tersenyum dalam hati, Ia mengembangkan hidungnya, sambil melirik Hanska di ujung mata.
Gadis itu mengangguk. "I..Iya tante hiks, masa saya dipaksa jadi istrinya om ini." Dalih Deena, melebih-lebih kan dengan mengusap matanya, seolah Ia benar ditindas.
Hanska melotot garang kearah gadis di hadapannya. Ingin rasanya pria itu menyentil kuat jidat Deena.
"Om..?" Rihlah menatap sang putra. "Panggil mama aja sayang." Ralat Rihlah, Deena mengangguk.
"Pfftt.. Bwahaha.." Regantra tertawa ngakak. "Begitu tak lakunya kau sebagai pria? sampai memaksa seorang gadis untuk kau nikahi?" Ledekkan pedas, dari sang ayah meluncur tanpa bersalah.
"Tidak pa.." Bantah Hanska, jengah Ia mendapat tatapan jenaka dari sang ayah.
"Siapa nama kamu nak?" Tanya Rihlah. "Kamu tinggal di mana?"
"Panggil saja Dee ma.. mama." Terdengar getir, saat gadis itu menyebutnya dengan sebutan mama.
"Nama panjang Deena Prameswari, mahasiswi universitas Angkasa yang mendapat rekomendasi magang di perusahaan ini." Lanjutnya setelah menjeda sebentar. Deena enggan memberi tahu nama belakangnya.
Rihlah tersenyum, Ia tahu betul reputasi universitas yang satu itu. Ditambah lagi, gadis disampingnya ini, mendapat panggilan dari perusahaan sang anak.
Tapi ada yang ganjil. Pikirnya.
"Hey nak, berapa usiamu?" Tanya Regantara mendahului pemikiran istrinya.
"18 tahun, Agustus nanti om." Jawab gadis itu polos.
"Ha.." Rihlah memandang anaknya.
"Huahaha.. Hey anakku, yang kau paksa itu gadis kecil, tentu dia menolak pria tua sepertimu, ayah rasa, di kampus nya ada banyak lelaki tampan yang kaya raya." Ledekkan sang ayah, semakin menjadi, membuat Hanska menekukkan wajahnya.
Ia menatap tajam kearah Deena. Seolah berkata.
Awas saja kau bocil, akan ku hukum kau tanpa ampun.
Deena mengalihkan tatapannya, merinding.
Mampus dah, nyari mati ini mah. Batinnya.
"Ma.. ga bener, Hans tidak memaksanya, bocil ini mengada-ada." Ucap pria itu membela diri.
"Kenapa Dee menolak anak mama?" Tanya Rihlah tersenyum.
Gadis itu berdehem. "Soalnya Dee masih kuliah ma, om juga tahu itu." Pandangannya menatap Hanska.
"Hahah.. nak, jika kau memanggilnya om, berarti kau harus memanggil istriku nenek, dan kakek kepadaku." Ujar Regan terkekeh.
Deena membenarkan, namun entahlah, Pria bernama Hanska itu pembawaannya dewasa Ia pikir, lebih cocok di panggil om.
Karna terlalu tua jika di panggil pak, dan tak mungkin jika di panggil abang.
"Maaf om, om dan mama masih terlihat muda." Jujur Deena sopan.
"Berarti anakku yang terlalu tua hahah."
Rihlah menggeleng tak habis pikir melihat suaminya, selalu saja senang meledek sang anak.
Deena terkekeh juga, walau kenyataannya wajah Hanska tak setua itu. Ia hanya ikutan meledek.
To Be Continue >>>
Triple baby belum lahir