Seaaon 1 tentang Jill dan Jeff (couple J).
Season 2 tentang Shanum dan Salman (couple S).
Jill kabur dari rumah untuk menghindari perjodohan, ia kemudian bekerja di sebuah perusahaan dan justru bertemu cowok tampan, mapan, dan menawan yang ternyata adalah bosnya.
Shanum terpaksa menggantikan kakaknya menikahi Salman, pria cacat yang tiba-tiba menjelma menjadi pria paling kuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendadak Begok
“Bunda, …..” Jill mendekati bundanya.
“Eeeeh…. Anak Bunda udah pulang. Sini sayang, coba deh liat gaun ini. Menurutmu, mana yang paling bagus?” Bunda menunjuk model gaun di majalahnya.
Jill berdiri di dekat Bundanya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan pokok pembahasan itu.
“Kenapa mesti nanya ke aku, Bun?” tanya Jill penuh selidik.
“Iyalah. Secara kamu yang mau pake gaun, jadi mesti nanya ke siapa?” serobot Evan sebelum Bunda sempat menjawab. “Kalo aku sih lebih suka yang ini.” Evan menunjuk sebuah gaun yang modelnya sangat unik dan kekinian. “Cocok banget buat adik tersayang. Kalo kamu pake gaun itu, wuuuiiiih… dijamin Didi langsung klepek-klepek. Bukan cuma jatuh cinta, tapi jatuh mati.”
Didi lagi?
Hampir saja kepalan tangan Jill melayang ke hidung mancung kakaknya. Entah mengapa ia sensitif sekali mendengar nama itu. Ya, nama itu seperti rudal panas yang menembus jantung. Mak jleb dan membuatnya langsung bolong. Sumpah, sakit.
Seketika itu, rasanya Jill ingin berubah menjadi bakpao saja. Diuleni, dikukus, begitu matang, langsung dimakan orang. Selesai. Tidak ada masalah dalam hidupnya.
“Didi itu keren. Bukan Cuma ganteng, dia juga lulusan Jerman. Pokoknya idaman cewek banget, beda sama si Leon, kembarannya itu tuh, berandalan dan nggak ada bagus-bagusnya, susah diatur,” puji Evan mengagungkan Didi. “Entar malem kamu bisa langsung ngeliat orangnya.”
“Ini maksudnya aku disuruh kawin?”
“Kalau cocok, apa salahnya?” sahut Evan dengan nada sangat mantap.
Nggak salah nih? Anak seusia Jill disuruh nikah? Mana mungkin dia paham ngurusin suami di tempat empuk-empuk?
“Tauk ah, aku mendadak begok kalo ngomongin nikah,” celetuk Jill.
“Alaaa.... cewek mah ujung-ujungnya juga bakalan kesono. Nggak usah nunggu taon depan, kalo udah gede gini kenapa enggak? Beda ama cowok, mesti banyak yang diperjuangin buat bekal nyari nafkah anak istri, jadi mesti cukup umur dan cukup modal. Minimal punya penghasilan tetap.”
“Jadi beneran aku mau dinikahin?”
“Minimal tunangan dulu.”
“Udah, jangan dibahas terus. Nanti adikmu malu,” sahut Bunda membuat Jill sempurna merasa asing di tengah-tengah keluarganya sendiri. “Ya sudah, Jill, pergilah ganti baju. Malam ini kita akan pergi makan mlam keluar bersama keluarga Om Rony.”
Jill malas menjawab, ia membalikkan badan, berjalan memasuki kamarnya dan membanting pintu kuat-kuat.
Terbayang di pikirannya lelaki berbadan besar, berbulu lebat, berkeringat dan berjambang tebal, tidur satu ranjang dengannya. Lalu tangan lelaki berotot itu menjahilinya di tengah malam gelap. Aaah… Tidaaaaak! Ia ingat wajah Didi yang pernah ia temui di restoran. Kumis dan jambangnya lebat sekali seperti hutan lindung.
Kulit tubuh Jill meremang. Ketakutan yang luar biasa membius otaknya. Dalam sekejap, rumahnya berubah seperti neraka. Perasaannya kini mulai was-was dan gelisah. Bagaimana tidak? Tiba-tiba seluruh isi rumah membicarakan pernikahan di usianya yang masih sangat dini.
Jill sengaja berdandan sampai berjam-jam di depan cermin. Sebenarnya bukan dandannya yang lama, tapi mikirnya yang kelamaan.
Tuhan, selamatkan aku dari malapetaka ini! mampus deh kalo aku sampe nikah sama si culun Didi.
Aldo Wijaya, Rani dan Evan sudah menunggu di lantai bawah. Dinner dengan keluarga Rony Pratama akan segera berlangsung. Jill akan dipertemukan dengan Didi di malam dinner yang telah disepakati dua keluarga. Ini adalah dinner yang kedua setelah dulu Jill dan Didi dipertemukan emat mata di meja restoran.
TBC